Rabu, 23 Desember 2015

Yes, Expectation Does Kill You.

Terkadang sulit menyampaikan sesuatu lewat bicara, so please allow me to ‘wording’ my thoughts.

Saya ingin berdiskusi tentang sebuah seni menerima.

People say ‘its not a sword that kill you, expectation does’.

I couldnt agree more. Expectation does kill you. Saya pernah membaca suatu ilmu psikologi terkait Expectation Violation yang intinya bahwa ada tiga hal yang akan terjadi ketika kita berekspektasi akan sesuatu. Realita akan ada di atas ekspektasi, di bawah, atau sesuai dengan ekspektasi. Reality vs Expectation, things that we always learn from 9gag lol. Reality sometimes violate our expectation. Im talking about positive expectation, suatu harapan yang ingin kita dapatkan. Ketika realita sesuai dengan ekspektasi, senyum kitapun mekar; ketika realita di atas ekpektasi, senyum mekar dan matapun berbinar; ketika realita di bawah ekspektasi kita pun tersenyum hambar dan menghindar. Ini menjadi salah satu alasan ketika kita melihat bahwa tak sedikit orang yang mudah memulai namun mudah juga untuk berhenti. See, it kills you. Ibarat antibiotik, ekspektasi itu sifatnya bakterisid, membunuh tanpa harus ada antibodi yang membantu, ah naon maksa, efek belum bisa move on dari uas #lah.

Expectation is violated often when we know weaknesses that we never thought it existed. O my god, weaknesses is the culprit. When expectation is violated, -saya berbicara mengenai suatu realita di bawah ekspektasi- we actually have two options, classical options but people sometimes forget about this. Mengubah atau menghindar. Letting ourself achieve our expectation or letting expectation kills us. Tentunya setiap orang berharap untuk bisa membiarkan dirinya mencapai ekspektasi. Menurut saya di sinilah kita harus belajar mengenai seni menerima. Seni menerima itu adalah dengan mengubah. Bukan dengan mencaci maki atau menghindari, bukan dengan tuding sana-sini atau menanam rasa benci, melainkan dengan klarifikasi dan menciptakan sebuah revolusi.

Ada masa ketika alis kita terangkat dan dahi kita mengkerut ketika mengetahui sifat asli teman kita. Well, weve been expecting our friends are diligent, above average, cool, wise, etc. Setelah kita mengenalnya lebih dalam, nah loh, banyak sekali kekurangan pada dirinya. Are you gonna blame them? Yah bisa jadi orang pacaran yang putus atau orang menikah yang bercerai karena tak bisa menerima kekurangan pasangannya.

‘Ah. Makanya jadi diri sendiri saja. Tak usah lah pencitraan, jaga image, self-branding, sok-sok menawarkan keadaan ideal, topeng, errgghh.’ Buat saya, menjadi diri sendiri bukan dengan mengelupas kulit sendiri, tanpa sadar memamerkan kekurangan demi kekurangan. Menjadi diri sendiri adalah dengan bersifat adil, menempatkan diri kita sesuai pada tempatnya, and its definitely different with being hypocrite. Klarifikasi dahulu sebelum kita berani menjudge orang lain. Jika memang orang itu salah, terimalah ia dengan membimbingnya menjadi lebih baik. Susah ya? Ya memang susah tapi bukan berarti tak bisa :’)

Masalahnya adalah pada diri kita yang terkadang sulit menerima kekurangan orang lain, hal yang sama ketika kita sulit menerima kekurangan suatu organisasi. We keep questioning, kenapa di setiap osjur ini kakak-kakak menawarkan keadaan ideal namun memberikan kami realita yang jauh dari ekspektasi. Itu mimpi kami dek, mimpi kami yang kami titipkan pada kalian. Klarifikasi terlebih dahulu sebelum kita memutuskan akan lari dari kenyataan. Klarifikasikan segala hal, mengapa hal ini terjadi? Mengapa hal itu terjadi? Setelah kita klarifikasi, terima lah. Terima apapun klarifikasi itu dan mainkan seninya. Menerima dengan membiarkan atau menerima dengan mengubahnya ke arah yang lebih baik. Terima kekurangan itu sebagai bahan refleksi dan evaluasi. Then run, run as far as you can, bukan berlari sendiri dan mencari hal lain yang sesuai dengan ekspektasi, namun berlarilah bersama kekurangan itu, let the weakness see the finish line you want, let the weakness learn from that.

Berdamailah dengan ekspektasi. Dont let it kills you and please never attempt to kill back. When we try to kill back, itu artinya kita pasrah dengan keadaan. Make peace and better change will emerge.

Aanndd, when expectation is about to kill us, ingatlah bahwa semua yang kita punya, semua yang kita lalui ini adalah titipan Tuhan yang akan dhisab di akhirat. If we choose tu run away, just think what would happen. Ah ya, hari ini maulid nabi. Jadikan juga hari maulid nabi ini sebagai ajang refleksi kita, untuk mencontoh role model terbaik dunia yang jiwa amanahnya tidak akan pernah tertandingi. Yuk shalawat.

One more thing, hati-hati juga ketika realita berada di atas ekspektasi kita, rasa puas yang berlebihan bisa saja membuat kita berhenti atau membelokan niat baik kita :) wallahualam.

#selfreminder






Jumat, 20 November 2015

Rekam Medis

Hari Minggu selalu identik dengan langit yang cerah. Langit yang biru terang, awannya putih menggumpal indah, setidaknya bagi Resa. Walau kenyataannya mendung menyergap, hari Minggu akan tetap terang di mata Resa.

Ayah sedang bercengkerama mesra dengan Ibu. Rupanya pemandangan itulah yang membuat mendung seolah cerah, panas seolah sejuk, dan lelah hilang diterpa semilir angin ramah. Itu adalah pemandangan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Bagi Resa, ke dua orang tuanya adalah berlian yang tidak bisa dibeli bahkan dengan jutaan dirham atau ratusan kerang berisi mutiara. Hari Minggu akan selalu menjadi hari favorit Resa di mana Ayah sejenak melepas jas putih dokter miliknya dan Ibu sejenak menyempatkan waktunya bersama Resa.

Resa menangkap mata Ayah yang berpapasan dengannya, seraya tersenyum dan mengangguk bijak, Ayah berkata, “Resa kemari, Ayah dan Ibu punya sesuatu untukmu”.

Ayah selalu tahu apa yang dibutuhkan oleh anak semata wayangnya. Sebuah laptop baru. Sudah lama Resa menginginkan laptop baru karena laptop lamanya yang sudah sulit untuk diajak kerja sama. Tak berani bilang karena takut merepotkan, alih-alih Ayah memberikannya laptop lengkap dengan harddisk eksternal 1 terabyte. “Pokoknya, kamu harus selalu save skripsi kamu ya nak, kalau perlu tiap kali kamu mengetik satu huruf, langsung pindahkan di harddisk ini, dan harddisk ini tidak akan kehabisan memori walau skripsimu jutaan halaman, hahaha. Uhuk..uhuk..”. Tawa serak Ayah bercampur dengan batuknya mengisi ruang tengah keluarga kecil ini, Resa pun tersenyum dan memeluk Ayahnya. Rambut putih Ayah bergesekan dengan rambut hitam legam Resa saat ia memeluknya. Walau hanya sepermili detik warna rambut itu terlihat jelas di mata Resa, Resa tidak akan pernah lupa saat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, rasa khawatir yang tidak bisa ia deskripsikan. Tidak terasa waktu begitu cepat, Ayah sudah tak lagi muda. Kacamata dengan rantai menjulur hingga belakang telinga dengan lensa yang sangat tebal, guratan-guratan wajah yang terlihat jelas tanpa harus melihat ayah tersenyum sekalipun, dan getaran tangannya saat ia membalas pelukan Resa; walau kecil, ia bisa merasakannya, serta sikap linglung Ayah yang membuat Resa resah. Sifatnya yang ia bilang ia hanya pura-pura lupa.

Kesibukan Ayah berkeliling di pulau-pulau terpencil di Indonesia membuat Resa terkadang lupa untuk memerhatikan Ayah sedetail mungkin, yang penting Ayah pulang ke rumah dengan selamat, itu yang selalu menjadi perhatian Resa. Ia bisa melihat jas dokter yang selalu Ayah kenakan ke manapun, warna putihnya sudah bercampur dengan setianya matahari dan angin yang menemani Ayah kemanapun. Jas itu adalah saksi bisu perjuangan keras Ayah.

“Uhuk...uhuk..” Ayah kembali batuk.
“Dok, dokter jangan sakit. Masa dokter sakit. Hihi.” Resa tertawa kecil sambil bercanda menegur Ayahnya yang batuk. Candaan yang dibuat-buat untuk menutupi rasa cemasnya.
“Dokter juga manusia, bisa sakit. Tapi dokter ini beruntung punya anak calon farmasis, ayo beri dokter tua ini obat batuk yang mujarab. Hahaha.” Ayah tertawa lagi, Resa membalasnya dengan tawa gurih.

***

Hari ini mata kuliah Farmasi Klinik, mata kuliah yang paling Resa senangi. Mita, salah satu teman Resa menyapa Ka Ryan, dosen muda yang baru saja mendapat SK mengajar itu adalah dosen yang digandrungi mahasiswi-mahasiswi teman sekelas Resa.
“Halo Ka Ryan! Hari ini kita belajar apa?” Mita tersenyum bertanya, memamerkan gigi putihnya yang berjajar rapi. Ka Ryan mendongakan kepalanya yang sedari tadi fokus pada sebuah koran. Ia menjawab, “Pemantauan Terapi Obat Mita, kan ada di jadwal”. Mita hanya membalas singkat, “Iya cuma mau konfirmasi ka hehe”. Sebenarnya bukan itu alasan Mita menyapa Ka Ryan, ia hanya iseng, genit mengganggu ka Ryan di depan teman-temannya. “Genit pisan mit!” Resa mendorong pelan Mita, yang didorong nyengir.
“Hari ini kita akan belajar pemantauan terapi obat dengan metode SOAP, kalian akan membaca rekam medis pasien dari sebuah rumah sakit.” Ka Ryan memulai kelas.

Resa memandangi tumpukan dokumen di atas meja sebelah ka Ryan. Ia penasaran apa isi dari rekam medis. Lebih dari tiga tahun berkuliah di jurusan Farmasi Klinis bahkan sudah lebih dari 20 tahun dia menjadi seorang anak dokter bedah, belum pernah ia membuka satu lembar pun rekam medis. Ia menyadari bahwa rekam medis adalah dokumen rahasia rumah sakit yang hanya boleh digunakan atau dilihat pada kondisi tertentu saja, misalnya untuk penelitian atau belajar seperti saat ini. Resa dan teman-teman mulai membentuk lingkaran berkelompok, masing-masing kelompok diberikan satu buah rekam medis yang harus dianalisis kondisinya serta dibuat rencana pengobatan lanjutan. Resa perlahan membuka lembaran dokumen itu, sudah lama ia menanti saat-saat ini. Lembaran demi lembaran dibuka, dahinya mulai mengkerut, matanya mulai menyipit, berusaha keras membaca tulisan dokter yang seperti cacing-cacing kecil bergelimpangan di atas kertas. Ayah pernah bilang pada Resa bahwa pendidikan tidak meminta dokter menulis tak jelas, hanya saja entah kenapa dokter masih saja melakukan itu.

Resa tiba-tiba ingat cerita Ibu ketika ia jatuh cinta pada Ayah. Saat itu mereka berbeda universitas dan dipertemukan pada sebuah forum; forum itu membuat mereka tak sengaja bertemu lagi dalam satu kepanitiaan. Ketika itu Ayah menuliskan pesannya dalam suatu kertas yang diserahkan pada Ibu, tulisan kebutuhan-kebutuhan yang harus dibeli oleh Ibu di warung sebelah masjid karena Ayah harus buru-buru mengisi acara menjadi seorang pembicara forum. Kebutuhan yang akan digunakan dalam simulasi games acara hari itu. Resa sungguh ingat ketika itu ibu bercerita sambil mukanya memerah karena tawa, secarik kertas saat itu yang ibu terima adalah format resep dengan tulisan Rx, ibu tahu betul tanda itu adalah simbol resep walaupun ibu bukan mahasiswi kesehatan. Tulisan di atas kertas itu benar saja seperti lambang integral dari berbagai arah, ibu hanya tersenyum dan berusaha sesabar mungkin menelusuri huruf demi huruf yang ada. Resa ikut tersenyum, ia selalu senang membayangkan wajah ibu ketika bercerita hal sederhana itu. Ibu bilang, Ayah dulu memang hobi mengerjai ibu dan ibu bilang kepada Resa bahwa di samping bijak dan baiknya Ayah, sisi humoris Ayahlah yang membuat ibu jatuh cinta.

“Heh Res! Udah selesai belum isi kolom subjektif-objektifnya, aku mau kerjain yang kolom assessment nih.” Mita membuyarkan lamunan indah Resa.
“Eh sori, hehehe belum Mit, give me another 10 minutes yak!” Resa nyengir kuda, sementara Mita sedikit kesal karena kerjaan temannya yang lama.
Resa kembali fokus pada rekam medisnya. Ia perlahan memindahkan identitas pasien, data anamnesa, diagnosis, dan hasil lab pada lembar jawaban. Selesai menuliskannya, Resa membaca kembali apa yang telah ia tulis. Resa terdiam. Matanya perlahan bolak-balik membaca ulang lembar jawaban, kemudian matanya berpindah pada rekam medis dan menemukan kolom berisi status kepulangan. Resa menarik nafas dalam dan menghembuskannya panjang. Kepalanya ia dongakan berusaha membendung air mata agar tidak jatuh. Tangannya mengepal pegangan kursi berusaha untuk menguatkan diri. Perlahan ia kembalikan posisi kepalanya seperti semula.
“Innalillahi...” Resa bergumam pelan.
“Ada apa Res?” Ima teman satu kelompoknya bertanya.
“Pasiennya meninggal” Ucap Resa pelan, semua pun terdiam untuk beberapa detik. Tiba-tiba Mita angkat bicara.
“Kita doakan saja Res, ini kali pertama kita membuka sebuah rekam medis, lama-lama kita akan terbiasa dengan ini, apalagi nanti ketika benar-benar kerja di rumah sakit. Semoga ini menjadi salah satu pengingat kita akan mati, pengingat kita untuk selalu bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan kita nikmat sehat.”
Ima menimpali,
“Sepakat. Semoga pula, rekam medis ini akan selalu mengingatkan kita untuk terus belajar menjadi apoteker kompeten. Apoteker yang siap mendesign perencanaan pengobatan yang tepat untuk pasien.” Suasana diskusi itu jadi semakin haru bercampur segan karena Resa tidak pernah melihat temannya bicara serius seperti itu.
“Cieee pada mendadak bijak!” Lea yang sedari tadi diam tiba-tiba bersuara, mencoba mencairkan suasana.
“Hahaha Lea, iya Le kadang baper itu dibutuhkan untuk hal-hal seperti ini. Supaya kita bisa menjadi manusia yang lebih bijak.” Resa tersenyum ke arah Lea. Tentu saja Lea sepakat.

***

Resa paling senang ketika ia membayangkan kisah Ayahnya. Ayah menikahi Ibu setelah Ayah selesai koas dan berangkat internship ke Papua dalam keadaan ibu sedang hamil Resa. Satu tahun ibu hidup dalam kekhawatiran; menanti Ayah yang menghubungi Ibu dan menyampaikan pesan bahwa ia baik-baik saja. Dulu internet bukanlah barang lumrah, Ayah harus pergi puluhan km menuju kota menumpang truk yang tak sengaja lewat, hanya untuk mengakses telepon umum dan menelepon ibu. “Aku baik-baik saja”. Empat kata itu, hanya empat kata itu yang selalu ibu nantikan. Selain empat kata rutin itu setiap bulan, ibu bilang Ayah selalu menanyakan keadaan Resa, Ayah selalu meminta ibu untuk menyimpan gagang telepon di perutnya kemudian Ayah melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ayah pun bercerita bagaimana kehidupan orang-orang di pedalaman Papua, betapa sulitnya mengakses air bersih, betapa Ayah takut membantu ibu-ibu desa melahirkan untuk pertama kalinya, betapa Ayah menahan sekuat tenaga untuk tetap tenang dikala ia melakukan operasi dengan alat seadanya, dan betapa ia ingin menjerit kencang ketika ia mendapati pasien yang dioperasinya meninggal dunia. Di akhir telepon, ibu bilang pada Resa bahwa Ayah selalu menitipkan pesan pada Resa di dalam janin, “Kelak, anak Ayah harus punya rasa empati yang besar, peduli pada sesama, dan selalu menolong karena Allah”. Resa sungguh tahu hati mulia Ayahnya, hati bersihnya lah yang menggerakan Ayah untuk tetap berkeliling ke seluruh pelosok Indonesia mengabdikan diri sebagai dokter tak dibayar. Ketika itu usia Resa 5 tahun, bermodalkan doa dan tekad, Ayah sangat berharap ibu mau membantu merajutkan mimpi Ayah yang belum selesai.

“Sejatinya, setegak apapun seorang istri berdiri sendiri, ia butuh sandaran suaminya; sekuat apapun dan sehebat apapun seorang ibu membimbing anaknya, seorang anak tetap membutuhkan kasih Ayahnya. Mau apapun mimpimu, tujuan kita tetaplah sama, surga yang tak ada tandingannya. Maka pilihanku hanya dua, membantu merajutkan mimpimu atau aku memaksamu untuk membuat rajutan baru.” Ibu menanggapi Ayah setelah Ayah pelan-pelan menyampaikan maksudnya yang ingin tinggal di desa-desa, mengabdi sebagai seorang dokter. Belum sempat Ayah membuka mulutnya, ibu melanjutkan kata-katanya.
“Seorang istri mempunyai kewajiban untuk menuruti suaminya, membuat suaminya senang dan memuaskan keinginannya karena Allah. Lebih dari itu, Allah mau hambaNya saling tolong-menolong, memberikan manfaat niscaya kita mendapat syafaat. Aku harus menolak merajut mimpimu dengan warna yang sama, namun izinkan aku merajut mimpimu dengan warna berbeda karena warna itu akan datang bukan hanya dariku, namun juga dari anakmu.”
Ayah seketika memeluk Ibu erat. Ia menangis terharu.


Sejak saat itulah, hidup Resa berubah. Resa menjadi seorang anak yang tumbuh dengan masyarakat. Selama 5 tahun ia diwadahi dengan berbagai macam wahana indah. Air bersih, kamar berAC, tempat bermain, semuanya berganti dalam sekejap. Resa harus terbiasa menunggu air kali yang disaring ibu dengan saringan manual, Resa harus terbiasa duduk mengampar di tanah mendengarkan guru sekolah Resa membacakan pelajaran. Dirinya sering protes dan mengamuk memohon Ayah dan Ibu untuk kembali ke kota, namun Ayah tak pernah mengizinkan. Ia justru membuat Resa makin susah dengan memintanya mencuci baju sendiri, memasak makanan, dan mengajarkan teman-temannya berhitung dan menulis. Dengan kesabaran orang tuanya, Resa perlahan hidup menjadi seorang anak desa yang mandiri dan penuh empati. Desa dengan sanitasi rendah dan masyarakat yang tidak sadar akan kesehatan pun berubah karena keluarga kecil ini. Ayah lah yang paling pandai menyulap desa demi desa menjadi wahana yang asik dan sehat. Ayah dengan bisnis apotek bekerja sama dengan seorang apoteker pun telah menghasilkan banyak uang. Keuntungannya mereka gunakan untuk membangun berbagai desa yang dijejaki bergantian selama bertahun-tahun. Resa tak peduli harus berapa kali ia pindah sekolah, harus berapa kali ia mengurusi administrasi melobi sekolah formal menerima dirinya yang lulus dari sekolah informal, Resa tumbuh dengan didikan orang tua yang luar biasa. Orang tua yang akan selalu menjadi mata dan hati Resa.

“Rekam jejakmu ditulis oleh malaikat. Di kanan kirimu akan selalu ada malaikat yang mengawasi.” Ayah kala itu dengan mata tegasnya memarahi Resa yang ketahuan mencuri rekam medis. Saat itu usia Resa 10 tahun.
“Maaf, Yah.” Resa menundukkan kepala. Air matanya pelan-pelan mengalir.
“Dokumen ini rahasia. Ini memang bukan catatan keburukan yang ditulis malaikat Atid untuk dilaporkan pada yang berhak. Tapi kamu akan tahu apa itu kode etik. Kelak kamu mengerti mengapa Ayah melarang kamu membuka dokumen ini, sekalipun kamu anak Ayah.”
“Maaf, Yah.”
“Ini rekam medis, suatu catatan perjalanan pasien yang dirawat. Perjalanan menuju sehat. Dokter, perawat, apoteker, dan semua tenaga kesehatan berkomunikasi lewat dokumen ini. Mereka semua berusaha semampu mereka menolong pasien dengan tugasnya masing-masing, saling memberi tahu tenaga kesehatan mengenai kondisi pasien dan rencana ke depannya untuk menolong pasien. Kamu belum berhak tahu apa isinya.” Ayah memang selalu tahu bahwa yang Resa inginkan hanyalah penjelasan, penjelasan mengenai apa dokumen itu. Dokumen yang selalu membawa tanda tanya Resa, sayangnya Ayah akhir-akhir ini sibuk untuk membantu menghilangkan tanda tanya itu.
Ayah tersenyum. Ia mencium dahi Resa.
“Ayah maafkan, sayang. Kamu mau tahu isinya apa? Ayah tantang kamu buat jadi dokter atau apoteker atau perawat atau tenaga kesehatan lain! Gimana?” Ayah tersenyum menantang.
“Resa kan memang mau jadi kaya Ayah, Resa mau bangun desa juga, Resa mau nulis-nulis di rekam medis, menolong pasien!” Resa berteriak sambil sesenggukan menangis.
“Ayah tunggu.” Ayah tersenyum bijak.

Tibalah masa di mana Resa merantau untuk kuliah, Resa harus menetap di satu kota, memaksa diri mau tak mau melepas orang tuanya berkelana; hingga saat ini menginjak tahun ke empat. Selama tiga tahun lebih, setiap hari Minggu, Ayah dan Ibu mengunjungi Resa di tempat rantaunya. Hari Minggu yang selalu menjadi hari favorit Resa, melihat kedua orang tuanya datang walaupun hanya satu hari. Ayah selalu memberi salam terbaiknya pada Resa, memberikan apresiasi tertinggi bagi Resa yang telah bekerja keras demi mencapai cita-citanya menjadi seorang apoteker handal. Salam tegas yang disampaikan Ayah sambil berdiri tegak dengan sikap hormat layaknya hormat pada pejabat.“Selamat pagi calon farmasis sukses!” Begitu lah yang selalu dilontarkan Ayah tiap kali Resa membuka pintu depan rumah menyambut orang tuanya datang.

Tahun pun berganti, rambut Ayah semakin putih, wajahnya pucat dan sering melamun, seringkali tangannya menggerak-gerakan mainan di depannya yang disediakan oleh ibu. Ternyata bukan batuk Ayah yang harus dikhawatirkan, bukan pula tangan-tangan kaku dan gemetar, tapi candaan-candaan Ayah yang pura-pura lupa. Sudah 4 bulan Ayah divonis Alzhaimer. Tentu Ayah sudah tak mampu bekerja berkeliling, kini ia menetap bersama Ibu dan Resa. Resa kini bekerja sebagai seorang apoteker di suatu rumah sakit sambil merawat Ayahnya. Ia tak mungkin meninggalkan ibu sendiri merawat Ayah. Rajutan mimpinya untuk sementara harus ditunda menyisakan benang-benang menggantung di atas meja rajut.

Hari ini Ayah bermain bola bersamaku. Aku belikan beliau sebuah bola besar untuk dimainkan, melatih otak Ayah. Ayah perlahan sudah bisa tersenyum walau aku tak yakin Ayah tersenyum padaku. Tak apa, yang penting aku tahu Ayah masih bersamaku. Sebuah catatan dituliskan Resa dalam sebuah map besar berisi kertas-kertas bergaris. Resa menyerahkan map itu pada ibunya.
“Bu tulis di sini, tuliskan apa saja yang ibu lakukan bersama Ayah hari ini.” Resa memohon.
“Ini apa sayang?’ Ibu bertanya heran.
“Ini rekam medis bu, sebuah catatan perjalanan Ayah. Segala kegiatan yang aku dan ibu lakukan untuk kesehatan dan kebahagiaan Ayah. Sebuah dokumen perencanaan agar Ayah tetap sehat. Resa bisa kok bu rawat Ayah, Resa bisa. Ayah pasti sembuh.” Resa tak kuasa menahan air matanya. Tetesan itu jatuh, ibu memeluk Resa.

***

Sebuah catatan perjalanan para pasien yang disimpan rapat dan rahasia itu ada di dalam sebuah ruangan rekam medis. Resa memerhatikan lamat-lamat ruangan itu, ruangan tepat di depan ruang konselingnya. Ingatannya berputar kembali pada kejadian di mana Ayah memarahi Resa karena mencuri rekam medis, ia teringat ketika Ayah menantangnya untuk berbuat sepertinya, ia teringat saat pertama kali ia membuka lembaran rekam medis. Ingatan itu jelas, tak bias.
“Kring...kring...”
Telepon itu keras berbunyi menganggu berbagai ratusan saraf Resa untuk bekerja mengembalikan Resa pada alam sadarnya. Ia menelan ludah. Telepon itu dari Ibu. Dahulu telepon Ibu selalu ditunggu-tunggu, namun akhir-akhir ini Resa selalu takut melihat nama Ibu ada di layar handphonennya.
“Halo...” Suara Resa seperti tercekat di tenggorokan, urung keluar. Air matanya tak perlu meminta izin lagi untuk keluar, bahkan sebelum suara di seberang sana membalas. Suara ambulans yang terdengar dari telepon sudah cukup menjadi alasan air mata itu mengalir; tak perlu air mata itu dianggap tak tahu diri. Suara ambulans itu semakin dekat dengan telinga Resa. Resa tetap menunggu jawaban Ibu.
“Ayahmu pingsan,” Cukup dua kata itu, Resa merasa gaya gravitasi sudah tak mengikuti teori.

***

Dulu Resa pernah bilang pada Ayah bahwa ia ingin menjadi seperti Ayah. Ia ingin menulis di rekam medis untuk menolong orang sakit, merencanakan pengobatan terbaik untuk para pasien; berkomunikasi dengan baik dengan tenaga kesehatan lain. Kini ia benar-benar melakukan itu, untuk Ayahnya sendiri. Sebuah perencanaan yang ia rencanakan dengan sungguh-sungguh. Namun Tuhan tetaplah perencana terbaik yang pernah ada. Resa menyerahkan segala sisa usahanya pada Yang Kuasa.
Di balik segala usaha dan air matanya, Resa selalu bersyukur memiliki seorang Ayah hebat seperti Ayahnya.
Hari ini aku di samping Ayah
Aku hampir tak mendengar detak jantungnya
Jantung itu sepertinya sudah payah
Hai Ayah,
Terima kasih selama ini ini kau tidak pernah mengajakku berkenalan dengan lelah
Terima kasih telah mengajariku mengerti makna ikhlas
Terima kasih telah menuntunku untuk bekerja tulus dan tuntas
Terima kasih telah menjadi pendamping ibu yang baik dalam mendidikku
Aku bersyukur memilikimu



Sudah 2 minggu Ayah dirawat. Rekam medis itu penuh dengan kolom-kolom baru. Keadaan Ayah fluktuatif, kadang membaik, kadang memburuk. Hingga hari ini adalah masa kritis Ayah. Rekam medis Ayah akan selalu menjadi saksi kerja keras anaknya. Rekam perencanaan yang dibuat dengan harapan, rekam yang menyisakan jejak-jejak doa, hingga hari ini datang. Hari ini seolah memberi tahu Resa bahwa benang-benang rajutannya yang menggantung mungkin sudah saatnya dirajut kembali. Tentunya, untuk Ayah.

***Hindun Risni
Farmasi Klinik dan Komunitas ITB 2012
Selamat hari Ayah untuk seluruh Ayah hebat yang ada di dunia!

Selasa, 27 Oktober 2015

Untuk Ummi #2

Sudah lama aku tak membuat puisi
Terakhir kali ternyata untuk Ummi,
Saat itu dua puluh dua Desember

Hari ini dua puluh tujuh Oktober

Sudah setengah abad lebih tanganmu membelaiku halus
Masih halus tangan itu di kepalaku
Walau sudah kurasakan getaran tangan yang kau coba sembunyikan
Sudah setengah abad lebih senyum dan tawamu yang bijak
Masih bijak raut wajahmu
Walau sudah kulihat keriputmu
Guratan wajah kerja keras dan sabarmu

Hari ini dua puluh tujuh Oktober 2015,
Dikala hingga detik ini mungkin maafku bisa dihitung
Maafmu entah sudah berapa kali kugantung
Maafmu karena belum memberikan yang terbaik untukku
Maafmu karena merasa belum membantuku
Sungguh,
Seharusnya maaf itu keluar dari mulutku
Bukan darimu

Seperti tiba-tiba saja usiamu berganti lagi
Sudikah Ummi memaklumi
Diri ini yang belum banyak memberi
Dan menjadi yang berbakti?
Sudikah Ummi memaklumi
Diri ini yang masih belum bisa berdiri sendiri
Dikala usiamu semakin dekat
Untuk menjadi tanggung jawab anak-anakmu

Setidaknya,
Izinkan aku menyampaikan sebuah doa pada Tuhan
Untuk selalu memberimu keberkahan dan kesehatan

Berikan aku waktu, untuk terus memperbaiki diri
Menjadi seorang anak yang engkau cari


Selayang pesan elektronik itu masih selalu ada setiap pagi
Siang dan malam hari
Pesan itu masih terus mengalir tak berhenti
“Jangan lupa berdzikir kepada Illahi”
Begitu kata Ummi
Dan pesan itulah yang akan terus kucari
Setiap hari
Barakallah, Ummi.


Untuk Ummi #1
http://risnizen.blogspot.co.id/2014/12/untuk-ummi.html

Selasa, 13 Oktober 2015

Apoteker tuh yang ada di apotek?

Saya lupa apa yang ada di pikiran saya sebelum jadi anak farmasi tentang persepsi seorang apoteker itu seperti apa. It is because I didnt care at all; baru kepikiran masuk jurusan farmasi aja di kelas 12, tidak pernah sebelumnya mencari-cari apa kerjaan seorang apoteker (duh, adek2 SMA, jangan dicontoh ya). Pilihan teman-teman SF ITB itu sepertinya tipikal, kalau ga pilihan pertamanya kedokteran (terus yang greget pgn masuk, akhirnya mengulang SBMPTN utk masuk FK) jadi cari yang menurut mereka agak berdekatan (is it?), atau masuk farmasi karena suka biologi tapi gamau jadi dokter, atau ada juga yang suka kimia, atau ada juga yang iseng-iseng, tapi ada juga yang sepertinya passion sekali di farmasi (yang pasti ini bukan gue) well. Tebak saya yang mana?? Ga peduli juga sih jen...

Dengan berbagai alasan pemilihan jurusan farmasi, secara kasat mata saya belum menemukan orang yang memang benar-benar paham tugas seorang apoteker, kecuali orang tuanya yang memang apoteker atau bergerak di bidang kesehatan, maybe. Saya sejujurnya merasa ga cerdas (dont call me stupid) kenapa juga saya pilih farmasi tanpa pikir panjang, di ITB lagi yang jelas-jelas farmasinya sudah dijuruskan. Saya ingat sekali ketika SMA melihat buku pengenalan jurusan ITB, saya membaca ada yang namanya STF (Sains dan Teknologi Farmasi) dan FKK (Farmasi Klinik dan Komunitas). Saya cuma baca sekilas, gada usaha tanya alumni SMA yang di farmasi ITB, terus tiba-tiba saya daftar. Thats why I feel not smart enough, pilih jurusan karena direkomendasikan seseorang bahwa “farmasi itu seru” plus sedikit kesukaan saya dengan biologi dan kimia, terus daftar weh kaya pasang togel. *efek pasrah ingin di jurusan sosial tapi malas belajar karena udah telanjur di jurusan IPA, again, jangan dicontoh*.

Maaf kebanyakan prolog, nyambi curhat ga dosa lah...

Terus apa maksud saya menulis blog dengan judul “Apoteker tuh yang ada di apotek?”
So two days ago, I had a conversation with a friend from another major,
“Ris, FKK atau STF yang harus ambil apoteker?”
“Dua-duanya boleh, tapi ga wajib”
“Oh, apoteker itu yang kerja di apotek kan? Kirain yang FKK aja”

Setelah mendengar pertanyaan dan pernyataan itu, saya jadi ingat tugas osjur di tingkat dua tentang wawancara apoteker yang di dalamnya terdapat pertanyaan mengenai persepsi masyarakat terhadap apoteker. Namun akhir-akhir ini saya lupa akan keadaan itu. Apalagi saya pikir anak ITB semuanya tahu kalo apoteker ga cuma kerja di apotek, ternyata anak teknik ga sekepo itu ya sama anak farmasi *loh #gagalpaham.

Anyway, saya bilang di awal bahwa I had no idea what pharmacist does sampai saya tingkat 2, bahkan pengetahuan saya kala itu ibaratnya baru menginjak halaman 2 dari sebuah novel dengan 1000 halaman. Baru setelah magang di tingkat 3, kunjungan rumah sakit, dan belajar matkul farmasi klinis, pengetahuan saya mengenai tugas seorang apoteker agak bertambah. Kenapa saya bilang agak? Karena saya percaya dengan pepatah “semakin banyak tahu, semakin banyak yang tidak kita tahu”. Nah loh, anak farmasinya aja ga begitu tahu tugasnya apa, apalagi yang bukan farmasi? So dont blame my friend who asked –a-somewhat-look like- a lame question.

Berkaca dari prolog saya, saya cukup yakin, tidak banyak calon mahasiswa yang benar-benar mencari tahu jurusan idamannya sampai mencari detail lahan kerja nanti. Misal, orang yang ingin kerja di perusahaan x, kadang hanya kepikiran karena memang itu perusahaan keren tapi dia tidak tahu ada bagian apa saja yang bisa ia duduki ketika nanti kerja. Baru kemudian di tingkat 3/4 mulai pusing mikir masa depan. So, I encourage you calon mahasiswa untuk benar-benar paham pilihan kamu.

Anyhow, maaf saya kebanyakan bacot :” inti dari tulisan ini adalah ingin memberi tahu apa sih sebenarnya tugas seorang apoteker? Siapa tahu informasi ini berguna untuk calon mahasiswa yang lagi galau pilih jurusan farmasi atau ngga dan sekaligus memberi tahu masyarakat yang tidak tahu menahu apa tugas apoteker; sekaligus pula memberi tahu realita apa yang terjadi. Pengetahuan saya mungkin belum seberapa, tapi ya...ini bisa jadi gambaran :D

Basically, ranah apoteker ini secara garis besar dibagi ke dalam ranah industri dan ranah klinis-komunitas (orientasi klinis di rumah sakit, orientasi komunitas di apotek). Sejujurnya, saya tidak banyak tahu apa kerjaan apoteker di industri selain kaitannya dengan managerial, QA QC, research and development, hm maaf karena saya sudah telanjur kebanyakan terpapar pengetahuan farmasi klinis&komunitas (selanjutnya saya cukup sebut klinis aja ya), izinkan saya untuk berbicara farmasi klinis saja hehehe daripada sok tahu :”

For your information, farmasi klinis di Indonesia belum begitu berkembang. Farmasi industri lah yang telah menduduki singgasana istana kefarmasian sejak manusia masih menulis di atas batu (oke lebay), jadi wajar ketika STF lebih banyak peminatnya daripada FKK ITB karena prospek kerjanya pun lebih menjanjikan. Setelah keluarnya PP No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, barulah isu farmasi klinis muncul ke permukaan. Organisasi profesi bersama dengan para aktivis farmasi Indonesia mulai berjibaku meningkatkan eksistensi farmasi klinis yang orientasinya adalah memberikan pelayanan optimal kepada pasien. Muncul proyek HPEQ DIKTI yang menekankan pada uji kompetensi, akreditasi, dan nilai kolaborasi interprofesi; wadah ini dimanfaatkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia dan APTFI (Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia) untuk memperbaiki sistem farmasi klinis di Indonesia. Kolaborasi dalam optimasi pelayanan klinis menjadi nilai fundamental untuk dijadikan pondasi penggadaian arogansi profesi. Isu peningkatan eksistensi apoteker kemudian digadang-gadang diiringi dengan perbaikan kurikulum farmasi serta adanya uji kompetensi apoteker indonesia sebagai salah satu cara pemerataan kompetensi. So, are pharmacists important in clinical workfield? Why then everyone trying to sell pharmacists? What pharmacist do? Seberapa pentingkah peran farmasi di dunia klinis sampai hak eksistensi dan kesejahteraannya harus diperjuangkan?

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.58, standar pelayanan farmasi klinik (this time, im speaking about hospital, not community) mencakup: (baca selengkapnya di http://sinforeg.litbang.depkes.go.id/upload/regulasi/PMK_No._58_ttg_Standar_Yanfar_RS_.pdf)
1. pengkajian dan pelayanan Resep
2. penelusuran riwayat penggunaan Obat
3. rekonsiliasi Obat
4. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
5. konseling
6. visite
7. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
9. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
10. dispensing sediaan steril; dan
11. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD);

Makhluk apa itu semua ya?
Well, poin di atas adalah hal ideal yang seharusnya dilakukan oleh seorang apoteker yang bekerja di rumah sakit. Pertama, pengkajian dan pelayanan resep. Sejujurnya saya belum tahu banget bagaimana seharusnya seorang apoteker memverifikasi resep dari dokter. Berdasarkan pengetahuan di kelas, bekal magang, dan kunjungan rumah sakit, dalam memverifikasi resep, apoteker akan melihat berdasarkan prinsip DRPs (Drug Related Problem) seperti, apakah dokter meresepkan obat sesuai penggunaannya? Jangan-jangan dokter kasi obat tertentu hanya karena tuntutan dari industri, padahal pasien ga sakit apa-apa? Apakah dokter memberikan dosis yang tepat? Apakah ada interaksi obat yang dapat membahayakan pasien? Apakah ada kemungkinan pasien ini gagal menebus obat karena diberi obat paten yang super mahal (so people, if you cant afford such a branded drug, yes you may ask your pharmacist to give you generic one! Dont be afraid of losing the efficacy, youll be fine)? Ketika saya belajar verifikasi resep di kampus, I needed like an hour to check the prescription, karena detail setiap obat harus diperhatikan. Namun pada kenyataannya, verifikasi resep tidak membutuhkan waktu barang 5 menit, hal ini bisa jadi karena apoteker yang sudah berpengalaman, apoteker yang percaya “dokter ga mungkin sebego itu” atau “dokter ga mungkin sejahat itu” atau “ah paling dokter kasi obat off label” atau “ah paling rekomendasi gue ditolak dokter” haha ya ga semua begitu lah yaa, saya yakin verifikasi resep yang cepat karena memang apoteker yang sudah berpengalaman. Amin. Selama saya magang, banyak kejadian yang ditunjukkan dan diceritakan oleh apoteker di sana terkait proses verifikasi resep, dan hal itu membuat saya cukup terkejut, seperti resep yang tidak rasional, pasien yang protes ini itu, apoteker pandai dan apoteker ga pandai, apoteker yang sering dimarahi dokter karena kebanyakan telepon minta konfirmasi, dll yang somehow membuat perasaan saya campur aduk antara takut dan ingin kerja di rumah sakit. Anyway, inti dari paragraf ini adalah bahwa peran apoteker dalam verifikasi resep sangat penting untuk menghindari DRPs yang saya bilang di atas tadi.

Poin 2 dan 3. Penelusuran riwayat penggunaan obat dan rekonsiliasi obat. Tidak semua apoteker di rumah sakit melakukan ini. Bahkan apoteker terakre internasional di jakarta sana, memberikan ranah rekonsiliasi obat pada dokter dengan alasan keterbatasan SDM apoteker. Rekonsiliasi obat itu apa? Jadi apoteker ini menanyakan obat apa saja yang sedang diminum atau dibawa pasien rawat inap yang baru masuk ruangan rawat, selanjutnya obat itu akan dianalisis apakah layak dikatakan obat, kemudian apakah akan dilanjutkan atau tidak oleh pasien. Sebenarnya kalau dilihat-lihat memang itu ranahnya apoteker, tapi kalau pikiran nakal saya mengatakan ya udah dokter aja sekalian...nanti datanya dikasi ke apoteker terus dikaji deh supaya menghemat waktu. Haha. (Its probably only a matter of technical thingy(?)). Tapi saya merasakan pentingnya poin ini, karena dengan mengetahui obat yang dibawa pasien, apoteker jadi siaga terhadap interaksi obat dan membantu pasien tidak perlu membeli obat lagi jika dia punya obat yang sama dengan yang diresepkan dokter.

Poin 4, 5, dan 6 terkait pemberian informasi obat, konseling dan visite. Pemberian informasi obat biasanya bersifat satu arah pada saat apoteker menyerahkan obat ke pasien. Konseling lebih dua arah dan detail. Kriteria pasiennya pun berbeda. Sementara visite merupakan kunjungan ke ruang rawat. Saya merasa semuanya penting, apalagi bagi pasien-pasien lansia, anak-anak, pasien dengan multiobat dan penggunaan obat khusus, serta pasien dengan kecacatan tertentu yang butuh perhatian khusus terkait pengobatan.

Poin selanjutnya, PTO, MESO, dan EPO. Poin yang paling saya soroti adalah penanganan efek samping obat. Ketika saya mengunjungi rumah sakit di Thailand, sistem pelaporan efek samping obat terlihat lebih rapi dari rumah sakit yang baru saja hari ini saya kunjungi. Kata dosen saya pun memang sistem dari negaranya sudah berbeda. Jadi, ketika terjadi reaksi obat merugikan yang dialami pasien, apoteker akan mengumpulkan data-data kejadian tersebut kemudian melaporkannya kepada Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) di rumah sakit. Apa yang dilakukan oleh PFT RS negara-negara lain adalah melaporkan kejadian tersebut pada badan obat pusat di negaranya (kalo di Indonesia BPOM), kemudian tiap rumah sakit di negara tersebut dapat mengakses database efek samping obat sehingga menjadi referensi dalam pemilihan terapi. Di Indonesia, data kejadian tersebut masih bersifat internal rumah sakit saja. But basically, peran apoteker tentunya penting dalam pengkajian efek samping obat ini. Apoteker dan dokter harus bersama-sama menganalisis apakah suatu kejadian merugikan pada pasien disebabkan karena obat yang dikonsumsinya atau bukan, jika iya apoteker harus mampu memberikan solusinya.

Selanjutnya adalah dispensing sediaan steril, yaitu menyiapkan obat-obat steril. Yah tentunya apoteker dibekali ilmu dispensing ini sehingga sudah sewajarnya apoteker yang melakukannya karena butuh keahlian khusus. Namun pada kenyataannya, dispensing ini masih dilakukan oleh Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) yang bukan apoteker (biasanya lulusan D3 Farmasi). Hm mungkin saya belum begitu paham urgensinya ketika memang TTK dibekali keterampilan ini, kenapa tidak mereka saja yang melakukan dispensing, tidak perlu apoteker seperti yang dicantumkan di Peraturan Menkes, mungkin ada pertimbangan yang saya belum tahu (?)

Poin terakhir saya kurang paham dan jarang dibahas juga sama apoteker-apoteker -.-

Yap. Itulah yang dilakukan oleh apoteker di rumah sakit. Rumah sakit masih menganggap pekerjaan farmasi klinis sangatlah banyak sehingga beberapa tugasnya kemudian masih dilakukan oleh TTK karena kekurangan SDM. Wait, kekurangan SDM? Teman-teman saya serempak terkejut dengan alasan itu karena kami sama-sama tahu bahwa lulusan farmasi bejubel jumlahnya di Indonesia tercinta ini. Kemudian kami berpikir, bisa jadi rumah sakit tidak mampu menemukan apoteker yang kriteria kompetensinya memenuhi apa yang mereka mau atau apakah rumah sakit tidak punya anggaran untuk merekrut apoteker baru atau rumah sakit masih merasa tugas apoteker dapat didelegasikan pada TTK yang cenderung digaji lebih rendah dari apoteker. Ini asumsi kok bro asumsi behehe. Yang pasti, setiap kali otak saya ini terpapar terkait isu farmasi klinis, saya selalu mengkaitkannya dengan kompetensi. Saya tidak mau bicara soal kesejahteraan dulu (apalagi untuk farmasi komunitas –apotek-), idealisme saya masih berkata bahwa yang terpenting sekarang adalah menyiapkan apoteker-apoteker kompeten sehingga peran apoteker memang benar-benar dibutuhkan (belajar yang bener Jen!). Selain itu, saya merasa database terkait kesehatan (seperti database MESO, peta kuman) di Indonesia kita tercinta ini mesti diperbaiki agar kita benar-benar tahu permasalahan kesehatan yang memang benar-benar membutuhkan keterlibatan apoteker yang mendalam. Ah, saya masih mahasiswa, saya saja tidak peduli soal prospek kerjaan makanya saya pilih FKK, ya toh saya ingin berhubungan dengan manusia as simple as that. Semoga idealisme ini tidak terkikis. Bytheway, kalau kata ka Tisa yang baru pulang S2 Farmasi Klinis di Inggris “UK has the same problem like Indonesia 20 years ago, where pharmacists weren’t exist yet” semoga farmasi klinis di Indonesia akan membaik tanpa harus menunggu 20 tahun lagi :’)

Okaay. I come to the end of my post. Quite boring? Sorry :”””””” maybe you could spread this to your little fella who are going to go to college or your friends who are interested at clinical pharmacy and they dont know yet what actually their roles are. Saya yakin masih ada hal yang tidak saya tahu terkait peran farmasi klinis, yah sambil jalan deh ya saya cari tahu~

I might talk about community pharmacist in my next post! Good night! Viva la pharmacie!

*ini bonus foto FKK 2012 setelah kuliah lapangan di rumah sakit hari ini, semoga kami jadi apoteker yang kompeten! amin* #jangandiabaikan

Selasa, 08 September 2015

They call it Debust, I call it Family #tsah

Banten-Bandung itu ga seberapa. You only need to go to bus station or travel pool and it only takes 3-4 hours to finally get to that special place of ours. Who is ours? Debust ITB. Sebuah unit kebudayaan yang dibentuk -if im not mistaken- di tahun 2010. Saya dengar berbagai hal terkait pendiriannya yang menyita tenaga, waktu dan pikiran. They had to do the strategies how to reach the minimum human resources that was needed, how to make a right AD/ART and stuffs, how to arrange the dances and all those beautiful Banten arts, yahh pokoknya bagaimana agar semua requirements dari LK bisa terpenuhi so Debust would be crowned as a college culture club. Terima kasih kakak-kakak :D

Iya, cuma 3-4 jam aja kok. Bukan Bandung-Sumatera yang beda pulau atau Bandung-Sulawesi yang akan menghabiskan banyak uang untuk tiket pesawat. We are not that “orang rantau banget” yang butuh suasana rantauannya at some points. Tapi kebersamaan bukan suatu hal yang harus dibentuk karena pautan jarak jauh kan? :)

Iya, Banten itu bahkan pecahan Jawa Barat loh. Budayanya ga akan beda jauh dg Bandung. The chance to get culture shock is probably just as small as a dot of mole in your face. Its not like everything outside Banten are our enemies. Tp kebersamaan tak melulu tercipta karena musuh bersama kan? Gathering is a nice word since people are meant to help each other.

The fact is, the people are there to help each other. Entah sudah berapa kali mulut, tangan, pikiran, dan semua anggota tubuh ini meminta bantuan teman-teman Debust. Dari Citra yang satu jurusan, Jarrah Iqbal yang beda jurusan, sampai Rahayu dan Maryam yang super sibuk, dan masih banyak lagi. Entah sudah berapa dari mereka yang selalu ada when I need them, even when I don’t need them! Ini lebih dari sekedar tebengan dini hari karena harus ke travel atau sejenisnya (thanks to the guys! :p), ini juga lebih dari minta tolong temani makan dan jalan hura-hura, tapi apa dong? Yaahhh all things that I justtt cant describe, sadar atau tidak, they give me much new and fresh spirit.

Debust itu rumah kami di Bandung, please tell me that I am true. A place to go home, am I right? Please again say yes. Duh I will not have you to read about kebersamaan dan semacamnya yang mungkin massa ITB apalagi, sudah muak karena dijejali pentingnya kebersamaan di osjur-osjur. Wait what? Yes I will make you to read such things because I am about to write them. Come on, I know repetitive sometimes annoy you, the essence kind of gone when you are forced to be into it like maybe thousand times. But I learn how to feel normative words. To respect repetitive words, routine advices, and a true-natural sentence.

Kebersamaan ya? Keluarga?

Layaknya sebuah keluarga kecil kita di rumah, mereka akan membimbing kita dan tidak mau kita berada di jalan yang salah. Why? Because they love us. They don’t want us trapped in malignancy. Kebersamaanlah yang akan melahirkan cinta itu. Cinta yang akan berbuah manis. Adakah cinta itu diciptakan untuk saling menghardik? Adakah Cinta itu diciptakan untuk membungkus harapan seseorang dan membuangnya jauh ke sungai? Seseorang yang mencintai kita akan membimbing kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. They motivate us, they remind us, they help us achieve the better us.

Well, so, Debust makes me a better person? I feel people there are trying to make me so, langsung maupun tidak langsung. Dari hal yang sangat jelas sampai yang tidak terlihat dan tidak terasa. Not every individual, though. But Debust has been a place in Bandung where I can meet many people who I can share a lot of stories, they will listen and will not dare to make me fall. True family motivates you in any way they think it might suit you.

Besides motivating you, a true family doesn’t want to lose you despite the distance apart. Let me quoted someone’s words “Belajar menghargai kebersamaan, sebelum merasa sakit saat kehilangan”. Hargailah setiap kebersamaan yang ada. Ketika saatnya perpisahan itu ada, memang akan sakit rasanya, tapi ketika dulu kita telah belajar menghargai kebersamaan itu, sakitnya merindu akan menjadi pahala karena doa yang terus mengalir dari kita dan teman kita. Titipan doa agar teman-teman kita tetap dilindungi olehNya. Then our friends will do the same for us. Menghargai kebersamaan adalah sebuah investasi doa dari sahabat-sahabat kita.

And yes, my pray definitely goes to you. Semangat adik-adik Debust. Katanya kalau sudah nyaman sebagai satu keluarga, segala hal akan nyaman dilakukan ya? Maafkan diri ini yang hilang-timbul, mungkinkah pada kenyataannya nyaman tak selalu menjadi alasan untuk terus di permukaan? Atau….ada satu hal yang membuat nyaman itu terganggu? :’) Ini PR kita. Let me know what I can do for you :’’ Sukses <3

Minggu, 23 Agustus 2015

dear (calon) mahasiswa tingkat akhir,

Dear teman2ku, (calon) mahasiswa tingkat akhir,

Senang ketika bertanya pada kalian "IPKmu berapa?", masih banyak dari kalian yang mau jawab (walaupun itu tidak saya rasakan di ITB, tp setidaknya di kampus lain). Saling memotivasi dan meluruskan niat utk menjadi seorang profesional yang kompeten. Saling mendukung satu sama lain bahwa di tingkat akhir adalah kesempatan lain untuk memperbaiki diri.

Senang rasanya ketika bicara skripsi, setiap dari kalian seperti tahu apa yang sedang kalian lakukan. I see you guys with that white lab coat covered with tremendous spirit. I see your fingers ready to burn on your laptop keyboard, the nerves are preparing to receive a signal from your very excellent brain.

Senang rasanya, ketika saya mengeluh takut, kalian hadir dengan senyum. Bahkan orang nomor satunya yang sering mengeluh salah jurusan turut memotivasi bukan dengan tepukan bahu atau pelukan hangat, tapi dengan berbagi rasa syukurnya yang masih diberi kesempatan utk duduk di bangku kuliah.

And ... I am more than happy ketika bertanya pada kalian "kapan rencana lulus?" Setiap dari kalian menjawab macam2 dengan anak kalimat yang super panjang. Anak kalimat itu adalah mimpi, mimpi2 yang dirajut bukan dengan benang termahal dunia, tp dengan tangan berurat penuh tekad. Mimpi untuk orang tua, untuk negeri, untuk agama, dan untuk hal baik lainnya. Mimpi yang bukan sekedar ada di dinding kamar atau selipan dompet, melainkan mimpi yang ada di lubuk hati.

Seorang teman yang merasa belum banyak berkontribusi untuk kampus, dengan gagahnya memutuskan lulus 5 tahun. Seorang teman yang merasa ingin mendidik adik2nya memutuskan lulus belakangan. Seseorang yang ingin cepat mengabdi pada profesinya berikrar untuk lulus secepatnya. Seorang teman yang bermimpi akan kelahiran mujahid mujahidah negeri, berjanji lulus cepat dan segera menikah. Seorang teman yang....ah you really know what youre doing.

Terima kasih sahabat2ku, you inspire me, you motivate me, you wake me up from asleep, you push me from a comfort zone, I owe you many things. Semoga niat kita untuk melangkahkan kaki dari kampus masing2 adalah untuk kebaikan. Semoga kita tersadar akan orang2 yang membutuhkan kita. My pray goes to us, wish we had a blast and a blessed senior year! :)

*duh masih harus ambil apoteker*

23 Agustus,
Menuju Bandung setelah menyempatkan pulang sedetik :3

Minggu, 02 Agustus 2015

Tuhan meminta....

Tuhan memang pandai membolak-balikkan hati manusia. Skenarionya begitu luar biasa menyulap hati riang menjadi gelisah, busur senyum terbalik seratus delapan puluh derajat, mata binar bahagia menjadi nanar karena pilu menyergap. Ah…begitu banyak yang patut disyukuri, begitu banyak yang patut ditelisik, apa dosa-dosaku selama ini?

Tuhan telah memintaku untuk sejenak melihat sekeliling. Lihatlah, ada banyak buku-buku yang masih kau hutangi janji untuk dibaca. Lihatlah anak-anak kecil itu berlarian meminta gendongan tanganmu dan sapa ramahmu, saudaramu sendiri. Perhatikan dengan seksama, air matamu yang terjatuh itu masih belum cukup, jauh masih belum cukup untuk membuktikan rasa cinta dan kasihmu kepada orang yang telah melahirkan dan merawatmu. Resapi janji-janjimu dulu.

Di saat bersamaan, Tuhan telah memintaku untuk beristirahat sejenak. Untuk tidak memerhatikan orang lain. Tuhan bilang, mainkan egomu karena kau berhak egois saat ini. Biarkan musuh-musuh itu datang. Nikmati tangan bebasmu yang membuka lembaran-lembaran buku; nikmati matamu yang akan fokus pada ayat-ayat Quran yang kau janjikan akan kau hafal; nikmati hati dan pikiranmu yang harus kau gadaikan pada orang-orang yang diam-diam merindukanmu. Resapi janji-janjimu dulu.

Hai alam. Kereta ini bergerak, bergerak dengn membawa tujuan, pun penumpangnya; termasuk diriku. Rasanya aku seperti memainkan sebuah peran di suatu film atau peran dalam sebuah novel. Seseoarang yang sedang menikmati kesendirian tanpa harus diganggu oleh kepentingan-kepentingan orang lain. Seseoarang yang sedang menikmati pemandangan negeri melalui kaca jendela. Seseorang yang sebentar-sebentar sibuk dengan novelnya, menghayati kata demi kata mencoba berkontemplasi lewat bacaan dan tulisan, bahkan lewat dentuman mesin dan tabrakan besi-besi kereta. Aku berharap kereta ini membawaku jauh dari kehidupan orang-orang egois, orang-orang yang hanya mementingkan kehidupan dirinya tanpa kehidupan orang lain, Padahal kenyataannya sekarang aku sedang mencoba untuk menikmati hidupku sendiri. Paradoks. Begitulah bagaimana suatu kontemplasi diciptakan, ku pikir begitu. Mencoba lari dari orang lain untuk memikirkan orang lain. Melalui kepasrahan diri akan segala alam ciptaanNya, melalui air mata di sepertiga malam yang jatuh di atas sajadah, termasuk melalui kesendirian di dalam kereta tanpa mau mengenal siapapun, tanpa mau menerima telepon dari manapun.

Entah ini buah rasa jenuh, atau memang Tuhan memintaku untuk jenuh pada pekerjaan dan memintaku fokus pada orang-orang yang membutuhkanku namun aku tak sadar. Jangan-jangan selama ini aku mengurusi orang-orang yang nyatanya tak secuilpun membutuhkanku. Entah tegurannya bulan ini memang memaksaku untuk jenuh atau rasa jenuh ini sebenarnya rasa bersalahku pd Tuhan? I cant even describe how it feels...

Ah…ternyata kereta yang membawa tujuan ini membawaku pada orang-orang berkepentingan yang padahal ingin aku jauhi sementara. Ternyata aku hanya diziinkan untuk berkontemplasi melalui dentuman kereta dan tulisan selama 7 jam saja, sisanya, aku diminta kembali bekerja.

Namun aku yakin, Tuhan tidak akan pernah bosan memintaku untuk menyendiri, berserah padaNya dan kembali menyadari…bahwa,

Tuhan memang pandai membolak-balikkan hati manusia. Skenarionya begitu luar biasa menyulap hati riang menjadi gelisah, busur senyum terbalik seratus delapan puluh derajat, mata binary bahagia menjadi nanar karena pilu menyergap. Ah…begitu banyak yang patut disyukuri, begitu banyak yang patut ditelisik, apa dosa-dosaku selama ini?

Di kereta,
Menuju Yogyakarta