Awalnya saya ingin membuat tulisan opini yang sedikit ilmiah dengan menyertakan penelitian-penelitian psikologi or whatever related to scientific research, turns out I got houseworks to do, so well, mungkin opini sederhana melalui emotional thought might be useful as well, mumpung lagi ada mood buat nulis.
Berawal dari dua buah organisasi nasional yang saya ikuti saat kuliah. Saya menyadari penuh betapa tingkat pendidikan di Indonesia memiliki gap kualitas yang cukup jauh. Beberapa indikator yang bisa kita lihat secara objektif adalah akreditasi dan jumlah lulusan yang diterima di lapangan pekerjaan bonafid, atau jumlah ‘orang sukses’ yang berasal dari lulusan universitas tersebut. Indikator subjektif yang bisa kita lihat adalah pola pikir. Saya tidak bilang bahwa lulusan universitas ternama semuanya memiliki pola pikir yang make sense dan sophisticated, but well, boleh saya bilang mereka cenderung berpikiran terbuka? Ini bisa saja bukan soal popularitas sekolahnya, simply karena sekolah tersebut ada di tengah kota dan mahasiswanya sudah banyak terpapar dengan banyak akses pendidikan dan budaya yang universitas di daerah tidak bisa dapat. Efek input juga berperan, sekolah yang sudah kepalang populer akan dikerubungi oleh pelajar-pelajar yang memang sedari awal sudah ‘bagus’. Yah, banyak faktornya. But my point is, the quality gap does exist.
Then come this pride of having a status of “graduates from great university”. Kita pun terjebak dalam penjara self-worth. Kita merasa lebih baik dari universitas ABCD. We boast our chest as we walk, duh.
Itu baru bicara soal nama sekolah. Bagaimana dengan pride akan tingkat pendidikan? Bagaimana dengan pride akan sebuah profesi pekerjaan?
I’m going to get to my point. Mari bicara soal profesi kesehatan. Profesi yang baru saya geluti kurang dari setahun, mungkin akan banyak bias opini di dalamnya karena saya masih anak bawang untuk urusan ini, but to write doesn’t have to wait to be experienced right? Hehe
Berawal dari komentar sederhana,
“Ah, yang lanjut sekolah Apoteker itu cuma yang punya duit aja” – well, for your information, yes sekolah profesi memang mahal. Satu semester bisa ada yang puluhan juta, apalagi sekolah swasta.
“Kerjaan Apoteker enak ya, cuma gitu doang” kata profkes x, --- well for your information, yes, ada beberapa kerjaan kita yang emang ‘cuma gitu doang’
“Kasian itu TTK (tenaga teknis kefarmasian) kerjaannya, capek banget” --- frankly speaking, saya akui memang capek. Selama orientasi 2 bulan saya bekerja seperti mereka, stressfull? Sangat. Ditambah dengan profkes x dan y yang terkesan “nyuruh2” dan complain mulu. Baper? Iya gue baper. Bapernya tuh kayak gini: “Lu siapa nyuruh2 gue? Lu bukan atasan gue woy!” hehe
dan komentar lainnya yang kalau ditulis jadi panjang kayak kereta.
Okol Vs Akal
Terkait pekerjaan. Ketika ada yang bilang “enak ya kerjaan lo gitu doang” saya cuma bisa tersenyum dan bilang “tuntutan kita memang belum besar karena pekerjaan kefarmasian di rumah sakit masih sangat berkembang (and that makes me so worthless)” and that’s true. Sampai akhirnya saya dimutasi ke ruangan lain dan melakukan banyak pekerjaan teknis yang bikin baper, haha. Gada lagi yang bilang “enak ya kerjaan lo gitu doang”, karena memang kerjaan saya agak bikin pusing (dan pekerjaan ini bisa jadi akan bertahan sampe saya usia 30-40 tahun karena carreer path farmasi klinis ga banyak). Still, I feel worthless because it just something that I didn’t expect I would do as a pharmacist. Expectation kills, I know.
Apa yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana saya bisa bekerja more into critical thinking rather than physical or technical thing. Dari segi pendidikan dan ranah pekerjaan pun basically makes sense. Ranah teknis adalah ranah teknisi atau orang lapangan, misalnya bagian operator atau service mesin di sebuah perusahaan menjadi tugas lulusan SMK Mesin atau Vokasi (cmiiw). Supervisornya, yang berpikir soal design, konsep dan sebagainya diarahkan pada lulusan S1 yang notabene saat kuliah diajarkan lebih pada konsep besar ketimbang teknis lapangan. Mungkin bahasa strukturnya adalah atasan dan bawahan, but lets say, kita bekerja memang sesuai ranahnya saja; self-worth kita masing-masing, harganya sama.
Seniority and Quality
Senioritas. Saya muak dengan istilah ini haha. Sesimpel ada yang beranggapan “kalau di jalan, yang muda harus nyapa duluan” aja saya kesal hahaha *lah w baper. Please, sopan santun doesnt mean the younger harus nunduk-nunduk sampe mentok lantai buat menghormati yang tua and then yang tua bisa pasang muka jutek dengan bibir mencong-mencong. Sorry to say, gue ga lagi ospek SMP atau SMA. Hehe, ini hiperbola biar lucu aja, you know what I mean lah :p
Senioritas juga menjadi ajang naik jabatan. Yang kerjanya sudah lama disekolahin duluan supaya grade naik jabatan jadi proper dan objektif, ga peduli mereka punya kemampuan dan potensi seperti apa. Tapi saya yakin, perusahaan pemerintah yang baik ga melulu melihat lama kerja, pasti ada indikator lainnya hehe
Bicara soal kualitas, saya tidak memungkiri bagaimana sekolah profesi tercinta kita ini dijadikan lahan bisnis. Konsumen mereka adalah para senior yang diharuskan melanjutkan sekolah namun apa daya kemampuan mereka sudah tidak mumpuni untuk bisa ke sekolah negeri dengan harga yang lebih terjangkau atau mendapatkan beasiswa prestasi. Ya gimana, saya aja yang masih fresh graduate mumet buat belajar lagi, bagaimana mereka yang sudah senior? Alhasil sekolah swasta dengan kualitas seadanya dan biaya mahal menjadi target mereka. Muncullah anggapan “yang lanjut sekolah yang punya duit aja (belum tentu kompeten- red)”. Still, mau apapun underlying motivationnya, mau bagaimanapun hasilnya, tingkat pendidikan masih dilihat sebagai indikator objektif untuk naik jabatan (mainly di perusahaan punya pemerintah, probably).
To me, it is good to have such objective indicator. Tinggal kitanya yang mau memanfaatkan kesempatan itu dengan baik atau tidak, dengan etika elegan atau dengan pride yang berlebihan hehe. Dan saya berdoa, semoga sekolah-sekolah profesi makin baik kualitasnya, jadi bisa membimbing mahasiswanya buat jadi lulusan yang oke pisan. Aamiin.
Kekeluargaan Vs Profesionalisme
Ada yang menarik dengan profesi saya ini. Apoteker bekerja tim dengan TTK atau panjangannya adalah Tenaga Teknis Kefarmasian yang dulu biasa orang sebut asisten apoteker. I like TTK better as a term karena pola mindsetnya akan berbeda, TTK akan berpikir bahwa mereka melakukan pekerjaan teknis rather than jadi an obvious subordinate-nya Apoteker (apapula istilah saya ini), which will create a better team work, hopefully. Lucuknya, ada banyak rumah sakit yang TTKnya diminta panggil Apoteker dengan sapaan Ibu dan Bapak (regardless their age) rather than calling out their names kaya di tempat kerja saya sekarang. Ada positif-negatifnya dari segi Psikologis. Dengan sapaan ibu-bapak menurut saya suasana professional jadi lebih terbangun, contoh kecilnya, Apoteker muda tidak segan untuk meminta tolong pada TTK senior sesuai kewenangannya. Positifnya panggil nama, kekeluargaan jadi lebih terbangun, gap atasan-bawahan jadi lebih minim. Nah negatifnya? Pikir sendiri aja ya hehe. Intinya, mau panggil nama, ibu-bapak, nenek-kakek, bro-sis, bebeb dsb, ketika bekerja tentu kita harus professional, jangan kebanyakan baper minta dihormati karena kita senior yang akhirnya merusak kinerja kita. Yet, kekeluargaan juga harus dibangun, because team work won’t work out well without comfort from each other hehe. Ngomong gampang emang hehe.
Back to my point, self-worth kita berharga sama ketika kita menunjukkan kinerja terbaik kita sesuai kewenangan yang seharusnya, regardless our age, our position, education level, etc etc.
Kolaborasi Interprofesi (the title is so lame, I know)
Saya sempet baper di awal kerja, kenapa? Pertama, secara struktur dan pekerjaan saya merasa ga sesuai dengan yang digadang-gadang permenkes, (tp sy masih belum berani bahas ini). Kedua, kok ya kesannya kerjaan saya jadi kaya bawahannya profkes x dan y, seenak udel banget nyuruh-nyuruh, atasan-bawahan yang baik aja kalo nyuruh pake etika, lah ini? Point kedua, saya tahu kenapa. Kalau kata Pak siapa ya lupa, Farmasi itu rantai terakhir pelayanan, jadi harus sabar-sabar kena complain dari berbagai arah, diteriakin minta ini itu dsb, karena instruksi dokter tidak akan terlaksana oleh perawat kalau farmasi belum memberi obat (ujungnya sebut nama profesinya juga lol).
Jadi ingat meme di Instagram, ada percakapan pasien dan farmasi, pasien complain “my medicine is only one kind, why it takes so long?” terus farmasinya blg “because youre not the only one living in this world” yah semacam itulah, kasarnya “yang berobat dan ngantri obat kan bukan elu doang” wkwk.
Memang setiap pekerjaan pasti ada baper-baper jenis begini, yang begini harus disikapi secara professional. Saya yakin setiap dari kita tidak suka direndahkan, dan manifestasi merendahkan orang lain bisa dilihat dari etika seseorang berkomunikasi. Jadi yuk sama-sama perbaiki etika kita berkomunikasi, simply dengan menyelipkan kata tolong dan maaf itu sudah menjadi kata ajaib yang akan membangun team work yang baik, ye gak? Secara struktur professional pada umumnya, setiap profesi kesehatan pada dasarnya bukan atasan dan bawahan, tapi saya aware, jenjang dan durasi pendidikan, jenis pekerjaan kita dan rantai pelayanan somehow membuat diri kita seakan lupa bahwa kita adalah partner kerja, jadi harus pandai-pandai menempatkan diri. Sama-sama belajar yah.
Organisasi Profesi, you’ll be my savior!
Saya sempat terlibat dalam keorganisasian mahasiswa kesehatan lingkup nasional. Saya melihat bagaimana tanpa disadari, arogansi profesi muncul dari setiap ormawa kesehatan. Tidak jauh berbeda, organisasi profesi pun demikian. Setiap dari mereka seolah bersaing untuk membela hak profesinya. Terkadang saya meragukan pembelaan hak dari masing-masing organisasi, apa iya hal yang mereka tuntut benar adalah hak meraka? Apa sudah cukup objektif dan sesuai dengan self-worth masing-masing profesi? Karena biasanya berujung pada tujuan insentif, remunerasi, dsb, yah intinya kesejahteraan dan pengakuan. Semua aja ingin diakui sebagai profesi yang punya daya tawar tinggi untuk dihormati dan digaji tinggi, huft. Kalau sudah turun ke ranah kebijakan begini saya masih butuh banyak belajar. Yaudah gausah bicara ini dulu, biarkan saja yang berkompeten bicara soal kebijakan masing-masing profesi, tugas saya sekarang adalah melaksanakan amanah dari kebijakan yang dibuat, menuntuk hak dan melaksanakan kewajiban dari aturan yang sudah ada (kalau mampu ya kasi saran dan kritik utk kebijakannya). Untukku dan yang di luar sana, semangat menuntut hak dan melaksanakan kewajiban!
EPILOG
Mungkin terkesan tulisan saya isinya cuma baper-baper ga jelas. But well, gini loh, saya tidak bicara soal pride karena sebuah tingkat pendidikan atau nama universitas saya atau nama profesi saya, saya bicara soal self-worth based on job domain and competence. Pride dan dignity adalah dua hal yang berbeda. We talk pride as boasting because we are more successful or better than others, I talk dignity; dignity doesn’t see success nor failure, our self-worth is doing the best we can do based on our authority, sesuai yang seharusnya, sesuai dengan amanah undang-undang, sesuai dengan sumpah jabatan profesi, jikapun tingkat pendidikan perlu dipertimbangkan in some context, yah sesuaikan pula dengan itu, dan tak lupa sesuai pula dengan potensi diri. Intinya adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya. I am looking for my self-worth –which is to me, isn’t a sin- its an emotional incentive I should get as my job is impactful, therefore, it’s valuable. hehe
Tampilkan postingan dengan label health. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label health. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Juli 2018
Rabu, 21 Desember 2016
Ke Luar Negeri
Banyak orang yang bilang pergi ke luar negeri itu nagih. Ibarat narkotika, orang yang udah sering going abroad, bakal mengalami yang namanya withdrawal symptom kalo sebulan aja ga pergi *oke ini lebay. What actually make people wanna go abroad again and again? Karena adanya pembelajaran tentang budaya-budaya baik yang tidak ada di tanah air? Segala manajemen SDM, organisasi, lingkungan bersih, sistem yang established, tata kota yang rapih, dsb menjadi bahan yang patut kita observasi terus-menerus, menjadi panutan, kebanggaan, yang kelak ingin kita aplikasikan juga di tanah air. Semua itu terjadi karena tanah air kita yang belum semaju Negara lain. Yah logikanya memang kita selalu berkaca pada yang lebih baik untuk dijadikan contoh. Atau ada alasan lain kenapa nagih?
Zaman di mana media sosial jadi ajang riya’ yang terjustifikasi (wk), jangan-jangan poin utama dari pergi ke luar negeri, even untuk melakukan kegiatan akademik, adalah mendapatkan foto jalan-jalan yang instagramable wkwk. Namun memang sejatinya, niat jalan-jalan sulit untuk dihilangkan, apapun tujuan utama kita going abroad. I will always remember my European friend back in 2011 (who was also an exchange student) said about exchange students being literally tourists, and she was disappointed while she was really hoping that they share some good learning stories instead of posting pictures every second on facebook (dulu facebook masih super hits). Well, I saw it though, apalagi buat saya yang anak daerah super pilon yang saat itu baru pertama kalinya menginjakkan kaki ke luar negeri, jeprat jepret sana-sini, mulai dari lapangan Bandar udara, segala macam plang petunjuk jalan, hingga gedung apapun yang terlihat unik. The urge to take lots of picture is somehow because they look new to us, we don’t have them in our mother country, we gotta save them in a picture! They look cool! Period. There is also this unique pride whenever you upload the pictures, like saying “o yeah, I’m abroad.” You know what I mean.
So, is the behavior ‘justifiable’?
Sebelum menjawabnya dengan opini saya, saya mau memulai dengan cerita. Saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman saya pergi ke Pharmacy World Congress di Portugal, semoga ada hikmah yang bisa dipetik #tsah. Saat itu saya memutuskan untuk mengikuti seleksi yang diadakan oleh himpunan farmasi di kampus saya. Saya sangat tertarik dengan kegiatan ini cause I realize going abroad will open your eyes and mind in some ways that you would like. Saya tahu, sangat tahu, bahwa pergi ke kongres tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit (it’s not a scholarship or fully funded activity) meanwhile keadaan ekonomi keluarga saya ya…biasa-biasa aja. Tapi saya mendapatkan informasi bahwa memang setiap tahun ada mahasiswa yang berangkat ke kongres dan mereka dapat sponsor. Saya juga dengar teman-teman kakak saya yang sering dibiayai exchange oleh wali kota X, bupati Y, gubernur Z, atau kampusnya yang super pro dengan kegiatan exchange sehingga uang untuk pergi ke luar negeri tidak menjadi hambatan berarti (yang ternyata saya salah dapat informasi, dan ada yang benar tapi saya salah menginterpretasikan informasi ini). Karena informasi itu akhirnya saya berani daftar dengan asumsi “yeaah I will get a lot of sponsors”, nyatanya, jedeng, susah payah jatuh bangun, mungkin kalo diitung-itung dengan bikin proposal dan kaos syalala, gada sepertiga itu uang sponsor dan bantuan dikti+kampus ngecover keberangkatan (plus extend sih) -.- iya, saya salah kaprah, karena pada kenyataannya setiap tahun delegasi harus mengeluarkan uang sendiri (uang orang tua); karena mencari dana tidak semudah menuang analit ke dalam kuvet. Sedikit sekali perusahaan yang mau mendanai kegiatan semacam ini kecuali kamu punya link kuat di perusahaan itu. [Note. Pernah seseorang menyarankan saya untuk mengajukan proposal ke pejabat. But its not that easy too. Karena pada kenyataannya, maaf tanpa ada maksud menyinggung siapapun, mencari dana semacam ini atau beasiswa dengan keadaan ekonomi menengah itu sulit. Kebanyakan beasiswa (kecuali beasiswa murni prestasi) dan para pejabat yang bersedia membiayai pada akhirnya lebih mudah digaet oleh masyarakat dengan ekonomi ke bawah hehe. Meanwhile masyarakat ekonomi atas bisa dengan mudah ambil uang dari saku sendiri lantas yang menengah bingung sendiri karena seacara penghasilan ortu tidak masuk kriteria butuh bantuan tapi untuk afford hal-hal tertentu pun ga nyampe wkkwkwk. But anyway, be grateful on what we have yes:)]
Waktu itu visa sudah beres ketika saya masih pusing gimana caranya mendapatkan uang untuk berangkat. Sampai detik-detik terakhir harus beli tiket karena khawatir harga naik, orang tua saya menawarkan untuk menggunakan uangnya, to buy ticket. I, optimistically, said to mom “I’ll get the sponsors, mom, and your money will be back”. Until the D day, my mom’s money never comes back :( lol. I was about to cancel the departure but it was pretty much dilemma, because I had (well, mom and dad had) already paid the registration fee, the visa, proposals, and the ticket that cost much. You know that typical empathic parents when their kids are attempting things and almost failed, what would they do? They didn’t want to make their kids sad and disappointed. So yes, eventually, my parent allowed me to use their money, for the main event of congress and, surprisingly, for the holiday extend days…..man, I feel bad, even until now.
To the fact that I was trying to be a good kid, lol, wanted myself to save money during the trip, I wished to bring some money back to mom and dad. So here’s the story how it went….
For the 5 (or was it 6?) days of Congress, everything had been covered by the registration fee in advance so I didn’t need to think of how to split and saved money (for those who are curious about the congress, I posted some workshop notes in my blog, you can take a look, I guess it was about counseling and pharmacist role). But the challenge came to day 6 when I and other 3 ITB delegates were planning a short vacation. Dikala delegasi dari kampus lain akan keliling eropa dengan pesawat, my ITB friend knew that some of the ITB delegates wanted to save money. Di sini saya terharu sejujurnya wkwk. Saya merasakan sebuah persaudaraan yang luar biasa ketika rasa saling mengerti benar-benar ada di antara kita #tsah. Beginilah seharusnya itu terjadi, sebuah keterbukaan satu sama lain akan keinginan dan keterbatasan masing-masing. Tanpa sadar mungkin kita tidak peka dengan teman kita, seperti contoh kecil (intermezzo dikit) mau ngajak makan setelah UAS, terus dengan semena-mena kita pilih tempat makan mahal padahal ada teman kita yang gabisa afford itu atau memang lagi pingin nabung untuk kebutuhan sesuatu. Kadang karena merasa tidak enak, teman kita menyetujui begitu saja….please guys, don’t do it. Keterbukaan itu penting, dari hal kecil sekalipun *ngomong sama diri sendiri juga*. Good friends will accept you not because you always follow what they want, right. Remember, our money is not ours, our parents work hard for that.
Oh iya, singkat cerita, setelah didiskusikan, kami, all are girls, memutuskan untuk extend ke sekitar Portugal dan Spanyol saja. Dengan berbagai perhitungan syalala, akhirnya kita (dengan bimbingan super kece ketua delegasi yang sangat berpengalaman) menentukan spot-spot yang akan dikunjungi, mencari bus perjalanan malam untuk menghemat agar tidak menyewa kamar, kemudian membeli sarapan roti yang dibagi-bagi dengan lauk abon bawaan dari rumah seorang teman kami wkwk it was really good!
The other touched moment is that when we Muslim had to pray. Our non-muslim friends didn’t mind at all to have their muslim friends became an interesting ‘sightseeing’ of train passengers because we prayed next to railway or exit gate. Ini jujur pengalaman menarik juga bagi saya, belum pernah sebelumnya saya shalat random di tempat umum di mana orang-orang bisa dengan mudahnya melihat, bahkan saya sempat khawatir disangka akan melakukan hal berbahaya wkwk. Yah, walaupun pada kenyataannya setiap kali shalat di tempat improper itu rasanya diri ini rindu dengan kemudahan negeri sendiri akan akses mushola dan masjid.
The other unforgettable moment adalah ketika dompet teman kami hampir dicopet di metro. Seorang anak usia sekitar 15 tahun membuka resleting tas teman kami ketika kami masuk metro sampai teman saya menyadari tasnya terbuka. Drama itu dimulai dari sini, kami hampir saja terpisah dengan teman kami yang mulai mengejar sang pencopet karena pintu metro yang tertutup, kami pun membuka paksa. Untungnya salah satu teman kami tahu siapa pencopetnya sehingga bisa langung ditangkap dan digledah. I cried, yeah I did. Haha. Sulit untuk menggambarkan detail suasananya, tapi saat itu saya benar-benar takut sampai menangis :’) Bahkan teman saya yang memaksa menggledah pencopet itu pun menangis karena dia tidak menyangka berani melabrak sang pencopet dengan risiko ia membawa senjata tajam. I’m proud of you Le, you looked so damn cool! Wkwk. Karena kejadian ini, kami yang hendak berjalan-jalan di Barcelona, menyadari kami butuh menenangkan diri. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di hotel. But the hotels were all booked and we were desperate until our friends from UGM told us their hotel still had rooms. We went to the hotel… and we got lost. We walked all the way upppp to (I don’t remember which direction)… we were sooooo exhausted hingga menemukan hotelnya seperti menemukan oasis di tengah padang pasir. Ini di luar rencana, kami terpaksa mengeluarkan uang di luar dugaan untuk hotel ini.
Saya sejujurnya tidak begitu ingat kronologi perjalanan kami haha. Jadi ya ini ceritanya potong-potong. Kejadian mengenaskan (lol) lainnya adalah saat saya menyadari bahwa saya harus beli koper baru. Koper saya rusak!! Bahkan rusaknya right after tiba di Porto, di tempat acara congress. Udara yang luar biasa panas membuat roda koper saya saling menempel sehingga tidak bisa berputar. Alhasil saya menyeret (literally menyeret!!!) koper super berat itu ke tempat acara berjalan 30 menit dan kembali lagi melakukan itu untuk waktu yang lebih panjang saat berangkat ke Lisbon sebelum ke Spain. I couldn’t stand on it, my hands were getting too stiff, shaking, I felt like I was about to pass out but I was trying to hide it because I didn’t want to bother my friends; so I told my mom and she told me to buy suitcase. Sorry mom :’ Ketika masalah perkoperan selesai, sepatu saya rusak…. Dan saya pun beli sepatu. Dua hal di luar dugaan. I felt so …suck. Kenapa pula saya tidak belajar dari pengalaman dulu soal kualitas koper, padahal sebelumnya koper saya juga rusak karena tidak kuat menahan beban -.- wkwk.
Cerita lainnya adalah pengalaman-pengalaman menarik, seperti kunjungan kami ke Museum Peradaban Muslim di Spanyol, mungkin ini akan saya ceritakan terpisah nanti ya (semoga masih ingat pas liat foto2nya :” ), kemudian kami sering berfoto di gedung-gedung ala-ala Eropa, makan makanan khas daerah di Porto dan Spanyol, belanja oleh-oleh, dan 17an di KBRI! So other thing that we did to save money is asking KBRI if they had some kind of free room stay for Indonesians, and thank God we met this nice beautiful lady that allow us to stay in her apartment. We put our baggage there so we didn’t need to bring the baggage during our trip to Spain. After the trip, it was exactly August 17th so the nice lady took us to celebrate Independence Day in KBRI Lisbon, what a nice experience!
Oke begitulah sedikit ceritanya,
Jadi, di sini saya tidak berbicara Farah Quinn atau Dian Pelangi, atau seleb siapapun yang mungkin dengan mudah beli tiket dan pergi ke luar negeri setiap bulan. Saya juga tidak berbicara tentang anak pejabat atau anak orang kaya yang tak perlu berpikir dua kali untuk jalan-jalan ke luar negeri. Haha. Saya bicara dalam konteks mahasiswa yang going abroad for academic purpose. Sejak kuliah saya merasakan bahwa pergi konferensi dan exchange ke luar negeri ngehits banget, apalagi di jurusan saya yang punya organisasi nasional dan internasionalnya cukup established, tiap tahun ada banyaaaaaakkk kesempatan ke luar negeri. Yang saya soroti kemudian adalah, untuk lolos seleksi ke acara seperti itu ga begitu sulit, seriously, like you don’t need any specific skill or have to be very competent or you gotta have a really great paper to submit, no you don’t. Kuota lah yang akhirnya membuat orang ga lolos, padahal secara kompetensi mungkin peserta yang mendaftar ga jauh beda, not that competitive. Selain kuota, ini highlight saya. Uang. Banyak teman saya yang punya skill oke banget dan worth it untuk merasakan pengalaman going abroad tapi memilih untuk tidak mendaftar karena tidak ada uang. Mereka tau, setiap tahun, di jurusan saya, mereka mengeluarkan uang sendiri untuk berangkat, we barely got sponsors kecuali untuk beberapa kampus yang memang mengalokasikan dana exchange yang luar biasa banyak. Karena hal ini pun, kadang saya skeptis sama delegasi, termasuk skeptis sama diri sendiri haha.
Suatu hari ada seorang pengurus organisasi farmasi asia pasifik yang datang ke Indonesia, he said “Every year, more than half of delegates are from Indonesians (yah orang Indonesia selalu kelewat excited kali ya sampai selalu mendominasi peserta event-red), don’t you guys feel like want to give something to your country after being back home? Please do something, you got a lot of resources. Fix your country.” Saat saya dengar itu, seolah saya merecall waktu saya jadi delegasi kongres, did I bring something back for my country? Teman saya pernah bilang “orang-orang yang ikut acara internasionalnya bukan aktivis sih, jd yaudah, jadi delegasi cuma buat jalan-jalan aja, yang berangkat yang punya modal. Pulang-pulang cuma kasih oleh-oleh.” Please, im not trying to blame anyone. Karena sejatinya perkataan itu tidak bisa dibuktikan begitu saja, ya memangnya negeri ini ga maju-maju karena mahasiswanya yang gabisa belajar dari pengalaman?? Eh, bisa jadi.
Having an experience of going abroad is fantastic, mainly if it’s done for academic purpose. You got a lot of things you can learn from. Knowledge and network, and the bonus is you got a chance to sightseeing, extend some days like what I did. Is that a wrong thing to do? No, I would say that is not. Apa yang kita bisa bawa pulang ketika kembali bukan semata kemudian melakukan pengabdian masyarakat ramai-ramai, membuat komunitas sendiri, atau melakukan suatu hal yang terlihat di depan public, that you give something for your country (well this is also very good, melihat bahwa saya tidak pernah melihat hal semacam ini dilakukan oleh para delegasi secara bersama-sama). At least, we invent something within us. Value. Nilai-nilai baik yang terus kita ingat dari acara inti konferensi hingga jalan-jalannya. Kalau teman-teman baca tadi cerita liburan saya di Spanyol, apakah ke semuanya itu adalah hal buang-buang waktu dan uang saja yang tidak ada nilainya sama sekali? Well, it does have value. Value yang saya harap akan saya gunakan untuk mencapai life goals saya yang muaranya tentu untuk kebaikan agama dan negeri ini. Apapun itu cara yang bisa kita lakukan, cara yang tidak mesti terlihat. Hehe. (padahal orangnya teh lagi galau nge-re-plan hidup)
So guys lets recall what we have got during all this year. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dedek-dedek ayo explore sebelum kelak akan ada orang lain yang membatasi ruang gerak kita (if you know what I mean) *berasa tua ya jen*. Sahabat-sahabat farmasiku tercinta #tsah, lets plan something great to thank this country by utilizing the value we’ve got. The other form of thanking our parents as well that had paid a lot of money so our dreams of going abroad come true. We do need the going-abroad experience to make our CV somewhat looks good or to make us happy, but it’s more like because we need to upgrade the value we believe in from variety point of views. Value that we use for making a better world with any way, sebebas kita merencanakan sesuatu, kalau mengutip kata seorang teman, “having fun while making the world a better place” haha.
Semangat (Ris)!
Zaman di mana media sosial jadi ajang riya’ yang terjustifikasi (wk), jangan-jangan poin utama dari pergi ke luar negeri, even untuk melakukan kegiatan akademik, adalah mendapatkan foto jalan-jalan yang instagramable wkwk. Namun memang sejatinya, niat jalan-jalan sulit untuk dihilangkan, apapun tujuan utama kita going abroad. I will always remember my European friend back in 2011 (who was also an exchange student) said about exchange students being literally tourists, and she was disappointed while she was really hoping that they share some good learning stories instead of posting pictures every second on facebook (dulu facebook masih super hits). Well, I saw it though, apalagi buat saya yang anak daerah super pilon yang saat itu baru pertama kalinya menginjakkan kaki ke luar negeri, jeprat jepret sana-sini, mulai dari lapangan Bandar udara, segala macam plang petunjuk jalan, hingga gedung apapun yang terlihat unik. The urge to take lots of picture is somehow because they look new to us, we don’t have them in our mother country, we gotta save them in a picture! They look cool! Period. There is also this unique pride whenever you upload the pictures, like saying “o yeah, I’m abroad.” You know what I mean.
So, is the behavior ‘justifiable’?
Sebelum menjawabnya dengan opini saya, saya mau memulai dengan cerita. Saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman saya pergi ke Pharmacy World Congress di Portugal, semoga ada hikmah yang bisa dipetik #tsah. Saat itu saya memutuskan untuk mengikuti seleksi yang diadakan oleh himpunan farmasi di kampus saya. Saya sangat tertarik dengan kegiatan ini cause I realize going abroad will open your eyes and mind in some ways that you would like. Saya tahu, sangat tahu, bahwa pergi ke kongres tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit (it’s not a scholarship or fully funded activity) meanwhile keadaan ekonomi keluarga saya ya…biasa-biasa aja. Tapi saya mendapatkan informasi bahwa memang setiap tahun ada mahasiswa yang berangkat ke kongres dan mereka dapat sponsor. Saya juga dengar teman-teman kakak saya yang sering dibiayai exchange oleh wali kota X, bupati Y, gubernur Z, atau kampusnya yang super pro dengan kegiatan exchange sehingga uang untuk pergi ke luar negeri tidak menjadi hambatan berarti (yang ternyata saya salah dapat informasi, dan ada yang benar tapi saya salah menginterpretasikan informasi ini). Karena informasi itu akhirnya saya berani daftar dengan asumsi “yeaah I will get a lot of sponsors”, nyatanya, jedeng, susah payah jatuh bangun, mungkin kalo diitung-itung dengan bikin proposal dan kaos syalala, gada sepertiga itu uang sponsor dan bantuan dikti+kampus ngecover keberangkatan (plus extend sih) -.- iya, saya salah kaprah, karena pada kenyataannya setiap tahun delegasi harus mengeluarkan uang sendiri (uang orang tua); karena mencari dana tidak semudah menuang analit ke dalam kuvet. Sedikit sekali perusahaan yang mau mendanai kegiatan semacam ini kecuali kamu punya link kuat di perusahaan itu. [Note. Pernah seseorang menyarankan saya untuk mengajukan proposal ke pejabat. But its not that easy too. Karena pada kenyataannya, maaf tanpa ada maksud menyinggung siapapun, mencari dana semacam ini atau beasiswa dengan keadaan ekonomi menengah itu sulit. Kebanyakan beasiswa (kecuali beasiswa murni prestasi) dan para pejabat yang bersedia membiayai pada akhirnya lebih mudah digaet oleh masyarakat dengan ekonomi ke bawah hehe. Meanwhile masyarakat ekonomi atas bisa dengan mudah ambil uang dari saku sendiri lantas yang menengah bingung sendiri karena seacara penghasilan ortu tidak masuk kriteria butuh bantuan tapi untuk afford hal-hal tertentu pun ga nyampe wkkwkwk. But anyway, be grateful on what we have yes:)]
Waktu itu visa sudah beres ketika saya masih pusing gimana caranya mendapatkan uang untuk berangkat. Sampai detik-detik terakhir harus beli tiket karena khawatir harga naik, orang tua saya menawarkan untuk menggunakan uangnya, to buy ticket. I, optimistically, said to mom “I’ll get the sponsors, mom, and your money will be back”. Until the D day, my mom’s money never comes back :( lol. I was about to cancel the departure but it was pretty much dilemma, because I had (well, mom and dad had) already paid the registration fee, the visa, proposals, and the ticket that cost much. You know that typical empathic parents when their kids are attempting things and almost failed, what would they do? They didn’t want to make their kids sad and disappointed. So yes, eventually, my parent allowed me to use their money, for the main event of congress and, surprisingly, for the holiday extend days…..man, I feel bad, even until now.
To the fact that I was trying to be a good kid, lol, wanted myself to save money during the trip, I wished to bring some money back to mom and dad. So here’s the story how it went….
For the 5 (or was it 6?) days of Congress, everything had been covered by the registration fee in advance so I didn’t need to think of how to split and saved money (for those who are curious about the congress, I posted some workshop notes in my blog, you can take a look, I guess it was about counseling and pharmacist role). But the challenge came to day 6 when I and other 3 ITB delegates were planning a short vacation. Dikala delegasi dari kampus lain akan keliling eropa dengan pesawat, my ITB friend knew that some of the ITB delegates wanted to save money. Di sini saya terharu sejujurnya wkwk. Saya merasakan sebuah persaudaraan yang luar biasa ketika rasa saling mengerti benar-benar ada di antara kita #tsah. Beginilah seharusnya itu terjadi, sebuah keterbukaan satu sama lain akan keinginan dan keterbatasan masing-masing. Tanpa sadar mungkin kita tidak peka dengan teman kita, seperti contoh kecil (intermezzo dikit) mau ngajak makan setelah UAS, terus dengan semena-mena kita pilih tempat makan mahal padahal ada teman kita yang gabisa afford itu atau memang lagi pingin nabung untuk kebutuhan sesuatu. Kadang karena merasa tidak enak, teman kita menyetujui begitu saja….please guys, don’t do it. Keterbukaan itu penting, dari hal kecil sekalipun *ngomong sama diri sendiri juga*. Good friends will accept you not because you always follow what they want, right. Remember, our money is not ours, our parents work hard for that.
Oh iya, singkat cerita, setelah didiskusikan, kami, all are girls, memutuskan untuk extend ke sekitar Portugal dan Spanyol saja. Dengan berbagai perhitungan syalala, akhirnya kita (dengan bimbingan super kece ketua delegasi yang sangat berpengalaman) menentukan spot-spot yang akan dikunjungi, mencari bus perjalanan malam untuk menghemat agar tidak menyewa kamar, kemudian membeli sarapan roti yang dibagi-bagi dengan lauk abon bawaan dari rumah seorang teman kami wkwk it was really good!
The other touched moment is that when we Muslim had to pray. Our non-muslim friends didn’t mind at all to have their muslim friends became an interesting ‘sightseeing’ of train passengers because we prayed next to railway or exit gate. Ini jujur pengalaman menarik juga bagi saya, belum pernah sebelumnya saya shalat random di tempat umum di mana orang-orang bisa dengan mudahnya melihat, bahkan saya sempat khawatir disangka akan melakukan hal berbahaya wkwk. Yah, walaupun pada kenyataannya setiap kali shalat di tempat improper itu rasanya diri ini rindu dengan kemudahan negeri sendiri akan akses mushola dan masjid.
The other unforgettable moment adalah ketika dompet teman kami hampir dicopet di metro. Seorang anak usia sekitar 15 tahun membuka resleting tas teman kami ketika kami masuk metro sampai teman saya menyadari tasnya terbuka. Drama itu dimulai dari sini, kami hampir saja terpisah dengan teman kami yang mulai mengejar sang pencopet karena pintu metro yang tertutup, kami pun membuka paksa. Untungnya salah satu teman kami tahu siapa pencopetnya sehingga bisa langung ditangkap dan digledah. I cried, yeah I did. Haha. Sulit untuk menggambarkan detail suasananya, tapi saat itu saya benar-benar takut sampai menangis :’) Bahkan teman saya yang memaksa menggledah pencopet itu pun menangis karena dia tidak menyangka berani melabrak sang pencopet dengan risiko ia membawa senjata tajam. I’m proud of you Le, you looked so damn cool! Wkwk. Karena kejadian ini, kami yang hendak berjalan-jalan di Barcelona, menyadari kami butuh menenangkan diri. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di hotel. But the hotels were all booked and we were desperate until our friends from UGM told us their hotel still had rooms. We went to the hotel… and we got lost. We walked all the way upppp to (I don’t remember which direction)… we were sooooo exhausted hingga menemukan hotelnya seperti menemukan oasis di tengah padang pasir. Ini di luar rencana, kami terpaksa mengeluarkan uang di luar dugaan untuk hotel ini.
Saya sejujurnya tidak begitu ingat kronologi perjalanan kami haha. Jadi ya ini ceritanya potong-potong. Kejadian mengenaskan (lol) lainnya adalah saat saya menyadari bahwa saya harus beli koper baru. Koper saya rusak!! Bahkan rusaknya right after tiba di Porto, di tempat acara congress. Udara yang luar biasa panas membuat roda koper saya saling menempel sehingga tidak bisa berputar. Alhasil saya menyeret (literally menyeret!!!) koper super berat itu ke tempat acara berjalan 30 menit dan kembali lagi melakukan itu untuk waktu yang lebih panjang saat berangkat ke Lisbon sebelum ke Spain. I couldn’t stand on it, my hands were getting too stiff, shaking, I felt like I was about to pass out but I was trying to hide it because I didn’t want to bother my friends; so I told my mom and she told me to buy suitcase. Sorry mom :’ Ketika masalah perkoperan selesai, sepatu saya rusak…. Dan saya pun beli sepatu. Dua hal di luar dugaan. I felt so …suck. Kenapa pula saya tidak belajar dari pengalaman dulu soal kualitas koper, padahal sebelumnya koper saya juga rusak karena tidak kuat menahan beban -.- wkwk.
Cerita lainnya adalah pengalaman-pengalaman menarik, seperti kunjungan kami ke Museum Peradaban Muslim di Spanyol, mungkin ini akan saya ceritakan terpisah nanti ya (semoga masih ingat pas liat foto2nya :” ), kemudian kami sering berfoto di gedung-gedung ala-ala Eropa, makan makanan khas daerah di Porto dan Spanyol, belanja oleh-oleh, dan 17an di KBRI! So other thing that we did to save money is asking KBRI if they had some kind of free room stay for Indonesians, and thank God we met this nice beautiful lady that allow us to stay in her apartment. We put our baggage there so we didn’t need to bring the baggage during our trip to Spain. After the trip, it was exactly August 17th so the nice lady took us to celebrate Independence Day in KBRI Lisbon, what a nice experience!
Oke begitulah sedikit ceritanya,
Jadi, di sini saya tidak berbicara Farah Quinn atau Dian Pelangi, atau seleb siapapun yang mungkin dengan mudah beli tiket dan pergi ke luar negeri setiap bulan. Saya juga tidak berbicara tentang anak pejabat atau anak orang kaya yang tak perlu berpikir dua kali untuk jalan-jalan ke luar negeri. Haha. Saya bicara dalam konteks mahasiswa yang going abroad for academic purpose. Sejak kuliah saya merasakan bahwa pergi konferensi dan exchange ke luar negeri ngehits banget, apalagi di jurusan saya yang punya organisasi nasional dan internasionalnya cukup established, tiap tahun ada banyaaaaaakkk kesempatan ke luar negeri. Yang saya soroti kemudian adalah, untuk lolos seleksi ke acara seperti itu ga begitu sulit, seriously, like you don’t need any specific skill or have to be very competent or you gotta have a really great paper to submit, no you don’t. Kuota lah yang akhirnya membuat orang ga lolos, padahal secara kompetensi mungkin peserta yang mendaftar ga jauh beda, not that competitive. Selain kuota, ini highlight saya. Uang. Banyak teman saya yang punya skill oke banget dan worth it untuk merasakan pengalaman going abroad tapi memilih untuk tidak mendaftar karena tidak ada uang. Mereka tau, setiap tahun, di jurusan saya, mereka mengeluarkan uang sendiri untuk berangkat, we barely got sponsors kecuali untuk beberapa kampus yang memang mengalokasikan dana exchange yang luar biasa banyak. Karena hal ini pun, kadang saya skeptis sama delegasi, termasuk skeptis sama diri sendiri haha.
Suatu hari ada seorang pengurus organisasi farmasi asia pasifik yang datang ke Indonesia, he said “Every year, more than half of delegates are from Indonesians (yah orang Indonesia selalu kelewat excited kali ya sampai selalu mendominasi peserta event-red), don’t you guys feel like want to give something to your country after being back home? Please do something, you got a lot of resources. Fix your country.” Saat saya dengar itu, seolah saya merecall waktu saya jadi delegasi kongres, did I bring something back for my country? Teman saya pernah bilang “orang-orang yang ikut acara internasionalnya bukan aktivis sih, jd yaudah, jadi delegasi cuma buat jalan-jalan aja, yang berangkat yang punya modal. Pulang-pulang cuma kasih oleh-oleh.” Please, im not trying to blame anyone. Karena sejatinya perkataan itu tidak bisa dibuktikan begitu saja, ya memangnya negeri ini ga maju-maju karena mahasiswanya yang gabisa belajar dari pengalaman?? Eh, bisa jadi.
Having an experience of going abroad is fantastic, mainly if it’s done for academic purpose. You got a lot of things you can learn from. Knowledge and network, and the bonus is you got a chance to sightseeing, extend some days like what I did. Is that a wrong thing to do? No, I would say that is not. Apa yang kita bisa bawa pulang ketika kembali bukan semata kemudian melakukan pengabdian masyarakat ramai-ramai, membuat komunitas sendiri, atau melakukan suatu hal yang terlihat di depan public, that you give something for your country (well this is also very good, melihat bahwa saya tidak pernah melihat hal semacam ini dilakukan oleh para delegasi secara bersama-sama). At least, we invent something within us. Value. Nilai-nilai baik yang terus kita ingat dari acara inti konferensi hingga jalan-jalannya. Kalau teman-teman baca tadi cerita liburan saya di Spanyol, apakah ke semuanya itu adalah hal buang-buang waktu dan uang saja yang tidak ada nilainya sama sekali? Well, it does have value. Value yang saya harap akan saya gunakan untuk mencapai life goals saya yang muaranya tentu untuk kebaikan agama dan negeri ini. Apapun itu cara yang bisa kita lakukan, cara yang tidak mesti terlihat. Hehe. (padahal orangnya teh lagi galau nge-re-plan hidup)
So guys lets recall what we have got during all this year. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dedek-dedek ayo explore sebelum kelak akan ada orang lain yang membatasi ruang gerak kita (if you know what I mean) *berasa tua ya jen*. Sahabat-sahabat farmasiku tercinta #tsah, lets plan something great to thank this country by utilizing the value we’ve got. The other form of thanking our parents as well that had paid a lot of money so our dreams of going abroad come true. We do need the going-abroad experience to make our CV somewhat looks good or to make us happy, but it’s more like because we need to upgrade the value we believe in from variety point of views. Value that we use for making a better world with any way, sebebas kita merencanakan sesuatu, kalau mengutip kata seorang teman, “having fun while making the world a better place” haha.
Semangat (Ris)!
Rabu, 14 September 2016
Delicate Balancing~
Warna putih gading yang akhirnya dipilih menjadi simbol keberadaan apoteker, warna yang dipilih setelah melalui perdebatan cukup panjang di forum organisasi profesi….
Ah ka, do you know how it feels staring at all of you with that unique white color as if covering my eyes? Do you know how it feels mentioning your name one by one, calling out those beautiful names, asking you to come forward to greet the dean? Do you know how it feels to mention every great student who got an appreciation, highest GPA and highest test score? Rasanya….hambar. biasa saja. Yah, ada sedikit bangga. Haha. Itu satu tahun yang lalu. Saat saya berdiri menjadi MC sumpah apoteker di kampus tercinta.
Ka, rasanya berbeda sekarang. Ini kali ke dua saya berkesempatan datang melihat khidmatnya prosesi sumpah apoteker, walau tidak secara utuh. Saya melihat wajah orang tua kakak. Weren’t they proud? Wasn’t that the face of a mom who couldn’t stop smiling? Wasn’t that the proud of a dad who got more blossom like a flower never running out of water? Hehe. Manusia kadang terlambat menghayati sesuatu ya.
Ka, sekarang rasanya bagaimana jadi apoteker? Takutkah kakak dengan realita yang menanti kakak di depan? Hehe
Saya disuapi banyak hal ideal ketika duduk di bangku kuliah (eh sekarang masih kuliah juga deng). Saya diperkenalkan dengan tugas ideal seorang apoteker, moral value ideal yang seharusnya dimiliki seorang apoteker. Tapi saya juga mendengar cerita-cerita realita di lapangan bahkan sempat secara langsung merasakannya di pengalaman magang. Duh ka, dosen saya bilang, pekerjaan kita itu rawan, we have a job related to drugs for health and prosperity of a society. Obat kemudian menjadi media utama kita dalam mencari penghidupan. But then we remember the moral value we should hold on. Ah man, it’s a delicate balancing, indeed, a very delicate one between profit…and social. I might call it as well a fragile balancing.
Keseimbangan yang rapuh.
Apoteker dituntut untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui obat, di satu sisi tentu kita (yah sy belum apoteker, tp gpp ya bilang ‘kita’ aja biar doa wkwk) butuh uang untuk hidup. Saya ingat kala itu di tahun 2012 ada seorang kakak yang bilang “Risni, kamu yakin mau masuk farmasi? Kakak pernah lihat hasil survey penghasilan lulusan ITB, lulusan farmasi termasuk yang gajinya paling kecil”. Saya cuma pasang muka pilon. Karena dulu saya belum terpapar dengan kejamnya dunia orang dewasa #naon, saya pun masa bodo haha. Yah mungkin kakak tersebut salah membandingkan gaji apoteker dengan gaji anak teknik. Salah. Itu salah. Ahaha.
Waktu itu saya sedang magang di salah satu rumah sakit swasta yang oke punya, yang sistem farmasi klinisnya saya bangga-banggakan. Namun ada yang sangat mengganjal di hati. Turnover apotekernya sangat tinggi. Saya pun memberanikan bertanya pada seorang apoteker senior di sana, “Kenapa bu? Kenapa banyak yang ga betah?” sang ibu menjawab “Namanya juga anak muda, masih berani loncat2 cari yang gajinya lebih besar. Da ibu mah udah tua, gaji segini yang penting bisa makan juga Alhamdulillah.” Itu rumah sakit swasta yang oke punya. Iya, swasta yang oke punya.
Lain waktu, seorang dosen pemilik apotek dengan senyum lebarnya memperlihatkan BEP (Break Even Point) hasil usaha apoteknya yang membanggakan, laba yang menggiurkan. Wah pokoknya kalau anda mahasiswa farmasi klinis yang habis dijejali selama 4 tahun tentang realita gaji apoteker klinis yang kecil, lihat slide dosen itu anda bisa-bisa langsung telepon mama minta dimodalin bikin apotek wkwk.
Wah jadi buat apotek prospektif banget ya?
Ada pertanyaan. Kalau kamu lagi butuh uang, sangat urgen, sedangkan usaha apotek kamu belum establish, terus ada bapak-bapak beli komix 3 box atau beli antibiotic 50 strip tanpa resep dokter, kamu bakal kasi ga?
Yah apoteker pasti tahu ada sesuatu ga beres yang akan dilakukan oleh bapak-bapak ini terkait penyalahgunaan obat. Kalau alasannya tidak jelas pastilah apoteker yang berintegritas tidak akan memberikannya. Patient safety is number one? Geez, that pharmacist just did a good thing for society.
This is what I am talking about, as my lecturer says, a delicate balancing between social and profit. Too fragile. Anak farmasi merasa kuliahnya berat, tak pantas dihargai dengan rupiah yang tak seberapa. Lantas itu dirasa suatu pengorbanan luar biasa yang harus dibayar cepat dengan menggadaikan integritas? Berat amat jen ngomonginnya integritas
I was about to give you another example…tapi ga jadi deh. Sepertinya satu contoh di atas sudah mewakili arti dari delicate balancing yang saya maksud.
Frankly speaking, I don’t know for real. Saya masih anak bawang yang cuma dengar-dengar cerita dari orang. But every job may bear moral consequences, with a different form of consequence. Kayak, kasarnya, dokter yang berharap meningkatkan kesehatan masyarakat tapi kalau gada orang sakit dapat duit dari mana, terus masa harus berdoa supaya banyak yang sakit wkwk
Bicara konsekuensi, tapi memang, idealnya kita mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita lalui. Mungkin ITB masih jadi favoritnya orang-orang karena kehidupan menjanjikannya seorang lulusan teknik atau FK masih jadi incaran semua kalangan karena katanya penghasilannya berdigit-digit. Tapi suami dosen saya yang lulusan tambang harus rela meninggalkan istri dalam waktu lama karena kerjaan jauh di luar pulau, cerita ayah teman saya seorang dokter yang harus rela “melarat” bersama keluarga karena lamanya pendidikan dokter. Look, they pay ‘money’ to get real money.
Anak farmasi yang katanya tadi susah belajar dan susah kerjanya…kok gajinya dikit? Hmm. We feel that we are worth something big after all the sacrifices. O yeah of course, I do hope govt appreciate pharmacist more. But then we might forget what actually we work for…….do we work solely for money? Do we live for things that we crave for without considering the social value? Memang tidak pernah ada istilah socialpreneur untuk seorang apoteker. But you want it or not, every health professional might have the soul of it haha now how we’re going to make it balance is truly depend on ourselves.
I once was asked. Do you want to be something you want to be or thing that you value? Pertanyaan itu terus lewat di pikiran saya saat melihat para kakak dengan jas putih gadingnya. Akankah putih gading itu kelak luntur karena kondisi yang memaksa? Akankah putih gading itu ternodai dengan dosa-dosa yang seolah tak terasa? Mungkin orang tua kita tersenyum melihat ‘betapa suksesnya’ sang anak, but how long the smile exists under a very delicate balancing?
Ah alangkah indahnya jika kita bisa saling mengingatkan satu sama lain untuk urusan ini.
I once was asked. Do you want to be something you want to be or thing that you value? Now I am asking you.
Ah ka, do you know how it feels staring at all of you with that unique white color as if covering my eyes? Do you know how it feels mentioning your name one by one, calling out those beautiful names, asking you to come forward to greet the dean? Do you know how it feels to mention every great student who got an appreciation, highest GPA and highest test score? Rasanya….hambar. biasa saja. Yah, ada sedikit bangga. Haha. Itu satu tahun yang lalu. Saat saya berdiri menjadi MC sumpah apoteker di kampus tercinta.
Ka, rasanya berbeda sekarang. Ini kali ke dua saya berkesempatan datang melihat khidmatnya prosesi sumpah apoteker, walau tidak secara utuh. Saya melihat wajah orang tua kakak. Weren’t they proud? Wasn’t that the face of a mom who couldn’t stop smiling? Wasn’t that the proud of a dad who got more blossom like a flower never running out of water? Hehe. Manusia kadang terlambat menghayati sesuatu ya.
Ka, sekarang rasanya bagaimana jadi apoteker? Takutkah kakak dengan realita yang menanti kakak di depan? Hehe
Saya disuapi banyak hal ideal ketika duduk di bangku kuliah (eh sekarang masih kuliah juga deng). Saya diperkenalkan dengan tugas ideal seorang apoteker, moral value ideal yang seharusnya dimiliki seorang apoteker. Tapi saya juga mendengar cerita-cerita realita di lapangan bahkan sempat secara langsung merasakannya di pengalaman magang. Duh ka, dosen saya bilang, pekerjaan kita itu rawan, we have a job related to drugs for health and prosperity of a society. Obat kemudian menjadi media utama kita dalam mencari penghidupan. But then we remember the moral value we should hold on. Ah man, it’s a delicate balancing, indeed, a very delicate one between profit…and social. I might call it as well a fragile balancing.
Keseimbangan yang rapuh.
Apoteker dituntut untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui obat, di satu sisi tentu kita (yah sy belum apoteker, tp gpp ya bilang ‘kita’ aja biar doa wkwk) butuh uang untuk hidup. Saya ingat kala itu di tahun 2012 ada seorang kakak yang bilang “Risni, kamu yakin mau masuk farmasi? Kakak pernah lihat hasil survey penghasilan lulusan ITB, lulusan farmasi termasuk yang gajinya paling kecil”. Saya cuma pasang muka pilon. Karena dulu saya belum terpapar dengan kejamnya dunia orang dewasa #naon, saya pun masa bodo haha. Yah mungkin kakak tersebut salah membandingkan gaji apoteker dengan gaji anak teknik. Salah. Itu salah. Ahaha.
Waktu itu saya sedang magang di salah satu rumah sakit swasta yang oke punya, yang sistem farmasi klinisnya saya bangga-banggakan. Namun ada yang sangat mengganjal di hati. Turnover apotekernya sangat tinggi. Saya pun memberanikan bertanya pada seorang apoteker senior di sana, “Kenapa bu? Kenapa banyak yang ga betah?” sang ibu menjawab “Namanya juga anak muda, masih berani loncat2 cari yang gajinya lebih besar. Da ibu mah udah tua, gaji segini yang penting bisa makan juga Alhamdulillah.” Itu rumah sakit swasta yang oke punya. Iya, swasta yang oke punya.
Lain waktu, seorang dosen pemilik apotek dengan senyum lebarnya memperlihatkan BEP (Break Even Point) hasil usaha apoteknya yang membanggakan, laba yang menggiurkan. Wah pokoknya kalau anda mahasiswa farmasi klinis yang habis dijejali selama 4 tahun tentang realita gaji apoteker klinis yang kecil, lihat slide dosen itu anda bisa-bisa langsung telepon mama minta dimodalin bikin apotek wkwk.
Wah jadi buat apotek prospektif banget ya?
Ada pertanyaan. Kalau kamu lagi butuh uang, sangat urgen, sedangkan usaha apotek kamu belum establish, terus ada bapak-bapak beli komix 3 box atau beli antibiotic 50 strip tanpa resep dokter, kamu bakal kasi ga?
Yah apoteker pasti tahu ada sesuatu ga beres yang akan dilakukan oleh bapak-bapak ini terkait penyalahgunaan obat. Kalau alasannya tidak jelas pastilah apoteker yang berintegritas tidak akan memberikannya. Patient safety is number one? Geez, that pharmacist just did a good thing for society.
This is what I am talking about, as my lecturer says, a delicate balancing between social and profit. Too fragile. Anak farmasi merasa kuliahnya berat, tak pantas dihargai dengan rupiah yang tak seberapa. Lantas itu dirasa suatu pengorbanan luar biasa yang harus dibayar cepat dengan menggadaikan integritas? Berat amat jen ngomonginnya integritas
I was about to give you another example…tapi ga jadi deh. Sepertinya satu contoh di atas sudah mewakili arti dari delicate balancing yang saya maksud.
Frankly speaking, I don’t know for real. Saya masih anak bawang yang cuma dengar-dengar cerita dari orang. But every job may bear moral consequences, with a different form of consequence. Kayak, kasarnya, dokter yang berharap meningkatkan kesehatan masyarakat tapi kalau gada orang sakit dapat duit dari mana, terus masa harus berdoa supaya banyak yang sakit wkwk
Bicara konsekuensi, tapi memang, idealnya kita mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita lalui. Mungkin ITB masih jadi favoritnya orang-orang karena kehidupan menjanjikannya seorang lulusan teknik atau FK masih jadi incaran semua kalangan karena katanya penghasilannya berdigit-digit. Tapi suami dosen saya yang lulusan tambang harus rela meninggalkan istri dalam waktu lama karena kerjaan jauh di luar pulau, cerita ayah teman saya seorang dokter yang harus rela “melarat” bersama keluarga karena lamanya pendidikan dokter. Look, they pay ‘money’ to get real money.
Anak farmasi yang katanya tadi susah belajar dan susah kerjanya…kok gajinya dikit? Hmm. We feel that we are worth something big after all the sacrifices. O yeah of course, I do hope govt appreciate pharmacist more. But then we might forget what actually we work for…….do we work solely for money? Do we live for things that we crave for without considering the social value? Memang tidak pernah ada istilah socialpreneur untuk seorang apoteker. But you want it or not, every health professional might have the soul of it haha now how we’re going to make it balance is truly depend on ourselves.
I once was asked. Do you want to be something you want to be or thing that you value? Pertanyaan itu terus lewat di pikiran saya saat melihat para kakak dengan jas putih gadingnya. Akankah putih gading itu kelak luntur karena kondisi yang memaksa? Akankah putih gading itu ternodai dengan dosa-dosa yang seolah tak terasa? Mungkin orang tua kita tersenyum melihat ‘betapa suksesnya’ sang anak, but how long the smile exists under a very delicate balancing?
Ah alangkah indahnya jika kita bisa saling mengingatkan satu sama lain untuk urusan ini.
I once was asked. Do you want to be something you want to be or thing that you value? Now I am asking you.
Sabtu, 13 Agustus 2016
Sampai Jumpa Ismafarsi!
Ternyata rasa benci yang katanya ‘benar-benar cinta’ itu terjadi pada saya. Rasa benci akan organisasi ini tumbuh menjadi rasa cinta yang begitu abstrak. Abstrak karena sampai saat ini saya tidak dapat mendeskripsikan rasanya.
Berawal dari rasa tidak suka akan satu kegiatannya, ternyata orang seperti saya yang cenderung tidak suka tantangan ini bisa juga memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi kala itu. Rasa penasaran kenapa kegiatan itu tidak membuat saya puas. Kegiatan ke-2 yang saya ikuti cukup membuat mata saya berbinar, entah karena kegiatannya yang memang luar biasa atau ekspektasi saya yang terlalu rendah setelah melewati ketidakpuasan. Singkat cerita, dari kegiatan ke-2, rasa puas itu masih bercampur dengan rasa tidak suka, bahkan benci. Benci karena merasa buang-buang waktu mendengarkan persidangan yang sarat perdebatan jumlah menit untuk ke toilet atau adu kusir hal-hal yang tak subtansial, benci karena melihat orang-orang yang telat masuk forum, benci karena melihat arogansi warna warni almamater, benci karena teriakan-teriakan dan gebrakan meja yang membuat tarikan nafas panjang, benci karena orang-orangnya yang ramai di ruang persidangan namun sepi ketika turun ke lapangan. Benci karena di sini tempat saya mengenal apa itu kepentingan.
Jangan salah. Alasan keterlibatan saya menjadi pengurus tidak seutuhnya karena ingin memperbaiki keadaan, ingin memajukan organisasi, atau hal mulia lainnya melihat betapa tidak nyamannya saya saat itu akan organisasi ini. Ada hal-hal manusiawi yang turut menggandeng alasan normatif itu, alasan yang menurut saya pada akhirnya menjadi latar belakang kejenuhan, kemalasan, dan pesimistis seseorang dalam prosesnya. Karena bagaimanapun, alasan awal saya terlibat adalah karena ‘bujukan’ seorang teman. Saya teringat pesan whatsapp dari seorang teman kala itu, pesan yang membuat saya marah sampai akhirnya saya memutuskan untuk terlibat di kepengurusan ini. Haha well im laughing at myself now, how shallow I was. Tapi ternyata alasan itu lah yang membuat saya tidak pernah menyesal untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menyebut dirinya ‘kabinet Luar Biasa’. Banyak pembelajaran yang saya dapat dari organisasi ini, dari anggotanya, dan dari tiap individu pengurusnya.
Empat event nasional
Kabinet ini bisa jadi mulai dari nol. Proses satu-nol-satu-nol sepertinya menjadi ritual tiap periodisasi kepengurusan. Periode 2 tahun yang membuat kabinet sebelumnya telah menjadi 1, kemudian kabinet selanjutnya terpaksa harus memulai dari nol karena periode 2 tahun menyulitkan proses regenerasi dan bimbingan. How are you gonna guarantee your little sisters to continue your struggle while you know they have to graduate on time? How are you gonna trust your little brother to finish what you start while you know they still need lots of time to learn? Semoga 1-0-1-0 ini hanya asumsi, karena jika benar terjadi, organisasi ini benar-benar jalan di tempat.
Kebingungan periodisasi ini pula yang telah menjadi bahasan rutin di persidangan. Kurang lebih tiga periode membahas apakah organisasi ini perlu mengganti periode 2 tahunnya menjadi 1 tahun, bahasan yang penuh adu akal dan okol bukan hanya di meja persidangan namun juga menjadi konsumsi kajian adik-adik selanjutnya di lembaga eksekutif mahasiswa (LEM). Berbagai alasan dikemukakan mulai dari pendapat subjektif hingga yang berlandaskan pada perbandingan dengan ormawa kesehatan lain, pro dan kontra mencuat dengan tak jarang suara-suara bernada tinggi terlibat didalamnya. Sampai akhirnya saat kabinet Luar Biasa hendak berdiri, suatu perjanjian dicetuskan untuk memberhentikan pembahasan ini dengan keputusan akhir tetap 2 tahun. Tiga periode pembahasan ini pada akhirnya membuahkan suatu kesepakatan yang ‘terkesan sia-sia’ hehehe.
Rapat Kerja Nasional 2015. Hari ini hari di mana saya teringat ketika mendownload arahan sekjen terpilih, arahan yang berlembar-lembar itu mampu membuat pundak saya turun ke bawah disertai dengan helaan nafas tegas disertai dengan makian… “Anjaayy, lo kira 2 tahun ini gue bakal ngadain proker segini banyak? Lo kira hidup gue cuma buat ismafarsi?!” haha. Saya pribadi hanya mampu merumuskan sedikit proker dari puluhan konsep yang ditawarkan oleh sekjen ‘kurang kerjaan’ ini.
Proker ditetapkan dan saat itulah kabinet Luar Biasa mulai bekerja secara legal.
PIMFI 2015. Sebuah event keilmiahan nasional yang menjadi program kerja divisi saya. Saya kira saya telah belajar banyak dari seorang kakak, saya kira saya sudah cukup siap berperan sesuai tupoksi, mengarahkan dan mengembangkan orang lain, dsb. Ternyata tidak. Saya tidak cukup jeli dalam membaca keadaan, mungkin. Banyak komplain. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada panitia, namun memang banyak hal yang harus dievaluasi di sini. Kesalahan terbesar berasal dari diri ini, dan sungguh saya banyak belajar. Apapun dinamika yang ada saat itu, semoga kebermanfaatannya tetap terasa bagi semua pihak :”)Dan tentunya apresiasi terbesar saya dkk kepada panitia yang sudah berusaha semaksimal mungkin mengadakan acara ini :)
Latihan Kepemimpinan 3 (IPLF) Nasional dan Pramunas 2016. Satu event nasional yang dahulu membuat saya tertarik akan organisasi ini. Rasa cinta dan benci yang bercampur. Namun kala itu saya tidak hadir karena harus menemani orang tua yang sakit. Cukuplah senyum saya terkirim untuk kawan di sana yang mengabarkan bahwa perubahan AD/ART akan dilakukan tiap 3 periode, sebuah keputusan yang berisiko bagi saya, namun saya kira itu menjadi keputusan terbaik melihat forum perubahan AD/ART selalu membuat diri ini gemas untuk melempar meja (canda deng). Di event nasional ini, proses kaderisasi bagi kader yang akan melanjutkan perjuangan kami mulai terasa lebih intensif. Bytheway, jika mengingat LK3 dahulu di zaman saya, hal yang membuat saya tertarik dengan organisasi ini salah satunya karena peserta LK3 yang buat mata saya melotot. Ternyata anak farmasi yang biasa saya lihat berteman dengan benda mati di lab bisa juga berbicara soal realita sosial :p
Munas 2016. Event nasional terakhir. Laporan pertanggungjawaban ditunggu oleh anggota. Tebak apa yang terjadi? 11 Lembaga Eksekutif Mahasiswa menolak laporan pertanggungjawaban Sekjen Kabinet Luar Biasa karena kami yang melanggar konstitusi, yaitu banyak dari kami yang telah lulus S1 sebelum LPJ. Now what do you say? Lets not discuss about it haha
Di Munas pula, hati kami meracau. Panik, cemas, dan menyesal bercampur melihat pemilihan Sekjen baru dan Badan Pengawas. Walau akhirnya kami hanya patut untuk tersenyum dan bersyukur. Biarlah racauan itu jadi bahan kontemplasi tentang kesalahan-kesalahan yang dulu kami perbuat.
Kami yang Katanya ‘Luar Biasa’
Dua tahun. Keputusan munas 2014 untuk tetap menjadikan kepengurusan ini 2 tahun sepertinya memberikan peluang dinamika untuk bermain lebih kreatif. Mahasiswa farmasi yang dikenal tak peka politik sepertinya belajar berpolitik lewat organisasi menyebalkan ini. Saya selalu merasa tak nyaman kalau sudah bicara strategi, berspekulasi mengenai kepentingan-kepentingan golongan, atau semacamnya. Saya selalu menundukkan kepala dan kadang mengeluh berkepanjangan kalau konflik sudah terlihat di depan mata. I sometime feel torturing over this phlegmatic-introvert trait I have lol. Then I learn to like what I dislike. Fake it till you make it.
Kabinet ini diajarkan pula untuk beraudiensi akan isu-isu kefarmasian dan kesehatan. Sempat beberapa kali saya dan kawan-kawan mendatangi stakeholder untuk membicarakan suatu isu dan meminta tuntutan, beberapa kali pula saya (mungkin kami) dibingungkan dengan siapa yang benar siapa yang salah, beberapa kali pula kami diterima dan ditolak, beberapa kali pula saya merasa sekedar belajar berbicara dan mendengarkan daripada melakukan aksi nyata…..duh. Tapi saya percaya, beberapa orang kawan benar-benar tahu apa yang mereka kerjakan, termasuk pemimpin kabinet ini yang harus rela dibenci karena mengambil tindakan yang tidak disukai orang. Toh, katanya pemimpin yang baik adalah mereka yang mengambil keputusan yang tepat, bukan keputusan yang orang suka. Pada akhirnya, sebaik apapun pemimpin, akan memiliki musuh dalam perjalanan hidupnya. Mungkin kami belajar untuk melawan retorika dengan retorika, kami belajar bersilat lidah tanpa kehilangan bijak, yang pasti kami belajar berlapang dada saat kami kalah dan tidak disukai orang.
Kabinet ini pun mengajarkan kami untuk berkarya. Pemimpin kami yang disegani ini ternyata tahu apa yang ia lakukan; dibalik sifat menyebalkannya (haha peace dho) I think he succeeded to convince us over our potential, setidaknya jika bukan karena dia, dia rela memberikan waktu bagi kami untuk kami menggali potensi. Dimulai dari mengikuti lomba dengan modus mencari uang untuk mengikuti kegiatan2 organisasi, menjadi pembicara sana-sini dalam rangka menginspirasi, mengikuti event2 dan komunitas, mengadakan penelitian sampai presentasi internasional, dsb. Namun sungguh, ini semua harus jadi bahan evaluasi, apakah selama ini beberapa dari kita lebih sibuk mengupgrade diri daripada memberi? Semoga tidak.
Pun, kabinet ini mengajarkan kami untuk mengerjakan segalanya dengan cinta, mengajarkan pula arti sebuah kesabaran. Jika saya ditanya apa hal yang paling sulit dilakukan di dunia ini, itu adalah konsisten dalam kebaikan. Kami tentu pernah merasakan jenuh berkepanjangan, rasa malas yang seperti tiada ujungnya, rasa kesal setiap kali Sekjen sudah membuka kata ‘apa kabar’ lewat whatsapp, karena kami tahu pertanyaan kabar itu hanya basa-basi dibalik permintaan tolong mengerjakan tugas hahaha. Kami belajar mencintai pekerjaan kami dengan segala fluktuasi semangat yang ada. Kami belajar untuk istiqamah.
Oh ya, kabinet ini tidak hanya berbicara soal program kerja, namun juga arti sebuah keluarga #yeah #yuhu. Selalu menyenangkan bersama dengan para pengurus yang terus berjuang mencoba menembus batasan diri. For some, maybe this family is only another inner circles, for some this family is everything, for some this family is all priority. But whatever it is, kami tahu kami belajar banyak tentang rasa peduli di tengah-tengah hubungan jarak jauh, kami belajar menjalin chemistry di tengah kesulitan bertemu, kami belajar membaca karakter dan mendalami perbedaan. Hingga akhir kepengurusan ini pun, kami akan terus belajar. Belajar berdamai dengan rindu yang diciptakan oleh jarak, belajar bersyukur dengan apa yang sudah kami dapat, belajar menjalin persaudaraan yang semoga tak akan pernah lekang oleh waktu dan jarak.
Well, masih banyak yang kami dapat dari kabinet yang katanya Luar Biasa ini.
Ah, kata siapa kami luar biasa?
Apakah kabinet ini luar biasa karena telah mengadakan event internasional pertama kalinya secara mandiri? Apakah karena kabinet ini berhasil meraih gelar Best Association dari organisasi internasional? Apakah karena para pengurusnya yang menjadi mahasiswa berprestasi di kampusnya masing-masing? Apakah karena kabinet ini telah berusaha menciptakan tata cara sidang yang lebih efektif? Apakah karena kabinet ini menjalankan semua prokernya? Apakah karena kabinet ini mengkawal isu kesehatan lebih banyak dari biasanya? Apakah karena kabinet ini memiliki sekjen yang disegani banyak orang? Atau apa? Ah…mungkin karena ekspektasi anggota dan kami yang terlalu rendah di awal kepengurusan sehingga pencapaian yang biasa jadi terlihat luar biasa; mungkin karena kami kebetulan menjadi pengurus di era media social merajalela, sehingga segala kegiatan yang dilakukan muncul ke permukaan dan dilihat banyak orang; atau… mungkin karena memang organisasi ini kekurangan kader-kader mumpuni dengan standar luar biasa yang tak ada apa-apanya. Entah, yang pasti, kami akan terus percaya, perjuangan kabinet ini harus dilanjutkan, jika kami sudah menjadikan organisasi ini 1, maka yang selanjutnya harus mampu menjadikan ia 2, 3, dst.
Saya tidak perlu berbicara kegiatan dan prestasi apa yang dilakukan kabinet ini. Biarlah anggota menilai seberapa besar manfaat yang mereka peroleh di bawah kepengurusan kami, biarlah kami menilai sendiri sudah seberapa besar usaha kami dan seberapa lurus niat kami, biarlah anggota dan kami sadar akan dirinya sendiri tentang kontribusi dan kepekaan social yang kami berikan. Terima kasih untuk semua elemen dari terpilihnya Sekjen di 2014 hingga Munas 2016 yang telah banyak membantu menebar manfaat sebagai satu Ismafarsi yuhuu
Namun sesungguhnya, semua ini adalah evaluasi. Apa yang terjadi di Munas sungguh menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan. Pengalaman pribadi bagi saya yang terus berpikir apakah selama ini saya di sini hanya sibuk mengupgrade diri dan sering lupa arti kebermanfaatan yang sebenarnya. Pengalaman kami pula di sini untuk melihat ke belakang, apakah kami berhasil menciptakan kader-kader yang diharapkan? In fact, air mata bahagia dan haru bercampur dengan air mata sesal dan sedih, sungguh, kami berharap Ismafarsi ke depannya akan lebih baik.
Denny Fahmi, sekjen Ismafarsi terpilih 2016-2018, bukanlah Ridho Muhammad Sakti. Denny Fahmi adalah Denny Fahmi, biarlah ia memimpin dengan caranya sendiri. Lakukan yang terbaik dan jika suata saat kamu dan kabinet barumu terpaksa membuat kami kecewa, buat kami tetap percaya bahwa kamu dan kawan-kawanmu akan terus belajar untuk menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat :) semoga rasa percaya ini tidak akan pernah sia-sia.
Hehe.
Anyway, begitulah yang terjadi. Momen mengerjakan program kerja, memberi manfaat, bercanda-canda, cinlok-cinlok buta yang mungkin terjadi di balik cinta yang tak terucap (wkwkwk naon), konflik di mana-mana dan segala dinamika yang serius maupun yang tidak, semua ini sudah direncanakan oleh Tuhan dibalik apapun alasan awal kita untuk terlibat. Untuk kalian adik-adik kami tersayang dari ujung sumatra hingga papua, ayo luruskan niat bersama untuk membuat organisasi ini lebih baik, bantu Sekjen baru Ismafarsi, ayo daftar jadi Staf Ahli! hehehe *yah ujungnya promosi
Saya selalu ingat kata seorang kakak bahwa ada empat tipe orang dalam suatu organisasi, pembelajar (tipe yang paling ideal), turis (ada karena ingin jalan-jalan, popularitas, memperkaya CV, dsb), sandera (ada karena terpaksa), teroris (ada untuk menghancurkan organisasi). Yah, tulisan ini adalah curhatan seorang sandera hahaha, seorang sandera yang terbawa bujukan untuk terlibat, seorang yang selama prosesnya selalu merasa pesimis dan cemas, namun saya mungkin sama dengan beberapa dari kalian yang insyaAllah akan terus belajar untuk menikmati proses yang ada, hingga kita menjadi pembelajar. Jadi jangan pernah takut untuk terlibat, ayo daftar Staf Ahli! *promosi lagi* Yup, jika memang semangat di awal itu masih sedikit karena alasan-alasan tertentu, mungkin kita harus bersabar. Percikan api semangat di awal kepengurusan benar2 menjadi bara pada waktunya, salah satunya karena kehadiran keluarga ke-2 :) Dan bagi yang sudah bersemangat sejak awal, hati-hati dengan ekspektasi, terus jaga semangatnya :D Yay, semoga kabinet selanjutnya kaya akan orang-orang pembelajar.
Sampai jumpa Ismafarsi! Kami tunggu kabar baiknya!
Berawal dari rasa tidak suka akan satu kegiatannya, ternyata orang seperti saya yang cenderung tidak suka tantangan ini bisa juga memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi kala itu. Rasa penasaran kenapa kegiatan itu tidak membuat saya puas. Kegiatan ke-2 yang saya ikuti cukup membuat mata saya berbinar, entah karena kegiatannya yang memang luar biasa atau ekspektasi saya yang terlalu rendah setelah melewati ketidakpuasan. Singkat cerita, dari kegiatan ke-2, rasa puas itu masih bercampur dengan rasa tidak suka, bahkan benci. Benci karena merasa buang-buang waktu mendengarkan persidangan yang sarat perdebatan jumlah menit untuk ke toilet atau adu kusir hal-hal yang tak subtansial, benci karena melihat orang-orang yang telat masuk forum, benci karena melihat arogansi warna warni almamater, benci karena teriakan-teriakan dan gebrakan meja yang membuat tarikan nafas panjang, benci karena orang-orangnya yang ramai di ruang persidangan namun sepi ketika turun ke lapangan. Benci karena di sini tempat saya mengenal apa itu kepentingan.
Jangan salah. Alasan keterlibatan saya menjadi pengurus tidak seutuhnya karena ingin memperbaiki keadaan, ingin memajukan organisasi, atau hal mulia lainnya melihat betapa tidak nyamannya saya saat itu akan organisasi ini. Ada hal-hal manusiawi yang turut menggandeng alasan normatif itu, alasan yang menurut saya pada akhirnya menjadi latar belakang kejenuhan, kemalasan, dan pesimistis seseorang dalam prosesnya. Karena bagaimanapun, alasan awal saya terlibat adalah karena ‘bujukan’ seorang teman. Saya teringat pesan whatsapp dari seorang teman kala itu, pesan yang membuat saya marah sampai akhirnya saya memutuskan untuk terlibat di kepengurusan ini. Haha well im laughing at myself now, how shallow I was. Tapi ternyata alasan itu lah yang membuat saya tidak pernah menyesal untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menyebut dirinya ‘kabinet Luar Biasa’. Banyak pembelajaran yang saya dapat dari organisasi ini, dari anggotanya, dan dari tiap individu pengurusnya.
Empat event nasional
Kabinet ini bisa jadi mulai dari nol. Proses satu-nol-satu-nol sepertinya menjadi ritual tiap periodisasi kepengurusan. Periode 2 tahun yang membuat kabinet sebelumnya telah menjadi 1, kemudian kabinet selanjutnya terpaksa harus memulai dari nol karena periode 2 tahun menyulitkan proses regenerasi dan bimbingan. How are you gonna guarantee your little sisters to continue your struggle while you know they have to graduate on time? How are you gonna trust your little brother to finish what you start while you know they still need lots of time to learn? Semoga 1-0-1-0 ini hanya asumsi, karena jika benar terjadi, organisasi ini benar-benar jalan di tempat.
Kebingungan periodisasi ini pula yang telah menjadi bahasan rutin di persidangan. Kurang lebih tiga periode membahas apakah organisasi ini perlu mengganti periode 2 tahunnya menjadi 1 tahun, bahasan yang penuh adu akal dan okol bukan hanya di meja persidangan namun juga menjadi konsumsi kajian adik-adik selanjutnya di lembaga eksekutif mahasiswa (LEM). Berbagai alasan dikemukakan mulai dari pendapat subjektif hingga yang berlandaskan pada perbandingan dengan ormawa kesehatan lain, pro dan kontra mencuat dengan tak jarang suara-suara bernada tinggi terlibat didalamnya. Sampai akhirnya saat kabinet Luar Biasa hendak berdiri, suatu perjanjian dicetuskan untuk memberhentikan pembahasan ini dengan keputusan akhir tetap 2 tahun. Tiga periode pembahasan ini pada akhirnya membuahkan suatu kesepakatan yang ‘terkesan sia-sia’ hehehe.
Rapat Kerja Nasional 2015. Hari ini hari di mana saya teringat ketika mendownload arahan sekjen terpilih, arahan yang berlembar-lembar itu mampu membuat pundak saya turun ke bawah disertai dengan helaan nafas tegas disertai dengan makian… “Anjaayy, lo kira 2 tahun ini gue bakal ngadain proker segini banyak? Lo kira hidup gue cuma buat ismafarsi?!” haha. Saya pribadi hanya mampu merumuskan sedikit proker dari puluhan konsep yang ditawarkan oleh sekjen ‘kurang kerjaan’ ini.
Proker ditetapkan dan saat itulah kabinet Luar Biasa mulai bekerja secara legal.
PIMFI 2015. Sebuah event keilmiahan nasional yang menjadi program kerja divisi saya. Saya kira saya telah belajar banyak dari seorang kakak, saya kira saya sudah cukup siap berperan sesuai tupoksi, mengarahkan dan mengembangkan orang lain, dsb. Ternyata tidak. Saya tidak cukup jeli dalam membaca keadaan, mungkin. Banyak komplain. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada panitia, namun memang banyak hal yang harus dievaluasi di sini. Kesalahan terbesar berasal dari diri ini, dan sungguh saya banyak belajar. Apapun dinamika yang ada saat itu, semoga kebermanfaatannya tetap terasa bagi semua pihak :”)Dan tentunya apresiasi terbesar saya dkk kepada panitia yang sudah berusaha semaksimal mungkin mengadakan acara ini :)
Latihan Kepemimpinan 3 (IPLF) Nasional dan Pramunas 2016. Satu event nasional yang dahulu membuat saya tertarik akan organisasi ini. Rasa cinta dan benci yang bercampur. Namun kala itu saya tidak hadir karena harus menemani orang tua yang sakit. Cukuplah senyum saya terkirim untuk kawan di sana yang mengabarkan bahwa perubahan AD/ART akan dilakukan tiap 3 periode, sebuah keputusan yang berisiko bagi saya, namun saya kira itu menjadi keputusan terbaik melihat forum perubahan AD/ART selalu membuat diri ini gemas untuk melempar meja (canda deng). Di event nasional ini, proses kaderisasi bagi kader yang akan melanjutkan perjuangan kami mulai terasa lebih intensif. Bytheway, jika mengingat LK3 dahulu di zaman saya, hal yang membuat saya tertarik dengan organisasi ini salah satunya karena peserta LK3 yang buat mata saya melotot. Ternyata anak farmasi yang biasa saya lihat berteman dengan benda mati di lab bisa juga berbicara soal realita sosial :p
Munas 2016. Event nasional terakhir. Laporan pertanggungjawaban ditunggu oleh anggota. Tebak apa yang terjadi? 11 Lembaga Eksekutif Mahasiswa menolak laporan pertanggungjawaban Sekjen Kabinet Luar Biasa karena kami yang melanggar konstitusi, yaitu banyak dari kami yang telah lulus S1 sebelum LPJ. Now what do you say? Lets not discuss about it haha
Di Munas pula, hati kami meracau. Panik, cemas, dan menyesal bercampur melihat pemilihan Sekjen baru dan Badan Pengawas. Walau akhirnya kami hanya patut untuk tersenyum dan bersyukur. Biarlah racauan itu jadi bahan kontemplasi tentang kesalahan-kesalahan yang dulu kami perbuat.
Kami yang Katanya ‘Luar Biasa’
Dua tahun. Keputusan munas 2014 untuk tetap menjadikan kepengurusan ini 2 tahun sepertinya memberikan peluang dinamika untuk bermain lebih kreatif. Mahasiswa farmasi yang dikenal tak peka politik sepertinya belajar berpolitik lewat organisasi menyebalkan ini. Saya selalu merasa tak nyaman kalau sudah bicara strategi, berspekulasi mengenai kepentingan-kepentingan golongan, atau semacamnya. Saya selalu menundukkan kepala dan kadang mengeluh berkepanjangan kalau konflik sudah terlihat di depan mata. I sometime feel torturing over this phlegmatic-introvert trait I have lol. Then I learn to like what I dislike. Fake it till you make it.
Kabinet ini diajarkan pula untuk beraudiensi akan isu-isu kefarmasian dan kesehatan. Sempat beberapa kali saya dan kawan-kawan mendatangi stakeholder untuk membicarakan suatu isu dan meminta tuntutan, beberapa kali pula saya (mungkin kami) dibingungkan dengan siapa yang benar siapa yang salah, beberapa kali pula kami diterima dan ditolak, beberapa kali pula saya merasa sekedar belajar berbicara dan mendengarkan daripada melakukan aksi nyata…..duh. Tapi saya percaya, beberapa orang kawan benar-benar tahu apa yang mereka kerjakan, termasuk pemimpin kabinet ini yang harus rela dibenci karena mengambil tindakan yang tidak disukai orang. Toh, katanya pemimpin yang baik adalah mereka yang mengambil keputusan yang tepat, bukan keputusan yang orang suka. Pada akhirnya, sebaik apapun pemimpin, akan memiliki musuh dalam perjalanan hidupnya. Mungkin kami belajar untuk melawan retorika dengan retorika, kami belajar bersilat lidah tanpa kehilangan bijak, yang pasti kami belajar berlapang dada saat kami kalah dan tidak disukai orang.
Kabinet ini pun mengajarkan kami untuk berkarya. Pemimpin kami yang disegani ini ternyata tahu apa yang ia lakukan; dibalik sifat menyebalkannya (haha peace dho) I think he succeeded to convince us over our potential, setidaknya jika bukan karena dia, dia rela memberikan waktu bagi kami untuk kami menggali potensi. Dimulai dari mengikuti lomba dengan modus mencari uang untuk mengikuti kegiatan2 organisasi, menjadi pembicara sana-sini dalam rangka menginspirasi, mengikuti event2 dan komunitas, mengadakan penelitian sampai presentasi internasional, dsb. Namun sungguh, ini semua harus jadi bahan evaluasi, apakah selama ini beberapa dari kita lebih sibuk mengupgrade diri daripada memberi? Semoga tidak.
Pun, kabinet ini mengajarkan kami untuk mengerjakan segalanya dengan cinta, mengajarkan pula arti sebuah kesabaran. Jika saya ditanya apa hal yang paling sulit dilakukan di dunia ini, itu adalah konsisten dalam kebaikan. Kami tentu pernah merasakan jenuh berkepanjangan, rasa malas yang seperti tiada ujungnya, rasa kesal setiap kali Sekjen sudah membuka kata ‘apa kabar’ lewat whatsapp, karena kami tahu pertanyaan kabar itu hanya basa-basi dibalik permintaan tolong mengerjakan tugas hahaha. Kami belajar mencintai pekerjaan kami dengan segala fluktuasi semangat yang ada. Kami belajar untuk istiqamah.
Oh ya, kabinet ini tidak hanya berbicara soal program kerja, namun juga arti sebuah keluarga #yeah #yuhu. Selalu menyenangkan bersama dengan para pengurus yang terus berjuang mencoba menembus batasan diri. For some, maybe this family is only another inner circles, for some this family is everything, for some this family is all priority. But whatever it is, kami tahu kami belajar banyak tentang rasa peduli di tengah-tengah hubungan jarak jauh, kami belajar menjalin chemistry di tengah kesulitan bertemu, kami belajar membaca karakter dan mendalami perbedaan. Hingga akhir kepengurusan ini pun, kami akan terus belajar. Belajar berdamai dengan rindu yang diciptakan oleh jarak, belajar bersyukur dengan apa yang sudah kami dapat, belajar menjalin persaudaraan yang semoga tak akan pernah lekang oleh waktu dan jarak.
Well, masih banyak yang kami dapat dari kabinet yang katanya Luar Biasa ini.
Ah, kata siapa kami luar biasa?
Apakah kabinet ini luar biasa karena telah mengadakan event internasional pertama kalinya secara mandiri? Apakah karena kabinet ini berhasil meraih gelar Best Association dari organisasi internasional? Apakah karena para pengurusnya yang menjadi mahasiswa berprestasi di kampusnya masing-masing? Apakah karena kabinet ini telah berusaha menciptakan tata cara sidang yang lebih efektif? Apakah karena kabinet ini menjalankan semua prokernya? Apakah karena kabinet ini mengkawal isu kesehatan lebih banyak dari biasanya? Apakah karena kabinet ini memiliki sekjen yang disegani banyak orang? Atau apa? Ah…mungkin karena ekspektasi anggota dan kami yang terlalu rendah di awal kepengurusan sehingga pencapaian yang biasa jadi terlihat luar biasa; mungkin karena kami kebetulan menjadi pengurus di era media social merajalela, sehingga segala kegiatan yang dilakukan muncul ke permukaan dan dilihat banyak orang; atau… mungkin karena memang organisasi ini kekurangan kader-kader mumpuni dengan standar luar biasa yang tak ada apa-apanya. Entah, yang pasti, kami akan terus percaya, perjuangan kabinet ini harus dilanjutkan, jika kami sudah menjadikan organisasi ini 1, maka yang selanjutnya harus mampu menjadikan ia 2, 3, dst.
Saya tidak perlu berbicara kegiatan dan prestasi apa yang dilakukan kabinet ini. Biarlah anggota menilai seberapa besar manfaat yang mereka peroleh di bawah kepengurusan kami, biarlah kami menilai sendiri sudah seberapa besar usaha kami dan seberapa lurus niat kami, biarlah anggota dan kami sadar akan dirinya sendiri tentang kontribusi dan kepekaan social yang kami berikan. Terima kasih untuk semua elemen dari terpilihnya Sekjen di 2014 hingga Munas 2016 yang telah banyak membantu menebar manfaat sebagai satu Ismafarsi yuhuu
Namun sesungguhnya, semua ini adalah evaluasi. Apa yang terjadi di Munas sungguh menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan. Pengalaman pribadi bagi saya yang terus berpikir apakah selama ini saya di sini hanya sibuk mengupgrade diri dan sering lupa arti kebermanfaatan yang sebenarnya. Pengalaman kami pula di sini untuk melihat ke belakang, apakah kami berhasil menciptakan kader-kader yang diharapkan? In fact, air mata bahagia dan haru bercampur dengan air mata sesal dan sedih, sungguh, kami berharap Ismafarsi ke depannya akan lebih baik.
Denny Fahmi, sekjen Ismafarsi terpilih 2016-2018, bukanlah Ridho Muhammad Sakti. Denny Fahmi adalah Denny Fahmi, biarlah ia memimpin dengan caranya sendiri. Lakukan yang terbaik dan jika suata saat kamu dan kabinet barumu terpaksa membuat kami kecewa, buat kami tetap percaya bahwa kamu dan kawan-kawanmu akan terus belajar untuk menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat :) semoga rasa percaya ini tidak akan pernah sia-sia.
Hehe.
Anyway, begitulah yang terjadi. Momen mengerjakan program kerja, memberi manfaat, bercanda-canda, cinlok-cinlok buta yang mungkin terjadi di balik cinta yang tak terucap (wkwkwk naon), konflik di mana-mana dan segala dinamika yang serius maupun yang tidak, semua ini sudah direncanakan oleh Tuhan dibalik apapun alasan awal kita untuk terlibat. Untuk kalian adik-adik kami tersayang dari ujung sumatra hingga papua, ayo luruskan niat bersama untuk membuat organisasi ini lebih baik, bantu Sekjen baru Ismafarsi, ayo daftar jadi Staf Ahli! hehehe *yah ujungnya promosi
Saya selalu ingat kata seorang kakak bahwa ada empat tipe orang dalam suatu organisasi, pembelajar (tipe yang paling ideal), turis (ada karena ingin jalan-jalan, popularitas, memperkaya CV, dsb), sandera (ada karena terpaksa), teroris (ada untuk menghancurkan organisasi). Yah, tulisan ini adalah curhatan seorang sandera hahaha, seorang sandera yang terbawa bujukan untuk terlibat, seorang yang selama prosesnya selalu merasa pesimis dan cemas, namun saya mungkin sama dengan beberapa dari kalian yang insyaAllah akan terus belajar untuk menikmati proses yang ada, hingga kita menjadi pembelajar. Jadi jangan pernah takut untuk terlibat, ayo daftar Staf Ahli! *promosi lagi* Yup, jika memang semangat di awal itu masih sedikit karena alasan-alasan tertentu, mungkin kita harus bersabar. Percikan api semangat di awal kepengurusan benar2 menjadi bara pada waktunya, salah satunya karena kehadiran keluarga ke-2 :) Dan bagi yang sudah bersemangat sejak awal, hati-hati dengan ekspektasi, terus jaga semangatnya :D Yay, semoga kabinet selanjutnya kaya akan orang-orang pembelajar.
Sampai jumpa Ismafarsi! Kami tunggu kabar baiknya!
Jumat, 20 November 2015
Rekam Medis
Hari Minggu selalu identik dengan langit yang cerah. Langit yang biru terang, awannya putih menggumpal indah, setidaknya bagi Resa. Walau kenyataannya mendung menyergap, hari Minggu akan tetap terang di mata Resa.
Ayah sedang bercengkerama mesra dengan Ibu. Rupanya pemandangan itulah yang membuat mendung seolah cerah, panas seolah sejuk, dan lelah hilang diterpa semilir angin ramah. Itu adalah pemandangan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Bagi Resa, ke dua orang tuanya adalah berlian yang tidak bisa dibeli bahkan dengan jutaan dirham atau ratusan kerang berisi mutiara. Hari Minggu akan selalu menjadi hari favorit Resa di mana Ayah sejenak melepas jas putih dokter miliknya dan Ibu sejenak menyempatkan waktunya bersama Resa.
Resa menangkap mata Ayah yang berpapasan dengannya, seraya tersenyum dan mengangguk bijak, Ayah berkata, “Resa kemari, Ayah dan Ibu punya sesuatu untukmu”.
Ayah selalu tahu apa yang dibutuhkan oleh anak semata wayangnya. Sebuah laptop baru. Sudah lama Resa menginginkan laptop baru karena laptop lamanya yang sudah sulit untuk diajak kerja sama. Tak berani bilang karena takut merepotkan, alih-alih Ayah memberikannya laptop lengkap dengan harddisk eksternal 1 terabyte. “Pokoknya, kamu harus selalu save skripsi kamu ya nak, kalau perlu tiap kali kamu mengetik satu huruf, langsung pindahkan di harddisk ini, dan harddisk ini tidak akan kehabisan memori walau skripsimu jutaan halaman, hahaha. Uhuk..uhuk..”. Tawa serak Ayah bercampur dengan batuknya mengisi ruang tengah keluarga kecil ini, Resa pun tersenyum dan memeluk Ayahnya. Rambut putih Ayah bergesekan dengan rambut hitam legam Resa saat ia memeluknya. Walau hanya sepermili detik warna rambut itu terlihat jelas di mata Resa, Resa tidak akan pernah lupa saat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, rasa khawatir yang tidak bisa ia deskripsikan. Tidak terasa waktu begitu cepat, Ayah sudah tak lagi muda. Kacamata dengan rantai menjulur hingga belakang telinga dengan lensa yang sangat tebal, guratan-guratan wajah yang terlihat jelas tanpa harus melihat ayah tersenyum sekalipun, dan getaran tangannya saat ia membalas pelukan Resa; walau kecil, ia bisa merasakannya, serta sikap linglung Ayah yang membuat Resa resah. Sifatnya yang ia bilang ia hanya pura-pura lupa.
Kesibukan Ayah berkeliling di pulau-pulau terpencil di Indonesia membuat Resa terkadang lupa untuk memerhatikan Ayah sedetail mungkin, yang penting Ayah pulang ke rumah dengan selamat, itu yang selalu menjadi perhatian Resa. Ia bisa melihat jas dokter yang selalu Ayah kenakan ke manapun, warna putihnya sudah bercampur dengan setianya matahari dan angin yang menemani Ayah kemanapun. Jas itu adalah saksi bisu perjuangan keras Ayah.
“Uhuk...uhuk..” Ayah kembali batuk.
“Dok, dokter jangan sakit. Masa dokter sakit. Hihi.” Resa tertawa kecil sambil bercanda menegur Ayahnya yang batuk. Candaan yang dibuat-buat untuk menutupi rasa cemasnya.
“Dokter juga manusia, bisa sakit. Tapi dokter ini beruntung punya anak calon farmasis, ayo beri dokter tua ini obat batuk yang mujarab. Hahaha.” Ayah tertawa lagi, Resa membalasnya dengan tawa gurih.
***
Hari ini mata kuliah Farmasi Klinik, mata kuliah yang paling Resa senangi. Mita, salah satu teman Resa menyapa Ka Ryan, dosen muda yang baru saja mendapat SK mengajar itu adalah dosen yang digandrungi mahasiswi-mahasiswi teman sekelas Resa.
“Halo Ka Ryan! Hari ini kita belajar apa?” Mita tersenyum bertanya, memamerkan gigi putihnya yang berjajar rapi. Ka Ryan mendongakan kepalanya yang sedari tadi fokus pada sebuah koran. Ia menjawab, “Pemantauan Terapi Obat Mita, kan ada di jadwal”. Mita hanya membalas singkat, “Iya cuma mau konfirmasi ka hehe”. Sebenarnya bukan itu alasan Mita menyapa Ka Ryan, ia hanya iseng, genit mengganggu ka Ryan di depan teman-temannya. “Genit pisan mit!” Resa mendorong pelan Mita, yang didorong nyengir.
“Hari ini kita akan belajar pemantauan terapi obat dengan metode SOAP, kalian akan membaca rekam medis pasien dari sebuah rumah sakit.” Ka Ryan memulai kelas.
Resa memandangi tumpukan dokumen di atas meja sebelah ka Ryan. Ia penasaran apa isi dari rekam medis. Lebih dari tiga tahun berkuliah di jurusan Farmasi Klinis bahkan sudah lebih dari 20 tahun dia menjadi seorang anak dokter bedah, belum pernah ia membuka satu lembar pun rekam medis. Ia menyadari bahwa rekam medis adalah dokumen rahasia rumah sakit yang hanya boleh digunakan atau dilihat pada kondisi tertentu saja, misalnya untuk penelitian atau belajar seperti saat ini. Resa dan teman-teman mulai membentuk lingkaran berkelompok, masing-masing kelompok diberikan satu buah rekam medis yang harus dianalisis kondisinya serta dibuat rencana pengobatan lanjutan. Resa perlahan membuka lembaran dokumen itu, sudah lama ia menanti saat-saat ini. Lembaran demi lembaran dibuka, dahinya mulai mengkerut, matanya mulai menyipit, berusaha keras membaca tulisan dokter yang seperti cacing-cacing kecil bergelimpangan di atas kertas. Ayah pernah bilang pada Resa bahwa pendidikan tidak meminta dokter menulis tak jelas, hanya saja entah kenapa dokter masih saja melakukan itu.
Resa tiba-tiba ingat cerita Ibu ketika ia jatuh cinta pada Ayah. Saat itu mereka berbeda universitas dan dipertemukan pada sebuah forum; forum itu membuat mereka tak sengaja bertemu lagi dalam satu kepanitiaan. Ketika itu Ayah menuliskan pesannya dalam suatu kertas yang diserahkan pada Ibu, tulisan kebutuhan-kebutuhan yang harus dibeli oleh Ibu di warung sebelah masjid karena Ayah harus buru-buru mengisi acara menjadi seorang pembicara forum. Kebutuhan yang akan digunakan dalam simulasi games acara hari itu. Resa sungguh ingat ketika itu ibu bercerita sambil mukanya memerah karena tawa, secarik kertas saat itu yang ibu terima adalah format resep dengan tulisan Rx, ibu tahu betul tanda itu adalah simbol resep walaupun ibu bukan mahasiswi kesehatan. Tulisan di atas kertas itu benar saja seperti lambang integral dari berbagai arah, ibu hanya tersenyum dan berusaha sesabar mungkin menelusuri huruf demi huruf yang ada. Resa ikut tersenyum, ia selalu senang membayangkan wajah ibu ketika bercerita hal sederhana itu. Ibu bilang, Ayah dulu memang hobi mengerjai ibu dan ibu bilang kepada Resa bahwa di samping bijak dan baiknya Ayah, sisi humoris Ayahlah yang membuat ibu jatuh cinta.
“Heh Res! Udah selesai belum isi kolom subjektif-objektifnya, aku mau kerjain yang kolom assessment nih.” Mita membuyarkan lamunan indah Resa.
“Eh sori, hehehe belum Mit, give me another 10 minutes yak!” Resa nyengir kuda, sementara Mita sedikit kesal karena kerjaan temannya yang lama.
Resa kembali fokus pada rekam medisnya. Ia perlahan memindahkan identitas pasien, data anamnesa, diagnosis, dan hasil lab pada lembar jawaban. Selesai menuliskannya, Resa membaca kembali apa yang telah ia tulis. Resa terdiam. Matanya perlahan bolak-balik membaca ulang lembar jawaban, kemudian matanya berpindah pada rekam medis dan menemukan kolom berisi status kepulangan. Resa menarik nafas dalam dan menghembuskannya panjang. Kepalanya ia dongakan berusaha membendung air mata agar tidak jatuh. Tangannya mengepal pegangan kursi berusaha untuk menguatkan diri. Perlahan ia kembalikan posisi kepalanya seperti semula.
“Innalillahi...” Resa bergumam pelan.
“Ada apa Res?” Ima teman satu kelompoknya bertanya.
“Pasiennya meninggal” Ucap Resa pelan, semua pun terdiam untuk beberapa detik. Tiba-tiba Mita angkat bicara.
“Kita doakan saja Res, ini kali pertama kita membuka sebuah rekam medis, lama-lama kita akan terbiasa dengan ini, apalagi nanti ketika benar-benar kerja di rumah sakit. Semoga ini menjadi salah satu pengingat kita akan mati, pengingat kita untuk selalu bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan kita nikmat sehat.”
Ima menimpali,
“Sepakat. Semoga pula, rekam medis ini akan selalu mengingatkan kita untuk terus belajar menjadi apoteker kompeten. Apoteker yang siap mendesign perencanaan pengobatan yang tepat untuk pasien.” Suasana diskusi itu jadi semakin haru bercampur segan karena Resa tidak pernah melihat temannya bicara serius seperti itu.
“Cieee pada mendadak bijak!” Lea yang sedari tadi diam tiba-tiba bersuara, mencoba mencairkan suasana.
“Hahaha Lea, iya Le kadang baper itu dibutuhkan untuk hal-hal seperti ini. Supaya kita bisa menjadi manusia yang lebih bijak.” Resa tersenyum ke arah Lea. Tentu saja Lea sepakat.
***
Resa paling senang ketika ia membayangkan kisah Ayahnya. Ayah menikahi Ibu setelah Ayah selesai koas dan berangkat internship ke Papua dalam keadaan ibu sedang hamil Resa. Satu tahun ibu hidup dalam kekhawatiran; menanti Ayah yang menghubungi Ibu dan menyampaikan pesan bahwa ia baik-baik saja. Dulu internet bukanlah barang lumrah, Ayah harus pergi puluhan km menuju kota menumpang truk yang tak sengaja lewat, hanya untuk mengakses telepon umum dan menelepon ibu. “Aku baik-baik saja”. Empat kata itu, hanya empat kata itu yang selalu ibu nantikan. Selain empat kata rutin itu setiap bulan, ibu bilang Ayah selalu menanyakan keadaan Resa, Ayah selalu meminta ibu untuk menyimpan gagang telepon di perutnya kemudian Ayah melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ayah pun bercerita bagaimana kehidupan orang-orang di pedalaman Papua, betapa sulitnya mengakses air bersih, betapa Ayah takut membantu ibu-ibu desa melahirkan untuk pertama kalinya, betapa Ayah menahan sekuat tenaga untuk tetap tenang dikala ia melakukan operasi dengan alat seadanya, dan betapa ia ingin menjerit kencang ketika ia mendapati pasien yang dioperasinya meninggal dunia. Di akhir telepon, ibu bilang pada Resa bahwa Ayah selalu menitipkan pesan pada Resa di dalam janin, “Kelak, anak Ayah harus punya rasa empati yang besar, peduli pada sesama, dan selalu menolong karena Allah”. Resa sungguh tahu hati mulia Ayahnya, hati bersihnya lah yang menggerakan Ayah untuk tetap berkeliling ke seluruh pelosok Indonesia mengabdikan diri sebagai dokter tak dibayar. Ketika itu usia Resa 5 tahun, bermodalkan doa dan tekad, Ayah sangat berharap ibu mau membantu merajutkan mimpi Ayah yang belum selesai.
“Sejatinya, setegak apapun seorang istri berdiri sendiri, ia butuh sandaran suaminya; sekuat apapun dan sehebat apapun seorang ibu membimbing anaknya, seorang anak tetap membutuhkan kasih Ayahnya. Mau apapun mimpimu, tujuan kita tetaplah sama, surga yang tak ada tandingannya. Maka pilihanku hanya dua, membantu merajutkan mimpimu atau aku memaksamu untuk membuat rajutan baru.” Ibu menanggapi Ayah setelah Ayah pelan-pelan menyampaikan maksudnya yang ingin tinggal di desa-desa, mengabdi sebagai seorang dokter. Belum sempat Ayah membuka mulutnya, ibu melanjutkan kata-katanya.
“Seorang istri mempunyai kewajiban untuk menuruti suaminya, membuat suaminya senang dan memuaskan keinginannya karena Allah. Lebih dari itu, Allah mau hambaNya saling tolong-menolong, memberikan manfaat niscaya kita mendapat syafaat. Aku harus menolak merajut mimpimu dengan warna yang sama, namun izinkan aku merajut mimpimu dengan warna berbeda karena warna itu akan datang bukan hanya dariku, namun juga dari anakmu.”
Ayah seketika memeluk Ibu erat. Ia menangis terharu.
Sejak saat itulah, hidup Resa berubah. Resa menjadi seorang anak yang tumbuh dengan masyarakat. Selama 5 tahun ia diwadahi dengan berbagai macam wahana indah. Air bersih, kamar berAC, tempat bermain, semuanya berganti dalam sekejap. Resa harus terbiasa menunggu air kali yang disaring ibu dengan saringan manual, Resa harus terbiasa duduk mengampar di tanah mendengarkan guru sekolah Resa membacakan pelajaran. Dirinya sering protes dan mengamuk memohon Ayah dan Ibu untuk kembali ke kota, namun Ayah tak pernah mengizinkan. Ia justru membuat Resa makin susah dengan memintanya mencuci baju sendiri, memasak makanan, dan mengajarkan teman-temannya berhitung dan menulis. Dengan kesabaran orang tuanya, Resa perlahan hidup menjadi seorang anak desa yang mandiri dan penuh empati. Desa dengan sanitasi rendah dan masyarakat yang tidak sadar akan kesehatan pun berubah karena keluarga kecil ini. Ayah lah yang paling pandai menyulap desa demi desa menjadi wahana yang asik dan sehat. Ayah dengan bisnis apotek bekerja sama dengan seorang apoteker pun telah menghasilkan banyak uang. Keuntungannya mereka gunakan untuk membangun berbagai desa yang dijejaki bergantian selama bertahun-tahun. Resa tak peduli harus berapa kali ia pindah sekolah, harus berapa kali ia mengurusi administrasi melobi sekolah formal menerima dirinya yang lulus dari sekolah informal, Resa tumbuh dengan didikan orang tua yang luar biasa. Orang tua yang akan selalu menjadi mata dan hati Resa.
“Rekam jejakmu ditulis oleh malaikat. Di kanan kirimu akan selalu ada malaikat yang mengawasi.” Ayah kala itu dengan mata tegasnya memarahi Resa yang ketahuan mencuri rekam medis. Saat itu usia Resa 10 tahun.
“Maaf, Yah.” Resa menundukkan kepala. Air matanya pelan-pelan mengalir.
“Dokumen ini rahasia. Ini memang bukan catatan keburukan yang ditulis malaikat Atid untuk dilaporkan pada yang berhak. Tapi kamu akan tahu apa itu kode etik. Kelak kamu mengerti mengapa Ayah melarang kamu membuka dokumen ini, sekalipun kamu anak Ayah.”
“Maaf, Yah.”
“Ini rekam medis, suatu catatan perjalanan pasien yang dirawat. Perjalanan menuju sehat. Dokter, perawat, apoteker, dan semua tenaga kesehatan berkomunikasi lewat dokumen ini. Mereka semua berusaha semampu mereka menolong pasien dengan tugasnya masing-masing, saling memberi tahu tenaga kesehatan mengenai kondisi pasien dan rencana ke depannya untuk menolong pasien. Kamu belum berhak tahu apa isinya.” Ayah memang selalu tahu bahwa yang Resa inginkan hanyalah penjelasan, penjelasan mengenai apa dokumen itu. Dokumen yang selalu membawa tanda tanya Resa, sayangnya Ayah akhir-akhir ini sibuk untuk membantu menghilangkan tanda tanya itu.
Ayah tersenyum. Ia mencium dahi Resa.
“Ayah maafkan, sayang. Kamu mau tahu isinya apa? Ayah tantang kamu buat jadi dokter atau apoteker atau perawat atau tenaga kesehatan lain! Gimana?” Ayah tersenyum menantang.
“Resa kan memang mau jadi kaya Ayah, Resa mau bangun desa juga, Resa mau nulis-nulis di rekam medis, menolong pasien!” Resa berteriak sambil sesenggukan menangis.
“Ayah tunggu.” Ayah tersenyum bijak.
Tibalah masa di mana Resa merantau untuk kuliah, Resa harus menetap di satu kota, memaksa diri mau tak mau melepas orang tuanya berkelana; hingga saat ini menginjak tahun ke empat. Selama tiga tahun lebih, setiap hari Minggu, Ayah dan Ibu mengunjungi Resa di tempat rantaunya. Hari Minggu yang selalu menjadi hari favorit Resa, melihat kedua orang tuanya datang walaupun hanya satu hari. Ayah selalu memberi salam terbaiknya pada Resa, memberikan apresiasi tertinggi bagi Resa yang telah bekerja keras demi mencapai cita-citanya menjadi seorang apoteker handal. Salam tegas yang disampaikan Ayah sambil berdiri tegak dengan sikap hormat layaknya hormat pada pejabat.“Selamat pagi calon farmasis sukses!” Begitu lah yang selalu dilontarkan Ayah tiap kali Resa membuka pintu depan rumah menyambut orang tuanya datang.
Tahun pun berganti, rambut Ayah semakin putih, wajahnya pucat dan sering melamun, seringkali tangannya menggerak-gerakan mainan di depannya yang disediakan oleh ibu. Ternyata bukan batuk Ayah yang harus dikhawatirkan, bukan pula tangan-tangan kaku dan gemetar, tapi candaan-candaan Ayah yang pura-pura lupa. Sudah 4 bulan Ayah divonis Alzhaimer. Tentu Ayah sudah tak mampu bekerja berkeliling, kini ia menetap bersama Ibu dan Resa. Resa kini bekerja sebagai seorang apoteker di suatu rumah sakit sambil merawat Ayahnya. Ia tak mungkin meninggalkan ibu sendiri merawat Ayah. Rajutan mimpinya untuk sementara harus ditunda menyisakan benang-benang menggantung di atas meja rajut.
Hari ini Ayah bermain bola bersamaku. Aku belikan beliau sebuah bola besar untuk dimainkan, melatih otak Ayah. Ayah perlahan sudah bisa tersenyum walau aku tak yakin Ayah tersenyum padaku. Tak apa, yang penting aku tahu Ayah masih bersamaku. Sebuah catatan dituliskan Resa dalam sebuah map besar berisi kertas-kertas bergaris. Resa menyerahkan map itu pada ibunya.
“Bu tulis di sini, tuliskan apa saja yang ibu lakukan bersama Ayah hari ini.” Resa memohon.
“Ini apa sayang?’ Ibu bertanya heran.
“Ini rekam medis bu, sebuah catatan perjalanan Ayah. Segala kegiatan yang aku dan ibu lakukan untuk kesehatan dan kebahagiaan Ayah. Sebuah dokumen perencanaan agar Ayah tetap sehat. Resa bisa kok bu rawat Ayah, Resa bisa. Ayah pasti sembuh.” Resa tak kuasa menahan air matanya. Tetesan itu jatuh, ibu memeluk Resa.
***
Sebuah catatan perjalanan para pasien yang disimpan rapat dan rahasia itu ada di dalam sebuah ruangan rekam medis. Resa memerhatikan lamat-lamat ruangan itu, ruangan tepat di depan ruang konselingnya. Ingatannya berputar kembali pada kejadian di mana Ayah memarahi Resa karena mencuri rekam medis, ia teringat ketika Ayah menantangnya untuk berbuat sepertinya, ia teringat saat pertama kali ia membuka lembaran rekam medis. Ingatan itu jelas, tak bias.
“Kring...kring...”
Telepon itu keras berbunyi menganggu berbagai ratusan saraf Resa untuk bekerja mengembalikan Resa pada alam sadarnya. Ia menelan ludah. Telepon itu dari Ibu. Dahulu telepon Ibu selalu ditunggu-tunggu, namun akhir-akhir ini Resa selalu takut melihat nama Ibu ada di layar handphonennya.
“Halo...” Suara Resa seperti tercekat di tenggorokan, urung keluar. Air matanya tak perlu meminta izin lagi untuk keluar, bahkan sebelum suara di seberang sana membalas. Suara ambulans yang terdengar dari telepon sudah cukup menjadi alasan air mata itu mengalir; tak perlu air mata itu dianggap tak tahu diri. Suara ambulans itu semakin dekat dengan telinga Resa. Resa tetap menunggu jawaban Ibu.
“Ayahmu pingsan,” Cukup dua kata itu, Resa merasa gaya gravitasi sudah tak mengikuti teori.
***
Dulu Resa pernah bilang pada Ayah bahwa ia ingin menjadi seperti Ayah. Ia ingin menulis di rekam medis untuk menolong orang sakit, merencanakan pengobatan terbaik untuk para pasien; berkomunikasi dengan baik dengan tenaga kesehatan lain. Kini ia benar-benar melakukan itu, untuk Ayahnya sendiri. Sebuah perencanaan yang ia rencanakan dengan sungguh-sungguh. Namun Tuhan tetaplah perencana terbaik yang pernah ada. Resa menyerahkan segala sisa usahanya pada Yang Kuasa.
Di balik segala usaha dan air matanya, Resa selalu bersyukur memiliki seorang Ayah hebat seperti Ayahnya.
Hari ini aku di samping Ayah
Aku hampir tak mendengar detak jantungnya
Jantung itu sepertinya sudah payah
Hai Ayah,
Terima kasih selama ini ini kau tidak pernah mengajakku berkenalan dengan lelah
Terima kasih telah mengajariku mengerti makna ikhlas
Terima kasih telah menuntunku untuk bekerja tulus dan tuntas
Terima kasih telah menjadi pendamping ibu yang baik dalam mendidikku
Aku bersyukur memilikimu
Sudah 2 minggu Ayah dirawat. Rekam medis itu penuh dengan kolom-kolom baru. Keadaan Ayah fluktuatif, kadang membaik, kadang memburuk. Hingga hari ini adalah masa kritis Ayah. Rekam medis Ayah akan selalu menjadi saksi kerja keras anaknya. Rekam perencanaan yang dibuat dengan harapan, rekam yang menyisakan jejak-jejak doa, hingga hari ini datang. Hari ini seolah memberi tahu Resa bahwa benang-benang rajutannya yang menggantung mungkin sudah saatnya dirajut kembali. Tentunya, untuk Ayah.
***Hindun Risni
Farmasi Klinik dan Komunitas ITB 2012
Selamat hari Ayah untuk seluruh Ayah hebat yang ada di dunia!
Ayah sedang bercengkerama mesra dengan Ibu. Rupanya pemandangan itulah yang membuat mendung seolah cerah, panas seolah sejuk, dan lelah hilang diterpa semilir angin ramah. Itu adalah pemandangan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Bagi Resa, ke dua orang tuanya adalah berlian yang tidak bisa dibeli bahkan dengan jutaan dirham atau ratusan kerang berisi mutiara. Hari Minggu akan selalu menjadi hari favorit Resa di mana Ayah sejenak melepas jas putih dokter miliknya dan Ibu sejenak menyempatkan waktunya bersama Resa.
Resa menangkap mata Ayah yang berpapasan dengannya, seraya tersenyum dan mengangguk bijak, Ayah berkata, “Resa kemari, Ayah dan Ibu punya sesuatu untukmu”.
Ayah selalu tahu apa yang dibutuhkan oleh anak semata wayangnya. Sebuah laptop baru. Sudah lama Resa menginginkan laptop baru karena laptop lamanya yang sudah sulit untuk diajak kerja sama. Tak berani bilang karena takut merepotkan, alih-alih Ayah memberikannya laptop lengkap dengan harddisk eksternal 1 terabyte. “Pokoknya, kamu harus selalu save skripsi kamu ya nak, kalau perlu tiap kali kamu mengetik satu huruf, langsung pindahkan di harddisk ini, dan harddisk ini tidak akan kehabisan memori walau skripsimu jutaan halaman, hahaha. Uhuk..uhuk..”. Tawa serak Ayah bercampur dengan batuknya mengisi ruang tengah keluarga kecil ini, Resa pun tersenyum dan memeluk Ayahnya. Rambut putih Ayah bergesekan dengan rambut hitam legam Resa saat ia memeluknya. Walau hanya sepermili detik warna rambut itu terlihat jelas di mata Resa, Resa tidak akan pernah lupa saat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, rasa khawatir yang tidak bisa ia deskripsikan. Tidak terasa waktu begitu cepat, Ayah sudah tak lagi muda. Kacamata dengan rantai menjulur hingga belakang telinga dengan lensa yang sangat tebal, guratan-guratan wajah yang terlihat jelas tanpa harus melihat ayah tersenyum sekalipun, dan getaran tangannya saat ia membalas pelukan Resa; walau kecil, ia bisa merasakannya, serta sikap linglung Ayah yang membuat Resa resah. Sifatnya yang ia bilang ia hanya pura-pura lupa.
Kesibukan Ayah berkeliling di pulau-pulau terpencil di Indonesia membuat Resa terkadang lupa untuk memerhatikan Ayah sedetail mungkin, yang penting Ayah pulang ke rumah dengan selamat, itu yang selalu menjadi perhatian Resa. Ia bisa melihat jas dokter yang selalu Ayah kenakan ke manapun, warna putihnya sudah bercampur dengan setianya matahari dan angin yang menemani Ayah kemanapun. Jas itu adalah saksi bisu perjuangan keras Ayah.
“Uhuk...uhuk..” Ayah kembali batuk.
“Dok, dokter jangan sakit. Masa dokter sakit. Hihi.” Resa tertawa kecil sambil bercanda menegur Ayahnya yang batuk. Candaan yang dibuat-buat untuk menutupi rasa cemasnya.
“Dokter juga manusia, bisa sakit. Tapi dokter ini beruntung punya anak calon farmasis, ayo beri dokter tua ini obat batuk yang mujarab. Hahaha.” Ayah tertawa lagi, Resa membalasnya dengan tawa gurih.
***
Hari ini mata kuliah Farmasi Klinik, mata kuliah yang paling Resa senangi. Mita, salah satu teman Resa menyapa Ka Ryan, dosen muda yang baru saja mendapat SK mengajar itu adalah dosen yang digandrungi mahasiswi-mahasiswi teman sekelas Resa.
“Halo Ka Ryan! Hari ini kita belajar apa?” Mita tersenyum bertanya, memamerkan gigi putihnya yang berjajar rapi. Ka Ryan mendongakan kepalanya yang sedari tadi fokus pada sebuah koran. Ia menjawab, “Pemantauan Terapi Obat Mita, kan ada di jadwal”. Mita hanya membalas singkat, “Iya cuma mau konfirmasi ka hehe”. Sebenarnya bukan itu alasan Mita menyapa Ka Ryan, ia hanya iseng, genit mengganggu ka Ryan di depan teman-temannya. “Genit pisan mit!” Resa mendorong pelan Mita, yang didorong nyengir.
“Hari ini kita akan belajar pemantauan terapi obat dengan metode SOAP, kalian akan membaca rekam medis pasien dari sebuah rumah sakit.” Ka Ryan memulai kelas.
Resa memandangi tumpukan dokumen di atas meja sebelah ka Ryan. Ia penasaran apa isi dari rekam medis. Lebih dari tiga tahun berkuliah di jurusan Farmasi Klinis bahkan sudah lebih dari 20 tahun dia menjadi seorang anak dokter bedah, belum pernah ia membuka satu lembar pun rekam medis. Ia menyadari bahwa rekam medis adalah dokumen rahasia rumah sakit yang hanya boleh digunakan atau dilihat pada kondisi tertentu saja, misalnya untuk penelitian atau belajar seperti saat ini. Resa dan teman-teman mulai membentuk lingkaran berkelompok, masing-masing kelompok diberikan satu buah rekam medis yang harus dianalisis kondisinya serta dibuat rencana pengobatan lanjutan. Resa perlahan membuka lembaran dokumen itu, sudah lama ia menanti saat-saat ini. Lembaran demi lembaran dibuka, dahinya mulai mengkerut, matanya mulai menyipit, berusaha keras membaca tulisan dokter yang seperti cacing-cacing kecil bergelimpangan di atas kertas. Ayah pernah bilang pada Resa bahwa pendidikan tidak meminta dokter menulis tak jelas, hanya saja entah kenapa dokter masih saja melakukan itu.
Resa tiba-tiba ingat cerita Ibu ketika ia jatuh cinta pada Ayah. Saat itu mereka berbeda universitas dan dipertemukan pada sebuah forum; forum itu membuat mereka tak sengaja bertemu lagi dalam satu kepanitiaan. Ketika itu Ayah menuliskan pesannya dalam suatu kertas yang diserahkan pada Ibu, tulisan kebutuhan-kebutuhan yang harus dibeli oleh Ibu di warung sebelah masjid karena Ayah harus buru-buru mengisi acara menjadi seorang pembicara forum. Kebutuhan yang akan digunakan dalam simulasi games acara hari itu. Resa sungguh ingat ketika itu ibu bercerita sambil mukanya memerah karena tawa, secarik kertas saat itu yang ibu terima adalah format resep dengan tulisan Rx, ibu tahu betul tanda itu adalah simbol resep walaupun ibu bukan mahasiswi kesehatan. Tulisan di atas kertas itu benar saja seperti lambang integral dari berbagai arah, ibu hanya tersenyum dan berusaha sesabar mungkin menelusuri huruf demi huruf yang ada. Resa ikut tersenyum, ia selalu senang membayangkan wajah ibu ketika bercerita hal sederhana itu. Ibu bilang, Ayah dulu memang hobi mengerjai ibu dan ibu bilang kepada Resa bahwa di samping bijak dan baiknya Ayah, sisi humoris Ayahlah yang membuat ibu jatuh cinta.
“Heh Res! Udah selesai belum isi kolom subjektif-objektifnya, aku mau kerjain yang kolom assessment nih.” Mita membuyarkan lamunan indah Resa.
“Eh sori, hehehe belum Mit, give me another 10 minutes yak!” Resa nyengir kuda, sementara Mita sedikit kesal karena kerjaan temannya yang lama.
Resa kembali fokus pada rekam medisnya. Ia perlahan memindahkan identitas pasien, data anamnesa, diagnosis, dan hasil lab pada lembar jawaban. Selesai menuliskannya, Resa membaca kembali apa yang telah ia tulis. Resa terdiam. Matanya perlahan bolak-balik membaca ulang lembar jawaban, kemudian matanya berpindah pada rekam medis dan menemukan kolom berisi status kepulangan. Resa menarik nafas dalam dan menghembuskannya panjang. Kepalanya ia dongakan berusaha membendung air mata agar tidak jatuh. Tangannya mengepal pegangan kursi berusaha untuk menguatkan diri. Perlahan ia kembalikan posisi kepalanya seperti semula.
“Innalillahi...” Resa bergumam pelan.
“Ada apa Res?” Ima teman satu kelompoknya bertanya.
“Pasiennya meninggal” Ucap Resa pelan, semua pun terdiam untuk beberapa detik. Tiba-tiba Mita angkat bicara.
“Kita doakan saja Res, ini kali pertama kita membuka sebuah rekam medis, lama-lama kita akan terbiasa dengan ini, apalagi nanti ketika benar-benar kerja di rumah sakit. Semoga ini menjadi salah satu pengingat kita akan mati, pengingat kita untuk selalu bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan kita nikmat sehat.”
Ima menimpali,
“Sepakat. Semoga pula, rekam medis ini akan selalu mengingatkan kita untuk terus belajar menjadi apoteker kompeten. Apoteker yang siap mendesign perencanaan pengobatan yang tepat untuk pasien.” Suasana diskusi itu jadi semakin haru bercampur segan karena Resa tidak pernah melihat temannya bicara serius seperti itu.
“Cieee pada mendadak bijak!” Lea yang sedari tadi diam tiba-tiba bersuara, mencoba mencairkan suasana.
“Hahaha Lea, iya Le kadang baper itu dibutuhkan untuk hal-hal seperti ini. Supaya kita bisa menjadi manusia yang lebih bijak.” Resa tersenyum ke arah Lea. Tentu saja Lea sepakat.
***
Resa paling senang ketika ia membayangkan kisah Ayahnya. Ayah menikahi Ibu setelah Ayah selesai koas dan berangkat internship ke Papua dalam keadaan ibu sedang hamil Resa. Satu tahun ibu hidup dalam kekhawatiran; menanti Ayah yang menghubungi Ibu dan menyampaikan pesan bahwa ia baik-baik saja. Dulu internet bukanlah barang lumrah, Ayah harus pergi puluhan km menuju kota menumpang truk yang tak sengaja lewat, hanya untuk mengakses telepon umum dan menelepon ibu. “Aku baik-baik saja”. Empat kata itu, hanya empat kata itu yang selalu ibu nantikan. Selain empat kata rutin itu setiap bulan, ibu bilang Ayah selalu menanyakan keadaan Resa, Ayah selalu meminta ibu untuk menyimpan gagang telepon di perutnya kemudian Ayah melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ayah pun bercerita bagaimana kehidupan orang-orang di pedalaman Papua, betapa sulitnya mengakses air bersih, betapa Ayah takut membantu ibu-ibu desa melahirkan untuk pertama kalinya, betapa Ayah menahan sekuat tenaga untuk tetap tenang dikala ia melakukan operasi dengan alat seadanya, dan betapa ia ingin menjerit kencang ketika ia mendapati pasien yang dioperasinya meninggal dunia. Di akhir telepon, ibu bilang pada Resa bahwa Ayah selalu menitipkan pesan pada Resa di dalam janin, “Kelak, anak Ayah harus punya rasa empati yang besar, peduli pada sesama, dan selalu menolong karena Allah”. Resa sungguh tahu hati mulia Ayahnya, hati bersihnya lah yang menggerakan Ayah untuk tetap berkeliling ke seluruh pelosok Indonesia mengabdikan diri sebagai dokter tak dibayar. Ketika itu usia Resa 5 tahun, bermodalkan doa dan tekad, Ayah sangat berharap ibu mau membantu merajutkan mimpi Ayah yang belum selesai.
“Sejatinya, setegak apapun seorang istri berdiri sendiri, ia butuh sandaran suaminya; sekuat apapun dan sehebat apapun seorang ibu membimbing anaknya, seorang anak tetap membutuhkan kasih Ayahnya. Mau apapun mimpimu, tujuan kita tetaplah sama, surga yang tak ada tandingannya. Maka pilihanku hanya dua, membantu merajutkan mimpimu atau aku memaksamu untuk membuat rajutan baru.” Ibu menanggapi Ayah setelah Ayah pelan-pelan menyampaikan maksudnya yang ingin tinggal di desa-desa, mengabdi sebagai seorang dokter. Belum sempat Ayah membuka mulutnya, ibu melanjutkan kata-katanya.
“Seorang istri mempunyai kewajiban untuk menuruti suaminya, membuat suaminya senang dan memuaskan keinginannya karena Allah. Lebih dari itu, Allah mau hambaNya saling tolong-menolong, memberikan manfaat niscaya kita mendapat syafaat. Aku harus menolak merajut mimpimu dengan warna yang sama, namun izinkan aku merajut mimpimu dengan warna berbeda karena warna itu akan datang bukan hanya dariku, namun juga dari anakmu.”
Ayah seketika memeluk Ibu erat. Ia menangis terharu.
Sejak saat itulah, hidup Resa berubah. Resa menjadi seorang anak yang tumbuh dengan masyarakat. Selama 5 tahun ia diwadahi dengan berbagai macam wahana indah. Air bersih, kamar berAC, tempat bermain, semuanya berganti dalam sekejap. Resa harus terbiasa menunggu air kali yang disaring ibu dengan saringan manual, Resa harus terbiasa duduk mengampar di tanah mendengarkan guru sekolah Resa membacakan pelajaran. Dirinya sering protes dan mengamuk memohon Ayah dan Ibu untuk kembali ke kota, namun Ayah tak pernah mengizinkan. Ia justru membuat Resa makin susah dengan memintanya mencuci baju sendiri, memasak makanan, dan mengajarkan teman-temannya berhitung dan menulis. Dengan kesabaran orang tuanya, Resa perlahan hidup menjadi seorang anak desa yang mandiri dan penuh empati. Desa dengan sanitasi rendah dan masyarakat yang tidak sadar akan kesehatan pun berubah karena keluarga kecil ini. Ayah lah yang paling pandai menyulap desa demi desa menjadi wahana yang asik dan sehat. Ayah dengan bisnis apotek bekerja sama dengan seorang apoteker pun telah menghasilkan banyak uang. Keuntungannya mereka gunakan untuk membangun berbagai desa yang dijejaki bergantian selama bertahun-tahun. Resa tak peduli harus berapa kali ia pindah sekolah, harus berapa kali ia mengurusi administrasi melobi sekolah formal menerima dirinya yang lulus dari sekolah informal, Resa tumbuh dengan didikan orang tua yang luar biasa. Orang tua yang akan selalu menjadi mata dan hati Resa.
“Rekam jejakmu ditulis oleh malaikat. Di kanan kirimu akan selalu ada malaikat yang mengawasi.” Ayah kala itu dengan mata tegasnya memarahi Resa yang ketahuan mencuri rekam medis. Saat itu usia Resa 10 tahun.
“Maaf, Yah.” Resa menundukkan kepala. Air matanya pelan-pelan mengalir.
“Dokumen ini rahasia. Ini memang bukan catatan keburukan yang ditulis malaikat Atid untuk dilaporkan pada yang berhak. Tapi kamu akan tahu apa itu kode etik. Kelak kamu mengerti mengapa Ayah melarang kamu membuka dokumen ini, sekalipun kamu anak Ayah.”
“Maaf, Yah.”
“Ini rekam medis, suatu catatan perjalanan pasien yang dirawat. Perjalanan menuju sehat. Dokter, perawat, apoteker, dan semua tenaga kesehatan berkomunikasi lewat dokumen ini. Mereka semua berusaha semampu mereka menolong pasien dengan tugasnya masing-masing, saling memberi tahu tenaga kesehatan mengenai kondisi pasien dan rencana ke depannya untuk menolong pasien. Kamu belum berhak tahu apa isinya.” Ayah memang selalu tahu bahwa yang Resa inginkan hanyalah penjelasan, penjelasan mengenai apa dokumen itu. Dokumen yang selalu membawa tanda tanya Resa, sayangnya Ayah akhir-akhir ini sibuk untuk membantu menghilangkan tanda tanya itu.
Ayah tersenyum. Ia mencium dahi Resa.
“Ayah maafkan, sayang. Kamu mau tahu isinya apa? Ayah tantang kamu buat jadi dokter atau apoteker atau perawat atau tenaga kesehatan lain! Gimana?” Ayah tersenyum menantang.
“Resa kan memang mau jadi kaya Ayah, Resa mau bangun desa juga, Resa mau nulis-nulis di rekam medis, menolong pasien!” Resa berteriak sambil sesenggukan menangis.
“Ayah tunggu.” Ayah tersenyum bijak.
Tibalah masa di mana Resa merantau untuk kuliah, Resa harus menetap di satu kota, memaksa diri mau tak mau melepas orang tuanya berkelana; hingga saat ini menginjak tahun ke empat. Selama tiga tahun lebih, setiap hari Minggu, Ayah dan Ibu mengunjungi Resa di tempat rantaunya. Hari Minggu yang selalu menjadi hari favorit Resa, melihat kedua orang tuanya datang walaupun hanya satu hari. Ayah selalu memberi salam terbaiknya pada Resa, memberikan apresiasi tertinggi bagi Resa yang telah bekerja keras demi mencapai cita-citanya menjadi seorang apoteker handal. Salam tegas yang disampaikan Ayah sambil berdiri tegak dengan sikap hormat layaknya hormat pada pejabat.“Selamat pagi calon farmasis sukses!” Begitu lah yang selalu dilontarkan Ayah tiap kali Resa membuka pintu depan rumah menyambut orang tuanya datang.
Tahun pun berganti, rambut Ayah semakin putih, wajahnya pucat dan sering melamun, seringkali tangannya menggerak-gerakan mainan di depannya yang disediakan oleh ibu. Ternyata bukan batuk Ayah yang harus dikhawatirkan, bukan pula tangan-tangan kaku dan gemetar, tapi candaan-candaan Ayah yang pura-pura lupa. Sudah 4 bulan Ayah divonis Alzhaimer. Tentu Ayah sudah tak mampu bekerja berkeliling, kini ia menetap bersama Ibu dan Resa. Resa kini bekerja sebagai seorang apoteker di suatu rumah sakit sambil merawat Ayahnya. Ia tak mungkin meninggalkan ibu sendiri merawat Ayah. Rajutan mimpinya untuk sementara harus ditunda menyisakan benang-benang menggantung di atas meja rajut.
Hari ini Ayah bermain bola bersamaku. Aku belikan beliau sebuah bola besar untuk dimainkan, melatih otak Ayah. Ayah perlahan sudah bisa tersenyum walau aku tak yakin Ayah tersenyum padaku. Tak apa, yang penting aku tahu Ayah masih bersamaku. Sebuah catatan dituliskan Resa dalam sebuah map besar berisi kertas-kertas bergaris. Resa menyerahkan map itu pada ibunya.
“Bu tulis di sini, tuliskan apa saja yang ibu lakukan bersama Ayah hari ini.” Resa memohon.
“Ini apa sayang?’ Ibu bertanya heran.
“Ini rekam medis bu, sebuah catatan perjalanan Ayah. Segala kegiatan yang aku dan ibu lakukan untuk kesehatan dan kebahagiaan Ayah. Sebuah dokumen perencanaan agar Ayah tetap sehat. Resa bisa kok bu rawat Ayah, Resa bisa. Ayah pasti sembuh.” Resa tak kuasa menahan air matanya. Tetesan itu jatuh, ibu memeluk Resa.
***
Sebuah catatan perjalanan para pasien yang disimpan rapat dan rahasia itu ada di dalam sebuah ruangan rekam medis. Resa memerhatikan lamat-lamat ruangan itu, ruangan tepat di depan ruang konselingnya. Ingatannya berputar kembali pada kejadian di mana Ayah memarahi Resa karena mencuri rekam medis, ia teringat ketika Ayah menantangnya untuk berbuat sepertinya, ia teringat saat pertama kali ia membuka lembaran rekam medis. Ingatan itu jelas, tak bias.
“Kring...kring...”
Telepon itu keras berbunyi menganggu berbagai ratusan saraf Resa untuk bekerja mengembalikan Resa pada alam sadarnya. Ia menelan ludah. Telepon itu dari Ibu. Dahulu telepon Ibu selalu ditunggu-tunggu, namun akhir-akhir ini Resa selalu takut melihat nama Ibu ada di layar handphonennya.
“Halo...” Suara Resa seperti tercekat di tenggorokan, urung keluar. Air matanya tak perlu meminta izin lagi untuk keluar, bahkan sebelum suara di seberang sana membalas. Suara ambulans yang terdengar dari telepon sudah cukup menjadi alasan air mata itu mengalir; tak perlu air mata itu dianggap tak tahu diri. Suara ambulans itu semakin dekat dengan telinga Resa. Resa tetap menunggu jawaban Ibu.
“Ayahmu pingsan,” Cukup dua kata itu, Resa merasa gaya gravitasi sudah tak mengikuti teori.
***
Dulu Resa pernah bilang pada Ayah bahwa ia ingin menjadi seperti Ayah. Ia ingin menulis di rekam medis untuk menolong orang sakit, merencanakan pengobatan terbaik untuk para pasien; berkomunikasi dengan baik dengan tenaga kesehatan lain. Kini ia benar-benar melakukan itu, untuk Ayahnya sendiri. Sebuah perencanaan yang ia rencanakan dengan sungguh-sungguh. Namun Tuhan tetaplah perencana terbaik yang pernah ada. Resa menyerahkan segala sisa usahanya pada Yang Kuasa.
Di balik segala usaha dan air matanya, Resa selalu bersyukur memiliki seorang Ayah hebat seperti Ayahnya.
Hari ini aku di samping Ayah
Aku hampir tak mendengar detak jantungnya
Jantung itu sepertinya sudah payah
Hai Ayah,
Terima kasih selama ini ini kau tidak pernah mengajakku berkenalan dengan lelah
Terima kasih telah mengajariku mengerti makna ikhlas
Terima kasih telah menuntunku untuk bekerja tulus dan tuntas
Terima kasih telah menjadi pendamping ibu yang baik dalam mendidikku
Aku bersyukur memilikimu
Sudah 2 minggu Ayah dirawat. Rekam medis itu penuh dengan kolom-kolom baru. Keadaan Ayah fluktuatif, kadang membaik, kadang memburuk. Hingga hari ini adalah masa kritis Ayah. Rekam medis Ayah akan selalu menjadi saksi kerja keras anaknya. Rekam perencanaan yang dibuat dengan harapan, rekam yang menyisakan jejak-jejak doa, hingga hari ini datang. Hari ini seolah memberi tahu Resa bahwa benang-benang rajutannya yang menggantung mungkin sudah saatnya dirajut kembali. Tentunya, untuk Ayah.
***Hindun Risni
Farmasi Klinik dan Komunitas ITB 2012
Selamat hari Ayah untuk seluruh Ayah hebat yang ada di dunia!
Selasa, 13 Oktober 2015
Apoteker tuh yang ada di apotek?
Saya lupa apa yang ada di pikiran saya sebelum jadi anak farmasi tentang persepsi seorang apoteker itu seperti apa. It is because I didnt care at all; baru kepikiran masuk jurusan farmasi aja di kelas 12, tidak pernah sebelumnya mencari-cari apa kerjaan seorang apoteker (duh, adek2 SMA, jangan dicontoh ya). Pilihan teman-teman SF ITB itu sepertinya tipikal, kalau ga pilihan pertamanya kedokteran (terus yang greget pgn masuk, akhirnya mengulang SBMPTN utk masuk FK) jadi cari yang menurut mereka agak berdekatan (is it?), atau masuk farmasi karena suka biologi tapi gamau jadi dokter, atau ada juga yang suka kimia, atau ada juga yang iseng-iseng, tapi ada juga yang sepertinya passion sekali di farmasi (yang pasti ini bukan gue) well. Tebak saya yang mana?? Ga peduli juga sih jen...
Dengan berbagai alasan pemilihan jurusan farmasi, secara kasat mata saya belum menemukan orang yang memang benar-benar paham tugas seorang apoteker, kecuali orang tuanya yang memang apoteker atau bergerak di bidang kesehatan, maybe. Saya sejujurnya merasa ga cerdas (dont call me stupid) kenapa juga saya pilih farmasi tanpa pikir panjang, di ITB lagi yang jelas-jelas farmasinya sudah dijuruskan. Saya ingat sekali ketika SMA melihat buku pengenalan jurusan ITB, saya membaca ada yang namanya STF (Sains dan Teknologi Farmasi) dan FKK (Farmasi Klinik dan Komunitas). Saya cuma baca sekilas, gada usaha tanya alumni SMA yang di farmasi ITB, terus tiba-tiba saya daftar. Thats why I feel not smart enough, pilih jurusan karena direkomendasikan seseorang bahwa “farmasi itu seru” plus sedikit kesukaan saya dengan biologi dan kimia, terus daftar weh kaya pasang togel. *efek pasrah ingin di jurusan sosial tapi malas belajar karena udah telanjur di jurusan IPA, again, jangan dicontoh*.
Maaf kebanyakan prolog, nyambi curhat ga dosa lah...
Terus apa maksud saya menulis blog dengan judul “Apoteker tuh yang ada di apotek?”
So two days ago, I had a conversation with a friend from another major,
“Ris, FKK atau STF yang harus ambil apoteker?”
“Dua-duanya boleh, tapi ga wajib”
“Oh, apoteker itu yang kerja di apotek kan? Kirain yang FKK aja”
Setelah mendengar pertanyaan dan pernyataan itu, saya jadi ingat tugas osjur di tingkat dua tentang wawancara apoteker yang di dalamnya terdapat pertanyaan mengenai persepsi masyarakat terhadap apoteker. Namun akhir-akhir ini saya lupa akan keadaan itu. Apalagi saya pikir anak ITB semuanya tahu kalo apoteker ga cuma kerja di apotek, ternyata anak teknik ga sekepo itu ya sama anak farmasi *loh #gagalpaham.
Anyway, saya bilang di awal bahwa I had no idea what pharmacist does sampai saya tingkat 2, bahkan pengetahuan saya kala itu ibaratnya baru menginjak halaman 2 dari sebuah novel dengan 1000 halaman. Baru setelah magang di tingkat 3, kunjungan rumah sakit, dan belajar matkul farmasi klinis, pengetahuan saya mengenai tugas seorang apoteker agak bertambah. Kenapa saya bilang agak? Karena saya percaya dengan pepatah “semakin banyak tahu, semakin banyak yang tidak kita tahu”. Nah loh, anak farmasinya aja ga begitu tahu tugasnya apa, apalagi yang bukan farmasi? So dont blame my friend who asked –a-somewhat-look like- a lame question.
Berkaca dari prolog saya, saya cukup yakin, tidak banyak calon mahasiswa yang benar-benar mencari tahu jurusan idamannya sampai mencari detail lahan kerja nanti. Misal, orang yang ingin kerja di perusahaan x, kadang hanya kepikiran karena memang itu perusahaan keren tapi dia tidak tahu ada bagian apa saja yang bisa ia duduki ketika nanti kerja. Baru kemudian di tingkat 3/4 mulai pusing mikir masa depan. So, I encourage you calon mahasiswa untuk benar-benar paham pilihan kamu.
Anyhow, maaf saya kebanyakan bacot :” inti dari tulisan ini adalah ingin memberi tahu apa sih sebenarnya tugas seorang apoteker? Siapa tahu informasi ini berguna untuk calon mahasiswa yang lagi galau pilih jurusan farmasi atau ngga dan sekaligus memberi tahu masyarakat yang tidak tahu menahu apa tugas apoteker; sekaligus pula memberi tahu realita apa yang terjadi. Pengetahuan saya mungkin belum seberapa, tapi ya...ini bisa jadi gambaran :D
Basically, ranah apoteker ini secara garis besar dibagi ke dalam ranah industri dan ranah klinis-komunitas (orientasi klinis di rumah sakit, orientasi komunitas di apotek). Sejujurnya, saya tidak banyak tahu apa kerjaan apoteker di industri selain kaitannya dengan managerial, QA QC, research and development, hm maaf karena saya sudah telanjur kebanyakan terpapar pengetahuan farmasi klinis&komunitas (selanjutnya saya cukup sebut klinis aja ya), izinkan saya untuk berbicara farmasi klinis saja hehehe daripada sok tahu :”
For your information, farmasi klinis di Indonesia belum begitu berkembang. Farmasi industri lah yang telah menduduki singgasana istana kefarmasian sejak manusia masih menulis di atas batu (oke lebay), jadi wajar ketika STF lebih banyak peminatnya daripada FKK ITB karena prospek kerjanya pun lebih menjanjikan. Setelah keluarnya PP No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, barulah isu farmasi klinis muncul ke permukaan. Organisasi profesi bersama dengan para aktivis farmasi Indonesia mulai berjibaku meningkatkan eksistensi farmasi klinis yang orientasinya adalah memberikan pelayanan optimal kepada pasien. Muncul proyek HPEQ DIKTI yang menekankan pada uji kompetensi, akreditasi, dan nilai kolaborasi interprofesi; wadah ini dimanfaatkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia dan APTFI (Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia) untuk memperbaiki sistem farmasi klinis di Indonesia. Kolaborasi dalam optimasi pelayanan klinis menjadi nilai fundamental untuk dijadikan pondasi penggadaian arogansi profesi. Isu peningkatan eksistensi apoteker kemudian digadang-gadang diiringi dengan perbaikan kurikulum farmasi serta adanya uji kompetensi apoteker indonesia sebagai salah satu cara pemerataan kompetensi. So, are pharmacists important in clinical workfield? Why then everyone trying to sell pharmacists? What pharmacist do? Seberapa pentingkah peran farmasi di dunia klinis sampai hak eksistensi dan kesejahteraannya harus diperjuangkan?
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.58, standar pelayanan farmasi klinik (this time, im speaking about hospital, not community) mencakup: (baca selengkapnya di http://sinforeg.litbang.depkes.go.id/upload/regulasi/PMK_No._58_ttg_Standar_Yanfar_RS_.pdf)
1. pengkajian dan pelayanan Resep
2. penelusuran riwayat penggunaan Obat
3. rekonsiliasi Obat
4. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
5. konseling
6. visite
7. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
9. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
10. dispensing sediaan steril; dan
11. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD);
Makhluk apa itu semua ya?
Well, poin di atas adalah hal ideal yang seharusnya dilakukan oleh seorang apoteker yang bekerja di rumah sakit. Pertama, pengkajian dan pelayanan resep. Sejujurnya saya belum tahu banget bagaimana seharusnya seorang apoteker memverifikasi resep dari dokter. Berdasarkan pengetahuan di kelas, bekal magang, dan kunjungan rumah sakit, dalam memverifikasi resep, apoteker akan melihat berdasarkan prinsip DRPs (Drug Related Problem) seperti, apakah dokter meresepkan obat sesuai penggunaannya? Jangan-jangan dokter kasi obat tertentu hanya karena tuntutan dari industri, padahal pasien ga sakit apa-apa? Apakah dokter memberikan dosis yang tepat? Apakah ada interaksi obat yang dapat membahayakan pasien? Apakah ada kemungkinan pasien ini gagal menebus obat karena diberi obat paten yang super mahal (so people, if you cant afford such a branded drug, yes you may ask your pharmacist to give you generic one! Dont be afraid of losing the efficacy, youll be fine)? Ketika saya belajar verifikasi resep di kampus, I needed like an hour to check the prescription, karena detail setiap obat harus diperhatikan. Namun pada kenyataannya, verifikasi resep tidak membutuhkan waktu barang 5 menit, hal ini bisa jadi karena apoteker yang sudah berpengalaman, apoteker yang percaya “dokter ga mungkin sebego itu” atau “dokter ga mungkin sejahat itu” atau “ah paling dokter kasi obat off label” atau “ah paling rekomendasi gue ditolak dokter” haha ya ga semua begitu lah yaa, saya yakin verifikasi resep yang cepat karena memang apoteker yang sudah berpengalaman. Amin. Selama saya magang, banyak kejadian yang ditunjukkan dan diceritakan oleh apoteker di sana terkait proses verifikasi resep, dan hal itu membuat saya cukup terkejut, seperti resep yang tidak rasional, pasien yang protes ini itu, apoteker pandai dan apoteker ga pandai, apoteker yang sering dimarahi dokter karena kebanyakan telepon minta konfirmasi, dll yang somehow membuat perasaan saya campur aduk antara takut dan ingin kerja di rumah sakit. Anyway, inti dari paragraf ini adalah bahwa peran apoteker dalam verifikasi resep sangat penting untuk menghindari DRPs yang saya bilang di atas tadi.
Poin 2 dan 3. Penelusuran riwayat penggunaan obat dan rekonsiliasi obat. Tidak semua apoteker di rumah sakit melakukan ini. Bahkan apoteker terakre internasional di jakarta sana, memberikan ranah rekonsiliasi obat pada dokter dengan alasan keterbatasan SDM apoteker. Rekonsiliasi obat itu apa? Jadi apoteker ini menanyakan obat apa saja yang sedang diminum atau dibawa pasien rawat inap yang baru masuk ruangan rawat, selanjutnya obat itu akan dianalisis apakah layak dikatakan obat, kemudian apakah akan dilanjutkan atau tidak oleh pasien. Sebenarnya kalau dilihat-lihat memang itu ranahnya apoteker, tapi kalau pikiran nakal saya mengatakan ya udah dokter aja sekalian...nanti datanya dikasi ke apoteker terus dikaji deh supaya menghemat waktu. Haha. (Its probably only a matter of technical thingy(?)). Tapi saya merasakan pentingnya poin ini, karena dengan mengetahui obat yang dibawa pasien, apoteker jadi siaga terhadap interaksi obat dan membantu pasien tidak perlu membeli obat lagi jika dia punya obat yang sama dengan yang diresepkan dokter.
Poin 4, 5, dan 6 terkait pemberian informasi obat, konseling dan visite. Pemberian informasi obat biasanya bersifat satu arah pada saat apoteker menyerahkan obat ke pasien. Konseling lebih dua arah dan detail. Kriteria pasiennya pun berbeda. Sementara visite merupakan kunjungan ke ruang rawat. Saya merasa semuanya penting, apalagi bagi pasien-pasien lansia, anak-anak, pasien dengan multiobat dan penggunaan obat khusus, serta pasien dengan kecacatan tertentu yang butuh perhatian khusus terkait pengobatan.
Poin selanjutnya, PTO, MESO, dan EPO. Poin yang paling saya soroti adalah penanganan efek samping obat. Ketika saya mengunjungi rumah sakit di Thailand, sistem pelaporan efek samping obat terlihat lebih rapi dari rumah sakit yang baru saja hari ini saya kunjungi. Kata dosen saya pun memang sistem dari negaranya sudah berbeda. Jadi, ketika terjadi reaksi obat merugikan yang dialami pasien, apoteker akan mengumpulkan data-data kejadian tersebut kemudian melaporkannya kepada Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) di rumah sakit. Apa yang dilakukan oleh PFT RS negara-negara lain adalah melaporkan kejadian tersebut pada badan obat pusat di negaranya (kalo di Indonesia BPOM), kemudian tiap rumah sakit di negara tersebut dapat mengakses database efek samping obat sehingga menjadi referensi dalam pemilihan terapi. Di Indonesia, data kejadian tersebut masih bersifat internal rumah sakit saja. But basically, peran apoteker tentunya penting dalam pengkajian efek samping obat ini. Apoteker dan dokter harus bersama-sama menganalisis apakah suatu kejadian merugikan pada pasien disebabkan karena obat yang dikonsumsinya atau bukan, jika iya apoteker harus mampu memberikan solusinya.
Selanjutnya adalah dispensing sediaan steril, yaitu menyiapkan obat-obat steril. Yah tentunya apoteker dibekali ilmu dispensing ini sehingga sudah sewajarnya apoteker yang melakukannya karena butuh keahlian khusus. Namun pada kenyataannya, dispensing ini masih dilakukan oleh Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) yang bukan apoteker (biasanya lulusan D3 Farmasi). Hm mungkin saya belum begitu paham urgensinya ketika memang TTK dibekali keterampilan ini, kenapa tidak mereka saja yang melakukan dispensing, tidak perlu apoteker seperti yang dicantumkan di Peraturan Menkes, mungkin ada pertimbangan yang saya belum tahu (?)
Poin terakhir saya kurang paham dan jarang dibahas juga sama apoteker-apoteker -.-
Yap. Itulah yang dilakukan oleh apoteker di rumah sakit. Rumah sakit masih menganggap pekerjaan farmasi klinis sangatlah banyak sehingga beberapa tugasnya kemudian masih dilakukan oleh TTK karena kekurangan SDM. Wait, kekurangan SDM? Teman-teman saya serempak terkejut dengan alasan itu karena kami sama-sama tahu bahwa lulusan farmasi bejubel jumlahnya di Indonesia tercinta ini. Kemudian kami berpikir, bisa jadi rumah sakit tidak mampu menemukan apoteker yang kriteria kompetensinya memenuhi apa yang mereka mau atau apakah rumah sakit tidak punya anggaran untuk merekrut apoteker baru atau rumah sakit masih merasa tugas apoteker dapat didelegasikan pada TTK yang cenderung digaji lebih rendah dari apoteker. Ini asumsi kok bro asumsi behehe. Yang pasti, setiap kali otak saya ini terpapar terkait isu farmasi klinis, saya selalu mengkaitkannya dengan kompetensi. Saya tidak mau bicara soal kesejahteraan dulu (apalagi untuk farmasi komunitas –apotek-), idealisme saya masih berkata bahwa yang terpenting sekarang adalah menyiapkan apoteker-apoteker kompeten sehingga peran apoteker memang benar-benar dibutuhkan (belajar yang bener Jen!). Selain itu, saya merasa database terkait kesehatan (seperti database MESO, peta kuman) di Indonesia kita tercinta ini mesti diperbaiki agar kita benar-benar tahu permasalahan kesehatan yang memang benar-benar membutuhkan keterlibatan apoteker yang mendalam. Ah, saya masih mahasiswa, saya saja tidak peduli soal prospek kerjaan makanya saya pilih FKK, ya toh saya ingin berhubungan dengan manusia as simple as that. Semoga idealisme ini tidak terkikis. Bytheway, kalau kata ka Tisa yang baru pulang S2 Farmasi Klinis di Inggris “UK has the same problem like Indonesia 20 years ago, where pharmacists weren’t exist yet” semoga farmasi klinis di Indonesia akan membaik tanpa harus menunggu 20 tahun lagi :’)
Okaay. I come to the end of my post. Quite boring? Sorry :”””””” maybe you could spread this to your little fella who are going to go to college or your friends who are interested at clinical pharmacy and they dont know yet what actually their roles are. Saya yakin masih ada hal yang tidak saya tahu terkait peran farmasi klinis, yah sambil jalan deh ya saya cari tahu~
I might talk about community pharmacist in my next post! Good night! Viva la pharmacie!
*ini bonus foto FKK 2012 setelah kuliah lapangan di rumah sakit hari ini, semoga kami jadi apoteker yang kompeten! amin* #jangandiabaikan
Dengan berbagai alasan pemilihan jurusan farmasi, secara kasat mata saya belum menemukan orang yang memang benar-benar paham tugas seorang apoteker, kecuali orang tuanya yang memang apoteker atau bergerak di bidang kesehatan, maybe. Saya sejujurnya merasa ga cerdas (dont call me stupid) kenapa juga saya pilih farmasi tanpa pikir panjang, di ITB lagi yang jelas-jelas farmasinya sudah dijuruskan. Saya ingat sekali ketika SMA melihat buku pengenalan jurusan ITB, saya membaca ada yang namanya STF (Sains dan Teknologi Farmasi) dan FKK (Farmasi Klinik dan Komunitas). Saya cuma baca sekilas, gada usaha tanya alumni SMA yang di farmasi ITB, terus tiba-tiba saya daftar. Thats why I feel not smart enough, pilih jurusan karena direkomendasikan seseorang bahwa “farmasi itu seru” plus sedikit kesukaan saya dengan biologi dan kimia, terus daftar weh kaya pasang togel. *efek pasrah ingin di jurusan sosial tapi malas belajar karena udah telanjur di jurusan IPA, again, jangan dicontoh*.
Maaf kebanyakan prolog, nyambi curhat ga dosa lah...
Terus apa maksud saya menulis blog dengan judul “Apoteker tuh yang ada di apotek?”
So two days ago, I had a conversation with a friend from another major,
“Ris, FKK atau STF yang harus ambil apoteker?”
“Dua-duanya boleh, tapi ga wajib”
“Oh, apoteker itu yang kerja di apotek kan? Kirain yang FKK aja”
Setelah mendengar pertanyaan dan pernyataan itu, saya jadi ingat tugas osjur di tingkat dua tentang wawancara apoteker yang di dalamnya terdapat pertanyaan mengenai persepsi masyarakat terhadap apoteker. Namun akhir-akhir ini saya lupa akan keadaan itu. Apalagi saya pikir anak ITB semuanya tahu kalo apoteker ga cuma kerja di apotek, ternyata anak teknik ga sekepo itu ya sama anak farmasi *loh #gagalpaham.
Anyway, saya bilang di awal bahwa I had no idea what pharmacist does sampai saya tingkat 2, bahkan pengetahuan saya kala itu ibaratnya baru menginjak halaman 2 dari sebuah novel dengan 1000 halaman. Baru setelah magang di tingkat 3, kunjungan rumah sakit, dan belajar matkul farmasi klinis, pengetahuan saya mengenai tugas seorang apoteker agak bertambah. Kenapa saya bilang agak? Karena saya percaya dengan pepatah “semakin banyak tahu, semakin banyak yang tidak kita tahu”. Nah loh, anak farmasinya aja ga begitu tahu tugasnya apa, apalagi yang bukan farmasi? So dont blame my friend who asked –a-somewhat-look like- a lame question.
Berkaca dari prolog saya, saya cukup yakin, tidak banyak calon mahasiswa yang benar-benar mencari tahu jurusan idamannya sampai mencari detail lahan kerja nanti. Misal, orang yang ingin kerja di perusahaan x, kadang hanya kepikiran karena memang itu perusahaan keren tapi dia tidak tahu ada bagian apa saja yang bisa ia duduki ketika nanti kerja. Baru kemudian di tingkat 3/4 mulai pusing mikir masa depan. So, I encourage you calon mahasiswa untuk benar-benar paham pilihan kamu.
Anyhow, maaf saya kebanyakan bacot :” inti dari tulisan ini adalah ingin memberi tahu apa sih sebenarnya tugas seorang apoteker? Siapa tahu informasi ini berguna untuk calon mahasiswa yang lagi galau pilih jurusan farmasi atau ngga dan sekaligus memberi tahu masyarakat yang tidak tahu menahu apa tugas apoteker; sekaligus pula memberi tahu realita apa yang terjadi. Pengetahuan saya mungkin belum seberapa, tapi ya...ini bisa jadi gambaran :D
Basically, ranah apoteker ini secara garis besar dibagi ke dalam ranah industri dan ranah klinis-komunitas (orientasi klinis di rumah sakit, orientasi komunitas di apotek). Sejujurnya, saya tidak banyak tahu apa kerjaan apoteker di industri selain kaitannya dengan managerial, QA QC, research and development, hm maaf karena saya sudah telanjur kebanyakan terpapar pengetahuan farmasi klinis&komunitas (selanjutnya saya cukup sebut klinis aja ya), izinkan saya untuk berbicara farmasi klinis saja hehehe daripada sok tahu :”
For your information, farmasi klinis di Indonesia belum begitu berkembang. Farmasi industri lah yang telah menduduki singgasana istana kefarmasian sejak manusia masih menulis di atas batu (oke lebay), jadi wajar ketika STF lebih banyak peminatnya daripada FKK ITB karena prospek kerjanya pun lebih menjanjikan. Setelah keluarnya PP No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, barulah isu farmasi klinis muncul ke permukaan. Organisasi profesi bersama dengan para aktivis farmasi Indonesia mulai berjibaku meningkatkan eksistensi farmasi klinis yang orientasinya adalah memberikan pelayanan optimal kepada pasien. Muncul proyek HPEQ DIKTI yang menekankan pada uji kompetensi, akreditasi, dan nilai kolaborasi interprofesi; wadah ini dimanfaatkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia dan APTFI (Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia) untuk memperbaiki sistem farmasi klinis di Indonesia. Kolaborasi dalam optimasi pelayanan klinis menjadi nilai fundamental untuk dijadikan pondasi penggadaian arogansi profesi. Isu peningkatan eksistensi apoteker kemudian digadang-gadang diiringi dengan perbaikan kurikulum farmasi serta adanya uji kompetensi apoteker indonesia sebagai salah satu cara pemerataan kompetensi. So, are pharmacists important in clinical workfield? Why then everyone trying to sell pharmacists? What pharmacist do? Seberapa pentingkah peran farmasi di dunia klinis sampai hak eksistensi dan kesejahteraannya harus diperjuangkan?
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.58, standar pelayanan farmasi klinik (this time, im speaking about hospital, not community) mencakup: (baca selengkapnya di http://sinforeg.litbang.depkes.go.id/upload/regulasi/PMK_No._58_ttg_Standar_Yanfar_RS_.pdf)
1. pengkajian dan pelayanan Resep
2. penelusuran riwayat penggunaan Obat
3. rekonsiliasi Obat
4. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
5. konseling
6. visite
7. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
9. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
10. dispensing sediaan steril; dan
11. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD);
Makhluk apa itu semua ya?
Well, poin di atas adalah hal ideal yang seharusnya dilakukan oleh seorang apoteker yang bekerja di rumah sakit. Pertama, pengkajian dan pelayanan resep. Sejujurnya saya belum tahu banget bagaimana seharusnya seorang apoteker memverifikasi resep dari dokter. Berdasarkan pengetahuan di kelas, bekal magang, dan kunjungan rumah sakit, dalam memverifikasi resep, apoteker akan melihat berdasarkan prinsip DRPs (Drug Related Problem) seperti, apakah dokter meresepkan obat sesuai penggunaannya? Jangan-jangan dokter kasi obat tertentu hanya karena tuntutan dari industri, padahal pasien ga sakit apa-apa? Apakah dokter memberikan dosis yang tepat? Apakah ada interaksi obat yang dapat membahayakan pasien? Apakah ada kemungkinan pasien ini gagal menebus obat karena diberi obat paten yang super mahal (so people, if you cant afford such a branded drug, yes you may ask your pharmacist to give you generic one! Dont be afraid of losing the efficacy, youll be fine)? Ketika saya belajar verifikasi resep di kampus, I needed like an hour to check the prescription, karena detail setiap obat harus diperhatikan. Namun pada kenyataannya, verifikasi resep tidak membutuhkan waktu barang 5 menit, hal ini bisa jadi karena apoteker yang sudah berpengalaman, apoteker yang percaya “dokter ga mungkin sebego itu” atau “dokter ga mungkin sejahat itu” atau “ah paling dokter kasi obat off label” atau “ah paling rekomendasi gue ditolak dokter” haha ya ga semua begitu lah yaa, saya yakin verifikasi resep yang cepat karena memang apoteker yang sudah berpengalaman. Amin. Selama saya magang, banyak kejadian yang ditunjukkan dan diceritakan oleh apoteker di sana terkait proses verifikasi resep, dan hal itu membuat saya cukup terkejut, seperti resep yang tidak rasional, pasien yang protes ini itu, apoteker pandai dan apoteker ga pandai, apoteker yang sering dimarahi dokter karena kebanyakan telepon minta konfirmasi, dll yang somehow membuat perasaan saya campur aduk antara takut dan ingin kerja di rumah sakit. Anyway, inti dari paragraf ini adalah bahwa peran apoteker dalam verifikasi resep sangat penting untuk menghindari DRPs yang saya bilang di atas tadi.
Poin 2 dan 3. Penelusuran riwayat penggunaan obat dan rekonsiliasi obat. Tidak semua apoteker di rumah sakit melakukan ini. Bahkan apoteker terakre internasional di jakarta sana, memberikan ranah rekonsiliasi obat pada dokter dengan alasan keterbatasan SDM apoteker. Rekonsiliasi obat itu apa? Jadi apoteker ini menanyakan obat apa saja yang sedang diminum atau dibawa pasien rawat inap yang baru masuk ruangan rawat, selanjutnya obat itu akan dianalisis apakah layak dikatakan obat, kemudian apakah akan dilanjutkan atau tidak oleh pasien. Sebenarnya kalau dilihat-lihat memang itu ranahnya apoteker, tapi kalau pikiran nakal saya mengatakan ya udah dokter aja sekalian...nanti datanya dikasi ke apoteker terus dikaji deh supaya menghemat waktu. Haha. (Its probably only a matter of technical thingy(?)). Tapi saya merasakan pentingnya poin ini, karena dengan mengetahui obat yang dibawa pasien, apoteker jadi siaga terhadap interaksi obat dan membantu pasien tidak perlu membeli obat lagi jika dia punya obat yang sama dengan yang diresepkan dokter.
Poin 4, 5, dan 6 terkait pemberian informasi obat, konseling dan visite. Pemberian informasi obat biasanya bersifat satu arah pada saat apoteker menyerahkan obat ke pasien. Konseling lebih dua arah dan detail. Kriteria pasiennya pun berbeda. Sementara visite merupakan kunjungan ke ruang rawat. Saya merasa semuanya penting, apalagi bagi pasien-pasien lansia, anak-anak, pasien dengan multiobat dan penggunaan obat khusus, serta pasien dengan kecacatan tertentu yang butuh perhatian khusus terkait pengobatan.
Poin selanjutnya, PTO, MESO, dan EPO. Poin yang paling saya soroti adalah penanganan efek samping obat. Ketika saya mengunjungi rumah sakit di Thailand, sistem pelaporan efek samping obat terlihat lebih rapi dari rumah sakit yang baru saja hari ini saya kunjungi. Kata dosen saya pun memang sistem dari negaranya sudah berbeda. Jadi, ketika terjadi reaksi obat merugikan yang dialami pasien, apoteker akan mengumpulkan data-data kejadian tersebut kemudian melaporkannya kepada Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) di rumah sakit. Apa yang dilakukan oleh PFT RS negara-negara lain adalah melaporkan kejadian tersebut pada badan obat pusat di negaranya (kalo di Indonesia BPOM), kemudian tiap rumah sakit di negara tersebut dapat mengakses database efek samping obat sehingga menjadi referensi dalam pemilihan terapi. Di Indonesia, data kejadian tersebut masih bersifat internal rumah sakit saja. But basically, peran apoteker tentunya penting dalam pengkajian efek samping obat ini. Apoteker dan dokter harus bersama-sama menganalisis apakah suatu kejadian merugikan pada pasien disebabkan karena obat yang dikonsumsinya atau bukan, jika iya apoteker harus mampu memberikan solusinya.
Selanjutnya adalah dispensing sediaan steril, yaitu menyiapkan obat-obat steril. Yah tentunya apoteker dibekali ilmu dispensing ini sehingga sudah sewajarnya apoteker yang melakukannya karena butuh keahlian khusus. Namun pada kenyataannya, dispensing ini masih dilakukan oleh Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) yang bukan apoteker (biasanya lulusan D3 Farmasi). Hm mungkin saya belum begitu paham urgensinya ketika memang TTK dibekali keterampilan ini, kenapa tidak mereka saja yang melakukan dispensing, tidak perlu apoteker seperti yang dicantumkan di Peraturan Menkes, mungkin ada pertimbangan yang saya belum tahu (?)
Poin terakhir saya kurang paham dan jarang dibahas juga sama apoteker-apoteker -.-
Yap. Itulah yang dilakukan oleh apoteker di rumah sakit. Rumah sakit masih menganggap pekerjaan farmasi klinis sangatlah banyak sehingga beberapa tugasnya kemudian masih dilakukan oleh TTK karena kekurangan SDM. Wait, kekurangan SDM? Teman-teman saya serempak terkejut dengan alasan itu karena kami sama-sama tahu bahwa lulusan farmasi bejubel jumlahnya di Indonesia tercinta ini. Kemudian kami berpikir, bisa jadi rumah sakit tidak mampu menemukan apoteker yang kriteria kompetensinya memenuhi apa yang mereka mau atau apakah rumah sakit tidak punya anggaran untuk merekrut apoteker baru atau rumah sakit masih merasa tugas apoteker dapat didelegasikan pada TTK yang cenderung digaji lebih rendah dari apoteker. Ini asumsi kok bro asumsi behehe. Yang pasti, setiap kali otak saya ini terpapar terkait isu farmasi klinis, saya selalu mengkaitkannya dengan kompetensi. Saya tidak mau bicara soal kesejahteraan dulu (apalagi untuk farmasi komunitas –apotek-), idealisme saya masih berkata bahwa yang terpenting sekarang adalah menyiapkan apoteker-apoteker kompeten sehingga peran apoteker memang benar-benar dibutuhkan (belajar yang bener Jen!). Selain itu, saya merasa database terkait kesehatan (seperti database MESO, peta kuman) di Indonesia kita tercinta ini mesti diperbaiki agar kita benar-benar tahu permasalahan kesehatan yang memang benar-benar membutuhkan keterlibatan apoteker yang mendalam. Ah, saya masih mahasiswa, saya saja tidak peduli soal prospek kerjaan makanya saya pilih FKK, ya toh saya ingin berhubungan dengan manusia as simple as that. Semoga idealisme ini tidak terkikis. Bytheway, kalau kata ka Tisa yang baru pulang S2 Farmasi Klinis di Inggris “UK has the same problem like Indonesia 20 years ago, where pharmacists weren’t exist yet” semoga farmasi klinis di Indonesia akan membaik tanpa harus menunggu 20 tahun lagi :’)
Okaay. I come to the end of my post. Quite boring? Sorry :”””””” maybe you could spread this to your little fella who are going to go to college or your friends who are interested at clinical pharmacy and they dont know yet what actually their roles are. Saya yakin masih ada hal yang tidak saya tahu terkait peran farmasi klinis, yah sambil jalan deh ya saya cari tahu~
I might talk about community pharmacist in my next post! Good night! Viva la pharmacie!
*ini bonus foto FKK 2012 setelah kuliah lapangan di rumah sakit hari ini, semoga kami jadi apoteker yang kompeten! amin* #jangandiabaikan
Kamis, 23 April 2015
TC Research Dissemination
Jadi, ceritanya begini.
I was quite a newbie in tobacco control things. Bulan lalu iseng-iseng kirim abstrak tentang tobacco control policy-relevant research bersama adik tingkat yang juga anak farmasi (credits to Intan Dinny, thanks for doing a great job!). Selayang kuesioner online, simple, dan mengacuhkan variable inklusi dan semacamnya saya sebarkan lewat media sosial kemudian dibuat posternya. I was happy knowing that our abstract was accepted to a poster exhibition in Yogyakarta. Tibalah tanggal 19 April, I flew to Yogya for attending the exhibition what so called Indonesian Tobacco Control Research Dissemination Conference and Capacity Building Program. Program ini diadakan oleh MTCC (Muhammadiyah Tobacco Control Center UMY); John Hopkins Bloomberg School of Publich Health, an IGTC; International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases; and National Cancer Institute USA. Well, I just knew such things were actually exist in this world lol.
During the preparation, baik itu kirim biografi, foto, poster, tiket pesawat, panitia selalu menghubungi saya lewat sms dengan kata sapaan ‘Ibu’, biasanya kalau ada kegiatan semacam gini, paling barter saya dihubungi dengan kata sapaan ‘mbak’, tapi kenapa ini ‘ibu’ ya?
So I was wondering why everyone calling me ‘Ibu’, it was answered when I attended the welcoming event. I could barely find students -.-“ Kebanyakan participant adalah aktivis tobacco control (TC) dari komunitas-komunitas TC yang sudah lulus S1 atau sedang mengeyam pendidikan S2, S3; dosen-dosen FISIP, Psikologi, FKM, FK, Farmasi dan rumpun kesehatan lain; orang-orang dinkes, kemenkes, dll yang penelitian tobacco controlnya luar biasa kompleks. Ilmu farmakoekonomi saya mungkin baru 1/1000000nya. I was like “Ok, here we go, jen.”
Berawal dari sarapan pagi bersama roommate yang merupakan dosen muda dari Aceh, rasa penasaran saya dengan acara ini semakin meningkat. Beliau menceritakan penelitian yang beliau lakukan dan berdiskusi sedikit tentang KTR di daerah-daerah yang tidak terimplementasi dengan baik; beliau pun menceritakan penelitian mengenai rokok herbal yang justru bahayanya tidak jauh dengan rokok biasa; kemudian mengenai PHW (pictorial health warning) yang ada di bungkus-bungkus rokok sekarang ternyata memang memengaruhi keinginan orang-orang untuk tidak merokok, namun industry rokok kemudian mengakali PHW tersebut dengan membuat kemasan rokok dalam kaleng yang PHWnya dimasukkan ke dalam kaleng tersebut (duh!).
Sampai pada keynote speech oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany yang merupakan founder JKN, pembawaan sarkasnya yang kadang bikin ketawa buat saya manggut-manggut mendengar berbagai informasi yang beliau sampaikan. Kemudian diskusi panel oleh Steve Tamplin, Jeffrey Drope, dan Mark Parascandola yang tidak kalah menarik. Pertanyaan yang paling menarik muncul di diskusi ini adalah “Can you guys tell us why USA has not yet ratify FCTC?” yup, I just noticed that! Saya tahu ada 9 negara yang belum meratifikasi FCTC (framework tobacco control dari WHO), salah satunya Indonesia dan USA, even USA has not sign yet -.- tapi tiga pembicara di panel diskusi itu American loh. Then they said “It’s political reason, but despite that I believe USA are really eager in conducting tobacco control research activity around the world” ya, sebagaimana teman saya dari FKM UI bilang, “Amerika memang belum ratify, tapi kegiatan tobacco control mereka gila-gilaan” That makes me curious what the political reasons are. Selanjutnya ada presentasi dari Prof. dr. Tjandra Yoga, pihak Puslitbangkes Kemenkes RI yang memberikan informasi-infomrasi up to date mengenai jumlah perokok Indonesia dan data-data terkait lainnya. I was like “Come one Indonesia, can you make an update database for everything in internet just like USA has been doing? It’s a very useful materials instead of making your students create a blog for posting their laboratory report (if you know what I mean). We’re living in Z generation, hurray!” (but eventually I know that CDC has smoking-related database for all countries including Indonesia, which is awesome)
Lunch break saya makan dengan roommate dan partner in crime saya selama conference, lol, Khansa yang juga mahasiswa S1 and her roommate Ibu dari dinas keuangan Indramayu. Diskusi seputar rokok mencuat kembali, Ibu dari Indramayu tersebut menceritakan berbagai hal terkait dana cukai rokok yang tidak boleh dipakai untuk dana pendidikan ataupun dana lain di luar hal yang dapat menguntungkan industri rokok. Rasanya kesal dengar itu -.-
Kegiatan selanjutnya adalah presentasi-presentasi penelitian terkait rokok, berikut judul intinya:
1. Mapping the Indonesia government position in decision making on FCTC ratification
2. Harmonizing international trade policies and right for health protection measures
3. Content analysis of cigarette advertisement in newspaper
4. Economic burden of smoking attributable disease to government health expenditure
5. Warranties and certainty of legal protection of children from cigarette addiction
6. Analysing tobacco control policy initiation through survey on public opinion
7. Monitoring and evaluation of implementation of regional regulation no. 5 year 2008 surabaya
8. Effect of home cigarette smoke exposure to respiratory diseases
9. Monitoring and evaluation PHW
10. Economic impact of smoking : premature mortality cost and YPLL study
When I listened to the first five presentation, I was like “uwow so cooool”. But then I was like “Dang, why you’re not inviting policy maker in this session! This incredibly important for advocacy!’ Well, I don’t know. I guess theyre gonna make things like bank of TC research in bank of advocacy until then policy maker can read them. Hopefully so.
Sesi lain yaitu presentasi dari dr. Hasto Wardoyo yang merupakan Bupati Kulonprogo Yogyakarta. I admire this mayor, he’s such a nice and supportive leader. Daerah Kulonprogo telah sukses mengimplementasi berbagai kebijakan kawasan tanpa rokok berikut pencabutan iklan-iklan rokok. You must know, pendapatan daerah Kulonprogo sebelum dan setelah adanya pencabutan iklan rokok ternyata justru bertambah! How cool! Sebagaimana beliau bilang “Rezeki itu bisa datang dari mana saja”. Beliau pun sedang mengusahakan approach ke Bupati lain di Yogyakarta untuk sama-sama mengimplementasikan kebijakan tobacco control. Semangat pak!
Yah begitulah sekilas kegiatan yang saya ikuti di Yogya kemarin, masih ada hal menarik lainnya. Sayangnya karena ada presentasi tugas dan praktikum saya harus pulang lebih awal padahal acara belum selesai. Di perjalanan menuju airport, saya satu mobil dengan dr. Tara Singh Bam, seorang Nepalian dari the Union. He said hes gonna come to Bandung next week meeting up with Ridwan Kamil to talk about tobacco control. My eyes dilated, yay! Then I told him about K3 policy that has been all over the street regarding its garbage disposing but not the KTR policy. So readers, Bandung kita tercinta ini sudah punya aturan KTR (kawasan tanpa rokok) yang sayangnya masih bergabung dengan kebijakan lainnya di perda K3 No. 11, as you see di jalan-jalan, propaganda buang sampah sembarangan denda 5 juta rupiah itu loh, sampai walkot kita finally urge drivers to have trash can inside their cars, I was happy to know that happened. Silakan baca perda tersebut, you will see how our local government actually already wrote which places are smoke free areas and you’ll see also that the violator will be fined 5 million rupiah as well as garbage disposing violator. Sayangnya aturan tersebut belum sehits aturan buang sampah sembarangan, salah satunya mungkin karena aturan KTR belum difokuskan menjadi perda yang terpisah. This is the content I brought in my very simple research for conference. How can Im not happy hearing that dr. Tara will meet Ridwan Kamil to arrange a tobacco control stuffs! “You know why KTR in your place isn’t implemented well? Because your local government officer smoke, just like other local governments. But I will meet Ridwan Kamil, Bandung needs a separate policy for tobacco control” there he said after telling him a little about what happened in Bandung. Yayness hopefully youll do a great job, sir!
Yah yaudalah, bahaya rokok sih udah mainstream, semua orang juga udah tahu. Sekarang gimana orang-orangnya aja mau aware sama sekitar dan gimana caranya ada political will included, kita mainkan saja dengan kebijakan-kebijakan yang ada termasuk KTR, rising taxes, ratify FCTC, u yeaah. Semangat para policy-maker influencer! :)
Semoga Bandung menjadi daerah selanjutnya yang akan mengimplementasikan KTR sebaik mungkin. Tak lupa harapan besar untuk kampusku tercinta, I realize most of the students in ITB are guys as well as the lecturers -.- come on dudes, I believe youre well-educated enough to know that cigarette’s smoke kills you and others! I will share the update research data to tell you later on. Banyak orang-orang miskin yang kemudian sulit berhenti merokok dan membunuh passive smokers karena tempat kerja mereka terbuka untuk asap rokok, bandingkan dengan orang-orang menengah atau orang-orang kaya yang bisa jadi adiksi rokoknya sama dengan orang-orang miskin namun karena tuntutan tempat kerja yang smoke free area, konsumsi rokok mereka menjadi lebih sedikit. It could applies in campus environment. With KTR policy in my campus being well-implemented, I really hope you smokers can stop slowly, no need to hurry, just think about people around you who smoke your smoke, just think your parent that want you healthy, having kids, and achieve all of your dreams without worrying any diseases. Mungkin belum terasa ya, yaudah tunggu aja, kalau kata kaos GP3nya HMF “Want more information about lung cancer? Keep smoking” :)
I was quite a newbie in tobacco control things. Bulan lalu iseng-iseng kirim abstrak tentang tobacco control policy-relevant research bersama adik tingkat yang juga anak farmasi (credits to Intan Dinny, thanks for doing a great job!). Selayang kuesioner online, simple, dan mengacuhkan variable inklusi dan semacamnya saya sebarkan lewat media sosial kemudian dibuat posternya. I was happy knowing that our abstract was accepted to a poster exhibition in Yogyakarta. Tibalah tanggal 19 April, I flew to Yogya for attending the exhibition what so called Indonesian Tobacco Control Research Dissemination Conference and Capacity Building Program. Program ini diadakan oleh MTCC (Muhammadiyah Tobacco Control Center UMY); John Hopkins Bloomberg School of Publich Health, an IGTC; International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases; and National Cancer Institute USA. Well, I just knew such things were actually exist in this world lol.
During the preparation, baik itu kirim biografi, foto, poster, tiket pesawat, panitia selalu menghubungi saya lewat sms dengan kata sapaan ‘Ibu’, biasanya kalau ada kegiatan semacam gini, paling barter saya dihubungi dengan kata sapaan ‘mbak’, tapi kenapa ini ‘ibu’ ya?
So I was wondering why everyone calling me ‘Ibu’, it was answered when I attended the welcoming event. I could barely find students -.-“ Kebanyakan participant adalah aktivis tobacco control (TC) dari komunitas-komunitas TC yang sudah lulus S1 atau sedang mengeyam pendidikan S2, S3; dosen-dosen FISIP, Psikologi, FKM, FK, Farmasi dan rumpun kesehatan lain; orang-orang dinkes, kemenkes, dll yang penelitian tobacco controlnya luar biasa kompleks. Ilmu farmakoekonomi saya mungkin baru 1/1000000nya. I was like “Ok, here we go, jen.”
Berawal dari sarapan pagi bersama roommate yang merupakan dosen muda dari Aceh, rasa penasaran saya dengan acara ini semakin meningkat. Beliau menceritakan penelitian yang beliau lakukan dan berdiskusi sedikit tentang KTR di daerah-daerah yang tidak terimplementasi dengan baik; beliau pun menceritakan penelitian mengenai rokok herbal yang justru bahayanya tidak jauh dengan rokok biasa; kemudian mengenai PHW (pictorial health warning) yang ada di bungkus-bungkus rokok sekarang ternyata memang memengaruhi keinginan orang-orang untuk tidak merokok, namun industry rokok kemudian mengakali PHW tersebut dengan membuat kemasan rokok dalam kaleng yang PHWnya dimasukkan ke dalam kaleng tersebut (duh!).
Sampai pada keynote speech oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany yang merupakan founder JKN, pembawaan sarkasnya yang kadang bikin ketawa buat saya manggut-manggut mendengar berbagai informasi yang beliau sampaikan. Kemudian diskusi panel oleh Steve Tamplin, Jeffrey Drope, dan Mark Parascandola yang tidak kalah menarik. Pertanyaan yang paling menarik muncul di diskusi ini adalah “Can you guys tell us why USA has not yet ratify FCTC?” yup, I just noticed that! Saya tahu ada 9 negara yang belum meratifikasi FCTC (framework tobacco control dari WHO), salah satunya Indonesia dan USA, even USA has not sign yet -.- tapi tiga pembicara di panel diskusi itu American loh. Then they said “It’s political reason, but despite that I believe USA are really eager in conducting tobacco control research activity around the world” ya, sebagaimana teman saya dari FKM UI bilang, “Amerika memang belum ratify, tapi kegiatan tobacco control mereka gila-gilaan” That makes me curious what the political reasons are. Selanjutnya ada presentasi dari Prof. dr. Tjandra Yoga, pihak Puslitbangkes Kemenkes RI yang memberikan informasi-infomrasi up to date mengenai jumlah perokok Indonesia dan data-data terkait lainnya. I was like “Come one Indonesia, can you make an update database for everything in internet just like USA has been doing? It’s a very useful materials instead of making your students create a blog for posting their laboratory report (if you know what I mean). We’re living in Z generation, hurray!” (but eventually I know that CDC has smoking-related database for all countries including Indonesia, which is awesome)
Lunch break saya makan dengan roommate dan partner in crime saya selama conference, lol, Khansa yang juga mahasiswa S1 and her roommate Ibu dari dinas keuangan Indramayu. Diskusi seputar rokok mencuat kembali, Ibu dari Indramayu tersebut menceritakan berbagai hal terkait dana cukai rokok yang tidak boleh dipakai untuk dana pendidikan ataupun dana lain di luar hal yang dapat menguntungkan industri rokok. Rasanya kesal dengar itu -.-
Kegiatan selanjutnya adalah presentasi-presentasi penelitian terkait rokok, berikut judul intinya:
1. Mapping the Indonesia government position in decision making on FCTC ratification
2. Harmonizing international trade policies and right for health protection measures
3. Content analysis of cigarette advertisement in newspaper
4. Economic burden of smoking attributable disease to government health expenditure
5. Warranties and certainty of legal protection of children from cigarette addiction
6. Analysing tobacco control policy initiation through survey on public opinion
7. Monitoring and evaluation of implementation of regional regulation no. 5 year 2008 surabaya
8. Effect of home cigarette smoke exposure to respiratory diseases
9. Monitoring and evaluation PHW
10. Economic impact of smoking : premature mortality cost and YPLL study
When I listened to the first five presentation, I was like “uwow so cooool”. But then I was like “Dang, why you’re not inviting policy maker in this session! This incredibly important for advocacy!’ Well, I don’t know. I guess theyre gonna make things like bank of TC research in bank of advocacy until then policy maker can read them. Hopefully so.
Sesi lain yaitu presentasi dari dr. Hasto Wardoyo yang merupakan Bupati Kulonprogo Yogyakarta. I admire this mayor, he’s such a nice and supportive leader. Daerah Kulonprogo telah sukses mengimplementasi berbagai kebijakan kawasan tanpa rokok berikut pencabutan iklan-iklan rokok. You must know, pendapatan daerah Kulonprogo sebelum dan setelah adanya pencabutan iklan rokok ternyata justru bertambah! How cool! Sebagaimana beliau bilang “Rezeki itu bisa datang dari mana saja”. Beliau pun sedang mengusahakan approach ke Bupati lain di Yogyakarta untuk sama-sama mengimplementasikan kebijakan tobacco control. Semangat pak!
Yah begitulah sekilas kegiatan yang saya ikuti di Yogya kemarin, masih ada hal menarik lainnya. Sayangnya karena ada presentasi tugas dan praktikum saya harus pulang lebih awal padahal acara belum selesai. Di perjalanan menuju airport, saya satu mobil dengan dr. Tara Singh Bam, seorang Nepalian dari the Union. He said hes gonna come to Bandung next week meeting up with Ridwan Kamil to talk about tobacco control. My eyes dilated, yay! Then I told him about K3 policy that has been all over the street regarding its garbage disposing but not the KTR policy. So readers, Bandung kita tercinta ini sudah punya aturan KTR (kawasan tanpa rokok) yang sayangnya masih bergabung dengan kebijakan lainnya di perda K3 No. 11, as you see di jalan-jalan, propaganda buang sampah sembarangan denda 5 juta rupiah itu loh, sampai walkot kita finally urge drivers to have trash can inside their cars, I was happy to know that happened. Silakan baca perda tersebut, you will see how our local government actually already wrote which places are smoke free areas and you’ll see also that the violator will be fined 5 million rupiah as well as garbage disposing violator. Sayangnya aturan tersebut belum sehits aturan buang sampah sembarangan, salah satunya mungkin karena aturan KTR belum difokuskan menjadi perda yang terpisah. This is the content I brought in my very simple research for conference. How can Im not happy hearing that dr. Tara will meet Ridwan Kamil to arrange a tobacco control stuffs! “You know why KTR in your place isn’t implemented well? Because your local government officer smoke, just like other local governments. But I will meet Ridwan Kamil, Bandung needs a separate policy for tobacco control” there he said after telling him a little about what happened in Bandung. Yayness hopefully youll do a great job, sir!
Yah yaudalah, bahaya rokok sih udah mainstream, semua orang juga udah tahu. Sekarang gimana orang-orangnya aja mau aware sama sekitar dan gimana caranya ada political will included, kita mainkan saja dengan kebijakan-kebijakan yang ada termasuk KTR, rising taxes, ratify FCTC, u yeaah. Semangat para policy-maker influencer! :)
Semoga Bandung menjadi daerah selanjutnya yang akan mengimplementasikan KTR sebaik mungkin. Tak lupa harapan besar untuk kampusku tercinta, I realize most of the students in ITB are guys as well as the lecturers -.- come on dudes, I believe youre well-educated enough to know that cigarette’s smoke kills you and others! I will share the update research data to tell you later on. Banyak orang-orang miskin yang kemudian sulit berhenti merokok dan membunuh passive smokers karena tempat kerja mereka terbuka untuk asap rokok, bandingkan dengan orang-orang menengah atau orang-orang kaya yang bisa jadi adiksi rokoknya sama dengan orang-orang miskin namun karena tuntutan tempat kerja yang smoke free area, konsumsi rokok mereka menjadi lebih sedikit. It could applies in campus environment. With KTR policy in my campus being well-implemented, I really hope you smokers can stop slowly, no need to hurry, just think about people around you who smoke your smoke, just think your parent that want you healthy, having kids, and achieve all of your dreams without worrying any diseases. Mungkin belum terasa ya, yaudah tunggu aja, kalau kata kaos GP3nya HMF “Want more information about lung cancer? Keep smoking” :)
Rabu, 28 Januari 2015
Halo ISMAFARSI
Never thought before that I wanted to be part of you,
Bukan, ini bukan tulisan perpisahan.
Rasanya waktu berjalan sangat cepat, rasanya baru kemarin gue angkat tangan di kegiatan LK 2 Priangan dan menyatakan “Sejujurnya, saya tidak tahu apa2 soal ISMAFARSI, saya merasa dijudge di sini”
Baru kemarin kesan pertama gue ketika melihat sosok Poppy yang dewasa lagi keibuan berbicara di forum; memberikan saran solutif yang buat gue angguk-angguk kepala. Baru kemarin rasanya alis gue sedikit terangkat ketika mendengar Saiful dengan kritisnya berbicara pakai embel-embel ‘jebolan mentoring’ yang somehow setiap liat dia, jadi keingat tagline ‘jebolan mentoring’nya. Haha. Baru kemarin rasanya melihat Ifa penuh semangat mencurahkan rasa ingin tahunya akan ISMAFARSI. Baru kemarin ya. Duh bukan, this is not a good bye-prolog.
Never thought before that I wanted to be part of you until that day in Malang…
I saw a different ‘landscape’, felt a different atmosphere, smelt something challenge (wait, this was so not me).
Iya. Pengurus ISMAFARSI Bersinar di LK3 kemudian dengan pandainya mengambil hati gue, it was like “Man, you guys are way too cool! You offer service, a devotion, a rare dedication.” Sampai tercetus lah sedikit keinginan itu, untuk menjadi seperti mereka.
Ingat sekali waktu itu gue duduk di depan; tak sengaja menyisakan satu tempat duduk kosong tak berpenghuni yang tau-tau diisi cowok berjaket-kuning. Perkenalan kami dimulai dengan cerita mengalir dari cowok berjakun itu (jakun?); cerita dirinya bertemu dengan Menteri Kesehatan, dirinya yang suka menulis karya tulis ilmiah, dirinya yang menjadi konseptor ILC (aha! Found an intercept), dan lain-lain. Yah, siapa yang tidak kagum dengan sosok ini? Sosok yang sekarang menjadi seorang pemimpin ISMAFARSI. Cie elah.
Belum berhenti kepala gue manggut-manggut, kemudian gue disuguhi presentasi dari Mas Yoce, Jaya, Apri, Aris, dll. I was like “this guys really know what theyre doing”.
Sampai PRAMUNAS. The proud transform into sympathy. Sun seemed to hide, give its turn to the cloudy bloody day to come in charge #halah. I have my own perception toward this organization, the different one from yesterday, somehow the desire to be the chairpersons kind of gone. Kind of. “Girl, welcome to Indonesia” they say.
Singkat cerita, orang-orang yang gue temui di Malang lah yang kemudian sedikit banyak mengubah persepsi gue tentang Farmasi itu sendiri. Thanks to LK3, latihan kepemimpinan yang menjadi turning point gue (after the one I had in ITB) dalam melihat status dan peran mahasiswa, khususnya mahasiswa Farmasi. Momen berbeda yang membuka gue akan keberagaman Indonesia dari sudut pandang yang baru, quite a lot different compare to AFS orientation or any national program I attended for several times. It was a gripping moment after all despite the creepy pramunas :)
Tiba di event Nasional ke dua gue. Ridho a.k.a cowok berjaket kuning mencalonkan diri sebagai Sekjen ISMAFARSI. Yup, he was chosen. Tibalah masa itu, masa-masa bingung daftar SA atau nggak. Masa yang diiringi dengan berbagai pertimbangan luar biasa sampai air mata menjadi bagian dari skenario di masa itu hahaha ya sori lebay. Pertimbangan akademik, mimpi-mimpi 2014, dan amanah lain di kampus (karena gue bukan tipe orang yang senang nemplok sana sini – prinsip gue daripada ada kemungkinan ga total di satu, better ga usah cari amanah lain-) jadi pertimbangan utama. Gue yang biasanya sangat jarang bersapa dengan Priangan Ranger, mau gamau meminta pertimbangan mereka. Berkali-kali chat dengan Bang Jaya lumayan ada pencerahan; chat dengan Saiful, gada pencerahan karena dia pun sama-sama bingung daftar atau ngga. Chat dengan Ifa hampir setiap hari, duh bikin galau luar biasa. Ngobrol dengan kakak, dia bilang “kalau ngabisin duit orang tua, ga usah.” Galaunya nyampe ke hati bagian dalam (?). Ngobrol dengan teman-teman unit dan jurusan baru kemudian gue memutuskan untuk tidak mendaftar karena alasan yang buat gue manggut seribu manggut. Ah, the universe seemed not supporting. Ngobrol lagi dengan Ifa, she said something ‘jleb’ yang kemudian mengubah keputusan gue untuk daftar. Ngobrol lagi dengan Saiful, he said “ni, ini tuh D U A T A H U N” dan kata-kata pesimis lainnya, gue akhirnya memutuskan utk tidak mendaftar. Besoknya, seseorang tiba-tiba ngewhatsapp gue, and out of nowhere, mungkin dia punya kekuatan merasuki pikiran gue, I eventually enrolled. Duh. Oke maaf curhat.
UPGRADING. Mungkin momen ini jadi salah satu momen yang buat semangat gue bertambah; ditambah dengan rakernas, semangat gue mulai memercikan api, walau sering selama rakernas padam lagi karena merasa terbebani. Namun kehadiran teman-teman hebat yang tidak pernah sebelumnya terpikirkan akan berada di sekeliling kalian, memberikan koleksi warna baru di kehidupan gue, percikan api itu perlahan membesar #tsah. I saw you girls and guys have your own true color. Apri yang lucu nan kebapak-an, azai yang suka tiba-tiba crack the ice, faisal yang kalem-kalem gila dan pekerja keras, ghicha yang rajin dan super ngegemesin, ifa yang …(ah da kita mah punya alur cerita sendiri yang panjaaang :)), ipul yang bisa diandalkan di mana-mana, jo yang solutif dan tenang, khansa yang cuek-cuek peduli dan suka ngebully ghicha, memel yang murah senyum dan selalu bisa diandalkan dalam menangkap momen, poppy yang keibuan, solutif, dan ngefans berat sama ipul, qonita yang super ramah dan senyumnya bikin gemes, ridho yang mengayomi dan selalu positif, silvy yang telaten dan grecep apalagi masalah perduitan, tor yang kalem-kalem ramah, za yang selow dan selalu senyum, fio yang pekerja keras dan pecinta damai (?), bang Sabda yang tegas dan diem-diem iseng, zura yang selalu menyapa dan membaur, Ashar yang baik hati dan tekun, iam yang selalu positif, ngegemesin dan jago masak, aris…though our last meeting was in LK 3 so I haven’t known you really well, I know you also have that unique color, I know youre that diligent and hard worker guy! (Hope we can meet in another chance :))
Anyway, bisa jadi gue salah membaca warna kalian, friendship is all about time, right? We will know each other deeper, expected thing might exist yet unexpected moment may happen, gada yang tahu ke depannya kaya apa, friction and love may be coming together with us along the way, it is life. We still have one and a half year, gue secara pribadi meminta bimbingan teman-teman semua, karena bisa jadi ketika alasan lain masih dicoba dibangun untuk mencintai peran ini, setidaknya cinta gue ke kalian akan mempercepat alasan-alasan lain muncul dan bisa buat gue tetap bertahan menjalani peran ahaha.
Sorry for the melancholic sentences wkwk Coba teman-teman ingat lagi awal mula keterlibatan teman-teman di ISMAFARSI, tujuan awal kita, niat kita, semuanya yang sampai membawa kita sampai sini. God indeed planned all of it since we don’t know when. Well, It is obviously not a going-away story. Ini salam pembuka dariku, salam untuk menciptakan semangat dari percikan api menjadi bara, untuk ISMAFARSI luar biasa. Halo ISMAFARSI :)
Bukan, ini bukan tulisan perpisahan.
Rasanya waktu berjalan sangat cepat, rasanya baru kemarin gue angkat tangan di kegiatan LK 2 Priangan dan menyatakan “Sejujurnya, saya tidak tahu apa2 soal ISMAFARSI, saya merasa dijudge di sini”
Baru kemarin kesan pertama gue ketika melihat sosok Poppy yang dewasa lagi keibuan berbicara di forum; memberikan saran solutif yang buat gue angguk-angguk kepala. Baru kemarin rasanya alis gue sedikit terangkat ketika mendengar Saiful dengan kritisnya berbicara pakai embel-embel ‘jebolan mentoring’ yang somehow setiap liat dia, jadi keingat tagline ‘jebolan mentoring’nya. Haha. Baru kemarin rasanya melihat Ifa penuh semangat mencurahkan rasa ingin tahunya akan ISMAFARSI. Baru kemarin ya. Duh bukan, this is not a good bye-prolog.
Never thought before that I wanted to be part of you until that day in Malang…
I saw a different ‘landscape’, felt a different atmosphere, smelt something challenge (wait, this was so not me).
Iya. Pengurus ISMAFARSI Bersinar di LK3 kemudian dengan pandainya mengambil hati gue, it was like “Man, you guys are way too cool! You offer service, a devotion, a rare dedication.” Sampai tercetus lah sedikit keinginan itu, untuk menjadi seperti mereka.
Ingat sekali waktu itu gue duduk di depan; tak sengaja menyisakan satu tempat duduk kosong tak berpenghuni yang tau-tau diisi cowok berjaket-kuning. Perkenalan kami dimulai dengan cerita mengalir dari cowok berjakun itu (jakun?); cerita dirinya bertemu dengan Menteri Kesehatan, dirinya yang suka menulis karya tulis ilmiah, dirinya yang menjadi konseptor ILC (aha! Found an intercept), dan lain-lain. Yah, siapa yang tidak kagum dengan sosok ini? Sosok yang sekarang menjadi seorang pemimpin ISMAFARSI. Cie elah.
Belum berhenti kepala gue manggut-manggut, kemudian gue disuguhi presentasi dari Mas Yoce, Jaya, Apri, Aris, dll. I was like “this guys really know what theyre doing”.
Sampai PRAMUNAS. The proud transform into sympathy. Sun seemed to hide, give its turn to the cloudy bloody day to come in charge #halah. I have my own perception toward this organization, the different one from yesterday, somehow the desire to be the chairpersons kind of gone. Kind of. “Girl, welcome to Indonesia” they say.
Singkat cerita, orang-orang yang gue temui di Malang lah yang kemudian sedikit banyak mengubah persepsi gue tentang Farmasi itu sendiri. Thanks to LK3, latihan kepemimpinan yang menjadi turning point gue (after the one I had in ITB) dalam melihat status dan peran mahasiswa, khususnya mahasiswa Farmasi. Momen berbeda yang membuka gue akan keberagaman Indonesia dari sudut pandang yang baru, quite a lot different compare to AFS orientation or any national program I attended for several times. It was a gripping moment after all despite the creepy pramunas :)
Tiba di event Nasional ke dua gue. Ridho a.k.a cowok berjaket kuning mencalonkan diri sebagai Sekjen ISMAFARSI. Yup, he was chosen. Tibalah masa itu, masa-masa bingung daftar SA atau nggak. Masa yang diiringi dengan berbagai pertimbangan luar biasa sampai air mata menjadi bagian dari skenario di masa itu hahaha ya sori lebay. Pertimbangan akademik, mimpi-mimpi 2014, dan amanah lain di kampus (karena gue bukan tipe orang yang senang nemplok sana sini – prinsip gue daripada ada kemungkinan ga total di satu, better ga usah cari amanah lain-) jadi pertimbangan utama. Gue yang biasanya sangat jarang bersapa dengan Priangan Ranger, mau gamau meminta pertimbangan mereka. Berkali-kali chat dengan Bang Jaya lumayan ada pencerahan; chat dengan Saiful, gada pencerahan karena dia pun sama-sama bingung daftar atau ngga. Chat dengan Ifa hampir setiap hari, duh bikin galau luar biasa. Ngobrol dengan kakak, dia bilang “kalau ngabisin duit orang tua, ga usah.” Galaunya nyampe ke hati bagian dalam (?). Ngobrol dengan teman-teman unit dan jurusan baru kemudian gue memutuskan untuk tidak mendaftar karena alasan yang buat gue manggut seribu manggut. Ah, the universe seemed not supporting. Ngobrol lagi dengan Ifa, she said something ‘jleb’ yang kemudian mengubah keputusan gue untuk daftar. Ngobrol lagi dengan Saiful, he said “ni, ini tuh D U A T A H U N” dan kata-kata pesimis lainnya, gue akhirnya memutuskan utk tidak mendaftar. Besoknya, seseorang tiba-tiba ngewhatsapp gue, and out of nowhere, mungkin dia punya kekuatan merasuki pikiran gue, I eventually enrolled. Duh. Oke maaf curhat.
UPGRADING. Mungkin momen ini jadi salah satu momen yang buat semangat gue bertambah; ditambah dengan rakernas, semangat gue mulai memercikan api, walau sering selama rakernas padam lagi karena merasa terbebani. Namun kehadiran teman-teman hebat yang tidak pernah sebelumnya terpikirkan akan berada di sekeliling kalian, memberikan koleksi warna baru di kehidupan gue, percikan api itu perlahan membesar #tsah. I saw you girls and guys have your own true color. Apri yang lucu nan kebapak-an, azai yang suka tiba-tiba crack the ice, faisal yang kalem-kalem gila dan pekerja keras, ghicha yang rajin dan super ngegemesin, ifa yang …(ah da kita mah punya alur cerita sendiri yang panjaaang :)), ipul yang bisa diandalkan di mana-mana, jo yang solutif dan tenang, khansa yang cuek-cuek peduli dan suka ngebully ghicha, memel yang murah senyum dan selalu bisa diandalkan dalam menangkap momen, poppy yang keibuan, solutif, dan ngefans berat sama ipul, qonita yang super ramah dan senyumnya bikin gemes, ridho yang mengayomi dan selalu positif, silvy yang telaten dan grecep apalagi masalah perduitan, tor yang kalem-kalem ramah, za yang selow dan selalu senyum, fio yang pekerja keras dan pecinta damai (?), bang Sabda yang tegas dan diem-diem iseng, zura yang selalu menyapa dan membaur, Ashar yang baik hati dan tekun, iam yang selalu positif, ngegemesin dan jago masak, aris…though our last meeting was in LK 3 so I haven’t known you really well, I know you also have that unique color, I know youre that diligent and hard worker guy! (Hope we can meet in another chance :))
Anyway, bisa jadi gue salah membaca warna kalian, friendship is all about time, right? We will know each other deeper, expected thing might exist yet unexpected moment may happen, gada yang tahu ke depannya kaya apa, friction and love may be coming together with us along the way, it is life. We still have one and a half year, gue secara pribadi meminta bimbingan teman-teman semua, karena bisa jadi ketika alasan lain masih dicoba dibangun untuk mencintai peran ini, setidaknya cinta gue ke kalian akan mempercepat alasan-alasan lain muncul dan bisa buat gue tetap bertahan menjalani peran ahaha.
Sorry for the melancholic sentences wkwk Coba teman-teman ingat lagi awal mula keterlibatan teman-teman di ISMAFARSI, tujuan awal kita, niat kita, semuanya yang sampai membawa kita sampai sini. God indeed planned all of it since we don’t know when. Well, It is obviously not a going-away story. Ini salam pembuka dariku, salam untuk menciptakan semangat dari percikan api menjadi bara, untuk ISMAFARSI luar biasa. Halo ISMAFARSI :)
Langganan:
Postingan (Atom)


