Tampilkan postingan dengan label banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banten. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2015

They call it Debust, I call it Family #tsah

Banten-Bandung itu ga seberapa. You only need to go to bus station or travel pool and it only takes 3-4 hours to finally get to that special place of ours. Who is ours? Debust ITB. Sebuah unit kebudayaan yang dibentuk -if im not mistaken- di tahun 2010. Saya dengar berbagai hal terkait pendiriannya yang menyita tenaga, waktu dan pikiran. They had to do the strategies how to reach the minimum human resources that was needed, how to make a right AD/ART and stuffs, how to arrange the dances and all those beautiful Banten arts, yahh pokoknya bagaimana agar semua requirements dari LK bisa terpenuhi so Debust would be crowned as a college culture club. Terima kasih kakak-kakak :D

Iya, cuma 3-4 jam aja kok. Bukan Bandung-Sumatera yang beda pulau atau Bandung-Sulawesi yang akan menghabiskan banyak uang untuk tiket pesawat. We are not that “orang rantau banget” yang butuh suasana rantauannya at some points. Tapi kebersamaan bukan suatu hal yang harus dibentuk karena pautan jarak jauh kan? :)

Iya, Banten itu bahkan pecahan Jawa Barat loh. Budayanya ga akan beda jauh dg Bandung. The chance to get culture shock is probably just as small as a dot of mole in your face. Its not like everything outside Banten are our enemies. Tp kebersamaan tak melulu tercipta karena musuh bersama kan? Gathering is a nice word since people are meant to help each other.

The fact is, the people are there to help each other. Entah sudah berapa kali mulut, tangan, pikiran, dan semua anggota tubuh ini meminta bantuan teman-teman Debust. Dari Citra yang satu jurusan, Jarrah Iqbal yang beda jurusan, sampai Rahayu dan Maryam yang super sibuk, dan masih banyak lagi. Entah sudah berapa dari mereka yang selalu ada when I need them, even when I don’t need them! Ini lebih dari sekedar tebengan dini hari karena harus ke travel atau sejenisnya (thanks to the guys! :p), ini juga lebih dari minta tolong temani makan dan jalan hura-hura, tapi apa dong? Yaahhh all things that I justtt cant describe, sadar atau tidak, they give me much new and fresh spirit.

Debust itu rumah kami di Bandung, please tell me that I am true. A place to go home, am I right? Please again say yes. Duh I will not have you to read about kebersamaan dan semacamnya yang mungkin massa ITB apalagi, sudah muak karena dijejali pentingnya kebersamaan di osjur-osjur. Wait what? Yes I will make you to read such things because I am about to write them. Come on, I know repetitive sometimes annoy you, the essence kind of gone when you are forced to be into it like maybe thousand times. But I learn how to feel normative words. To respect repetitive words, routine advices, and a true-natural sentence.

Kebersamaan ya? Keluarga?

Layaknya sebuah keluarga kecil kita di rumah, mereka akan membimbing kita dan tidak mau kita berada di jalan yang salah. Why? Because they love us. They don’t want us trapped in malignancy. Kebersamaanlah yang akan melahirkan cinta itu. Cinta yang akan berbuah manis. Adakah cinta itu diciptakan untuk saling menghardik? Adakah Cinta itu diciptakan untuk membungkus harapan seseorang dan membuangnya jauh ke sungai? Seseorang yang mencintai kita akan membimbing kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. They motivate us, they remind us, they help us achieve the better us.

Well, so, Debust makes me a better person? I feel people there are trying to make me so, langsung maupun tidak langsung. Dari hal yang sangat jelas sampai yang tidak terlihat dan tidak terasa. Not every individual, though. But Debust has been a place in Bandung where I can meet many people who I can share a lot of stories, they will listen and will not dare to make me fall. True family motivates you in any way they think it might suit you.

Besides motivating you, a true family doesn’t want to lose you despite the distance apart. Let me quoted someone’s words “Belajar menghargai kebersamaan, sebelum merasa sakit saat kehilangan”. Hargailah setiap kebersamaan yang ada. Ketika saatnya perpisahan itu ada, memang akan sakit rasanya, tapi ketika dulu kita telah belajar menghargai kebersamaan itu, sakitnya merindu akan menjadi pahala karena doa yang terus mengalir dari kita dan teman kita. Titipan doa agar teman-teman kita tetap dilindungi olehNya. Then our friends will do the same for us. Menghargai kebersamaan adalah sebuah investasi doa dari sahabat-sahabat kita.

And yes, my pray definitely goes to you. Semangat adik-adik Debust. Katanya kalau sudah nyaman sebagai satu keluarga, segala hal akan nyaman dilakukan ya? Maafkan diri ini yang hilang-timbul, mungkinkah pada kenyataannya nyaman tak selalu menjadi alasan untuk terus di permukaan? Atau….ada satu hal yang membuat nyaman itu terganggu? :’) Ini PR kita. Let me know what I can do for you :’’ Sukses <3

Jumat, 06 Maret 2015

Datulaya!!

Salah satu hal yang tidak semua unit kampus Indonesia tekuni adalah ini. Tidak pernah tahu sebelumnya bahwa kentalnya lestari budaya daerah ada di kampus ini. Namanya Sunken Court dan CC Barat; tempat berkumpulnya semua unit Budaya dari Sabang sampai Merauke; and there we are, Debust ITB yang telah berdiri sejak 2010 sebagai Unit resmi mulai menampakkan hidungnya di kampus gajah.

Di tengah budaya kampus sarat kaderisasi (osjur), periodisasi (pemira), dan apresiasi (syukwis) yang kadang buat sipit mata, dahi mengkerut, jengah rasa, lelah badan dan pikiran; buat saya, budaya yang satu ini, memperkenalkan budaya daerah, menjadi relaksasi tersendiri.

Siapa yang tahu Banten?

Mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi dengan konsentrasi politik dinasti paling tinggi, mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi yang melahirkan atraksi Debust yang ‘menyeramkan’, dan mungkin orang mengetahuinya sebagai tempat tinggal kaum Baduy. Kemungkinan ini toh bukan stereotype, that makes Banten Banten, anyway.

Tidak sedikit komentar lucu dari teman-teman di kampus ketika tahu saya anak Debust ITB untuk pertama kalinya,
“Wuis, serem, makan beling ris?”
“Oh kamu anak Debust? Kalian beneran belajar debust ga sih?”
Sampai beberapa komentar yang makin lama makin absurd karena dengan semena-menanya teman-teman jurusan saya membuat saya dan Citra menjadi sample tipikal anak Banten -.-‘’ hahaha

Well, despite the comments, people will know eventually what Debust in ITB for real. Ya, kami perkumpulan anak Banten, yang tinggal di Banten atau lahir di Banten atau pernah tinggal di Banten atau bahkan tertarik dengan budaya Banten. Kami pun sama seperti unit lainnya yang memiliki sistem kaderisasi untuk mencari generasi baru, memiliki struktur kepengurusan, memiliki program kerja kekeluargaan, pendidikan, pengabdian masyarakat, dl; serta memiliki sekretariat tempat kami berkumpul. Kami belajar Debust? Not quite right, but yes some people do that.

This year is a milestone, another awesome breakthrough yet full of a random zig-zag processes. Ketua Debust tahun ini dengan berani mengambil tantangan untuk melakukan pagelaran Debust pertama. Saya ingat ketika hearing kala itu, I was just being me, being pessimistic; well no, everyone is just trying to be realistic by throwing a little sarcastic questions. Pertanyaan-pertanyaan seputar sumber daya manusia, budaya Banten yang entah apa, tarian yang anak Banten saja mungkin tak tahu, sejarah Banten yang seperti tertelan cerita modern lain, menjadi pertimbangan-pertimbangan keberlangsungan pagelaran ini. Banten masih tergolong baru, budayanya masih banyak yang belum tahu, orang-orang pribuminya seperti saya ini makin banyak tergantikan dengan pendatang, Who will design the show then?

We do have courage. Ketua pagelaran pun terpilih, seorang perempuan asal Tangerang Selatan yang kemudian sibuk menggali Budaya Banten selama berbulan-bulan with her fantastic enthusiasm. Pedalaman baduy disantroni, berbagai sanggar dikunjungi, kesenian-kesenian batik, rumah penduduk, dan spot lain yang bisa menjadi sumber dijejaki. She did a really good job together with others.

Datulaya namanya. Sebuah ruang kekeluargaan di Kesultanan Banten. Nama ini kemudian dipilih sebagai nama pagelaran pertama kami. Banten dulu, kini, dan nanti menjadi tagline pagelaran kami; meminta kami sebagai orok Banten yang sudah dewasa untuk menggambar masa depan seraya memegang cermin; to arrange the dreams without forgetting the past; to be confidence that future will welcome us just right, oh no, it will welcome us with brightness at its best.

Datulaya memperkenalkan Banten. Kuliner, pameran budaya, serta kolaborasi drama, tarian, dan atraksi Debust dipertunjukkan. Rasa makanan Banten menjalari lidah-lidah pembeli, sure they love the foods!

Night comes and the show will start soon. I wasn’t involved in this show, but my heart beat fast when the show started, lol, andddddd you guys did amazing! Totally amazing.

I am not trying to be an annoying melancholic girl, tapi gue beneran terharu liat kalian! Bangga banget! I know how you guys arrange everything since I was invited as well in the committee group line, awalnya tak sudi untuk sekedar join grup kepanitiaan ini karena saya memang tidak bisa bantu, namun seorang teman bilang “gpp ris, supaya lo tau update pagelaran aja”. Rasa bersalah dan beban moral sering muncul ketika baca grup dan mendapati berbagai naik-turunnya kepanitiaan ini tapi belum bisa bantu apa-apa. Well, it is not a mistake after all, setiap kepanitiaan pasti ada konfliknya, setiap kepanitiaan pasti ada senangnya. Terima kasih buat siapapun yang mencoba membuat saya dan beberapa lainnya terlibat di sini, walaupun pada akhirnya saya hanya bisa bantu lewat doa, so sorry guys :’’’

Ayo sama-sama jadikan ini pelajaran. Sebagaimana ketua pagelaran kita tercinta bilang, “Datulaya itu bukan hasil, tapi proses.” Untuk saat ini saya bisa jadi tidak peduli apa itu identitas Banten, kenapa kita harus mengenalkan Banten? Apa esensi budaya sebagai identitas bangsa dan lain sebagainya. Mungkin buat saya itu proses untuk akhirnya benar-benar tahu karena sejauh ini yang saya tahu masih sebatas ‘identitas sebagai pemersatu’. Proses pun bukan hanya itu saja. Proses untuk saling mengenal kembali satu sama lain, proses untuk saling mengerti bahwa kita keluarga #tsah. Proses untuk menyadari bahwa kita anak Banten dan Banten butuh kita #ea

Siapa yang tahu Banten?
Mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi dengan konsentrasi politik dinasti paling tinggi, mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi yang melahirkan atraksi Debust yang ‘menyeramkan’, dan mungkin orang mengetahuinya sebagai tempat tinggal kaum Baduy. Kemungkinan ini toh bukan stereotype, that makes Banten Banten, anyway. Setelah pagelaran ini, mungkin akan ada identitas baru untuk Banten?

Sabtu, 04 Oktober 2014

Negeri Kecilku Menginjak Usia 14 Tahun

Hari ulang tahun identik dengan hari bahagia. Hari di mana banyak orang mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan selama usianya. Hari bersyukur di mana ia masih diberikan kesempatan untuk hidup. Hari ulang tahun pun menjadi hari bercermin dan hari peringatan bahwa tidak ada yang tahu kapan seorang manusia akan dijemput; cermin untuk melihat sudah berapa banyak yang manusia lakukan untuk bekalnya melewati jembatan tipis rambut terbelah tujuh.

Lantas apakah sama halnya dengan usia sebuah benda mati, samakah halnya dengan sebongkah tanah yang diletakkan Tuhan di atas lautan? Apa yang harus disyukuri dan apa yang harus disiapkan?

Negeri kecilku kini menginjak usia 14. Layaknya seorang remaja, ia sudah tak tertatih berjalan. Ia tak lagi menjadi momongan kakek-nenek dan buyut-buyutnya. Ia akan lebih sering menerima teriakan orang di sekitarnya karena tuntutan-tuntutan yang semakin tinggi. Ia menjadi harapan Negara dan dunia.

Negeri kecilku kini menginjak usia 14. Aku teringat 14 tahun silam ketika ia bercerai dengan Jawa Barat. Siapkah Ia berdiri dengan kaki sendiri? Pikirku. Namun kini ia berdiri, 14 tahun, telah melewati berbagai labirin dengan kelokan yang rumit. Akankah ia bertahan?

Negeri kecilku kini menginjak usia 14. Teringat akan betapa takutnya aku setiap tanggal pemilihan tiba. Betapa besarnya harapanku pada penerus tahta negeri kecilku. Sampai akhirnya aku tak kuasa menahan perih melihat Ibunda negeri ini diseret ke jeruji besi. Hanya doa yang lantas aku bisa berikan.

Negeri kecilku kini menginjak usia 14. Tanah kosong dan sawah hijau yang terbentang perlahan tergantikan dengan bangunan megah nan elok. Aku, pribuminya yang kemudian menghaburkan uang untuk pemegang saham yang tak setitik pun darah berasal dari tanah ini. Tak apa. Hanya saja, tidakkah aku menengok saudara-saudaraku di ujung negeri kecilku? Hanya untuk membelikan mereka sepasang alas kaki.

Negeri kecilku kini menginjak usia 14. Suatu hari, ia menemuiku. Ia bilang ia senang dan bersyukur. Banyak komunitas-komunitas pemuda yang peduli akan tanah kelahirannya. Bangun ini dan itu. Memberikan ini dan itu. Namun itu belum cukup. Ia bukan sekotak korek api yang dapat dibenahi hanya dengan membuka kotaknya dan menjetikkan jari untuk merapihkan batang-batangnya. Ia lebih dari sekotak mainan anak yang bisa dibersihkan kapan saja tanpa takut berjamur. Ia sebuah rumah yang sangat besar dan kompleks; butuh banyak pemuda yang mampu memperbaiki pondasi kirinya yang hampir roboh; butuh banyak pemuda yang mampu menancapkan tiang-tiang baru untuk memperkokohnya; butuh banyak pemuda yang mampu merenovasi bangunannya agar terlihat indah. Di mana pemuda-pemuda itu?

Negeri kecilku kini menginjak usia 14. Ia bukan makhluk hidup yang bisa menyimpulkan senyum atau meneteskan air mata ketika sedih, mengibaskan ekor meminta perhatian layaknya seekor cendrawasih, atau berteriak ketika disakiti atau bahkan menengadahkan tangan berdoa dan bersyukur atas apa yang dilewatinya. Apa yang berdiri di tanah negeri ini, bangunan dan penduduknya, sekolah dan anak muridnya, pasar dan pedagangnya; mereka telah banyak bercerita lewat ekspresi sedu sedan dan tawa sumringah sejak negeri ini berdiri. Adakah aku yang peka membaca ekspresi itu? Bahkan berceritapun sering tak kudengarkan.

Apalah arti lebah yang mencari madu di timur dan kembali ke sarangnya di barat? Untuk apalah anak seekor penyu tertatik-tatih kembali ke ibunya di darat setelah dilepas ke lautan yang dalam? Ibu yang telah merawat dan membesarkan anaknya pasti ingin anaknya kembali, jikapun Ibu rela melepas, pantaskah seorang anak tak sedikitpun menengok dan memberi sapa?

Hari ulang tahun identik dengan hari bahagia. Hari di mana banyak orang mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan selama usianya. Hari bersyukur di mana ia masih diberikan kesempatan untuk hidup. Hari ulang tahun pun menjadi hari bercermin dan hari peringatan bahwa tidak ada yang tahu kapan seorang manusia akan dijemput; cermin untuk melihat sudah berapa banyak yang manusia lakukan untuk bekalnya melewati jembatan tipis rambut terbelah tujuh.

Negeri kecilku kini menginjak usia 14. Seonggok tanah di atas lautan ini tak bisa berdiri di depan cermin. Ia tidak punya tangan dan kaki untuk memperbaiki dirinya sendiri. Tapi dikala ia tak bisa melakukannya, seonggok tanah ini tetap percaya. Ketika usianya bertambah, aku-aku di dalamnya lah yang akan berjalan mencari cermin, berkaca dan bertanya, sudah berapa banyak yang aku lakukan untuk negeri kecilku? ***rsn

Selamat ulang tahun ke 14 untuk Provinsi Banten. Semoga anak-anakmu membuatmu maju.