Selasa, 08 September 2015

They call it Debust, I call it Family #tsah

Banten-Bandung itu ga seberapa. You only need to go to bus station or travel pool and it only takes 3-4 hours to finally get to that special place of ours. Who is ours? Debust ITB. Sebuah unit kebudayaan yang dibentuk -if im not mistaken- di tahun 2010. Saya dengar berbagai hal terkait pendiriannya yang menyita tenaga, waktu dan pikiran. They had to do the strategies how to reach the minimum human resources that was needed, how to make a right AD/ART and stuffs, how to arrange the dances and all those beautiful Banten arts, yahh pokoknya bagaimana agar semua requirements dari LK bisa terpenuhi so Debust would be crowned as a college culture club. Terima kasih kakak-kakak :D

Iya, cuma 3-4 jam aja kok. Bukan Bandung-Sumatera yang beda pulau atau Bandung-Sulawesi yang akan menghabiskan banyak uang untuk tiket pesawat. We are not that “orang rantau banget” yang butuh suasana rantauannya at some points. Tapi kebersamaan bukan suatu hal yang harus dibentuk karena pautan jarak jauh kan? :)

Iya, Banten itu bahkan pecahan Jawa Barat loh. Budayanya ga akan beda jauh dg Bandung. The chance to get culture shock is probably just as small as a dot of mole in your face. Its not like everything outside Banten are our enemies. Tp kebersamaan tak melulu tercipta karena musuh bersama kan? Gathering is a nice word since people are meant to help each other.

The fact is, the people are there to help each other. Entah sudah berapa kali mulut, tangan, pikiran, dan semua anggota tubuh ini meminta bantuan teman-teman Debust. Dari Citra yang satu jurusan, Jarrah Iqbal yang beda jurusan, sampai Rahayu dan Maryam yang super sibuk, dan masih banyak lagi. Entah sudah berapa dari mereka yang selalu ada when I need them, even when I don’t need them! Ini lebih dari sekedar tebengan dini hari karena harus ke travel atau sejenisnya (thanks to the guys! :p), ini juga lebih dari minta tolong temani makan dan jalan hura-hura, tapi apa dong? Yaahhh all things that I justtt cant describe, sadar atau tidak, they give me much new and fresh spirit.

Debust itu rumah kami di Bandung, please tell me that I am true. A place to go home, am I right? Please again say yes. Duh I will not have you to read about kebersamaan dan semacamnya yang mungkin massa ITB apalagi, sudah muak karena dijejali pentingnya kebersamaan di osjur-osjur. Wait what? Yes I will make you to read such things because I am about to write them. Come on, I know repetitive sometimes annoy you, the essence kind of gone when you are forced to be into it like maybe thousand times. But I learn how to feel normative words. To respect repetitive words, routine advices, and a true-natural sentence.

Kebersamaan ya? Keluarga?

Layaknya sebuah keluarga kecil kita di rumah, mereka akan membimbing kita dan tidak mau kita berada di jalan yang salah. Why? Because they love us. They don’t want us trapped in malignancy. Kebersamaanlah yang akan melahirkan cinta itu. Cinta yang akan berbuah manis. Adakah cinta itu diciptakan untuk saling menghardik? Adakah Cinta itu diciptakan untuk membungkus harapan seseorang dan membuangnya jauh ke sungai? Seseorang yang mencintai kita akan membimbing kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. They motivate us, they remind us, they help us achieve the better us.

Well, so, Debust makes me a better person? I feel people there are trying to make me so, langsung maupun tidak langsung. Dari hal yang sangat jelas sampai yang tidak terlihat dan tidak terasa. Not every individual, though. But Debust has been a place in Bandung where I can meet many people who I can share a lot of stories, they will listen and will not dare to make me fall. True family motivates you in any way they think it might suit you.

Besides motivating you, a true family doesn’t want to lose you despite the distance apart. Let me quoted someone’s words “Belajar menghargai kebersamaan, sebelum merasa sakit saat kehilangan”. Hargailah setiap kebersamaan yang ada. Ketika saatnya perpisahan itu ada, memang akan sakit rasanya, tapi ketika dulu kita telah belajar menghargai kebersamaan itu, sakitnya merindu akan menjadi pahala karena doa yang terus mengalir dari kita dan teman kita. Titipan doa agar teman-teman kita tetap dilindungi olehNya. Then our friends will do the same for us. Menghargai kebersamaan adalah sebuah investasi doa dari sahabat-sahabat kita.

And yes, my pray definitely goes to you. Semangat adik-adik Debust. Katanya kalau sudah nyaman sebagai satu keluarga, segala hal akan nyaman dilakukan ya? Maafkan diri ini yang hilang-timbul, mungkinkah pada kenyataannya nyaman tak selalu menjadi alasan untuk terus di permukaan? Atau….ada satu hal yang membuat nyaman itu terganggu? :’) Ini PR kita. Let me know what I can do for you :’’ Sukses <3

Minggu, 23 Agustus 2015

dear (calon) mahasiswa tingkat akhir,

Dear teman2ku, (calon) mahasiswa tingkat akhir,

Senang ketika bertanya pada kalian "IPKmu berapa?", masih banyak dari kalian yang mau jawab (walaupun itu tidak saya rasakan di ITB, tp setidaknya di kampus lain). Saling memotivasi dan meluruskan niat utk menjadi seorang profesional yang kompeten. Saling mendukung satu sama lain bahwa di tingkat akhir adalah kesempatan lain untuk memperbaiki diri.

Senang rasanya ketika bicara skripsi, setiap dari kalian seperti tahu apa yang sedang kalian lakukan. I see you guys with that white lab coat covered with tremendous spirit. I see your fingers ready to burn on your laptop keyboard, the nerves are preparing to receive a signal from your very excellent brain.

Senang rasanya, ketika saya mengeluh takut, kalian hadir dengan senyum. Bahkan orang nomor satunya yang sering mengeluh salah jurusan turut memotivasi bukan dengan tepukan bahu atau pelukan hangat, tapi dengan berbagi rasa syukurnya yang masih diberi kesempatan utk duduk di bangku kuliah.

And ... I am more than happy ketika bertanya pada kalian "kapan rencana lulus?" Setiap dari kalian menjawab macam2 dengan anak kalimat yang super panjang. Anak kalimat itu adalah mimpi, mimpi2 yang dirajut bukan dengan benang termahal dunia, tp dengan tangan berurat penuh tekad. Mimpi untuk orang tua, untuk negeri, untuk agama, dan untuk hal baik lainnya. Mimpi yang bukan sekedar ada di dinding kamar atau selipan dompet, melainkan mimpi yang ada di lubuk hati.

Seorang teman yang merasa belum banyak berkontribusi untuk kampus, dengan gagahnya memutuskan lulus 5 tahun. Seorang teman yang merasa ingin mendidik adik2nya memutuskan lulus belakangan. Seseorang yang ingin cepat mengabdi pada profesinya berikrar untuk lulus secepatnya. Seorang teman yang bermimpi akan kelahiran mujahid mujahidah negeri, berjanji lulus cepat dan segera menikah. Seorang teman yang....ah you really know what youre doing.

Terima kasih sahabat2ku, you inspire me, you motivate me, you wake me up from asleep, you push me from a comfort zone, I owe you many things. Semoga niat kita untuk melangkahkan kaki dari kampus masing2 adalah untuk kebaikan. Semoga kita tersadar akan orang2 yang membutuhkan kita. My pray goes to us, wish we had a blast and a blessed senior year! :)

*duh masih harus ambil apoteker*

23 Agustus,
Menuju Bandung setelah menyempatkan pulang sedetik :3

Minggu, 02 Agustus 2015

Tuhan meminta....

Tuhan memang pandai membolak-balikkan hati manusia. Skenarionya begitu luar biasa menyulap hati riang menjadi gelisah, busur senyum terbalik seratus delapan puluh derajat, mata binar bahagia menjadi nanar karena pilu menyergap. Ah…begitu banyak yang patut disyukuri, begitu banyak yang patut ditelisik, apa dosa-dosaku selama ini?

Tuhan telah memintaku untuk sejenak melihat sekeliling. Lihatlah, ada banyak buku-buku yang masih kau hutangi janji untuk dibaca. Lihatlah anak-anak kecil itu berlarian meminta gendongan tanganmu dan sapa ramahmu, saudaramu sendiri. Perhatikan dengan seksama, air matamu yang terjatuh itu masih belum cukup, jauh masih belum cukup untuk membuktikan rasa cinta dan kasihmu kepada orang yang telah melahirkan dan merawatmu. Resapi janji-janjimu dulu.

Di saat bersamaan, Tuhan telah memintaku untuk beristirahat sejenak. Untuk tidak memerhatikan orang lain. Tuhan bilang, mainkan egomu karena kau berhak egois saat ini. Biarkan musuh-musuh itu datang. Nikmati tangan bebasmu yang membuka lembaran-lembaran buku; nikmati matamu yang akan fokus pada ayat-ayat Quran yang kau janjikan akan kau hafal; nikmati hati dan pikiranmu yang harus kau gadaikan pada orang-orang yang diam-diam merindukanmu. Resapi janji-janjimu dulu.

Hai alam. Kereta ini bergerak, bergerak dengn membawa tujuan, pun penumpangnya; termasuk diriku. Rasanya aku seperti memainkan sebuah peran di suatu film atau peran dalam sebuah novel. Seseoarang yang sedang menikmati kesendirian tanpa harus diganggu oleh kepentingan-kepentingan orang lain. Seseoarang yang sedang menikmati pemandangan negeri melalui kaca jendela. Seseorang yang sebentar-sebentar sibuk dengan novelnya, menghayati kata demi kata mencoba berkontemplasi lewat bacaan dan tulisan, bahkan lewat dentuman mesin dan tabrakan besi-besi kereta. Aku berharap kereta ini membawaku jauh dari kehidupan orang-orang egois, orang-orang yang hanya mementingkan kehidupan dirinya tanpa kehidupan orang lain, Padahal kenyataannya sekarang aku sedang mencoba untuk menikmati hidupku sendiri. Paradoks. Begitulah bagaimana suatu kontemplasi diciptakan, ku pikir begitu. Mencoba lari dari orang lain untuk memikirkan orang lain. Melalui kepasrahan diri akan segala alam ciptaanNya, melalui air mata di sepertiga malam yang jatuh di atas sajadah, termasuk melalui kesendirian di dalam kereta tanpa mau mengenal siapapun, tanpa mau menerima telepon dari manapun.

Entah ini buah rasa jenuh, atau memang Tuhan memintaku untuk jenuh pada pekerjaan dan memintaku fokus pada orang-orang yang membutuhkanku namun aku tak sadar. Jangan-jangan selama ini aku mengurusi orang-orang yang nyatanya tak secuilpun membutuhkanku. Entah tegurannya bulan ini memang memaksaku untuk jenuh atau rasa jenuh ini sebenarnya rasa bersalahku pd Tuhan? I cant even describe how it feels...

Ah…ternyata kereta yang membawa tujuan ini membawaku pada orang-orang berkepentingan yang padahal ingin aku jauhi sementara. Ternyata aku hanya diziinkan untuk berkontemplasi melalui dentuman kereta dan tulisan selama 7 jam saja, sisanya, aku diminta kembali bekerja.

Namun aku yakin, Tuhan tidak akan pernah bosan memintaku untuk menyendiri, berserah padaNya dan kembali menyadari…bahwa,

Tuhan memang pandai membolak-balikkan hati manusia. Skenarionya begitu luar biasa menyulap hati riang menjadi gelisah, busur senyum terbalik seratus delapan puluh derajat, mata binary bahagia menjadi nanar karena pilu menyergap. Ah…begitu banyak yang patut disyukuri, begitu banyak yang patut ditelisik, apa dosa-dosaku selama ini?

Di kereta,
Menuju Yogyakarta

Kamis, 16 Juli 2015

Cinta

I was just playing with my and my friends' pieces of love story. Sometimes what we laugh in a drama actually happen to us though we might not notice it. I notice some "apa deh" statements in this short story, but anyway, just want to cheer up many friends whose life never stop seeking their love one. Friends who always share their story about love and marriage, just put in mind, God is indeed the best planner ever. Cheers :p


Rindu menjadi saksi bisu yang menemaniku dalam waktu dan ruang yang kugunakan untuk mendamba cinta. Betapa rindu tahu seberapa aku berusaha menghargai cinta, mengistimewakannya, dan mendefinisikannya sebijak mungkin dengan perasaan dan logika. Hampa pun menjadi saksi lain yang menyaksikan tiap detik sengalan nafasku; ia menangkap setiap momen sunggingan senyum yang pudar dihapus perasaan. Namun ia terkadang menyerah melihat, meminta tenang untuk menghampiriku dan mengembalikan senyum itu.

Cinta dibicarakan di seluruh pelosok dunia, dari Negara adidaya sampai Negara miskin membicarakannya karena toh bicara cinta tak butuh biaya. Kampus bonafide sampai kampus yang baru berdiri diisi dengan mahasiswanya yang sibuk mengeluhkan cinta sejati karena mengeluh cinta selalu jadi topik remaja dari setiap kalangan. Betapa tingginya nama cinta, keagungannya membuat ia menjadi buah bibir manusia; termasuk di kampusku, Institut Teknologi Priangan, yang mayoritas diduduki kalangan pria.

“Bro, janganlah kau buat cabang begitu, kasihan mereka, diphpkan. Kalau kau suka dengan seorang wanita, fokuslah pada satu wanita itu. Tenang saja, walau ITP penghuninya pria semua, pria ganteng seperti kau pasti mudah mendapat hati wanita!” Carlos menghardik temannya yang sedang berjalan sambil memainkan jemarinya di layar hp.

“Carlos, I’m not what you’re thinking. Aku tidak buat cabang, cewek-ceweknya saja yang keGRan. Lah aku memang seperti ini orangnya, berusaha ramah ke setiap orang, tapi orang menganggapku TP-TP” Jujur Rangga tak bermaksud defensif.

Carlos mengangkat bahunya, ia memperhatikan layar hp temannya. Tiba-tiba ia menabrak seorang wanita berbaju biru laut yang sedang membawa banyak buku. Layaknya sinetron-sinetron bertema cinta pada pandangan pertama, Carlos tersentak dan segera memungut buku-buku yang berjatuhan namun kepalanya terbentur kepala sang wanita yang mencoba mengambil buku juga. Matanya bertemu mata wanita itu, Carlos seperti mendapat mantra cinta yang ia tahu bahwa ia tak akan pernah menemukan penawarnya. Carlos mengamati lama satu buku bertuliskan Unpri, “Universitas Priangan” yang ia sentuh.

“Maaf mas, permisi. Makasih.” Wanita itu buru-buru mengambil bukunya yang terjatuh. Ia pergi sambil memijit-mijit kepalanya yang sakit, meninggalkan Carlos yang terpaku melamun.

“Rangga… pendiri ITP ga salah pilih tempat dekat dengan kampus surga ya…” Carlos berkata dengan tatapan terpikau.

“For God’s sake, did you just…get that damn love at the first sight? Ah..too drama.”
Rangga pun ikut meninggalkan Carlos yang masih diam.

***

Oktober, 2012.
“Carikan aku jodoh calon dokter dong.” Entah sudah berapa kali Binar meminta Rian mencarikannya jodoh, Rian memang sudah pantas diberikan status akreditasi A dari massa ITP untuk urusan mencari jodoh.

“List teman anak kedokteran aku sudah habis, sudah aku ceritakan satu per satu orangnya seperti apa tapi tidak ada yang menurutmu cocok. Aku harus apa? Mengelilingi setiap rumah sakit dan menarik mahasiswa-mahasiswa koas untuk diwawancarai?” Rian ketus setengah berteriak.

“Ck! Ah Rian! Yasudah deh, kita buat janji yuk, kalau sampai usia 50 tahun kita belum dapat jodoh, kamu nikahin aku ya hahaha!” Binar mendorong-dorong Rian bercanda.

Aku tersenyum menyaksikan pemandangan itu, dua orang ini memang selalu membuat laboratorium tidak terkesan menegangkan, namun di saat yang sama pembicaraan itu selalu menyesakkan. Tema pembicaraan soal jodoh dan pernikahan akhir-akhir ini sudah seperti kacang yang dijual murah; tidak kalah ramai dengan pembicaraan topik skripsi. Ah skripsi. Mataku kembali fokus pada mencit-mencit yang sedang tersiksa di dalam tabung berisi gas karbondioksida. Aku memperhatikan mencit tersebut dengan seksama. Dahulu, aku menangis dibuatnya sampai aku sempat berpikir untuk mengganti topik. Tapi sekarang mendislock mencit saja sudah jadi kegiatanku tiap minggu. Waktu memang tidak pernah bohong dalam menjanjikan perubahan, perubahan baik yang akan muncul dengan indah jika kesabaran ada untuk memimpin suatu proses.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore, aku melepaskan jas lab yang semakin hari warna putihnya berganti menjadi kecokelatan. Selamat malam aku sampaikan pada mencit-mencit, kemudian aku menutup pintu lab menyisakan gelap tersisa menghiasi mimpi binatang lucu itu.

***

Rindu tahu ketika aku mulai mendongakkan kepala. Sebisa mungkin rindu tidak lewat di depanku untuk menahan barang setetes air dari ujung mataku. Gagal. Rindu tak kuasa untuk tidak menembus benteng logikaku.

Laci merah marun aku tarik pelan menimbulkan suara berdenyit dari tabrakan besi-besi teroksidasi, rupanya oksigen masih mampu menyelinap di sela-sela laci yang sempat tertutup selama berbulan-bulan. Air mataku akhirnya terjatuh di atas figura retak berwarna biru tua, tepat terjatuh di foto kepalaku. Aku menangis, membuat rintik-rintik hujan di atas foto tiga orang remaja yang tersenyum gembira menampakkan rentetan gigi putihnya; raut wajah yang terlihat seperti tidak pernah tahu bahwa takdir tak diinginkan telah digariskan terhadap salah satu di antaranya. Dering telepon menghentikan menit-menit tangisku. Aku mengusap mata dan menarik nafas dalam-dalam.

“Aldila! Kamu di mana?”
“Oh, eh, iya aku sebentar lagi ke sana, kamu sudah keluar dari Bale Unpri?”
“Sudah daritadi…ya ampun aku nunggu kamu loh dari tadi.”
“Iya…iya…maaf Christin, aku bawa motor kok, 10 menit aku pasti sampai.”

Christin, salah seorang wanita yang ada di foto figura biru tua itu sedang merayakan kelulusannya. Aku terpaksa telat datang menghadiri wisudanya karena jadwal lab yang padat ditambah dengan rindu yang datang tanpa diundang. Dengan cepat aku raih rangkaian bunga berwarna biru muda serta selempang S.Ked yang jauh-jauh hari sudah sengaja kubuat untuk sahabat baikku. Christin berhasil menyelesaikan studi kedokteran selama 3,5 tahun dengan predikat cumlaude; belum lagi ditambah dengan prestasi Mapres tingkat nasional di tengah kesibukannya mengurus organisasi sana-sini. Wanita ini pun dianugerahi Tuhan dengan keramahan dan jiwa sosial yang tinggi, tidak salah ketika banyak pria yang mengantri menunggu momen yang tepat untuk memasangkan cincin emas di jari manis cantiknya. Namun Christin tak pernah menerima pria manapun, karena baginya, Yoshua tetap pria nomor satu di hatinya. Pria yang tidak pernah tahu bahwa Christin sangat menyukainya, sampai akhirnya Tuhan menempatkan Yoshua di langit tempatNya berada.

“Kalau saja Yoshua ada di sini bersama kita…”
Christin menitikkan air mata. Aku memeluknya erat dan membisikkan beberapa kalimat yang kuharap dapat menenangkan hatinya.

“Yuk foto bareng Yoshua,” Christin mengeluarkan selembar foto yang sama persis dengan foto di figura retak yang kuhujani air mata tadi. Tiga remaja yang menampakkan gigi ikut tertangkap kamera hp Christin.

***

Desember, 2011.
Cinta katanya buta. Aku mengamini hal itu karena cinta memang tak punya mata, pun otak, ia cenderung bersahabat dengan perasaan. Aku tak membicarakan soal cinta orang tua atau cinta Tuhan, ini cinta yang sering para remaja bicarakan. Seseorang akan terlihat luar biasa sempurna bagi orang yang mengidolakannya; hal buruk pada seseorang itu pun akan terlihat baik bagi si pencinta. Katanya, kalau cinta sudah mengambil alih semua ruang perasaan, sang pencinta akan berusaha terlihat sebaik mungkin di mata orang yang ia cintai. Katanya, kalau cinta sudah mengambil alih logika, sang pencinta tak akan berpikir jauh tentang masa depan; pokoknya aku cinta kamu tak peduli seberapa banyak perbedaan yang ada dan seberapa tak jelasnya masa depan kita. Katanya, kalau cinta sudah mengambil alih dunia, cuaca panas akan terasa sejuk dan gelap akan terasa terang.

Dear, Aldila
Aku bukan penguntit
Walau aku selalu memperhatikan punggungmu
Aku bukan laki-laki buaya
Walau aku sering membuat puisi gombal
Aku bukan pengecut
Walau aku hanya berani berkata lewat selayang surat

Aku tahu kamu sedang bergidik geli membaca surat ini
Tapi ini isi hatiku
Aku tak paham kenapa Tuhan mengizinkan cinta mengalahkan logikaku
Aku tahu ini lucu
Aku hanya ingin tenang

Ya…aku mencintaimu
Walau aku tak tahu harus kuapakan cinta ini
Ah maafkan Yoshua yang bodoh ini,


Aku diam. Aku berharap pesan ini salah alamat. Nama Aldila bukan hanya milikku. Percuma, tidak mungkin ini salah alamat. Siapa lagi teman Yoshua yang bernama Aldila kalau bukan aku? Hening menyergap cukup lama. Aku tertawa. Kuraih gagang telepon rumahku.

“Yosh, lo apa-apain sih hahaha” Aku segera menyambar dengan tawa gurihku di gagang telepon sesaat setelah suara halo khas dari Yoshua.

“Aldila…” telepon pun terputus.
Sebagian otakku bilang pesan itu hanya candaan Yoshua. Aku mengabaikan pesan itu, berdecak, dan tertawa sendiri di kamar sampai tawa itu berhenti ketika pesan dari Yoshua yang mengajakku bertemu.

Pertemuan itu membuat mukaku memerah, bukan malu, namun marah. Mengapa manusia sepintar Yoshua tidak sadar akan kehadiran sahabatnya yang lebih dari sempurna untuknya. Mengapa ia tak tahu diri harus menyatakan cintanya padaku di saat ia tahu kita jelas berbeda? Mengapa dirinya cukup berani ketika ia sudah lama tahu bahwa background keluargaku yang jelas sangat agamis? Ah..tak perlulah ia omeli aku dengan haknya mencintai siapapun, tak perlulah ia menghakimi Tuhan dan menuntutNya menciptakan satu agama di dunia ini, tak perlu pula ia mengatasnamakan cinta sejati jika logikanya tak pernah ia gunakan. Aku menghardiknya, mengatainya bodoh dan tak masuk akal. Aku mencela dan menampikkan segala pembelaan yang ia utarakan. Aku marah. Ya, aku marah mengapa bukan Christin yang ia temui.

Aku menjauh dari Christin dan Yoshua. Jarak kampus kami yang hanya berbeda sekian menit seperti berbeda berpuluh-puluh jam. Aku selalu memberi alasan malas berkunjung karena jauh tiap kali Christin mengajakku bertemu. HPku sering kutinggalkan di pojok lemari meninggalkan pesan mailbox untuk Yoshua yang berkali-kali mencoba meneleponku. Tiga bulan sudah aku tak bertemu Yoshua. Suatu hari, Christin menemuiku. Matanya berkaca.

“Kamu pernah merasakan bagaimana cinta tak berpihak kepadamu?” Christin akhirnya bersuara setelah satu jam ia memilih diam duduk di atas kursi belajarku.
“Cintanya siapa? Setiap orang punya cinta yang berpihak padanya.” aku berbalas pelan.
“Cinta seseorang yang kau suka. Sukanya seseorang yang kau cinta. Kenapa aku begitu bodoh diperdaya oleh cinta? Ha..ha..kamu tahu Aldila, aku hampir saja bunuh diri karena cinta. Ternyata otakku yang terbiasa dengan ilmu sains masih saja dikalahkan oleh hal sepele itu. Padahal, sedikit saja logikaku bermain, cinta akan kalah telak.” Tawa miris Christin menggaung, lalu hening kembali.

Entah sudah berapa kali hening menyergapku akhir-akhir ini. Aku seperti sedang diwawancarai oleh keheningan, dipojokkan oleh kediaman hingga aku tak bisa menjawab keadaan. Aku tahu Christin bicara soal Yoshua yang menolak cintanya, tidak ada lagi orang lain yang ia bicarakan jika cinta sudah ikut berperan di dalamnya. Aku masih bersyukur mengetahui bahwa Yoshua tak menceritakan pada Christin mengenai pengakuan cintanya padaku. Sebentar, bunuh diri?

“Bu..nuh… diri?” aku mengeja pelan.
“Ya, Aldila. Tapi aku terselamatkan oleh seorang pria yang tak sengaja melihatku menangis masuk ke dalam toilet… Entah apa yang dipikirkannya, ia menungguku keluar toilet namun aku tak kunjung datang… Ia nekad masuk tolet cewek untuk mengecek keadaanku dan ia menemukanku menangis dengan silet di pergelangan tanganku.” Mataku mengintip pergelangan tangannya yang sejak tadi hilang dari pandanganku. Balutan kain putih melingkar rapi di pergelangan tangan Christin, nafasku tercekat. Aku penyebab dari semua hal yang terjadi ini. Aku hampir saja membunuh sahabatku sendiri. Kalau saja aku tak berteman dengan Yoshua, hal bodoh ini tidak akan terjadi. Aku menjerit dalam hati dan tertawa miris. Tak pernah aku bayangkan, cerita FTV yang sering aku tertawakan dan aku komentari bersama Christin ternyata dialami oleh kami sendiri. Apa yang sedang kami pikirkan? Apakah aku sedang bermimpi memainkan sebuah sinetron bertema Kejamnya Cinta?

Dering teleponku memecah suasana, seperti biasa aku tak mengindahkannya; namun dering itu terus berlanjut mewarnai suasana diam kami. Mataku melirik malas ke layar hp, kakak Yoshua menelepon. Ragu aku geser layar hpku menuju gambar gagang telepon hijau.

“Ha…lo” ucapku tegang.
“Aldila…Yoshua mencoba bunuh diri, sekarang dia di ICU…” hpku terpeleset dari genggaman.

***

Oktober, 2012.

Christin mengajakku pergi ke makam Yoshua.
Aku tak peduli, hari ini aku berbicara pada sebuah makam yang penghuninya entah sudah berbentuk seperti apa, entah telinganya ditiupkan ruh untuk dapat mendengar atau tidak.

Dear Yoshua,
Malam itu aku menangis sejadi-jadinya,
Setelah mendengar kabarmu yang tidak bisa bertahan.
Padahal berbagai selang rumah sakit telah membanjirimu seluruh badan.
Maafkan aku yang membuatmu seperti itu

Aku tak paham,
Mengapa cinta membuat kita terperdaya
Membuat kita jatuh pada masa yang kelam
Ah..andaikan ini hanya cerita maya
Maafkan aku yang membuatmu seperti itu

Aku tak paham,
Mengapa sungguh beraninya
Perasaanmu bergelut dengan logika
Sampai mungkin titik darah tak adayang tersisa
Maafkan aku yang membuatmu seperti itu

Kau tahu,
Sampai sekarang perempuan di sebelahku
Tak pernah tahu perasaanmu
Tapi, ia tetap setia padamu
Tenang saja, aku tak akan pernah cerita kisah kita
Kisah yang aku sudah kutuk ia menjadi batu
Dan kubuang jauh-jauh dari hidupku

Biarkan sahabatmu ini berlari dengan waktu
Karena waktu tak pernah berbohong
Ia selalu berjanji untuk mencapai garis finish lebih dulu
Memenangkan pertaruhan
Dan mengubah manusia untuk memahami realita


Aku belajar mengenai cinta. Bahwa cinta tak pernah memaksa manusia untuk menerimanya. Namun cinta tahu ada sesuatu yang salah ketika ia tidak diterima. Ketika cinta tahu ada yang salah dan manusia tak menyadarinya, ia menyampaikan pesan pada Tuhan untuk membisikkan manusia; bisikan memohon untuk memperbaiki cara manusia menyampaikan cinta, cara ia mengerti perasaan, cara ia mendefinisikan cinta, dan cara ia menerima keberpihakan cinta. Yoshua. Laki-laki inilah yang membuat rindu terus datang membuat bekas tapak kaki di kamar. Laki-laki inilah yang membuat air mata sering tak terbendung untuk keluar, dan akhirnya menyisakan hampa. Tapi laki-laki inilah yang kemudian mengajariku untuk memahami cinta secara bijak, karena aku tahu, kau pasti tak mau aku melakukan hal yang kau pernah lakukan.

Aku telah salah menanggapi cinta Yoshua, padahal ia tak memaksa cintanya kubalas. Aku hanya perlu memberi pemahaman. Maafkan aku.

***

April, 2013.
ITP ramai. Barisan arak-arakan dengan riuh suara massa kampus menggaung di setiap sudut jalanan kampus. Kepalaku menengok ke sana ke mari, mencari wanita dengan baju warna biru yang selalu ia kenakan.

“Aldila!”
“Christin!”
Aku setengah berlari, menyadari bahwa rok dan high heelsku tak memungkinkanku berlari kencang.

“Happy graduation Aldila!” Pelukan hangat itu datang, pelukan seorang sahabat. Aku tersenyum sumringah seraya mengucapkan terima kasih.
“Oya Al, kenalin, Carlos, mahasiswa ITP juga kok hehe”
Aku tersenyum ke arah Carlos yang membalas senyumku. Carlos bertubuh tegap, kelihatan sedikit preman tapi wajahnya tak menutupi kecerdasannya.

“Al, Carlos ini cowok yang waktu itu aku bilang nekad masuk toilet cewek. Hehe.” Aku tersenyum. Tentu saja aku ingat cerita Christin dengan mata berkacanya dan hari itu hari di mana Yoshua masuk ICU. Siapa menyangka ternyata laki-laki yang tak sengaja menyelamatkan Christin kini dekat dengan Christin. Di akhir pertemuan kami hari ini, aku pun mendapati bahwa Carlos ternyata pernah bertabrakan dengan Christin yang membuat Carlos tergila-gila padanya. Ah…sungguh lucu alur cerita yang Tuhan berikan.
Tidak ada yang pernah tahu bahwa Tuhan telah mempersiapkan Carlos dan menitipkannya pada waktu sementara hidup Christin diwarnai dengan Yoshua. Tidak, Tuhan tidak mempermainkan kita seperti dulu kita bermain dengan boneka. Tuhan adalah sebaik-baik perencana yang telah mempertimbangkan berbagai unsur kehidupan yang mencampuri alur cerita setiap orang. Benar saja, tiga bulan berlalu setelah hari wisudaku, Christin dan Carlos pun menikah.

***

April, 2014.
Aku membuka kotak surat depan rumahku yang sudah satu bulan lebih tak ku buka. Aku mengernyitkan dahi ketika ada undangan pernikahan bertengger di dalamnya dengan cover depan bertuliskan inisial R&B. Perlahan ku buka undangan tersebut dan mataku mendapati nama Rian Bagus Dhika dan Binar Mentari Wijaya. Aku tersenyum. Bahkan tidak perlu menunggu usia 50 tahun cinta menemukan mereka. Lihatlah, betapa cinta tidak memandang perasaan manusia pada satu waktu saja. Ketika Tuhan membisikkan cinta untuk mempersatukan dua orang manusia, cinta akan datang dengan tulus tanpa perlu dewi fortuna menggunakan panahnya. Tidak ada yang akan tahu kisah cinta seseorang akan seperti apa sampai Tuhan benar-benar mempersatukan mereka dalam ikatan pernikahan.

“Beb, temanku ada yang menikah. Temani datang ya.” Aku membawa undangan itu masuk rumah, sekilas aku melihat yang diajak bicara mengangguk.
“Temanku yang menikah ini punya cerita asmara yang menarik loh beb, mau dengar?” Laki-laki yang kuajak bicara itu adalah suamiku, ia perlahan mengganti arah matanya dari televisi ke arahku.
“Kamu mau bilang kan, kisah asmara mereka tidak pernah ada yang tahu? Kamu mau bilang kan, bahwa Tuhan memang sebak-baik perencana?” Laki-laki bernama Rangga itu tersenyum.
“Iya beb, seperti kisah kita yang sudah Tuhan rencanakan dengan indah.” Aku pun tersenyum.

Senin, 06 Juli 2015

orang tua bilang "kamu ga sopan", kita bilang "mah, itu wajar"

My mom and my hostmom are both very social persons, and yes they always ask me to make your faraway guests as your Kings and Queens. They want me to salam to everyone; your hospitality is number one. They also always encourage me to give and share. They basically want kids do that, every kids in the world. But whats happening now?

Ummi selalu heran ketika beliau berkunjung ke kos dan melihat penghuni kos yang hanya saling lewat ketika berpapasan, atau hanya tersenyum formalitas, and dang I cant stand on being nice myself while others not, but my mom keeps telling me “seorang muslim itu harus ramah dengan siapapun”. She always wondering why in the world these girls in my dormitory do not know each other but their friends that they already knew before.

Selalu ingat pesan ummi tiap kali saya pergi ke suatu kota dengan taking travel “ngobrol ya sama sebelahnya.” I am like, really? I don’t know them, should I? isn’t it weird? I know it’s a good point to talk to people like my mom often do, initiating herself to chit chat to people in bus, travels, or any transportation. Namun yang biasanya saya lakukan di travel ya….tidur. lol.

My hostmom, well not only my hostmom, but most of Americans will say ‘excuse me’ everytime they pass through people. Tapi banyak toh dari kita yang lewat begitu saja, untung saja di Bandung saya masih merasakan sedikit hal itu, ketika orang bilang “punten”, yah better lah daripada di ibukota lol. Tapi terkadang kalau sudah lelah pulang dari kampus, cuma bisa pasang wajah tidak semangat, melewati orang jadi lewat saja, sampai pernah anak kecil yang saya lewati menyindir saya “punten atuh teehhh”. Saya cuma bisa tersenyum sambil hati berkata “sorry kids, my bad.”

Yang paling saya soroti akhir-akhir ini adalah soal budaya menerima tamu. My mom often cooks for her guest khususnya tamu-tamu jauh, repot minta anak-anaknya beli kue sana sini. Beliau selalu mau menerima permintaan anak-anaknya yg bilang “mi, teman-teman aku mau rapat di sini, gpp?” “mi, teman-teman aku mau buka bersama di sini gpp?” hanya mungkin kadang tidak bisa terealiasi karena urusan Abah ehehe, peace Dad! What somewhat surprise me then is about how we treat the bules in a very special way. In pharmacy association, baik di himpunan kampus saya atau di organisasi nasional, we treat them really well, I guess, sampai score penerimaan mahasiswa asing di web SEP untuk asosiasi di Indonesia memang tinggi dibandingkan dengan Negara-negara lain. Even theres this time I read in a magazine about exchange student that come to my association saying “Indonesians are very nice, they take us and guide us in every single path we walk, we were like kindergarten students” yah kurang lebih kata-katanya seperti itu. Tapi pernah juga ketika saya yang menemani the bules dan mau tidak mau harus menuruti budaya itu sampai I don’t let them to go alone by taxi to visit bars in Braga, they were like “Come on, we are adults, we can go without you guys”. Well. Haha anyway, jadi teringat artikel VOA yang bilang “orang Indonesia dicap ramah karena memang anak-anak kampung yang sangat welcome dengan para bule, tapi nyatanya hospitality Americans jauh lebih oke”

Anywaaay, budaya menerima tamu yang luar biasa ini sebenarnya bukan hanya terjadi ketika bule datang. Yah baru semenjak kuliah sih saya sering ke luar kota dan melihat bagaimana orang-orang di luar Jakarta dan Bandung luar biasanya menerima kita –bukan bule- sebagai tamu, teman saya pun merasa demikian. Sampai saya bingung hingga sekarang, budaya ini hanya terjadi di asosiasi saya atau memang orang Indonesia seperti ini? I don’t think so though haha. Namun saya bahagia, di tengah keheningan kos-kosan, protes ummi saya akan anak muda di travel yang saling diam, protes para tetua akan anak muda yang tidak sopan kalau melewati orang, masih ada etika berjudul “orang-orang Indonesia menghargai tamunya”. Walaupun saya tau, hospitality orang Indonesia di luar “kota” mungkin masih jauh lebih baik daripada ‘orang-orang kota’, I guess so.

Yah pengalaman saya mungkin belum bisa mengeneralisasi, seperti apa itu etika orang Indonesia atau seperti apa itu etika anak muda.

I just start to think bahwa etika jadi terlihat semakin bias standarnya. Orang tua bilang itu tak sopan, anak bilang itu wajar. Kakak tingkat bilang lo ‘ngelunjak’, adik tingkat bilang itu tanda mereka gamau ada gap senioritas. Akhirnya ada clash, tanda kita belum bisa menerima budaya dari masing-masing daerah? Tanda kita belum mampu terbuka dengan perubahan zaman? Atau tanda teknologi yang memaksa kita jarang bertatap muka, menurunkan rasa empati untuk beretika? Dari yang merasa “gila lu cuma ngeread line aja, ga sopan” sampai pada merasa itu sudah menjadi standard kebiasaan dan akhirnya ikut2 cuma read aja *curhat bu?. Dari yang dahulu ngobrol sama dosen pakai angguk-angguk badan untuk menjaga sopan santun hingga sekarang sudah bisa tertawa riang lewat whatsapp.

Ah biarlah, kalau bicara budaya dan perkembangan zaman memang agak sulit mana yang beretika mana yang tidak. Dahulu saya sangat berkiblat sekali dengan kalimat “its not right or wrong, its just different” membuat pikiran saya terlalu terbuka menerima segalanya sampai lupa ada standar agama yang harus saya pegang teguh selamanya, termasuk dalam hal etika. That’s why kita punya agama yang akan membimbing kita untuk tau bagaimana beretika yang baik. Memang, kata-kata ummi selalu benar “Islam kok yang mengajarkan untuk begini dan begitu” Yah saya pun masih sangat belajar.

Sabtu, 04 Juli 2015

Thank you, dear!

Betapa luar biasanya berada di sekeliling orang-orang seperti kalian. Bukan cerita-cerita yang mengalir dari mulut sang ratu lebah yang ingin dihormati, bukan pula mimpi yang terajut rapi dari sang pangeran yang hanya berniat mencari sang kekasih, I can feel your sincerity. Ah…apalah semua hari-hari ini jika dibandingkan dengan tahun-tahun yang sudah para tetua lewati, apalah semua benih-benih yang hendak tumbuh ini jika dibandingkan dengan kecambah yang para pengabdi negeri ini miliki, entah…yang kudapat ini mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan asam garam kehidupan para pekerja buruh, para pegawai swasta, pemiliki perusahaan, para professional, guru, orang tua dan kakek nenek kita, mungkin belum seberapa. But I can feel it, how a drop of ink can spread fast on certain papers.

Saya ingat ketika saya menghadiri sebuah seminar motivasi ketika saya SMP, sang motivator berkata “hidup di SMA itu tidak akan pernah terlupakan, sepakat?” peserta yang kebanyakan adalah anak SMA berseru ‘sepakat!’ kemudian menyimpulkan senyum malu-malu, entah mungkin mereka teringat kerja kerasnya belajar mengejar nilai, cerita persahabatan kepompongnya, atau teringat kisah asmara bodoh yang buat merah pipi pemiliknya. Saya kala itu tidak tersenyum, melainkan fokus memperhatikan kakak saya yang tersenyum dengan mata berbinar-binar. Alis saya terangkat.
Namun kemudian sang motivator tersenyum lebar seraya berkata “hmm…tunggu saja sampai kalian nanti kuliah” Alis saya semakin terangkat.

Si polos Risni menghabiskan masa SMPnya dengan mendengarkan cerita-cerita sang kakak. Ya, saya adalah salah satu penggemar berat kakak saya, walaupun saya yakin beliau tidak tahu sampai sekarang. Kisahnya selalu membuat saya tak sabar masuk SMA, betapa seru…dan anehnya…. cerita-cerita beliau. Cerita ketika beliau bertengkar dengan sahabat baiknya, cerita ketika bersama-sama main mendaki gunung, kisah teman-temannya yang selalu membicarakan soal pernikahan, nasihatnya tentang pakaian baik seorang wanita, permintaannya padaku agar ikut mentoring ketika nanti SMA, keberaniannya dan menurutku dulu…keanehan dia dan teman-temannya yang berani turun ke jalan, berdemo dengan membawa spanduk dan memakai ikat kepala, berorasi di depan gedung DPR serta kebingungan dan tawa saya yang muncrat keluar karena selalu mendengar takbir dikumandangkan dengan lantang setiap kali saya diajak acara keagamaan olehnya. Cerita kakaklah yang menjadi sebuah scene di SMA yang saya bayangkan…

Ternyata, masa SMAku berbeda dengannya. Si polos Risni tak mengalami apa yang dialami kakaknya. Ketika itu saya berpikir, zaman mungkin berubah? Haha. Saya pun kemudian hanya mengikuti alur air yang entah saat itu saya tidak tahu akan bawa saya kemana. Yang pasti, saya dahulu selalu mempertanyakan “mana kisah-kisah yang diceritakan oleh kakak? Di mana?” Dari sini lah saya belajar bahwa memang, ekspektansi bisa menjadi moodbreaker sepanjang masa. Now if you didnt get what you want, are you gonna give up?

Kakak saya tidak lagi bercerita banyak tentang masa kuliahnya ketika saya SMA, mungkin karena jarak yang memaksa kami untuk jarang bertemu dan berkomunikasi. Tapi beliau dan teman-temannya tetap menjadi cerminan scene masa depan yang saya bayangkan. Ah…jadi, kalimat “kakak adalah contoh bagi adiknya” itu benar adanya, setidaknya, saya mengamini hal itu.

Ternyata, begini ya hidup di masa perkuliahan? Saya sedikit banyak mengalami apa yang kakak saya alami, namun dengan cara dan jalur yang cukup jauh berbeda. Kalau saya ingat ketika saya menghadiri seminar motivasi dulu, saya sepertinya mengerti senyuman lebar pembicara yang berucap “tunggu ketika kalian nanti kuliah” haha kok lucu. Well…

Duh, saya sebenarnya mau nulis apa sih :’)

Entah…akhir-akhir ini, grateful feels like tighten me in every second of life. Betapa, tidak selamanya ekspektasi membunuh keinginan kita untuk berjalan bahkan berlari. Betapa masih banyak orang yang peduli dengan kita dan tak pernah lelah membantu memperbaiki diri kita, bukan semata untuk mengejar apa yang kita inginkan, namun apa yang terbaik untuk kita. Entah sudah berapa hal yang terjadi, sudah berapa orang yang menegur, sudah berapa orang yang memukul pundak, sudah berapa kejadian yang membuat saya berpikir bahwa life is too beautiful. Pembelajaran-pembelajaran yang saya sadar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang orang lain sudah dapatkan ternyata di mata saya sangat berharga, yes I learn how to feel normative words.

Mendengar memang terkadang lebih indah daripada mengucapkannya, mengamati ternyata bisa lebih nikmat daripada melakukannya. I do learn a lot from you guys. Orang-orang yang berada di sekeliling saya, terima kasih telah memunculkan scene yang pernah kakak saya alami haha, terima kasih telah menjadi kalian yang membenci saya, mencintai saya, menghormati, mengucilkan, mengagumi, mengkhianati dan lain sebagainya. Apalah saya berkata seperti ini, sudah seperti orang tua yang merasakan asam garam kehidupan setumpuk puluhan meter dan mencoba mengambil gula di tengah garam. Ini hanya rasa syukur yang ingin saya bagi dan pesan untuk selalu berhati-hati, bahwa hidup kita yang masih muda ini…masih panjang ya…entah akan ada pelajaran-pelajaran apa lagi yang mungkin akan membuat kita makin membuka mata dan pikiran yang kemudian akan menjadi pedang bermata dua. Are we going to be able to deal with it atau justru kejadian di depan akan mengubah kita kepada hal yang tidak baik. Haha seperti saya yang labil, sampai teman-teman tarik ulur untuk mencoba memperbaiki diri ini yang serba kekurangan. Pelajaran-pelajaran yang terkadang buat bingung untuk bersikap memaksa saya untuk selalu sadar kalimat If youre confused what people want you to do, just do what God wants you to do. Terima kasih kalian yang selalu memberi tausiyah, yang selalu mengingatkan, yang selalu tahu kapan saya turun, kemudian mencoba mengajak saya bertemu tatap muka untuk menegur langsung kesalahan yang telah saya perbuat, yang selalu bersusah payah mengajak saya bertemu hanya untuk bilang “jangan lupa hafalannya, jangan lupa amalannya”, bukan…itu bukan hanya…itu kata mutiara yang begitu luar biasa. Terima kasih :’) *efek tak terasa sudah tingkat empat ya, jen?*

Terima kasih telah membantu saya mengejar ekpektasi. Terima kasih telah mengingatkan saya untuk selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari.


Kamis, 23 April 2015

TC Research Dissemination

Jadi, ceritanya begini.

I was quite a newbie in tobacco control things. Bulan lalu iseng-iseng kirim abstrak tentang tobacco control policy-relevant research bersama adik tingkat yang juga anak farmasi (credits to Intan Dinny, thanks for doing a great job!). Selayang kuesioner online, simple, dan mengacuhkan variable inklusi dan semacamnya saya sebarkan lewat media sosial kemudian dibuat posternya. I was happy knowing that our abstract was accepted to a poster exhibition in Yogyakarta. Tibalah tanggal 19 April, I flew to Yogya for attending the exhibition what so called Indonesian Tobacco Control Research Dissemination Conference and Capacity Building Program. Program ini diadakan oleh MTCC (Muhammadiyah Tobacco Control Center UMY); John Hopkins Bloomberg School of Publich Health, an IGTC; International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases; and National Cancer Institute USA. Well, I just knew such things were actually exist in this world lol.

During the preparation, baik itu kirim biografi, foto, poster, tiket pesawat, panitia selalu menghubungi saya lewat sms dengan kata sapaan ‘Ibu’, biasanya kalau ada kegiatan semacam gini, paling barter saya dihubungi dengan kata sapaan ‘mbak’, tapi kenapa ini ‘ibu’ ya?

So I was wondering why everyone calling me ‘Ibu’, it was answered when I attended the welcoming event. I could barely find students -.-“ Kebanyakan participant adalah aktivis tobacco control (TC) dari komunitas-komunitas TC yang sudah lulus S1 atau sedang mengeyam pendidikan S2, S3; dosen-dosen FISIP, Psikologi, FKM, FK, Farmasi dan rumpun kesehatan lain; orang-orang dinkes, kemenkes, dll yang penelitian tobacco controlnya luar biasa kompleks. Ilmu farmakoekonomi saya mungkin baru 1/1000000nya. I was like “Ok, here we go, jen.”

Berawal dari sarapan pagi bersama roommate yang merupakan dosen muda dari Aceh, rasa penasaran saya dengan acara ini semakin meningkat. Beliau menceritakan penelitian yang beliau lakukan dan berdiskusi sedikit tentang KTR di daerah-daerah yang tidak terimplementasi dengan baik; beliau pun menceritakan penelitian mengenai rokok herbal yang justru bahayanya tidak jauh dengan rokok biasa; kemudian mengenai PHW (pictorial health warning) yang ada di bungkus-bungkus rokok sekarang ternyata memang memengaruhi keinginan orang-orang untuk tidak merokok, namun industry rokok kemudian mengakali PHW tersebut dengan membuat kemasan rokok dalam kaleng yang PHWnya dimasukkan ke dalam kaleng tersebut (duh!).

Sampai pada keynote speech oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany yang merupakan founder JKN, pembawaan sarkasnya yang kadang bikin ketawa buat saya manggut-manggut mendengar berbagai informasi yang beliau sampaikan. Kemudian diskusi panel oleh Steve Tamplin, Jeffrey Drope, dan Mark Parascandola yang tidak kalah menarik. Pertanyaan yang paling menarik muncul di diskusi ini adalah “Can you guys tell us why USA has not yet ratify FCTC?” yup, I just noticed that! Saya tahu ada 9 negara yang belum meratifikasi FCTC (framework tobacco control dari WHO), salah satunya Indonesia dan USA, even USA has not sign yet -.- tapi tiga pembicara di panel diskusi itu American loh. Then they said “It’s political reason, but despite that I believe USA are really eager in conducting tobacco control research activity around the world” ya, sebagaimana teman saya dari FKM UI bilang, “Amerika memang belum ratify, tapi kegiatan tobacco control mereka gila-gilaan” That makes me curious what the political reasons are. Selanjutnya ada presentasi dari Prof. dr. Tjandra Yoga, pihak Puslitbangkes Kemenkes RI yang memberikan informasi-infomrasi up to date mengenai jumlah perokok Indonesia dan data-data terkait lainnya. I was like “Come one Indonesia, can you make an update database for everything in internet just like USA has been doing? It’s a very useful materials instead of making your students create a blog for posting their laboratory report (if you know what I mean). We’re living in Z generation, hurray!” (but eventually I know that CDC has smoking-related database for all countries including Indonesia, which is awesome)

Lunch break saya makan dengan roommate dan partner in crime saya selama conference, lol, Khansa yang juga mahasiswa S1 and her roommate Ibu dari dinas keuangan Indramayu. Diskusi seputar rokok mencuat kembali, Ibu dari Indramayu tersebut menceritakan berbagai hal terkait dana cukai rokok yang tidak boleh dipakai untuk dana pendidikan ataupun dana lain di luar hal yang dapat menguntungkan industri rokok. Rasanya kesal dengar itu -.-

Kegiatan selanjutnya adalah presentasi-presentasi penelitian terkait rokok, berikut judul intinya:
1. Mapping the Indonesia government position in decision making on FCTC ratification
2. Harmonizing international trade policies and right for health protection measures
3. Content analysis of cigarette advertisement in newspaper
4. Economic burden of smoking attributable disease to government health expenditure
5. Warranties and certainty of legal protection of children from cigarette addiction
6. Analysing tobacco control policy initiation through survey on public opinion
7. Monitoring and evaluation of implementation of regional regulation no. 5 year 2008 surabaya
8. Effect of home cigarette smoke exposure to respiratory diseases
9. Monitoring and evaluation PHW
10. Economic impact of smoking : premature mortality cost and YPLL study

When I listened to the first five presentation, I was like “uwow so cooool”. But then I was like “Dang, why you’re not inviting policy maker in this session! This incredibly important for advocacy!’ Well, I don’t know. I guess theyre gonna make things like bank of TC research in bank of advocacy until then policy maker can read them. Hopefully so.

Sesi lain yaitu presentasi dari dr. Hasto Wardoyo yang merupakan Bupati Kulonprogo Yogyakarta. I admire this mayor, he’s such a nice and supportive leader. Daerah Kulonprogo telah sukses mengimplementasi berbagai kebijakan kawasan tanpa rokok berikut pencabutan iklan-iklan rokok. You must know, pendapatan daerah Kulonprogo sebelum dan setelah adanya pencabutan iklan rokok ternyata justru bertambah! How cool! Sebagaimana beliau bilang “Rezeki itu bisa datang dari mana saja”. Beliau pun sedang mengusahakan approach ke Bupati lain di Yogyakarta untuk sama-sama mengimplementasikan kebijakan tobacco control. Semangat pak!

Yah begitulah sekilas kegiatan yang saya ikuti di Yogya kemarin, masih ada hal menarik lainnya. Sayangnya karena ada presentasi tugas dan praktikum saya harus pulang lebih awal padahal acara belum selesai. Di perjalanan menuju airport, saya satu mobil dengan dr. Tara Singh Bam, seorang Nepalian dari the Union. He said hes gonna come to Bandung next week meeting up with Ridwan Kamil to talk about tobacco control. My eyes dilated, yay! Then I told him about K3 policy that has been all over the street regarding its garbage disposing but not the KTR policy. So readers, Bandung kita tercinta ini sudah punya aturan KTR (kawasan tanpa rokok) yang sayangnya masih bergabung dengan kebijakan lainnya di perda K3 No. 11, as you see di jalan-jalan, propaganda buang sampah sembarangan denda 5 juta rupiah itu loh, sampai walkot kita finally urge drivers to have trash can inside their cars, I was happy to know that happened. Silakan baca perda tersebut, you will see how our local government actually already wrote which places are smoke free areas and you’ll see also that the violator will be fined 5 million rupiah as well as garbage disposing violator. Sayangnya aturan tersebut belum sehits aturan buang sampah sembarangan, salah satunya mungkin karena aturan KTR belum difokuskan menjadi perda yang terpisah. This is the content I brought in my very simple research for conference. How can Im not happy hearing that dr. Tara will meet Ridwan Kamil to arrange a tobacco control stuffs! “You know why KTR in your place isn’t implemented well? Because your local government officer smoke, just like other local governments. But I will meet Ridwan Kamil, Bandung needs a separate policy for tobacco control” there he said after telling him a little about what happened in Bandung. Yayness hopefully youll do a great job, sir!

Yah yaudalah, bahaya rokok sih udah mainstream, semua orang juga udah tahu. Sekarang gimana orang-orangnya aja mau aware sama sekitar dan gimana caranya ada political will included, kita mainkan saja dengan kebijakan-kebijakan yang ada termasuk KTR, rising taxes, ratify FCTC, u yeaah. Semangat para policy-maker influencer! :)

Semoga Bandung menjadi daerah selanjutnya yang akan mengimplementasikan KTR sebaik mungkin. Tak lupa harapan besar untuk kampusku tercinta, I realize most of the students in ITB are guys as well as the lecturers -.- come on dudes, I believe youre well-educated enough to know that cigarette’s smoke kills you and others! I will share the update research data to tell you later on. Banyak orang-orang miskin yang kemudian sulit berhenti merokok dan membunuh passive smokers karena tempat kerja mereka terbuka untuk asap rokok, bandingkan dengan orang-orang menengah atau orang-orang kaya yang bisa jadi adiksi rokoknya sama dengan orang-orang miskin namun karena tuntutan tempat kerja yang smoke free area, konsumsi rokok mereka menjadi lebih sedikit. It could applies in campus environment. With KTR policy in my campus being well-implemented, I really hope you smokers can stop slowly, no need to hurry, just think about people around you who smoke your smoke, just think your parent that want you healthy, having kids, and achieve all of your dreams without worrying any diseases. Mungkin belum terasa ya, yaudah tunggu aja, kalau kata kaos GP3nya HMF “Want more information about lung cancer? Keep smoking” :)