I was just playing with my and my friends' pieces of love story. Sometimes what we laugh in a drama actually happen to us though we might not notice it. I notice some "apa deh" statements in this short story, but anyway, just want to cheer up many friends whose life never stop seeking their love one. Friends who always share their story about love and marriage, just put in mind, God is indeed the best planner ever. Cheers :p
Rindu menjadi saksi bisu yang menemaniku dalam waktu dan ruang yang kugunakan untuk mendamba cinta. Betapa rindu tahu seberapa aku berusaha menghargai cinta, mengistimewakannya, dan mendefinisikannya sebijak mungkin dengan perasaan dan logika. Hampa pun menjadi saksi lain yang menyaksikan tiap detik sengalan nafasku; ia menangkap setiap momen sunggingan senyum yang pudar dihapus perasaan. Namun ia terkadang menyerah melihat, meminta tenang untuk menghampiriku dan mengembalikan senyum itu.
Cinta dibicarakan di seluruh pelosok dunia, dari Negara adidaya sampai Negara miskin membicarakannya karena toh bicara cinta tak butuh biaya. Kampus bonafide sampai kampus yang baru berdiri diisi dengan mahasiswanya yang sibuk mengeluhkan cinta sejati karena mengeluh cinta selalu jadi topik remaja dari setiap kalangan. Betapa tingginya nama cinta, keagungannya membuat ia menjadi buah bibir manusia; termasuk di kampusku, Institut Teknologi Priangan, yang mayoritas diduduki kalangan pria.
“Bro, janganlah kau buat cabang begitu, kasihan mereka, diphpkan. Kalau kau suka dengan seorang wanita, fokuslah pada satu wanita itu. Tenang saja, walau ITP penghuninya pria semua, pria ganteng seperti kau pasti mudah mendapat hati wanita!” Carlos menghardik temannya yang sedang berjalan sambil memainkan jemarinya di layar hp.
“Carlos, I’m not what you’re thinking. Aku tidak buat cabang, cewek-ceweknya saja yang keGRan. Lah aku memang seperti ini orangnya, berusaha ramah ke setiap orang, tapi orang menganggapku TP-TP” Jujur Rangga tak bermaksud defensif.
Carlos mengangkat bahunya, ia memperhatikan layar hp temannya. Tiba-tiba ia menabrak seorang wanita berbaju biru laut yang sedang membawa banyak buku. Layaknya sinetron-sinetron bertema cinta pada pandangan pertama, Carlos tersentak dan segera memungut buku-buku yang berjatuhan namun kepalanya terbentur kepala sang wanita yang mencoba mengambil buku juga. Matanya bertemu mata wanita itu, Carlos seperti mendapat mantra cinta yang ia tahu bahwa ia tak akan pernah menemukan penawarnya. Carlos mengamati lama satu buku bertuliskan Unpri, “Universitas Priangan” yang ia sentuh.
“Maaf mas, permisi. Makasih.” Wanita itu buru-buru mengambil bukunya yang terjatuh. Ia pergi sambil memijit-mijit kepalanya yang sakit, meninggalkan Carlos yang terpaku melamun.
“Rangga… pendiri ITP ga salah pilih tempat dekat dengan kampus surga ya…” Carlos berkata dengan tatapan terpikau.
“For God’s sake, did you just…get that damn love at the first sight? Ah..too drama.”
Rangga pun ikut meninggalkan Carlos yang masih diam.
***
Oktober, 2012.
“Carikan aku jodoh calon dokter dong.” Entah sudah berapa kali Binar meminta Rian mencarikannya jodoh, Rian memang sudah pantas diberikan status akreditasi A dari massa ITP untuk urusan mencari jodoh.
“List teman anak kedokteran aku sudah habis, sudah aku ceritakan satu per satu orangnya seperti apa tapi tidak ada yang menurutmu cocok. Aku harus apa? Mengelilingi setiap rumah sakit dan menarik mahasiswa-mahasiswa koas untuk diwawancarai?” Rian ketus setengah berteriak.
“Ck! Ah Rian! Yasudah deh, kita buat janji yuk, kalau sampai usia 50 tahun kita belum dapat jodoh, kamu nikahin aku ya hahaha!” Binar mendorong-dorong Rian bercanda.
Aku tersenyum menyaksikan pemandangan itu, dua orang ini memang selalu membuat laboratorium tidak terkesan menegangkan, namun di saat yang sama pembicaraan itu selalu menyesakkan. Tema pembicaraan soal jodoh dan pernikahan akhir-akhir ini sudah seperti kacang yang dijual murah; tidak kalah ramai dengan pembicaraan topik skripsi. Ah skripsi. Mataku kembali fokus pada mencit-mencit yang sedang tersiksa di dalam tabung berisi gas karbondioksida. Aku memperhatikan mencit tersebut dengan seksama. Dahulu, aku menangis dibuatnya sampai aku sempat berpikir untuk mengganti topik. Tapi sekarang mendislock mencit saja sudah jadi kegiatanku tiap minggu. Waktu memang tidak pernah bohong dalam menjanjikan perubahan, perubahan baik yang akan muncul dengan indah jika kesabaran ada untuk memimpin suatu proses.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, aku melepaskan jas lab yang semakin hari warna putihnya berganti menjadi kecokelatan. Selamat malam aku sampaikan pada mencit-mencit, kemudian aku menutup pintu lab menyisakan gelap tersisa menghiasi mimpi binatang lucu itu.
***
Rindu tahu ketika aku mulai mendongakkan kepala. Sebisa mungkin rindu tidak lewat di depanku untuk menahan barang setetes air dari ujung mataku. Gagal. Rindu tak kuasa untuk tidak menembus benteng logikaku.
Laci merah marun aku tarik pelan menimbulkan suara berdenyit dari tabrakan besi-besi teroksidasi, rupanya oksigen masih mampu menyelinap di sela-sela laci yang sempat tertutup selama berbulan-bulan. Air mataku akhirnya terjatuh di atas figura retak berwarna biru tua, tepat terjatuh di foto kepalaku. Aku menangis, membuat rintik-rintik hujan di atas foto tiga orang remaja yang tersenyum gembira menampakkan rentetan gigi putihnya; raut wajah yang terlihat seperti tidak pernah tahu bahwa takdir tak diinginkan telah digariskan terhadap salah satu di antaranya. Dering telepon menghentikan menit-menit tangisku. Aku mengusap mata dan menarik nafas dalam-dalam.
“Aldila! Kamu di mana?”
“Oh, eh, iya aku sebentar lagi ke sana, kamu sudah keluar dari Bale Unpri?”
“Sudah daritadi…ya ampun aku nunggu kamu loh dari tadi.”
“Iya…iya…maaf Christin, aku bawa motor kok, 10 menit aku pasti sampai.”
Christin, salah seorang wanita yang ada di foto figura biru tua itu sedang merayakan kelulusannya. Aku terpaksa telat datang menghadiri wisudanya karena jadwal lab yang padat ditambah dengan rindu yang datang tanpa diundang. Dengan cepat aku raih rangkaian bunga berwarna biru muda serta selempang S.Ked yang jauh-jauh hari sudah sengaja kubuat untuk sahabat baikku. Christin berhasil menyelesaikan studi kedokteran selama 3,5 tahun dengan predikat cumlaude; belum lagi ditambah dengan prestasi Mapres tingkat nasional di tengah kesibukannya mengurus organisasi sana-sini. Wanita ini pun dianugerahi Tuhan dengan keramahan dan jiwa sosial yang tinggi, tidak salah ketika banyak pria yang mengantri menunggu momen yang tepat untuk memasangkan cincin emas di jari manis cantiknya. Namun Christin tak pernah menerima pria manapun, karena baginya, Yoshua tetap pria nomor satu di hatinya. Pria yang tidak pernah tahu bahwa Christin sangat menyukainya, sampai akhirnya Tuhan menempatkan Yoshua di langit tempatNya berada.
“Kalau saja Yoshua ada di sini bersama kita…”
Christin menitikkan air mata. Aku memeluknya erat dan membisikkan beberapa kalimat yang kuharap dapat menenangkan hatinya.
“Yuk foto bareng Yoshua,” Christin mengeluarkan selembar foto yang sama persis dengan foto di figura retak yang kuhujani air mata tadi. Tiga remaja yang menampakkan gigi ikut tertangkap kamera hp Christin.
***
Desember, 2011.
Cinta katanya buta. Aku mengamini hal itu karena cinta memang tak punya mata, pun otak, ia cenderung bersahabat dengan perasaan. Aku tak membicarakan soal cinta orang tua atau cinta Tuhan, ini cinta yang sering para remaja bicarakan. Seseorang akan terlihat luar biasa sempurna bagi orang yang mengidolakannya; hal buruk pada seseorang itu pun akan terlihat baik bagi si pencinta. Katanya, kalau cinta sudah mengambil alih semua ruang perasaan, sang pencinta akan berusaha terlihat sebaik mungkin di mata orang yang ia cintai. Katanya, kalau cinta sudah mengambil alih logika, sang pencinta tak akan berpikir jauh tentang masa depan; pokoknya aku cinta kamu tak peduli seberapa banyak perbedaan yang ada dan seberapa tak jelasnya masa depan kita. Katanya, kalau cinta sudah mengambil alih dunia, cuaca panas akan terasa sejuk dan gelap akan terasa terang.
Dear, Aldila
Aku bukan penguntit
Walau aku selalu memperhatikan punggungmu
Aku bukan laki-laki buaya
Walau aku sering membuat puisi gombal
Aku bukan pengecut
Walau aku hanya berani berkata lewat selayang surat
Aku tahu kamu sedang bergidik geli membaca surat ini
Tapi ini isi hatiku
Aku tak paham kenapa Tuhan mengizinkan cinta mengalahkan logikaku
Aku tahu ini lucu
Aku hanya ingin tenang
Ya…aku mencintaimu
Walau aku tak tahu harus kuapakan cinta ini
Ah maafkan Yoshua yang bodoh ini,
Aku diam. Aku berharap pesan ini salah alamat. Nama Aldila bukan hanya milikku. Percuma, tidak mungkin ini salah alamat. Siapa lagi teman Yoshua yang bernama Aldila kalau bukan aku? Hening menyergap cukup lama. Aku tertawa. Kuraih gagang telepon rumahku.
“Yosh, lo apa-apain sih hahaha” Aku segera menyambar dengan tawa gurihku di gagang telepon sesaat setelah suara halo khas dari Yoshua.
“Aldila…” telepon pun terputus.
Sebagian otakku bilang pesan itu hanya candaan Yoshua. Aku mengabaikan pesan itu, berdecak, dan tertawa sendiri di kamar sampai tawa itu berhenti ketika pesan dari Yoshua yang mengajakku bertemu.
Pertemuan itu membuat mukaku memerah, bukan malu, namun marah. Mengapa manusia sepintar Yoshua tidak sadar akan kehadiran sahabatnya yang lebih dari sempurna untuknya. Mengapa ia tak tahu diri harus menyatakan cintanya padaku di saat ia tahu kita jelas berbeda? Mengapa dirinya cukup berani ketika ia sudah lama tahu bahwa background keluargaku yang jelas sangat agamis? Ah..tak perlulah ia omeli aku dengan haknya mencintai siapapun, tak perlulah ia menghakimi Tuhan dan menuntutNya menciptakan satu agama di dunia ini, tak perlu pula ia mengatasnamakan cinta sejati jika logikanya tak pernah ia gunakan. Aku menghardiknya, mengatainya bodoh dan tak masuk akal. Aku mencela dan menampikkan segala pembelaan yang ia utarakan. Aku marah. Ya, aku marah mengapa bukan Christin yang ia temui.
Aku menjauh dari Christin dan Yoshua. Jarak kampus kami yang hanya berbeda sekian menit seperti berbeda berpuluh-puluh jam. Aku selalu memberi alasan malas berkunjung karena jauh tiap kali Christin mengajakku bertemu. HPku sering kutinggalkan di pojok lemari meninggalkan pesan mailbox untuk Yoshua yang berkali-kali mencoba meneleponku. Tiga bulan sudah aku tak bertemu Yoshua. Suatu hari, Christin menemuiku. Matanya berkaca.
“Kamu pernah merasakan bagaimana cinta tak berpihak kepadamu?” Christin akhirnya bersuara setelah satu jam ia memilih diam duduk di atas kursi belajarku.
“Cintanya siapa? Setiap orang punya cinta yang berpihak padanya.” aku berbalas pelan.
“Cinta seseorang yang kau suka. Sukanya seseorang yang kau cinta. Kenapa aku begitu bodoh diperdaya oleh cinta? Ha..ha..kamu tahu Aldila, aku hampir saja bunuh diri karena cinta. Ternyata otakku yang terbiasa dengan ilmu sains masih saja dikalahkan oleh hal sepele itu. Padahal, sedikit saja logikaku bermain, cinta akan kalah telak.” Tawa miris Christin menggaung, lalu hening kembali.
Entah sudah berapa kali hening menyergapku akhir-akhir ini. Aku seperti sedang diwawancarai oleh keheningan, dipojokkan oleh kediaman hingga aku tak bisa menjawab keadaan. Aku tahu Christin bicara soal Yoshua yang menolak cintanya, tidak ada lagi orang lain yang ia bicarakan jika cinta sudah ikut berperan di dalamnya. Aku masih bersyukur mengetahui bahwa Yoshua tak menceritakan pada Christin mengenai pengakuan cintanya padaku. Sebentar, bunuh diri?
“Bu..nuh… diri?” aku mengeja pelan.
“Ya, Aldila. Tapi aku terselamatkan oleh seorang pria yang tak sengaja melihatku menangis masuk ke dalam toilet… Entah apa yang dipikirkannya, ia menungguku keluar toilet namun aku tak kunjung datang… Ia nekad masuk tolet cewek untuk mengecek keadaanku dan ia menemukanku menangis dengan silet di pergelangan tanganku.” Mataku mengintip pergelangan tangannya yang sejak tadi hilang dari pandanganku. Balutan kain putih melingkar rapi di pergelangan tangan Christin, nafasku tercekat. Aku penyebab dari semua hal yang terjadi ini. Aku hampir saja membunuh sahabatku sendiri. Kalau saja aku tak berteman dengan Yoshua, hal bodoh ini tidak akan terjadi. Aku menjerit dalam hati dan tertawa miris. Tak pernah aku bayangkan, cerita FTV yang sering aku tertawakan dan aku komentari bersama Christin ternyata dialami oleh kami sendiri. Apa yang sedang kami pikirkan? Apakah aku sedang bermimpi memainkan sebuah sinetron bertema Kejamnya Cinta?
Dering teleponku memecah suasana, seperti biasa aku tak mengindahkannya; namun dering itu terus berlanjut mewarnai suasana diam kami. Mataku melirik malas ke layar hp, kakak Yoshua menelepon. Ragu aku geser layar hpku menuju gambar gagang telepon hijau.
“Ha…lo” ucapku tegang.
“Aldila…Yoshua mencoba bunuh diri, sekarang dia di ICU…” hpku terpeleset dari genggaman.
***
Oktober, 2012.
Christin mengajakku pergi ke makam Yoshua.
Aku tak peduli, hari ini aku berbicara pada sebuah makam yang penghuninya entah sudah berbentuk seperti apa, entah telinganya ditiupkan ruh untuk dapat mendengar atau tidak.
Dear Yoshua,
Malam itu aku menangis sejadi-jadinya,
Setelah mendengar kabarmu yang tidak bisa bertahan.
Padahal berbagai selang rumah sakit telah membanjirimu seluruh badan.
Maafkan aku yang membuatmu seperti itu
Aku tak paham,
Mengapa cinta membuat kita terperdaya
Membuat kita jatuh pada masa yang kelam
Ah..andaikan ini hanya cerita maya
Maafkan aku yang membuatmu seperti itu
Aku tak paham,
Mengapa sungguh beraninya
Perasaanmu bergelut dengan logika
Sampai mungkin titik darah tak adayang tersisa
Maafkan aku yang membuatmu seperti itu
Kau tahu,
Sampai sekarang perempuan di sebelahku
Tak pernah tahu perasaanmu
Tapi, ia tetap setia padamu
Tenang saja, aku tak akan pernah cerita kisah kita
Kisah yang aku sudah kutuk ia menjadi batu
Dan kubuang jauh-jauh dari hidupku
Biarkan sahabatmu ini berlari dengan waktu
Karena waktu tak pernah berbohong
Ia selalu berjanji untuk mencapai garis finish lebih dulu
Memenangkan pertaruhan
Dan mengubah manusia untuk memahami realita
Aku belajar mengenai cinta. Bahwa cinta tak pernah memaksa manusia untuk menerimanya. Namun cinta tahu ada sesuatu yang salah ketika ia tidak diterima. Ketika cinta tahu ada yang salah dan manusia tak menyadarinya, ia menyampaikan pesan pada Tuhan untuk membisikkan manusia; bisikan memohon untuk memperbaiki cara manusia menyampaikan cinta, cara ia mengerti perasaan, cara ia mendefinisikan cinta, dan cara ia menerima keberpihakan cinta. Yoshua. Laki-laki inilah yang membuat rindu terus datang membuat bekas tapak kaki di kamar. Laki-laki inilah yang membuat air mata sering tak terbendung untuk keluar, dan akhirnya menyisakan hampa. Tapi laki-laki inilah yang kemudian mengajariku untuk memahami cinta secara bijak, karena aku tahu, kau pasti tak mau aku melakukan hal yang kau pernah lakukan.
Aku telah salah menanggapi cinta Yoshua, padahal ia tak memaksa cintanya kubalas. Aku hanya perlu memberi pemahaman. Maafkan aku.
***
April, 2013.
ITP ramai. Barisan arak-arakan dengan riuh suara massa kampus menggaung di setiap sudut jalanan kampus. Kepalaku menengok ke sana ke mari, mencari wanita dengan baju warna biru yang selalu ia kenakan.
“Aldila!”
“Christin!”
Aku setengah berlari, menyadari bahwa rok dan high heelsku tak memungkinkanku berlari kencang.
“Happy graduation Aldila!” Pelukan hangat itu datang, pelukan seorang sahabat. Aku tersenyum sumringah seraya mengucapkan terima kasih.
“Oya Al, kenalin, Carlos, mahasiswa ITP juga kok hehe”
Aku tersenyum ke arah Carlos yang membalas senyumku. Carlos bertubuh tegap, kelihatan sedikit preman tapi wajahnya tak menutupi kecerdasannya.
“Al, Carlos ini cowok yang waktu itu aku bilang nekad masuk toilet cewek. Hehe.” Aku tersenyum. Tentu saja aku ingat cerita Christin dengan mata berkacanya dan hari itu hari di mana Yoshua masuk ICU. Siapa menyangka ternyata laki-laki yang tak sengaja menyelamatkan Christin kini dekat dengan Christin. Di akhir pertemuan kami hari ini, aku pun mendapati bahwa Carlos ternyata pernah bertabrakan dengan Christin yang membuat Carlos tergila-gila padanya. Ah…sungguh lucu alur cerita yang Tuhan berikan.
Tidak ada yang pernah tahu bahwa Tuhan telah mempersiapkan Carlos dan menitipkannya pada waktu sementara hidup Christin diwarnai dengan Yoshua. Tidak, Tuhan tidak mempermainkan kita seperti dulu kita bermain dengan boneka. Tuhan adalah sebaik-baik perencana yang telah mempertimbangkan berbagai unsur kehidupan yang mencampuri alur cerita setiap orang. Benar saja, tiga bulan berlalu setelah hari wisudaku, Christin dan Carlos pun menikah.
***
April, 2014.
Aku membuka kotak surat depan rumahku yang sudah satu bulan lebih tak ku buka. Aku mengernyitkan dahi ketika ada undangan pernikahan bertengger di dalamnya dengan cover depan bertuliskan inisial R&B. Perlahan ku buka undangan tersebut dan mataku mendapati nama Rian Bagus Dhika dan Binar Mentari Wijaya. Aku tersenyum. Bahkan tidak perlu menunggu usia 50 tahun cinta menemukan mereka. Lihatlah, betapa cinta tidak memandang perasaan manusia pada satu waktu saja. Ketika Tuhan membisikkan cinta untuk mempersatukan dua orang manusia, cinta akan datang dengan tulus tanpa perlu dewi fortuna menggunakan panahnya. Tidak ada yang akan tahu kisah cinta seseorang akan seperti apa sampai Tuhan benar-benar mempersatukan mereka dalam ikatan pernikahan.
“Beb, temanku ada yang menikah. Temani datang ya.” Aku membawa undangan itu masuk rumah, sekilas aku melihat yang diajak bicara mengangguk.
“Temanku yang menikah ini punya cerita asmara yang menarik loh beb, mau dengar?” Laki-laki yang kuajak bicara itu adalah suamiku, ia perlahan mengganti arah matanya dari televisi ke arahku.
“Kamu mau bilang kan, kisah asmara mereka tidak pernah ada yang tahu? Kamu mau bilang kan, bahwa Tuhan memang sebak-baik perencana?” Laki-laki bernama Rangga itu tersenyum.
“Iya beb, seperti kisah kita yang sudah Tuhan rencanakan dengan indah.” Aku pun tersenyum.
Kamis, 16 Juli 2015
Senin, 06 Juli 2015
orang tua bilang "kamu ga sopan", kita bilang "mah, itu wajar"
My mom and my hostmom are both very social persons, and yes they always ask me to make your faraway guests as your Kings and Queens. They want me to salam to everyone; your hospitality is number one. They also always encourage me to give and share. They basically want kids do that, every kids in the world. But whats happening now?
Ummi selalu heran ketika beliau berkunjung ke kos dan melihat penghuni kos yang hanya saling lewat ketika berpapasan, atau hanya tersenyum formalitas, and dang I cant stand on being nice myself while others not, but my mom keeps telling me “seorang muslim itu harus ramah dengan siapapun”. She always wondering why in the world these girls in my dormitory do not know each other but their friends that they already knew before.
Selalu ingat pesan ummi tiap kali saya pergi ke suatu kota dengan taking travel “ngobrol ya sama sebelahnya.” I am like, really? I don’t know them, should I? isn’t it weird? I know it’s a good point to talk to people like my mom often do, initiating herself to chit chat to people in bus, travels, or any transportation. Namun yang biasanya saya lakukan di travel ya….tidur. lol.
My hostmom, well not only my hostmom, but most of Americans will say ‘excuse me’ everytime they pass through people. Tapi banyak toh dari kita yang lewat begitu saja, untung saja di Bandung saya masih merasakan sedikit hal itu, ketika orang bilang “punten”, yah better lah daripada di ibukota lol. Tapi terkadang kalau sudah lelah pulang dari kampus, cuma bisa pasang wajah tidak semangat, melewati orang jadi lewat saja, sampai pernah anak kecil yang saya lewati menyindir saya “punten atuh teehhh”. Saya cuma bisa tersenyum sambil hati berkata “sorry kids, my bad.”
Yang paling saya soroti akhir-akhir ini adalah soal budaya menerima tamu. My mom often cooks for her guest khususnya tamu-tamu jauh, repot minta anak-anaknya beli kue sana sini. Beliau selalu mau menerima permintaan anak-anaknya yg bilang “mi, teman-teman aku mau rapat di sini, gpp?” “mi, teman-teman aku mau buka bersama di sini gpp?” hanya mungkin kadang tidak bisa terealiasi karena urusan Abah ehehe, peace Dad! What somewhat surprise me then is about how we treat the bules in a very special way. In pharmacy association, baik di himpunan kampus saya atau di organisasi nasional, we treat them really well, I guess, sampai score penerimaan mahasiswa asing di web SEP untuk asosiasi di Indonesia memang tinggi dibandingkan dengan Negara-negara lain. Even theres this time I read in a magazine about exchange student that come to my association saying “Indonesians are very nice, they take us and guide us in every single path we walk, we were like kindergarten students” yah kurang lebih kata-katanya seperti itu. Tapi pernah juga ketika saya yang menemani the bules dan mau tidak mau harus menuruti budaya itu sampai I don’t let them to go alone by taxi to visit bars in Braga, they were like “Come on, we are adults, we can go without you guys”. Well. Haha anyway, jadi teringat artikel VOA yang bilang “orang Indonesia dicap ramah karena memang anak-anak kampung yang sangat welcome dengan para bule, tapi nyatanya hospitality Americans jauh lebih oke”
Anywaaay, budaya menerima tamu yang luar biasa ini sebenarnya bukan hanya terjadi ketika bule datang. Yah baru semenjak kuliah sih saya sering ke luar kota dan melihat bagaimana orang-orang di luar Jakarta dan Bandung luar biasanya menerima kita –bukan bule- sebagai tamu, teman saya pun merasa demikian. Sampai saya bingung hingga sekarang, budaya ini hanya terjadi di asosiasi saya atau memang orang Indonesia seperti ini? I don’t think so though haha. Namun saya bahagia, di tengah keheningan kos-kosan, protes ummi saya akan anak muda di travel yang saling diam, protes para tetua akan anak muda yang tidak sopan kalau melewati orang, masih ada etika berjudul “orang-orang Indonesia menghargai tamunya”. Walaupun saya tau, hospitality orang Indonesia di luar “kota” mungkin masih jauh lebih baik daripada ‘orang-orang kota’, I guess so.
Yah pengalaman saya mungkin belum bisa mengeneralisasi, seperti apa itu etika orang Indonesia atau seperti apa itu etika anak muda.
I just start to think bahwa etika jadi terlihat semakin bias standarnya. Orang tua bilang itu tak sopan, anak bilang itu wajar. Kakak tingkat bilang lo ‘ngelunjak’, adik tingkat bilang itu tanda mereka gamau ada gap senioritas. Akhirnya ada clash, tanda kita belum bisa menerima budaya dari masing-masing daerah? Tanda kita belum mampu terbuka dengan perubahan zaman? Atau tanda teknologi yang memaksa kita jarang bertatap muka, menurunkan rasa empati untuk beretika? Dari yang merasa “gila lu cuma ngeread line aja, ga sopan” sampai pada merasa itu sudah menjadi standard kebiasaan dan akhirnya ikut2 cuma read aja *curhat bu?. Dari yang dahulu ngobrol sama dosen pakai angguk-angguk badan untuk menjaga sopan santun hingga sekarang sudah bisa tertawa riang lewat whatsapp.
Ah biarlah, kalau bicara budaya dan perkembangan zaman memang agak sulit mana yang beretika mana yang tidak. Dahulu saya sangat berkiblat sekali dengan kalimat “its not right or wrong, its just different” membuat pikiran saya terlalu terbuka menerima segalanya sampai lupa ada standar agama yang harus saya pegang teguh selamanya, termasuk dalam hal etika. That’s why kita punya agama yang akan membimbing kita untuk tau bagaimana beretika yang baik. Memang, kata-kata ummi selalu benar “Islam kok yang mengajarkan untuk begini dan begitu” Yah saya pun masih sangat belajar.
Ummi selalu heran ketika beliau berkunjung ke kos dan melihat penghuni kos yang hanya saling lewat ketika berpapasan, atau hanya tersenyum formalitas, and dang I cant stand on being nice myself while others not, but my mom keeps telling me “seorang muslim itu harus ramah dengan siapapun”. She always wondering why in the world these girls in my dormitory do not know each other but their friends that they already knew before.
Selalu ingat pesan ummi tiap kali saya pergi ke suatu kota dengan taking travel “ngobrol ya sama sebelahnya.” I am like, really? I don’t know them, should I? isn’t it weird? I know it’s a good point to talk to people like my mom often do, initiating herself to chit chat to people in bus, travels, or any transportation. Namun yang biasanya saya lakukan di travel ya….tidur. lol.
My hostmom, well not only my hostmom, but most of Americans will say ‘excuse me’ everytime they pass through people. Tapi banyak toh dari kita yang lewat begitu saja, untung saja di Bandung saya masih merasakan sedikit hal itu, ketika orang bilang “punten”, yah better lah daripada di ibukota lol. Tapi terkadang kalau sudah lelah pulang dari kampus, cuma bisa pasang wajah tidak semangat, melewati orang jadi lewat saja, sampai pernah anak kecil yang saya lewati menyindir saya “punten atuh teehhh”. Saya cuma bisa tersenyum sambil hati berkata “sorry kids, my bad.”
Yang paling saya soroti akhir-akhir ini adalah soal budaya menerima tamu. My mom often cooks for her guest khususnya tamu-tamu jauh, repot minta anak-anaknya beli kue sana sini. Beliau selalu mau menerima permintaan anak-anaknya yg bilang “mi, teman-teman aku mau rapat di sini, gpp?” “mi, teman-teman aku mau buka bersama di sini gpp?” hanya mungkin kadang tidak bisa terealiasi karena urusan Abah ehehe, peace Dad! What somewhat surprise me then is about how we treat the bules in a very special way. In pharmacy association, baik di himpunan kampus saya atau di organisasi nasional, we treat them really well, I guess, sampai score penerimaan mahasiswa asing di web SEP untuk asosiasi di Indonesia memang tinggi dibandingkan dengan Negara-negara lain. Even theres this time I read in a magazine about exchange student that come to my association saying “Indonesians are very nice, they take us and guide us in every single path we walk, we were like kindergarten students” yah kurang lebih kata-katanya seperti itu. Tapi pernah juga ketika saya yang menemani the bules dan mau tidak mau harus menuruti budaya itu sampai I don’t let them to go alone by taxi to visit bars in Braga, they were like “Come on, we are adults, we can go without you guys”. Well. Haha anyway, jadi teringat artikel VOA yang bilang “orang Indonesia dicap ramah karena memang anak-anak kampung yang sangat welcome dengan para bule, tapi nyatanya hospitality Americans jauh lebih oke”
Anywaaay, budaya menerima tamu yang luar biasa ini sebenarnya bukan hanya terjadi ketika bule datang. Yah baru semenjak kuliah sih saya sering ke luar kota dan melihat bagaimana orang-orang di luar Jakarta dan Bandung luar biasanya menerima kita –bukan bule- sebagai tamu, teman saya pun merasa demikian. Sampai saya bingung hingga sekarang, budaya ini hanya terjadi di asosiasi saya atau memang orang Indonesia seperti ini? I don’t think so though haha. Namun saya bahagia, di tengah keheningan kos-kosan, protes ummi saya akan anak muda di travel yang saling diam, protes para tetua akan anak muda yang tidak sopan kalau melewati orang, masih ada etika berjudul “orang-orang Indonesia menghargai tamunya”. Walaupun saya tau, hospitality orang Indonesia di luar “kota” mungkin masih jauh lebih baik daripada ‘orang-orang kota’, I guess so.
Yah pengalaman saya mungkin belum bisa mengeneralisasi, seperti apa itu etika orang Indonesia atau seperti apa itu etika anak muda.
I just start to think bahwa etika jadi terlihat semakin bias standarnya. Orang tua bilang itu tak sopan, anak bilang itu wajar. Kakak tingkat bilang lo ‘ngelunjak’, adik tingkat bilang itu tanda mereka gamau ada gap senioritas. Akhirnya ada clash, tanda kita belum bisa menerima budaya dari masing-masing daerah? Tanda kita belum mampu terbuka dengan perubahan zaman? Atau tanda teknologi yang memaksa kita jarang bertatap muka, menurunkan rasa empati untuk beretika? Dari yang merasa “gila lu cuma ngeread line aja, ga sopan” sampai pada merasa itu sudah menjadi standard kebiasaan dan akhirnya ikut2 cuma read aja *curhat bu?. Dari yang dahulu ngobrol sama dosen pakai angguk-angguk badan untuk menjaga sopan santun hingga sekarang sudah bisa tertawa riang lewat whatsapp.
Ah biarlah, kalau bicara budaya dan perkembangan zaman memang agak sulit mana yang beretika mana yang tidak. Dahulu saya sangat berkiblat sekali dengan kalimat “its not right or wrong, its just different” membuat pikiran saya terlalu terbuka menerima segalanya sampai lupa ada standar agama yang harus saya pegang teguh selamanya, termasuk dalam hal etika. That’s why kita punya agama yang akan membimbing kita untuk tau bagaimana beretika yang baik. Memang, kata-kata ummi selalu benar “Islam kok yang mengajarkan untuk begini dan begitu” Yah saya pun masih sangat belajar.
Sabtu, 04 Juli 2015
Thank you, dear!
Betapa luar biasanya berada di sekeliling orang-orang seperti kalian. Bukan cerita-cerita yang mengalir dari mulut sang ratu lebah yang ingin dihormati, bukan pula mimpi yang terajut rapi dari sang pangeran yang hanya berniat mencari sang kekasih, I can feel your sincerity. Ah…apalah semua hari-hari ini jika dibandingkan dengan tahun-tahun yang sudah para tetua lewati, apalah semua benih-benih yang hendak tumbuh ini jika dibandingkan dengan kecambah yang para pengabdi negeri ini miliki, entah…yang kudapat ini mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan asam garam kehidupan para pekerja buruh, para pegawai swasta, pemiliki perusahaan, para professional, guru, orang tua dan kakek nenek kita, mungkin belum seberapa. But I can feel it, how a drop of ink can spread fast on certain papers.
Saya ingat ketika saya menghadiri sebuah seminar motivasi ketika saya SMP, sang motivator berkata “hidup di SMA itu tidak akan pernah terlupakan, sepakat?” peserta yang kebanyakan adalah anak SMA berseru ‘sepakat!’ kemudian menyimpulkan senyum malu-malu, entah mungkin mereka teringat kerja kerasnya belajar mengejar nilai, cerita persahabatan kepompongnya, atau teringat kisah asmara bodoh yang buat merah pipi pemiliknya. Saya kala itu tidak tersenyum, melainkan fokus memperhatikan kakak saya yang tersenyum dengan mata berbinar-binar. Alis saya terangkat.
Namun kemudian sang motivator tersenyum lebar seraya berkata “hmm…tunggu saja sampai kalian nanti kuliah” Alis saya semakin terangkat.
Si polos Risni menghabiskan masa SMPnya dengan mendengarkan cerita-cerita sang kakak. Ya, saya adalah salah satu penggemar berat kakak saya, walaupun saya yakin beliau tidak tahu sampai sekarang. Kisahnya selalu membuat saya tak sabar masuk SMA, betapa seru…dan anehnya…. cerita-cerita beliau. Cerita ketika beliau bertengkar dengan sahabat baiknya, cerita ketika bersama-sama main mendaki gunung, kisah teman-temannya yang selalu membicarakan soal pernikahan, nasihatnya tentang pakaian baik seorang wanita, permintaannya padaku agar ikut mentoring ketika nanti SMA, keberaniannya dan menurutku dulu…keanehan dia dan teman-temannya yang berani turun ke jalan, berdemo dengan membawa spanduk dan memakai ikat kepala, berorasi di depan gedung DPR serta kebingungan dan tawa saya yang muncrat keluar karena selalu mendengar takbir dikumandangkan dengan lantang setiap kali saya diajak acara keagamaan olehnya. Cerita kakaklah yang menjadi sebuah scene di SMA yang saya bayangkan…
Ternyata, masa SMAku berbeda dengannya. Si polos Risni tak mengalami apa yang dialami kakaknya. Ketika itu saya berpikir, zaman mungkin berubah? Haha. Saya pun kemudian hanya mengikuti alur air yang entah saat itu saya tidak tahu akan bawa saya kemana. Yang pasti, saya dahulu selalu mempertanyakan “mana kisah-kisah yang diceritakan oleh kakak? Di mana?” Dari sini lah saya belajar bahwa memang, ekspektansi bisa menjadi moodbreaker sepanjang masa. Now if you didnt get what you want, are you gonna give up?
Kakak saya tidak lagi bercerita banyak tentang masa kuliahnya ketika saya SMA, mungkin karena jarak yang memaksa kami untuk jarang bertemu dan berkomunikasi. Tapi beliau dan teman-temannya tetap menjadi cerminan scene masa depan yang saya bayangkan. Ah…jadi, kalimat “kakak adalah contoh bagi adiknya” itu benar adanya, setidaknya, saya mengamini hal itu.
Ternyata, begini ya hidup di masa perkuliahan? Saya sedikit banyak mengalami apa yang kakak saya alami, namun dengan cara dan jalur yang cukup jauh berbeda. Kalau saya ingat ketika saya menghadiri seminar motivasi dulu, saya sepertinya mengerti senyuman lebar pembicara yang berucap “tunggu ketika kalian nanti kuliah” haha kok lucu. Well…
Duh, saya sebenarnya mau nulis apa sih :’)
Entah…akhir-akhir ini, grateful feels like tighten me in every second of life. Betapa, tidak selamanya ekspektasi membunuh keinginan kita untuk berjalan bahkan berlari. Betapa masih banyak orang yang peduli dengan kita dan tak pernah lelah membantu memperbaiki diri kita, bukan semata untuk mengejar apa yang kita inginkan, namun apa yang terbaik untuk kita. Entah sudah berapa hal yang terjadi, sudah berapa orang yang menegur, sudah berapa orang yang memukul pundak, sudah berapa kejadian yang membuat saya berpikir bahwa life is too beautiful. Pembelajaran-pembelajaran yang saya sadar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang orang lain sudah dapatkan ternyata di mata saya sangat berharga, yes I learn how to feel normative words.
Mendengar memang terkadang lebih indah daripada mengucapkannya, mengamati ternyata bisa lebih nikmat daripada melakukannya. I do learn a lot from you guys. Orang-orang yang berada di sekeliling saya, terima kasih telah memunculkan scene yang pernah kakak saya alami haha, terima kasih telah menjadi kalian yang membenci saya, mencintai saya, menghormati, mengucilkan, mengagumi, mengkhianati dan lain sebagainya. Apalah saya berkata seperti ini, sudah seperti orang tua yang merasakan asam garam kehidupan setumpuk puluhan meter dan mencoba mengambil gula di tengah garam. Ini hanya rasa syukur yang ingin saya bagi dan pesan untuk selalu berhati-hati, bahwa hidup kita yang masih muda ini…masih panjang ya…entah akan ada pelajaran-pelajaran apa lagi yang mungkin akan membuat kita makin membuka mata dan pikiran yang kemudian akan menjadi pedang bermata dua. Are we going to be able to deal with it atau justru kejadian di depan akan mengubah kita kepada hal yang tidak baik. Haha seperti saya yang labil, sampai teman-teman tarik ulur untuk mencoba memperbaiki diri ini yang serba kekurangan. Pelajaran-pelajaran yang terkadang buat bingung untuk bersikap memaksa saya untuk selalu sadar kalimat If youre confused what people want you to do, just do what God wants you to do. Terima kasih kalian yang selalu memberi tausiyah, yang selalu mengingatkan, yang selalu tahu kapan saya turun, kemudian mencoba mengajak saya bertemu tatap muka untuk menegur langsung kesalahan yang telah saya perbuat, yang selalu bersusah payah mengajak saya bertemu hanya untuk bilang “jangan lupa hafalannya, jangan lupa amalannya”, bukan…itu bukan hanya…itu kata mutiara yang begitu luar biasa. Terima kasih :’) *efek tak terasa sudah tingkat empat ya, jen?*
Terima kasih telah membantu saya mengejar ekpektasi. Terima kasih telah mengingatkan saya untuk selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Saya ingat ketika saya menghadiri sebuah seminar motivasi ketika saya SMP, sang motivator berkata “hidup di SMA itu tidak akan pernah terlupakan, sepakat?” peserta yang kebanyakan adalah anak SMA berseru ‘sepakat!’ kemudian menyimpulkan senyum malu-malu, entah mungkin mereka teringat kerja kerasnya belajar mengejar nilai, cerita persahabatan kepompongnya, atau teringat kisah asmara bodoh yang buat merah pipi pemiliknya. Saya kala itu tidak tersenyum, melainkan fokus memperhatikan kakak saya yang tersenyum dengan mata berbinar-binar. Alis saya terangkat.
Namun kemudian sang motivator tersenyum lebar seraya berkata “hmm…tunggu saja sampai kalian nanti kuliah” Alis saya semakin terangkat.
Si polos Risni menghabiskan masa SMPnya dengan mendengarkan cerita-cerita sang kakak. Ya, saya adalah salah satu penggemar berat kakak saya, walaupun saya yakin beliau tidak tahu sampai sekarang. Kisahnya selalu membuat saya tak sabar masuk SMA, betapa seru…dan anehnya…. cerita-cerita beliau. Cerita ketika beliau bertengkar dengan sahabat baiknya, cerita ketika bersama-sama main mendaki gunung, kisah teman-temannya yang selalu membicarakan soal pernikahan, nasihatnya tentang pakaian baik seorang wanita, permintaannya padaku agar ikut mentoring ketika nanti SMA, keberaniannya dan menurutku dulu…keanehan dia dan teman-temannya yang berani turun ke jalan, berdemo dengan membawa spanduk dan memakai ikat kepala, berorasi di depan gedung DPR serta kebingungan dan tawa saya yang muncrat keluar karena selalu mendengar takbir dikumandangkan dengan lantang setiap kali saya diajak acara keagamaan olehnya. Cerita kakaklah yang menjadi sebuah scene di SMA yang saya bayangkan…
Ternyata, masa SMAku berbeda dengannya. Si polos Risni tak mengalami apa yang dialami kakaknya. Ketika itu saya berpikir, zaman mungkin berubah? Haha. Saya pun kemudian hanya mengikuti alur air yang entah saat itu saya tidak tahu akan bawa saya kemana. Yang pasti, saya dahulu selalu mempertanyakan “mana kisah-kisah yang diceritakan oleh kakak? Di mana?” Dari sini lah saya belajar bahwa memang, ekspektansi bisa menjadi moodbreaker sepanjang masa. Now if you didnt get what you want, are you gonna give up?
Kakak saya tidak lagi bercerita banyak tentang masa kuliahnya ketika saya SMA, mungkin karena jarak yang memaksa kami untuk jarang bertemu dan berkomunikasi. Tapi beliau dan teman-temannya tetap menjadi cerminan scene masa depan yang saya bayangkan. Ah…jadi, kalimat “kakak adalah contoh bagi adiknya” itu benar adanya, setidaknya, saya mengamini hal itu.
Ternyata, begini ya hidup di masa perkuliahan? Saya sedikit banyak mengalami apa yang kakak saya alami, namun dengan cara dan jalur yang cukup jauh berbeda. Kalau saya ingat ketika saya menghadiri seminar motivasi dulu, saya sepertinya mengerti senyuman lebar pembicara yang berucap “tunggu ketika kalian nanti kuliah” haha kok lucu. Well…
Duh, saya sebenarnya mau nulis apa sih :’)
Entah…akhir-akhir ini, grateful feels like tighten me in every second of life. Betapa, tidak selamanya ekspektasi membunuh keinginan kita untuk berjalan bahkan berlari. Betapa masih banyak orang yang peduli dengan kita dan tak pernah lelah membantu memperbaiki diri kita, bukan semata untuk mengejar apa yang kita inginkan, namun apa yang terbaik untuk kita. Entah sudah berapa hal yang terjadi, sudah berapa orang yang menegur, sudah berapa orang yang memukul pundak, sudah berapa kejadian yang membuat saya berpikir bahwa life is too beautiful. Pembelajaran-pembelajaran yang saya sadar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang orang lain sudah dapatkan ternyata di mata saya sangat berharga, yes I learn how to feel normative words.
Mendengar memang terkadang lebih indah daripada mengucapkannya, mengamati ternyata bisa lebih nikmat daripada melakukannya. I do learn a lot from you guys. Orang-orang yang berada di sekeliling saya, terima kasih telah memunculkan scene yang pernah kakak saya alami haha, terima kasih telah menjadi kalian yang membenci saya, mencintai saya, menghormati, mengucilkan, mengagumi, mengkhianati dan lain sebagainya. Apalah saya berkata seperti ini, sudah seperti orang tua yang merasakan asam garam kehidupan setumpuk puluhan meter dan mencoba mengambil gula di tengah garam. Ini hanya rasa syukur yang ingin saya bagi dan pesan untuk selalu berhati-hati, bahwa hidup kita yang masih muda ini…masih panjang ya…entah akan ada pelajaran-pelajaran apa lagi yang mungkin akan membuat kita makin membuka mata dan pikiran yang kemudian akan menjadi pedang bermata dua. Are we going to be able to deal with it atau justru kejadian di depan akan mengubah kita kepada hal yang tidak baik. Haha seperti saya yang labil, sampai teman-teman tarik ulur untuk mencoba memperbaiki diri ini yang serba kekurangan. Pelajaran-pelajaran yang terkadang buat bingung untuk bersikap memaksa saya untuk selalu sadar kalimat If youre confused what people want you to do, just do what God wants you to do. Terima kasih kalian yang selalu memberi tausiyah, yang selalu mengingatkan, yang selalu tahu kapan saya turun, kemudian mencoba mengajak saya bertemu tatap muka untuk menegur langsung kesalahan yang telah saya perbuat, yang selalu bersusah payah mengajak saya bertemu hanya untuk bilang “jangan lupa hafalannya, jangan lupa amalannya”, bukan…itu bukan hanya…itu kata mutiara yang begitu luar biasa. Terima kasih :’) *efek tak terasa sudah tingkat empat ya, jen?*
Terima kasih telah membantu saya mengejar ekpektasi. Terima kasih telah mengingatkan saya untuk selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Kamis, 23 April 2015
TC Research Dissemination
Jadi, ceritanya begini.
I was quite a newbie in tobacco control things. Bulan lalu iseng-iseng kirim abstrak tentang tobacco control policy-relevant research bersama adik tingkat yang juga anak farmasi (credits to Intan Dinny, thanks for doing a great job!). Selayang kuesioner online, simple, dan mengacuhkan variable inklusi dan semacamnya saya sebarkan lewat media sosial kemudian dibuat posternya. I was happy knowing that our abstract was accepted to a poster exhibition in Yogyakarta. Tibalah tanggal 19 April, I flew to Yogya for attending the exhibition what so called Indonesian Tobacco Control Research Dissemination Conference and Capacity Building Program. Program ini diadakan oleh MTCC (Muhammadiyah Tobacco Control Center UMY); John Hopkins Bloomberg School of Publich Health, an IGTC; International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases; and National Cancer Institute USA. Well, I just knew such things were actually exist in this world lol.
During the preparation, baik itu kirim biografi, foto, poster, tiket pesawat, panitia selalu menghubungi saya lewat sms dengan kata sapaan ‘Ibu’, biasanya kalau ada kegiatan semacam gini, paling barter saya dihubungi dengan kata sapaan ‘mbak’, tapi kenapa ini ‘ibu’ ya?
So I was wondering why everyone calling me ‘Ibu’, it was answered when I attended the welcoming event. I could barely find students -.-“ Kebanyakan participant adalah aktivis tobacco control (TC) dari komunitas-komunitas TC yang sudah lulus S1 atau sedang mengeyam pendidikan S2, S3; dosen-dosen FISIP, Psikologi, FKM, FK, Farmasi dan rumpun kesehatan lain; orang-orang dinkes, kemenkes, dll yang penelitian tobacco controlnya luar biasa kompleks. Ilmu farmakoekonomi saya mungkin baru 1/1000000nya. I was like “Ok, here we go, jen.”
Berawal dari sarapan pagi bersama roommate yang merupakan dosen muda dari Aceh, rasa penasaran saya dengan acara ini semakin meningkat. Beliau menceritakan penelitian yang beliau lakukan dan berdiskusi sedikit tentang KTR di daerah-daerah yang tidak terimplementasi dengan baik; beliau pun menceritakan penelitian mengenai rokok herbal yang justru bahayanya tidak jauh dengan rokok biasa; kemudian mengenai PHW (pictorial health warning) yang ada di bungkus-bungkus rokok sekarang ternyata memang memengaruhi keinginan orang-orang untuk tidak merokok, namun industry rokok kemudian mengakali PHW tersebut dengan membuat kemasan rokok dalam kaleng yang PHWnya dimasukkan ke dalam kaleng tersebut (duh!).
Sampai pada keynote speech oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany yang merupakan founder JKN, pembawaan sarkasnya yang kadang bikin ketawa buat saya manggut-manggut mendengar berbagai informasi yang beliau sampaikan. Kemudian diskusi panel oleh Steve Tamplin, Jeffrey Drope, dan Mark Parascandola yang tidak kalah menarik. Pertanyaan yang paling menarik muncul di diskusi ini adalah “Can you guys tell us why USA has not yet ratify FCTC?” yup, I just noticed that! Saya tahu ada 9 negara yang belum meratifikasi FCTC (framework tobacco control dari WHO), salah satunya Indonesia dan USA, even USA has not sign yet -.- tapi tiga pembicara di panel diskusi itu American loh. Then they said “It’s political reason, but despite that I believe USA are really eager in conducting tobacco control research activity around the world” ya, sebagaimana teman saya dari FKM UI bilang, “Amerika memang belum ratify, tapi kegiatan tobacco control mereka gila-gilaan” That makes me curious what the political reasons are. Selanjutnya ada presentasi dari Prof. dr. Tjandra Yoga, pihak Puslitbangkes Kemenkes RI yang memberikan informasi-infomrasi up to date mengenai jumlah perokok Indonesia dan data-data terkait lainnya. I was like “Come one Indonesia, can you make an update database for everything in internet just like USA has been doing? It’s a very useful materials instead of making your students create a blog for posting their laboratory report (if you know what I mean). We’re living in Z generation, hurray!” (but eventually I know that CDC has smoking-related database for all countries including Indonesia, which is awesome)
Lunch break saya makan dengan roommate dan partner in crime saya selama conference, lol, Khansa yang juga mahasiswa S1 and her roommate Ibu dari dinas keuangan Indramayu. Diskusi seputar rokok mencuat kembali, Ibu dari Indramayu tersebut menceritakan berbagai hal terkait dana cukai rokok yang tidak boleh dipakai untuk dana pendidikan ataupun dana lain di luar hal yang dapat menguntungkan industri rokok. Rasanya kesal dengar itu -.-
Kegiatan selanjutnya adalah presentasi-presentasi penelitian terkait rokok, berikut judul intinya:
1. Mapping the Indonesia government position in decision making on FCTC ratification
2. Harmonizing international trade policies and right for health protection measures
3. Content analysis of cigarette advertisement in newspaper
4. Economic burden of smoking attributable disease to government health expenditure
5. Warranties and certainty of legal protection of children from cigarette addiction
6. Analysing tobacco control policy initiation through survey on public opinion
7. Monitoring and evaluation of implementation of regional regulation no. 5 year 2008 surabaya
8. Effect of home cigarette smoke exposure to respiratory diseases
9. Monitoring and evaluation PHW
10. Economic impact of smoking : premature mortality cost and YPLL study
When I listened to the first five presentation, I was like “uwow so cooool”. But then I was like “Dang, why you’re not inviting policy maker in this session! This incredibly important for advocacy!’ Well, I don’t know. I guess theyre gonna make things like bank of TC research in bank of advocacy until then policy maker can read them. Hopefully so.
Sesi lain yaitu presentasi dari dr. Hasto Wardoyo yang merupakan Bupati Kulonprogo Yogyakarta. I admire this mayor, he’s such a nice and supportive leader. Daerah Kulonprogo telah sukses mengimplementasi berbagai kebijakan kawasan tanpa rokok berikut pencabutan iklan-iklan rokok. You must know, pendapatan daerah Kulonprogo sebelum dan setelah adanya pencabutan iklan rokok ternyata justru bertambah! How cool! Sebagaimana beliau bilang “Rezeki itu bisa datang dari mana saja”. Beliau pun sedang mengusahakan approach ke Bupati lain di Yogyakarta untuk sama-sama mengimplementasikan kebijakan tobacco control. Semangat pak!
Yah begitulah sekilas kegiatan yang saya ikuti di Yogya kemarin, masih ada hal menarik lainnya. Sayangnya karena ada presentasi tugas dan praktikum saya harus pulang lebih awal padahal acara belum selesai. Di perjalanan menuju airport, saya satu mobil dengan dr. Tara Singh Bam, seorang Nepalian dari the Union. He said hes gonna come to Bandung next week meeting up with Ridwan Kamil to talk about tobacco control. My eyes dilated, yay! Then I told him about K3 policy that has been all over the street regarding its garbage disposing but not the KTR policy. So readers, Bandung kita tercinta ini sudah punya aturan KTR (kawasan tanpa rokok) yang sayangnya masih bergabung dengan kebijakan lainnya di perda K3 No. 11, as you see di jalan-jalan, propaganda buang sampah sembarangan denda 5 juta rupiah itu loh, sampai walkot kita finally urge drivers to have trash can inside their cars, I was happy to know that happened. Silakan baca perda tersebut, you will see how our local government actually already wrote which places are smoke free areas and you’ll see also that the violator will be fined 5 million rupiah as well as garbage disposing violator. Sayangnya aturan tersebut belum sehits aturan buang sampah sembarangan, salah satunya mungkin karena aturan KTR belum difokuskan menjadi perda yang terpisah. This is the content I brought in my very simple research for conference. How can Im not happy hearing that dr. Tara will meet Ridwan Kamil to arrange a tobacco control stuffs! “You know why KTR in your place isn’t implemented well? Because your local government officer smoke, just like other local governments. But I will meet Ridwan Kamil, Bandung needs a separate policy for tobacco control” there he said after telling him a little about what happened in Bandung. Yayness hopefully youll do a great job, sir!
Yah yaudalah, bahaya rokok sih udah mainstream, semua orang juga udah tahu. Sekarang gimana orang-orangnya aja mau aware sama sekitar dan gimana caranya ada political will included, kita mainkan saja dengan kebijakan-kebijakan yang ada termasuk KTR, rising taxes, ratify FCTC, u yeaah. Semangat para policy-maker influencer! :)
Semoga Bandung menjadi daerah selanjutnya yang akan mengimplementasikan KTR sebaik mungkin. Tak lupa harapan besar untuk kampusku tercinta, I realize most of the students in ITB are guys as well as the lecturers -.- come on dudes, I believe youre well-educated enough to know that cigarette’s smoke kills you and others! I will share the update research data to tell you later on. Banyak orang-orang miskin yang kemudian sulit berhenti merokok dan membunuh passive smokers karena tempat kerja mereka terbuka untuk asap rokok, bandingkan dengan orang-orang menengah atau orang-orang kaya yang bisa jadi adiksi rokoknya sama dengan orang-orang miskin namun karena tuntutan tempat kerja yang smoke free area, konsumsi rokok mereka menjadi lebih sedikit. It could applies in campus environment. With KTR policy in my campus being well-implemented, I really hope you smokers can stop slowly, no need to hurry, just think about people around you who smoke your smoke, just think your parent that want you healthy, having kids, and achieve all of your dreams without worrying any diseases. Mungkin belum terasa ya, yaudah tunggu aja, kalau kata kaos GP3nya HMF “Want more information about lung cancer? Keep smoking” :)
I was quite a newbie in tobacco control things. Bulan lalu iseng-iseng kirim abstrak tentang tobacco control policy-relevant research bersama adik tingkat yang juga anak farmasi (credits to Intan Dinny, thanks for doing a great job!). Selayang kuesioner online, simple, dan mengacuhkan variable inklusi dan semacamnya saya sebarkan lewat media sosial kemudian dibuat posternya. I was happy knowing that our abstract was accepted to a poster exhibition in Yogyakarta. Tibalah tanggal 19 April, I flew to Yogya for attending the exhibition what so called Indonesian Tobacco Control Research Dissemination Conference and Capacity Building Program. Program ini diadakan oleh MTCC (Muhammadiyah Tobacco Control Center UMY); John Hopkins Bloomberg School of Publich Health, an IGTC; International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases; and National Cancer Institute USA. Well, I just knew such things were actually exist in this world lol.
During the preparation, baik itu kirim biografi, foto, poster, tiket pesawat, panitia selalu menghubungi saya lewat sms dengan kata sapaan ‘Ibu’, biasanya kalau ada kegiatan semacam gini, paling barter saya dihubungi dengan kata sapaan ‘mbak’, tapi kenapa ini ‘ibu’ ya?
So I was wondering why everyone calling me ‘Ibu’, it was answered when I attended the welcoming event. I could barely find students -.-“ Kebanyakan participant adalah aktivis tobacco control (TC) dari komunitas-komunitas TC yang sudah lulus S1 atau sedang mengeyam pendidikan S2, S3; dosen-dosen FISIP, Psikologi, FKM, FK, Farmasi dan rumpun kesehatan lain; orang-orang dinkes, kemenkes, dll yang penelitian tobacco controlnya luar biasa kompleks. Ilmu farmakoekonomi saya mungkin baru 1/1000000nya. I was like “Ok, here we go, jen.”
Berawal dari sarapan pagi bersama roommate yang merupakan dosen muda dari Aceh, rasa penasaran saya dengan acara ini semakin meningkat. Beliau menceritakan penelitian yang beliau lakukan dan berdiskusi sedikit tentang KTR di daerah-daerah yang tidak terimplementasi dengan baik; beliau pun menceritakan penelitian mengenai rokok herbal yang justru bahayanya tidak jauh dengan rokok biasa; kemudian mengenai PHW (pictorial health warning) yang ada di bungkus-bungkus rokok sekarang ternyata memang memengaruhi keinginan orang-orang untuk tidak merokok, namun industry rokok kemudian mengakali PHW tersebut dengan membuat kemasan rokok dalam kaleng yang PHWnya dimasukkan ke dalam kaleng tersebut (duh!).
Sampai pada keynote speech oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany yang merupakan founder JKN, pembawaan sarkasnya yang kadang bikin ketawa buat saya manggut-manggut mendengar berbagai informasi yang beliau sampaikan. Kemudian diskusi panel oleh Steve Tamplin, Jeffrey Drope, dan Mark Parascandola yang tidak kalah menarik. Pertanyaan yang paling menarik muncul di diskusi ini adalah “Can you guys tell us why USA has not yet ratify FCTC?” yup, I just noticed that! Saya tahu ada 9 negara yang belum meratifikasi FCTC (framework tobacco control dari WHO), salah satunya Indonesia dan USA, even USA has not sign yet -.- tapi tiga pembicara di panel diskusi itu American loh. Then they said “It’s political reason, but despite that I believe USA are really eager in conducting tobacco control research activity around the world” ya, sebagaimana teman saya dari FKM UI bilang, “Amerika memang belum ratify, tapi kegiatan tobacco control mereka gila-gilaan” That makes me curious what the political reasons are. Selanjutnya ada presentasi dari Prof. dr. Tjandra Yoga, pihak Puslitbangkes Kemenkes RI yang memberikan informasi-infomrasi up to date mengenai jumlah perokok Indonesia dan data-data terkait lainnya. I was like “Come one Indonesia, can you make an update database for everything in internet just like USA has been doing? It’s a very useful materials instead of making your students create a blog for posting their laboratory report (if you know what I mean). We’re living in Z generation, hurray!” (but eventually I know that CDC has smoking-related database for all countries including Indonesia, which is awesome)
Lunch break saya makan dengan roommate dan partner in crime saya selama conference, lol, Khansa yang juga mahasiswa S1 and her roommate Ibu dari dinas keuangan Indramayu. Diskusi seputar rokok mencuat kembali, Ibu dari Indramayu tersebut menceritakan berbagai hal terkait dana cukai rokok yang tidak boleh dipakai untuk dana pendidikan ataupun dana lain di luar hal yang dapat menguntungkan industri rokok. Rasanya kesal dengar itu -.-
Kegiatan selanjutnya adalah presentasi-presentasi penelitian terkait rokok, berikut judul intinya:
1. Mapping the Indonesia government position in decision making on FCTC ratification
2. Harmonizing international trade policies and right for health protection measures
3. Content analysis of cigarette advertisement in newspaper
4. Economic burden of smoking attributable disease to government health expenditure
5. Warranties and certainty of legal protection of children from cigarette addiction
6. Analysing tobacco control policy initiation through survey on public opinion
7. Monitoring and evaluation of implementation of regional regulation no. 5 year 2008 surabaya
8. Effect of home cigarette smoke exposure to respiratory diseases
9. Monitoring and evaluation PHW
10. Economic impact of smoking : premature mortality cost and YPLL study
When I listened to the first five presentation, I was like “uwow so cooool”. But then I was like “Dang, why you’re not inviting policy maker in this session! This incredibly important for advocacy!’ Well, I don’t know. I guess theyre gonna make things like bank of TC research in bank of advocacy until then policy maker can read them. Hopefully so.
Sesi lain yaitu presentasi dari dr. Hasto Wardoyo yang merupakan Bupati Kulonprogo Yogyakarta. I admire this mayor, he’s such a nice and supportive leader. Daerah Kulonprogo telah sukses mengimplementasi berbagai kebijakan kawasan tanpa rokok berikut pencabutan iklan-iklan rokok. You must know, pendapatan daerah Kulonprogo sebelum dan setelah adanya pencabutan iklan rokok ternyata justru bertambah! How cool! Sebagaimana beliau bilang “Rezeki itu bisa datang dari mana saja”. Beliau pun sedang mengusahakan approach ke Bupati lain di Yogyakarta untuk sama-sama mengimplementasikan kebijakan tobacco control. Semangat pak!
Yah begitulah sekilas kegiatan yang saya ikuti di Yogya kemarin, masih ada hal menarik lainnya. Sayangnya karena ada presentasi tugas dan praktikum saya harus pulang lebih awal padahal acara belum selesai. Di perjalanan menuju airport, saya satu mobil dengan dr. Tara Singh Bam, seorang Nepalian dari the Union. He said hes gonna come to Bandung next week meeting up with Ridwan Kamil to talk about tobacco control. My eyes dilated, yay! Then I told him about K3 policy that has been all over the street regarding its garbage disposing but not the KTR policy. So readers, Bandung kita tercinta ini sudah punya aturan KTR (kawasan tanpa rokok) yang sayangnya masih bergabung dengan kebijakan lainnya di perda K3 No. 11, as you see di jalan-jalan, propaganda buang sampah sembarangan denda 5 juta rupiah itu loh, sampai walkot kita finally urge drivers to have trash can inside their cars, I was happy to know that happened. Silakan baca perda tersebut, you will see how our local government actually already wrote which places are smoke free areas and you’ll see also that the violator will be fined 5 million rupiah as well as garbage disposing violator. Sayangnya aturan tersebut belum sehits aturan buang sampah sembarangan, salah satunya mungkin karena aturan KTR belum difokuskan menjadi perda yang terpisah. This is the content I brought in my very simple research for conference. How can Im not happy hearing that dr. Tara will meet Ridwan Kamil to arrange a tobacco control stuffs! “You know why KTR in your place isn’t implemented well? Because your local government officer smoke, just like other local governments. But I will meet Ridwan Kamil, Bandung needs a separate policy for tobacco control” there he said after telling him a little about what happened in Bandung. Yayness hopefully youll do a great job, sir!
Yah yaudalah, bahaya rokok sih udah mainstream, semua orang juga udah tahu. Sekarang gimana orang-orangnya aja mau aware sama sekitar dan gimana caranya ada political will included, kita mainkan saja dengan kebijakan-kebijakan yang ada termasuk KTR, rising taxes, ratify FCTC, u yeaah. Semangat para policy-maker influencer! :)
Semoga Bandung menjadi daerah selanjutnya yang akan mengimplementasikan KTR sebaik mungkin. Tak lupa harapan besar untuk kampusku tercinta, I realize most of the students in ITB are guys as well as the lecturers -.- come on dudes, I believe youre well-educated enough to know that cigarette’s smoke kills you and others! I will share the update research data to tell you later on. Banyak orang-orang miskin yang kemudian sulit berhenti merokok dan membunuh passive smokers karena tempat kerja mereka terbuka untuk asap rokok, bandingkan dengan orang-orang menengah atau orang-orang kaya yang bisa jadi adiksi rokoknya sama dengan orang-orang miskin namun karena tuntutan tempat kerja yang smoke free area, konsumsi rokok mereka menjadi lebih sedikit. It could applies in campus environment. With KTR policy in my campus being well-implemented, I really hope you smokers can stop slowly, no need to hurry, just think about people around you who smoke your smoke, just think your parent that want you healthy, having kids, and achieve all of your dreams without worrying any diseases. Mungkin belum terasa ya, yaudah tunggu aja, kalau kata kaos GP3nya HMF “Want more information about lung cancer? Keep smoking” :)
Jumat, 06 Maret 2015
Datulaya!!
Salah satu hal yang tidak semua unit kampus Indonesia tekuni adalah ini. Tidak pernah tahu sebelumnya bahwa kentalnya lestari budaya daerah ada di kampus ini. Namanya Sunken Court dan CC Barat; tempat berkumpulnya semua unit Budaya dari Sabang sampai Merauke; and there we are, Debust ITB yang telah berdiri sejak 2010 sebagai Unit resmi mulai menampakkan hidungnya di kampus gajah.
Di tengah budaya kampus sarat kaderisasi (osjur), periodisasi (pemira), dan apresiasi (syukwis) yang kadang buat sipit mata, dahi mengkerut, jengah rasa, lelah badan dan pikiran; buat saya, budaya yang satu ini, memperkenalkan budaya daerah, menjadi relaksasi tersendiri.
Siapa yang tahu Banten?
Mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi dengan konsentrasi politik dinasti paling tinggi, mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi yang melahirkan atraksi Debust yang ‘menyeramkan’, dan mungkin orang mengetahuinya sebagai tempat tinggal kaum Baduy. Kemungkinan ini toh bukan stereotype, that makes Banten Banten, anyway.
Tidak sedikit komentar lucu dari teman-teman di kampus ketika tahu saya anak Debust ITB untuk pertama kalinya,
“Wuis, serem, makan beling ris?”
“Oh kamu anak Debust? Kalian beneran belajar debust ga sih?”
Sampai beberapa komentar yang makin lama makin absurd karena dengan semena-menanya teman-teman jurusan saya membuat saya dan Citra menjadi sample tipikal anak Banten -.-‘’ hahaha
Well, despite the comments, people will know eventually what Debust in ITB for real. Ya, kami perkumpulan anak Banten, yang tinggal di Banten atau lahir di Banten atau pernah tinggal di Banten atau bahkan tertarik dengan budaya Banten. Kami pun sama seperti unit lainnya yang memiliki sistem kaderisasi untuk mencari generasi baru, memiliki struktur kepengurusan, memiliki program kerja kekeluargaan, pendidikan, pengabdian masyarakat, dl; serta memiliki sekretariat tempat kami berkumpul. Kami belajar Debust? Not quite right, but yes some people do that.
This year is a milestone, another awesome breakthrough yet full of a random zig-zag processes. Ketua Debust tahun ini dengan berani mengambil tantangan untuk melakukan pagelaran Debust pertama. Saya ingat ketika hearing kala itu, I was just being me, being pessimistic; well no, everyone is just trying to be realistic by throwing a little sarcastic questions. Pertanyaan-pertanyaan seputar sumber daya manusia, budaya Banten yang entah apa, tarian yang anak Banten saja mungkin tak tahu, sejarah Banten yang seperti tertelan cerita modern lain, menjadi pertimbangan-pertimbangan keberlangsungan pagelaran ini. Banten masih tergolong baru, budayanya masih banyak yang belum tahu, orang-orang pribuminya seperti saya ini makin banyak tergantikan dengan pendatang, Who will design the show then?
We do have courage. Ketua pagelaran pun terpilih, seorang perempuan asal Tangerang Selatan yang kemudian sibuk menggali Budaya Banten selama berbulan-bulan with her fantastic enthusiasm. Pedalaman baduy disantroni, berbagai sanggar dikunjungi, kesenian-kesenian batik, rumah penduduk, dan spot lain yang bisa menjadi sumber dijejaki. She did a really good job together with others.
Datulaya namanya. Sebuah ruang kekeluargaan di Kesultanan Banten. Nama ini kemudian dipilih sebagai nama pagelaran pertama kami. Banten dulu, kini, dan nanti menjadi tagline pagelaran kami; meminta kami sebagai orok Banten yang sudah dewasa untuk menggambar masa depan seraya memegang cermin; to arrange the dreams without forgetting the past; to be confidence that future will welcome us just right, oh no, it will welcome us with brightness at its best.
Datulaya memperkenalkan Banten. Kuliner, pameran budaya, serta kolaborasi drama, tarian, dan atraksi Debust dipertunjukkan. Rasa makanan Banten menjalari lidah-lidah pembeli, sure they love the foods!
Night comes and the show will start soon. I wasn’t involved in this show, but my heart beat fast when the show started, lol, andddddd you guys did amazing! Totally amazing.
I am not trying to be an annoying melancholic girl, tapi gue beneran terharu liat kalian! Bangga banget! I know how you guys arrange everything since I was invited as well in the committee group line, awalnya tak sudi untuk sekedar join grup kepanitiaan ini karena saya memang tidak bisa bantu, namun seorang teman bilang “gpp ris, supaya lo tau update pagelaran aja”. Rasa bersalah dan beban moral sering muncul ketika baca grup dan mendapati berbagai naik-turunnya kepanitiaan ini tapi belum bisa bantu apa-apa. Well, it is not a mistake after all, setiap kepanitiaan pasti ada konfliknya, setiap kepanitiaan pasti ada senangnya. Terima kasih buat siapapun yang mencoba membuat saya dan beberapa lainnya terlibat di sini, walaupun pada akhirnya saya hanya bisa bantu lewat doa, so sorry guys :’’’
Ayo sama-sama jadikan ini pelajaran. Sebagaimana ketua pagelaran kita tercinta bilang, “Datulaya itu bukan hasil, tapi proses.” Untuk saat ini saya bisa jadi tidak peduli apa itu identitas Banten, kenapa kita harus mengenalkan Banten? Apa esensi budaya sebagai identitas bangsa dan lain sebagainya. Mungkin buat saya itu proses untuk akhirnya benar-benar tahu karena sejauh ini yang saya tahu masih sebatas ‘identitas sebagai pemersatu’. Proses pun bukan hanya itu saja. Proses untuk saling mengenal kembali satu sama lain, proses untuk saling mengerti bahwa kita keluarga #tsah. Proses untuk menyadari bahwa kita anak Banten dan Banten butuh kita #ea
Siapa yang tahu Banten?
Mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi dengan konsentrasi politik dinasti paling tinggi, mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi yang melahirkan atraksi Debust yang ‘menyeramkan’, dan mungkin orang mengetahuinya sebagai tempat tinggal kaum Baduy. Kemungkinan ini toh bukan stereotype, that makes Banten Banten, anyway. Setelah pagelaran ini, mungkin akan ada identitas baru untuk Banten?
Di tengah budaya kampus sarat kaderisasi (osjur), periodisasi (pemira), dan apresiasi (syukwis) yang kadang buat sipit mata, dahi mengkerut, jengah rasa, lelah badan dan pikiran; buat saya, budaya yang satu ini, memperkenalkan budaya daerah, menjadi relaksasi tersendiri.
Siapa yang tahu Banten?
Mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi dengan konsentrasi politik dinasti paling tinggi, mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi yang melahirkan atraksi Debust yang ‘menyeramkan’, dan mungkin orang mengetahuinya sebagai tempat tinggal kaum Baduy. Kemungkinan ini toh bukan stereotype, that makes Banten Banten, anyway.
Tidak sedikit komentar lucu dari teman-teman di kampus ketika tahu saya anak Debust ITB untuk pertama kalinya,
“Wuis, serem, makan beling ris?”
“Oh kamu anak Debust? Kalian beneran belajar debust ga sih?”
Sampai beberapa komentar yang makin lama makin absurd karena dengan semena-menanya teman-teman jurusan saya membuat saya dan Citra menjadi sample tipikal anak Banten -.-‘’ hahaha
Well, despite the comments, people will know eventually what Debust in ITB for real. Ya, kami perkumpulan anak Banten, yang tinggal di Banten atau lahir di Banten atau pernah tinggal di Banten atau bahkan tertarik dengan budaya Banten. Kami pun sama seperti unit lainnya yang memiliki sistem kaderisasi untuk mencari generasi baru, memiliki struktur kepengurusan, memiliki program kerja kekeluargaan, pendidikan, pengabdian masyarakat, dl; serta memiliki sekretariat tempat kami berkumpul. Kami belajar Debust? Not quite right, but yes some people do that.
This year is a milestone, another awesome breakthrough yet full of a random zig-zag processes. Ketua Debust tahun ini dengan berani mengambil tantangan untuk melakukan pagelaran Debust pertama. Saya ingat ketika hearing kala itu, I was just being me, being pessimistic; well no, everyone is just trying to be realistic by throwing a little sarcastic questions. Pertanyaan-pertanyaan seputar sumber daya manusia, budaya Banten yang entah apa, tarian yang anak Banten saja mungkin tak tahu, sejarah Banten yang seperti tertelan cerita modern lain, menjadi pertimbangan-pertimbangan keberlangsungan pagelaran ini. Banten masih tergolong baru, budayanya masih banyak yang belum tahu, orang-orang pribuminya seperti saya ini makin banyak tergantikan dengan pendatang, Who will design the show then?
We do have courage. Ketua pagelaran pun terpilih, seorang perempuan asal Tangerang Selatan yang kemudian sibuk menggali Budaya Banten selama berbulan-bulan with her fantastic enthusiasm. Pedalaman baduy disantroni, berbagai sanggar dikunjungi, kesenian-kesenian batik, rumah penduduk, dan spot lain yang bisa menjadi sumber dijejaki. She did a really good job together with others.
Datulaya namanya. Sebuah ruang kekeluargaan di Kesultanan Banten. Nama ini kemudian dipilih sebagai nama pagelaran pertama kami. Banten dulu, kini, dan nanti menjadi tagline pagelaran kami; meminta kami sebagai orok Banten yang sudah dewasa untuk menggambar masa depan seraya memegang cermin; to arrange the dreams without forgetting the past; to be confidence that future will welcome us just right, oh no, it will welcome us with brightness at its best.
Datulaya memperkenalkan Banten. Kuliner, pameran budaya, serta kolaborasi drama, tarian, dan atraksi Debust dipertunjukkan. Rasa makanan Banten menjalari lidah-lidah pembeli, sure they love the foods!
Night comes and the show will start soon. I wasn’t involved in this show, but my heart beat fast when the show started, lol, andddddd you guys did amazing! Totally amazing.
I am not trying to be an annoying melancholic girl, tapi gue beneran terharu liat kalian! Bangga banget! I know how you guys arrange everything since I was invited as well in the committee group line, awalnya tak sudi untuk sekedar join grup kepanitiaan ini karena saya memang tidak bisa bantu, namun seorang teman bilang “gpp ris, supaya lo tau update pagelaran aja”. Rasa bersalah dan beban moral sering muncul ketika baca grup dan mendapati berbagai naik-turunnya kepanitiaan ini tapi belum bisa bantu apa-apa. Well, it is not a mistake after all, setiap kepanitiaan pasti ada konfliknya, setiap kepanitiaan pasti ada senangnya. Terima kasih buat siapapun yang mencoba membuat saya dan beberapa lainnya terlibat di sini, walaupun pada akhirnya saya hanya bisa bantu lewat doa, so sorry guys :’’’
Ayo sama-sama jadikan ini pelajaran. Sebagaimana ketua pagelaran kita tercinta bilang, “Datulaya itu bukan hasil, tapi proses.” Untuk saat ini saya bisa jadi tidak peduli apa itu identitas Banten, kenapa kita harus mengenalkan Banten? Apa esensi budaya sebagai identitas bangsa dan lain sebagainya. Mungkin buat saya itu proses untuk akhirnya benar-benar tahu karena sejauh ini yang saya tahu masih sebatas ‘identitas sebagai pemersatu’. Proses pun bukan hanya itu saja. Proses untuk saling mengenal kembali satu sama lain, proses untuk saling mengerti bahwa kita keluarga #tsah. Proses untuk menyadari bahwa kita anak Banten dan Banten butuh kita #ea
Siapa yang tahu Banten?
Mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi dengan konsentrasi politik dinasti paling tinggi, mungkin orang mengetahuinya sebagai provinsi yang melahirkan atraksi Debust yang ‘menyeramkan’, dan mungkin orang mengetahuinya sebagai tempat tinggal kaum Baduy. Kemungkinan ini toh bukan stereotype, that makes Banten Banten, anyway. Setelah pagelaran ini, mungkin akan ada identitas baru untuk Banten?
Rabu, 28 Januari 2015
Halo ISMAFARSI
Never thought before that I wanted to be part of you,
Bukan, ini bukan tulisan perpisahan.
Rasanya waktu berjalan sangat cepat, rasanya baru kemarin gue angkat tangan di kegiatan LK 2 Priangan dan menyatakan “Sejujurnya, saya tidak tahu apa2 soal ISMAFARSI, saya merasa dijudge di sini”
Baru kemarin kesan pertama gue ketika melihat sosok Poppy yang dewasa lagi keibuan berbicara di forum; memberikan saran solutif yang buat gue angguk-angguk kepala. Baru kemarin rasanya alis gue sedikit terangkat ketika mendengar Saiful dengan kritisnya berbicara pakai embel-embel ‘jebolan mentoring’ yang somehow setiap liat dia, jadi keingat tagline ‘jebolan mentoring’nya. Haha. Baru kemarin rasanya melihat Ifa penuh semangat mencurahkan rasa ingin tahunya akan ISMAFARSI. Baru kemarin ya. Duh bukan, this is not a good bye-prolog.
Never thought before that I wanted to be part of you until that day in Malang…
I saw a different ‘landscape’, felt a different atmosphere, smelt something challenge (wait, this was so not me).
Iya. Pengurus ISMAFARSI Bersinar di LK3 kemudian dengan pandainya mengambil hati gue, it was like “Man, you guys are way too cool! You offer service, a devotion, a rare dedication.” Sampai tercetus lah sedikit keinginan itu, untuk menjadi seperti mereka.
Ingat sekali waktu itu gue duduk di depan; tak sengaja menyisakan satu tempat duduk kosong tak berpenghuni yang tau-tau diisi cowok berjaket-kuning. Perkenalan kami dimulai dengan cerita mengalir dari cowok berjakun itu (jakun?); cerita dirinya bertemu dengan Menteri Kesehatan, dirinya yang suka menulis karya tulis ilmiah, dirinya yang menjadi konseptor ILC (aha! Found an intercept), dan lain-lain. Yah, siapa yang tidak kagum dengan sosok ini? Sosok yang sekarang menjadi seorang pemimpin ISMAFARSI. Cie elah.
Belum berhenti kepala gue manggut-manggut, kemudian gue disuguhi presentasi dari Mas Yoce, Jaya, Apri, Aris, dll. I was like “this guys really know what theyre doing”.
Sampai PRAMUNAS. The proud transform into sympathy. Sun seemed to hide, give its turn to the cloudy bloody day to come in charge #halah. I have my own perception toward this organization, the different one from yesterday, somehow the desire to be the chairpersons kind of gone. Kind of. “Girl, welcome to Indonesia” they say.
Singkat cerita, orang-orang yang gue temui di Malang lah yang kemudian sedikit banyak mengubah persepsi gue tentang Farmasi itu sendiri. Thanks to LK3, latihan kepemimpinan yang menjadi turning point gue (after the one I had in ITB) dalam melihat status dan peran mahasiswa, khususnya mahasiswa Farmasi. Momen berbeda yang membuka gue akan keberagaman Indonesia dari sudut pandang yang baru, quite a lot different compare to AFS orientation or any national program I attended for several times. It was a gripping moment after all despite the creepy pramunas :)
Tiba di event Nasional ke dua gue. Ridho a.k.a cowok berjaket kuning mencalonkan diri sebagai Sekjen ISMAFARSI. Yup, he was chosen. Tibalah masa itu, masa-masa bingung daftar SA atau nggak. Masa yang diiringi dengan berbagai pertimbangan luar biasa sampai air mata menjadi bagian dari skenario di masa itu hahaha ya sori lebay. Pertimbangan akademik, mimpi-mimpi 2014, dan amanah lain di kampus (karena gue bukan tipe orang yang senang nemplok sana sini – prinsip gue daripada ada kemungkinan ga total di satu, better ga usah cari amanah lain-) jadi pertimbangan utama. Gue yang biasanya sangat jarang bersapa dengan Priangan Ranger, mau gamau meminta pertimbangan mereka. Berkali-kali chat dengan Bang Jaya lumayan ada pencerahan; chat dengan Saiful, gada pencerahan karena dia pun sama-sama bingung daftar atau ngga. Chat dengan Ifa hampir setiap hari, duh bikin galau luar biasa. Ngobrol dengan kakak, dia bilang “kalau ngabisin duit orang tua, ga usah.” Galaunya nyampe ke hati bagian dalam (?). Ngobrol dengan teman-teman unit dan jurusan baru kemudian gue memutuskan untuk tidak mendaftar karena alasan yang buat gue manggut seribu manggut. Ah, the universe seemed not supporting. Ngobrol lagi dengan Ifa, she said something ‘jleb’ yang kemudian mengubah keputusan gue untuk daftar. Ngobrol lagi dengan Saiful, he said “ni, ini tuh D U A T A H U N” dan kata-kata pesimis lainnya, gue akhirnya memutuskan utk tidak mendaftar. Besoknya, seseorang tiba-tiba ngewhatsapp gue, and out of nowhere, mungkin dia punya kekuatan merasuki pikiran gue, I eventually enrolled. Duh. Oke maaf curhat.
UPGRADING. Mungkin momen ini jadi salah satu momen yang buat semangat gue bertambah; ditambah dengan rakernas, semangat gue mulai memercikan api, walau sering selama rakernas padam lagi karena merasa terbebani. Namun kehadiran teman-teman hebat yang tidak pernah sebelumnya terpikirkan akan berada di sekeliling kalian, memberikan koleksi warna baru di kehidupan gue, percikan api itu perlahan membesar #tsah. I saw you girls and guys have your own true color. Apri yang lucu nan kebapak-an, azai yang suka tiba-tiba crack the ice, faisal yang kalem-kalem gila dan pekerja keras, ghicha yang rajin dan super ngegemesin, ifa yang …(ah da kita mah punya alur cerita sendiri yang panjaaang :)), ipul yang bisa diandalkan di mana-mana, jo yang solutif dan tenang, khansa yang cuek-cuek peduli dan suka ngebully ghicha, memel yang murah senyum dan selalu bisa diandalkan dalam menangkap momen, poppy yang keibuan, solutif, dan ngefans berat sama ipul, qonita yang super ramah dan senyumnya bikin gemes, ridho yang mengayomi dan selalu positif, silvy yang telaten dan grecep apalagi masalah perduitan, tor yang kalem-kalem ramah, za yang selow dan selalu senyum, fio yang pekerja keras dan pecinta damai (?), bang Sabda yang tegas dan diem-diem iseng, zura yang selalu menyapa dan membaur, Ashar yang baik hati dan tekun, iam yang selalu positif, ngegemesin dan jago masak, aris…though our last meeting was in LK 3 so I haven’t known you really well, I know you also have that unique color, I know youre that diligent and hard worker guy! (Hope we can meet in another chance :))
Anyway, bisa jadi gue salah membaca warna kalian, friendship is all about time, right? We will know each other deeper, expected thing might exist yet unexpected moment may happen, gada yang tahu ke depannya kaya apa, friction and love may be coming together with us along the way, it is life. We still have one and a half year, gue secara pribadi meminta bimbingan teman-teman semua, karena bisa jadi ketika alasan lain masih dicoba dibangun untuk mencintai peran ini, setidaknya cinta gue ke kalian akan mempercepat alasan-alasan lain muncul dan bisa buat gue tetap bertahan menjalani peran ahaha.
Sorry for the melancholic sentences wkwk Coba teman-teman ingat lagi awal mula keterlibatan teman-teman di ISMAFARSI, tujuan awal kita, niat kita, semuanya yang sampai membawa kita sampai sini. God indeed planned all of it since we don’t know when. Well, It is obviously not a going-away story. Ini salam pembuka dariku, salam untuk menciptakan semangat dari percikan api menjadi bara, untuk ISMAFARSI luar biasa. Halo ISMAFARSI :)
Bukan, ini bukan tulisan perpisahan.
Rasanya waktu berjalan sangat cepat, rasanya baru kemarin gue angkat tangan di kegiatan LK 2 Priangan dan menyatakan “Sejujurnya, saya tidak tahu apa2 soal ISMAFARSI, saya merasa dijudge di sini”
Baru kemarin kesan pertama gue ketika melihat sosok Poppy yang dewasa lagi keibuan berbicara di forum; memberikan saran solutif yang buat gue angguk-angguk kepala. Baru kemarin rasanya alis gue sedikit terangkat ketika mendengar Saiful dengan kritisnya berbicara pakai embel-embel ‘jebolan mentoring’ yang somehow setiap liat dia, jadi keingat tagline ‘jebolan mentoring’nya. Haha. Baru kemarin rasanya melihat Ifa penuh semangat mencurahkan rasa ingin tahunya akan ISMAFARSI. Baru kemarin ya. Duh bukan, this is not a good bye-prolog.
Never thought before that I wanted to be part of you until that day in Malang…
I saw a different ‘landscape’, felt a different atmosphere, smelt something challenge (wait, this was so not me).
Iya. Pengurus ISMAFARSI Bersinar di LK3 kemudian dengan pandainya mengambil hati gue, it was like “Man, you guys are way too cool! You offer service, a devotion, a rare dedication.” Sampai tercetus lah sedikit keinginan itu, untuk menjadi seperti mereka.
Ingat sekali waktu itu gue duduk di depan; tak sengaja menyisakan satu tempat duduk kosong tak berpenghuni yang tau-tau diisi cowok berjaket-kuning. Perkenalan kami dimulai dengan cerita mengalir dari cowok berjakun itu (jakun?); cerita dirinya bertemu dengan Menteri Kesehatan, dirinya yang suka menulis karya tulis ilmiah, dirinya yang menjadi konseptor ILC (aha! Found an intercept), dan lain-lain. Yah, siapa yang tidak kagum dengan sosok ini? Sosok yang sekarang menjadi seorang pemimpin ISMAFARSI. Cie elah.
Belum berhenti kepala gue manggut-manggut, kemudian gue disuguhi presentasi dari Mas Yoce, Jaya, Apri, Aris, dll. I was like “this guys really know what theyre doing”.
Sampai PRAMUNAS. The proud transform into sympathy. Sun seemed to hide, give its turn to the cloudy bloody day to come in charge #halah. I have my own perception toward this organization, the different one from yesterday, somehow the desire to be the chairpersons kind of gone. Kind of. “Girl, welcome to Indonesia” they say.
Singkat cerita, orang-orang yang gue temui di Malang lah yang kemudian sedikit banyak mengubah persepsi gue tentang Farmasi itu sendiri. Thanks to LK3, latihan kepemimpinan yang menjadi turning point gue (after the one I had in ITB) dalam melihat status dan peran mahasiswa, khususnya mahasiswa Farmasi. Momen berbeda yang membuka gue akan keberagaman Indonesia dari sudut pandang yang baru, quite a lot different compare to AFS orientation or any national program I attended for several times. It was a gripping moment after all despite the creepy pramunas :)
Tiba di event Nasional ke dua gue. Ridho a.k.a cowok berjaket kuning mencalonkan diri sebagai Sekjen ISMAFARSI. Yup, he was chosen. Tibalah masa itu, masa-masa bingung daftar SA atau nggak. Masa yang diiringi dengan berbagai pertimbangan luar biasa sampai air mata menjadi bagian dari skenario di masa itu hahaha ya sori lebay. Pertimbangan akademik, mimpi-mimpi 2014, dan amanah lain di kampus (karena gue bukan tipe orang yang senang nemplok sana sini – prinsip gue daripada ada kemungkinan ga total di satu, better ga usah cari amanah lain-) jadi pertimbangan utama. Gue yang biasanya sangat jarang bersapa dengan Priangan Ranger, mau gamau meminta pertimbangan mereka. Berkali-kali chat dengan Bang Jaya lumayan ada pencerahan; chat dengan Saiful, gada pencerahan karena dia pun sama-sama bingung daftar atau ngga. Chat dengan Ifa hampir setiap hari, duh bikin galau luar biasa. Ngobrol dengan kakak, dia bilang “kalau ngabisin duit orang tua, ga usah.” Galaunya nyampe ke hati bagian dalam (?). Ngobrol dengan teman-teman unit dan jurusan baru kemudian gue memutuskan untuk tidak mendaftar karena alasan yang buat gue manggut seribu manggut. Ah, the universe seemed not supporting. Ngobrol lagi dengan Ifa, she said something ‘jleb’ yang kemudian mengubah keputusan gue untuk daftar. Ngobrol lagi dengan Saiful, he said “ni, ini tuh D U A T A H U N” dan kata-kata pesimis lainnya, gue akhirnya memutuskan utk tidak mendaftar. Besoknya, seseorang tiba-tiba ngewhatsapp gue, and out of nowhere, mungkin dia punya kekuatan merasuki pikiran gue, I eventually enrolled. Duh. Oke maaf curhat.
UPGRADING. Mungkin momen ini jadi salah satu momen yang buat semangat gue bertambah; ditambah dengan rakernas, semangat gue mulai memercikan api, walau sering selama rakernas padam lagi karena merasa terbebani. Namun kehadiran teman-teman hebat yang tidak pernah sebelumnya terpikirkan akan berada di sekeliling kalian, memberikan koleksi warna baru di kehidupan gue, percikan api itu perlahan membesar #tsah. I saw you girls and guys have your own true color. Apri yang lucu nan kebapak-an, azai yang suka tiba-tiba crack the ice, faisal yang kalem-kalem gila dan pekerja keras, ghicha yang rajin dan super ngegemesin, ifa yang …(ah da kita mah punya alur cerita sendiri yang panjaaang :)), ipul yang bisa diandalkan di mana-mana, jo yang solutif dan tenang, khansa yang cuek-cuek peduli dan suka ngebully ghicha, memel yang murah senyum dan selalu bisa diandalkan dalam menangkap momen, poppy yang keibuan, solutif, dan ngefans berat sama ipul, qonita yang super ramah dan senyumnya bikin gemes, ridho yang mengayomi dan selalu positif, silvy yang telaten dan grecep apalagi masalah perduitan, tor yang kalem-kalem ramah, za yang selow dan selalu senyum, fio yang pekerja keras dan pecinta damai (?), bang Sabda yang tegas dan diem-diem iseng, zura yang selalu menyapa dan membaur, Ashar yang baik hati dan tekun, iam yang selalu positif, ngegemesin dan jago masak, aris…though our last meeting was in LK 3 so I haven’t known you really well, I know you also have that unique color, I know youre that diligent and hard worker guy! (Hope we can meet in another chance :))
Anyway, bisa jadi gue salah membaca warna kalian, friendship is all about time, right? We will know each other deeper, expected thing might exist yet unexpected moment may happen, gada yang tahu ke depannya kaya apa, friction and love may be coming together with us along the way, it is life. We still have one and a half year, gue secara pribadi meminta bimbingan teman-teman semua, karena bisa jadi ketika alasan lain masih dicoba dibangun untuk mencintai peran ini, setidaknya cinta gue ke kalian akan mempercepat alasan-alasan lain muncul dan bisa buat gue tetap bertahan menjalani peran ahaha.
Sorry for the melancholic sentences wkwk Coba teman-teman ingat lagi awal mula keterlibatan teman-teman di ISMAFARSI, tujuan awal kita, niat kita, semuanya yang sampai membawa kita sampai sini. God indeed planned all of it since we don’t know when. Well, It is obviously not a going-away story. Ini salam pembuka dariku, salam untuk menciptakan semangat dari percikan api menjadi bara, untuk ISMAFARSI luar biasa. Halo ISMAFARSI :)
Jumat, 16 Januari 2015
The Dream Team - Buricak Burinong
Ninis membuka buku doanya. Khidmat ia melafalkan huruf-huruf hijaiyah yang mengantarkannya pada ketenangan, walau mungkin sesaat. Risni duduk tegap di kursi, mulutnya berkomat-kamit mencoba membuang bayangan orang tua yang sempat cemas berlebihan hingga menyuruhnya membatalkan perjalanan. Kejadian jatuhnya salah satu maskapai penerbangan Indonesia pekan kemarin membuat cemas para penumpang kendaraan terbang ini, bahkan bagi orang-orang yang sudah sering bepergian jauh. Sepatah kata doa yang biasanya dilisankan berubah menjadi deretan panjang huruf-huruf arab. Pesawat pun melesat, suara-suara mesin dan gerakan badan pesawat seolah terdengar kasar dan mengkhawatirkan bagi penumpang; entah karena burung besar ini yang tak lihai bergerak atau hanya sekedar paranoia.
***
“Ada wifi ga?” Galuh menengok ke arah Eldi yang sedang menyalakan handphonenya, sementara matanya fokus pada koper yang dicarinya di baggage claim.
“ada..ada…” Risni menimpali, ia pun tak sabar mengaktifkan whatsapp dan segera memberi kabar orang tuanya bahwa ia telah sampai dengan selamat.
Suasana yang terasa sama namun berbeda menyambut kedatangan enam belas orang mahasiswa Farmasi ITB beserta tiga dosen yang mendampingi. Alfabet lurus dan kaku di papan-papan bandara seketika berganti dengan tulisan-tulisan keriting yang sering dikaitkan dengan mie goreng oleh sekelompok mahasiswa dan dosen yang menamai diri mereka sebagai the Dream Team to Chiang Mai. Perbedaan yang kerap kali membuat resah tim ini selain barisan huruf keriting adalah ketiadaan internet yang menjadikan mereka para fakir wifi. Raja Thailand Bhumibol Adulyadej pun menyambut mereka dengan senyum dan wajah ramah berbalut kacamata bulat melalui foto-fotonya yang tersebar di seantero bandara, jalanan, dan bangunan.
“Thai respect their king.” Nadia bergumam, senyumnya menjadi awal aktivitas fangirling terhadap suasana dan cerita kerajaan.
Membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit bagi kelompok pelajar pertukaran ini untuk menjejak Chiang Mai dari Bandara Don Mueang Bangkok. Seorang wanita dan pria yang menangani hubungan internasional Chiang Mai University menjemput dan mempersilakan mereka untuk menaiki transpotasi unik yang disebut Red Truck, sebuah mobil losbak yang diberi atap, dinding, dan kursi duduk menyamping. Setibanya di Chiang Mai Flora Hotel, the Dream Team memasuki kamar masing-masing dan bersiap untuk mencicipi makan malam pertama di negeri yang bangsanya memuji the White Elephant.
Minggu pagi dihabiskan dengan mengunjungi Elephant Camp yang menghadirkan gajah-gajah cerdas yang pandai melukis dan bermain bola. Rombongan mahasiswa dan dosen ini pun sempat mengunjungi Orchid and Butterfly Park, tempat yang menjadi favorit Ibu Lia, salah satu dosen yang menggemari bunga Anggrek.
“Tarik Bu Lia, pegang…ayo pegang...kita harus pulang!” Bu Opi, dosen ceria nan lucu berteriak canda ke para mahasiswanya selepas selesai mengunjungi Orchid Park.
“Hahaha….” Gurih tawa terdengar dari mahasiswa yang menimpali guyonan Bu Opi. Tawa makin terdengar kencang sehabis menyantap makanan lezat khas Thailand, Tom Yum dan Pad Thai.
Rombongan kemudian beralih mengunjungi destinasi selanjutnya – Elephant Poopoo paper Park dan Kad Luang market – ditemani oleh perempuan ramah yang rela membagi waktuya bersama mereka, Poi, seorang staf humas dari Chiang Mai University.
***
“Di can che Jessica, yin dee tidai ruchak” Perkenalan demi perkenalan menggunakan Bahasa Thailand yang sebelumnya dipelajari bersama menjadi ice breaker tersendiri. Dekan Chiang Mai University tersenyum ramah, suasana formal namun cair menciptakan atmosfer ruangan yang hangat dan nyaman. Sambutan dan penjelasan singkat universitas diberikan dari kedua belah pihak, baik dari Dekan dan professor CMU maupun Pak Rahmat sebagai pihak dari ITB. Setelah sapa saling berbalas, rombongan melakukan tour ke Medicinal Plant Garden, Museum, and Herbarium CMU setelah sebelumya diadakan Guest Lecturer oleh Pak Rahmat dan Bu Lia.
“Wah selasih nih selasih…”
“Aah…Curcuma domestica..”
“Bagus ya tempat herbariumnya…”
“Ah mam, I saw a movie called Crazy Little Thing Called Love, they use this to whiten the skin” Di tengah keseriusan beberapa mahasiswa yang takjub melihat kerapihan museum herbarium, Ujang melontarkan kalimat yang membuat alis sang tour guide terangkat.
“No we don’t use it to whiten skin”
“But I saw it in the movie called Crazy Little Thing Called Love” Ujang kembali melempar argumennya, tak mau kalah. Namun yang tahu tetap yang tuannya, Ujang pun mengalah. Teman-temannya hanya tertawa melihat kelakuan ketua tim mereka.
Kegiatan selanjutnya adalah Hospital Visit. CMU memiliki rumah sakit sendiri, yaitu Chiang Mai Hospital yang letaknya tak jauh dari kampus. Berbagai presentasi disuguhkan oleh dua orang farmasis yang bekerja di rumah sakit tersebut. Mereka mempresentasikan berbagai hal khususnya pada sistem pendataan ADR (Adverse Drug Reaction) di RS tersebut. Sistem yang diberlakukan sedikit banyak membuat mulut mahasiswa farmasi ITB ini terbuka, karena negeri mereka yang belum begitu memiliki sistem yang baik terkait ADR. Namun mereka menyadari bahwa Rumah Sakit di Negara berkembang memang sedang dalam massanya berkembang, terdapat berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing yang butuh diperbaiki atau dipertahankan. Tak dapat dipungkiri, Thailand dan Indonesia adalah dua Negara yang masih kental kesenjangan sosial di dalamnya. Tak cukup menjadikan satu rumah sakit sebagai cermin kualitas sistem kesehatan bangsa, seperti tak validnya memuji sistem pelayanan farmasi Indonesia hanya karena melihat pelayanan RS Santosa; atau mencemooh pelayanan kesehatan Indonesia karena melihat satu RS negeri yang lain sudah established. Sebagian dari mereka berandai untuk mengunjungi setiap rumah sakit yang ada; membandingkan dan menentukan sistem mana yang baik dan cocok untuk diadopsi secara massal dan menghilangkan gap tingkat kualitas pelayanan kesehatan dari Sabang sampai Merauke, yang mungkin menjadi salah satu rangkaian mimpi the Dream Team.
***
“Duh deg-degan pisan….da aku mah apa atuh…”
“Tenang, pharmacoustic bisa menutupi kehancuran tarian kita”
Wajah sembilan perempuan anggota the Dream Team gelisah. Ini kali pertama mereka menampilkan suatu tarian dengan durasi latihan yang sangat singkat. Tarian Aceh oleh perempuan yang dinamis, biasa disebut orang dengan Tari Saman padahal Tari Ratoh. Panggung itu berdiri tegak horizontal menghadap hamparan rumput hijau segar nan luas. Berbagai snack telah tersedia, mahasiswa CMU telah berkumpul ramai, siap menyaksikan penampilan tari dan lagu sebagai bentuk pengenalan budaya Indonesia. Eric dan Ujang berdiri di atas panggung menemani cuaca segar dan wajah-wajah ceria hari itu, wajah ceria yang berubah malu memerah karena tersipu dengan karisma dan ketampanan pemilik wajah Korea yang digandrungi gadis-gadis Thailand.
“Eric! They said you’re handsome!” Jessica menyampaikan bisikan tiga orang mahasiswi CMU yang kemudian salah tingkah ketika mendengar teriakan Jessica. Eric hanya memasang tampang dingin, ia kembali berceloteh bersama Ujang di atas panggung. Risni dan Erba tertawa kecil melihatnya.
“Let’s welcome, the Saman Dancer!!”
Musik dimulai, para penari dengan wajah setengah sumringah setengah gelisah memasuki pangung dengan gerakan tegas lagi menawan. Tangan-tangan mulai bergerak, telapak saling bertemu menggaungkan suara tepuk kompak dan padat. Telapak bertemu paha, kemudian telapak lagi, kemudian bahu, dan telapak lagi. Irama mencuat ke sudut-sudut lapangan, wajah yang gelisah ada yang berganti sumringah, pun adapula yang awalnya tersenyum lebar menjadi ciut tak keruan. Risni panik karena ikat kepalanya yang jatuh di tengah tarian, Ninis yang mulai kecut karena salah gerakan di awal tarian, wajah tegang Neli karena tangannya yang kadang bertabrakan tak tentu arah; semua itu bercampur dengan senyum dan dagu terangkat dari Galuh dan Alin, gerakan dinamis Nadia dan Jessica, serta senyum hangat dan ramah dari Yulia dan Erba. Sepjo merekam gerak demi gerak dalam bentuk dokumentasi tak bergerak. Jarinya lincah menekan tombol kamera detik demi detik mencoba menghasilkan jepretan candid yang sedap dilihat.
“What a move!” Ujang dan Eric kembali ke atas panggung, menyambut selesainya tarian sementara penari-penari bernafas lega karena selesai melaksanakan tugas. Setelah penampilan tari, pharmacoustic pun maju ke atas panggung. Alunan gitar Wiji memecah suasana, note demi note seolah ikut menari di atas garis-garis penyangganya. Suaru merdu Afina, Eldi, dan Ica membuat rumput ikut membuai khidmat; kalau saja Mockingjay hadir, ia mungkin tak mampu meniru keindahan alunannya. Sampai pada lagu terakhir, mereka mengajak penonton untuk berjoget bersama dalam irama dangdut. Belum sempat Afina menarik salah satu dari penonton untuk bergoyang bersama, Bu Opi bersama salah seorang dosen CMU bergerak menuju panggung, mengangkat kedua jempol dan takzim bergerak mengayun bersama penonton yang tersihir untuk ikut bergoyang.
“Hahaha you guys were great!” Percakapan demi percakapan pun terjadi setelah penampilan selesai. Tidak ada yang lebih indah ketika pelangi mencoba melengkapi warnanya, menyatukan perbedaan yang ada; begitulah yang dirasakan Bu Opi ketika melihat mahasiswanya saling bercengkerama dan tertawa memamerkan gigi-giginya. Entah sudah berapa jabat tangan yang hadir di lapangan rumput ini, hitungan permutasi dan kombinasi mungkin tak mampu meyelesaikannya. Bulan seperti enggan muncul, ia masih rela memberikan tempatnya bagi matahari untuk menyediakan terang tanpa malam menggangu. Namun matahari butuh istirahat, pun the Dream Team, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak dan bersiap menuju Night Market bersama teman baru. Bulan kini muncul dengan percaya diri, rupanya malam tak menganggu kebersamaan.
***
Kunjungan CMU Main Campus dimulai di hari ke-tiga the Dream Team menginjakkan kakinya di Thailand.
“Can ra khun!” Bu Opi dengan karakter khasnya memanggil kelompok kecil Dream Team yang didampingi olehnya. Kelompok can ra khun balas berteriak. Begitu pula dengan Bu Lia yang kemudian mengikuti gelagat Bu Opi “Suay mak mak!” kelompok suay mak mak menimpali dengan teriakan yang tak kalah heboh. Kemudian hening datang sesaat, sampai Ica menyadarkan Pak Rahmat, “Bapak, ayo teriak….”. Tawa renyah pun terdengar mengisi Bus, Pak Rahmat kemudian berteriak “Fai mai ron!” “Yeaaayy!” teriakan kelompok Fai Mai Ron pun menyelesaikan ritual pemanggilan semangat kelompok-kelompok kecil the Dream Team.
Kunjungan dimulai dengan melihat tempat ibadah para Buddha di dalam kampus. Tempat ibadah yang memberikan ruang ketenangan tersendiri bagi penganutnya. Setelah itu rombongan mengunjungi Agriculture Exhibition yang diselenggarakan oleh fakultas pertanian; berbagai tanaman, binatang hasil kawin silang, serta pupuk unik dipertunjukkan. Tujuan terakhir kunjungan adalah sebuah danau yang indah dan berhawa sejuk. Tempat dan cuaca pun kembali mendukung pertemanan baru yang lain dengan mahasiswa-mahasiswi CMU. Danau ini murni dikelilingi oleh bukit tanpa gedung-gedung kampus, di atas bukit terdapat tempat bernama Doi Suthep yang menjadi tempat favorit mahasiswa CMU di awal tahun, yaitu adanya sebuah tradisi berjalan kaki dan berlari dari gerbang depan kampus ke Doi Suthep yang memakan waktu kurang lebih 5 jam.
“Do they have to walk there? How if somebody is sick or maybe they just don’t wanna go?” Nadia bertanya kepada Paipai seputar tradisi yang mungkin di kalangan mahasiswa Indonesia dikenal sebagai masa ospek.
“They don’t have to, if they were sick its okay; but yeah all students will go, because we are friends, you know…we walk together to the top, together with friends.” Risni yang mendengar jawaban tersebut menyimpulkan senyum, ia mengamini pemikiran Paipai yang menurutnya hal tersebut budaya unik dari kebanyaan warga Asia terkait jiwa kebersamaan dan persahabatan.
Danau sepertinya masih senang memperlihatkan keindahannya pada rombongan the Dream Team, namun mereka harus segera pergi ke Doi Suthep sebelum matahari hijrah ke belahan bumi lain. Pagoda emas yang indah menyambut rombongan. Yulia dan Eric pun segera melakukan persembahan sesuai dengan agama yang dianutnya, sementara yang lain sibuk mendokumentasikan salah satu momen berharga ini. Galuh dan Risni memerhatikan ritual persembahan yang dilakukan Yulia dan Eric. Diawali dengan menyalakan dupa, menundukan kepala, kemudian Yulia dan Eric mengelilingi pagoda sebanyak 7 kali sambil berdoa.
“Ka Eric pasti senang ya ke sini, kalau aku jadi kakak pasti senang!” Risni menghampiri Bu Lia dan Eric yang sedang duduk seusai ibadah sambil menunggu sesi foto-foto selesai.
“Bukan senang sih, tapi tenang. Iya tenang, bukan yang excited gitu, tapi tenang.”
Risni manggut-manggut. Memang sudah sepantasnya suatu tempat suci memberikan ketenangan bagi penganutnya, suatu pelajaran lain yang dapat diambil hikmahnya jika melihat masa sekarang di mana orang-orang terbutakan akan kesenangan saat pergi ke tanah suci dan tak begitu memedulikan rasa tenang dekat dengan Tuhan.
Begitu puas dengan momen dokumentasi, rombongan the Dream Team menyempatkan untuk membeli souvenir dan kemudian meluncur kembali ke hotel untuk bersiap menyantap makan malam bersama teman-teman CMU. Di dalam bus, sesi foto tetap berlanjut; Eldi melihat hasil jepretan selfie Alin bersama Eldi. “Ih…warnanya berisik, meuni buricak burinong, hinyai pisan…renceum”. Jessica dan Galuh yang duduk di belakang keduanya tertawa puas mendengar istilah-istilah aneh yang diucapkan Eldi. Tawa berlanjut hingga seisi bus menyadari keunikan istilah buricak burinong yang merupakan Bahasa sunda dengan arti “warna blink-blink atau warna yang ramai”. Momen tawa tersebut menjadi cikal bakal dicetuskannya nama baru bagi the Dream Team menjadi tim Buricak Burinong.
***
Bintang menambah penerang lampu-lampu Restoran Tradisional Khantoke Ban Pi Huen Nong Lanna Cultural and Thai Nostalgic. Makanan yang disajikan, penampilan, serta kedatangan teman-teman CMU menjadikan tempat ini cozy dan homy. Lagi, tawa canda terdengar seusai makan. Suasana kemudian bertambah ramai ketika Yulia mandapati surat misterius di dalam sepatunya berisi nomor telepon dan permintaan nomor telepon Yulia dalam Bahasa Thailand.
“The guy is the old guy, o my god, look at the handwriting, pretty sure he is an old guy around 40s” Rombongan Buricak Burinong dan CMU tertawa mendengar celetukan Paipai yang kemudian diamini Alisa. Terkejut, tertawa, dan ngeri menjadi satu bagi Yulia. Candaan-candaan seram lagi menggelikan menghantui Yulia namun hal tersebut menjadikan malam semakin seru. Jarum pendek jam menunjukkan angka 21.15, kebersamaan tersebut terpaksa harus ditunda. Penundaan yang bisa jadi akan sangat lama, tidak ada yang tahu kapan palu diketuk untuk membuka kembali penundaan ini. Jabat tangan di hari pertama ketika kedua rombongan saling bertemu berganti menjadi pelukan haru. Bagi mereka yang didominasi introvert tentu masih membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk ikut merasakan pelukan erat lagi haru; namun farewell is farewell, perpisahan tetaplah sesuatu yang tidak disukai oleh kebanyakan orang. Sedih kelak akan berganti rindu, rindu kelak akan terobati dengan pertemuan yang entah kapan akan terjadi lagi. It is not a good bye, it’s see you later.
***
Raja Thailand Bhumibol Adulyadej kembali menyambut rombongan tim Buricak Burinong di ibu kota tanah Gajah, Bangkok. Kunjungan selanjutnya adalah Fakultas Farmasi Universitas Mahidol, top rank university di Thailand. Sambil menunggu faculty tour, Sepjo menginisiasi permainan favoritnya yang kemudian menjadi permainan favorit tim ini, “permainan plesetan kata”, sebuah permainan yang lama-kelamaan ikut mengundang Bu Opi, Bu Lia, dan Pak Rahmat turut serta; sebuah permainan sederhana yang dapat mengubah busur bibir melengkung ke bawah bahkan terbuka lebar, sebuah permainan sederhana yang menjadi salah satu momen tawa bersama teman dan dosen yang mereka sayangi.
Setelah penyambutan singkat oleh humas hubungan internasional Fakultas Farmasi MU, rombongan dibawa mengelilingi laboratorium. Berbagai ruangan dan alat laboratorium ditunjukkan. Ruangan simulasi konseling, DIC (Drug Information Center), CAPQ (Center of Analysis for Product Quality), dll sedikit banyak membelalakan mata mereka, terhanyut iri dengan beberapa fasilitas yang tidak dimiliki ITB. Database tanaman herbal yang diupdate setiap hari melalui jurnal-jurnal seluruh dunia, alat-alat yang sudah ISO, ruangan-ruangan baru yang memadai, semuanya menginspirasi mereka.
***
Esok hari tiba. Hari terakhir tim Buricak Burinong mencicipi udara Thailand. Waktu yang sangat singkat dan sangat berarti bagi mereka. Hari ini dimanfaatkan dengan baik oleh mereka dengan berjalan-jalan mengitari sebagian kecil tanah Bangkok, yaitu mengunjungi Grand Palace dan shopping center. Hari demi hari selalu dilewati dengan senyuman, tawa, syukur, dan rasa bahagia dalam bentuk yang berbeda-beda. Tim dengan karakter orang-orang yang berbeda tidak melebur menjadi gradasi dengan warna baru, namun membiarkan warna tersebut apa adanya membentuk lintasan-lintasan terpadu seperti pelangi. Pelangi yang telah ada kemudian mencoba menambah warna dengan menemui orang-orang baru di negeri lain; sepertinya sinar cahaya tampak harus mau direpotkan dengan penambahan gelombang dan frekuensi baru. Pelangi pun telah menunjukkan warna tanah airnya melalui pengenalan budaya tari, lagu, dan hospitality.
Pun pelangi telah belajar banyak hal mengenai cara dunia mengajar melalui berbagai kunjungan yang didatangi; dunia mempermainkan hati dan pikiran dalam memotivasi sekaligus mengingatkan orang-orang di dalamnya untuk bersyukur. Boleh jadi ada universitas dan rumah sakit yang jauh lebih baik di negeri orang, tapi tidak sedikit di negeri sendiri yang jauh tidak lebih beruntung. Seperti pepatah yang mengatakan, Melihat ke atas untuk motivasi, melihat ke bawah untuk bersyukur. Begitulah arogansi dan pesimisme dilenyapkan dalam waktu yang bersamaan untuk menjaga homeostasis kehidupan. Tim Buricak Burinong menjadi salah satu dari banyak pemuda yang bahunya dibebani amanah negeri. Berbagi akan menjadi modal awal, bergerak akan menjadi investasi yang luar biasa. Semoga pelangi ini tak hanya muncul ketika hujan usai.
“Travel is not about the time and distance covered, but it’s about what we can gain from time and covered distance”
Terima kasih Ibu Opi, Ibu Lia, dan Pak Rahmat. Terima kasih Sekolah Farmasi ITB. Terima kasih geng Buricak Burinog. Thanks for the really short days of episodes yet very gripping! :D
***
“Ada wifi ga?” Galuh menengok ke arah Eldi yang sedang menyalakan handphonenya, sementara matanya fokus pada koper yang dicarinya di baggage claim.
“ada..ada…” Risni menimpali, ia pun tak sabar mengaktifkan whatsapp dan segera memberi kabar orang tuanya bahwa ia telah sampai dengan selamat.
Suasana yang terasa sama namun berbeda menyambut kedatangan enam belas orang mahasiswa Farmasi ITB beserta tiga dosen yang mendampingi. Alfabet lurus dan kaku di papan-papan bandara seketika berganti dengan tulisan-tulisan keriting yang sering dikaitkan dengan mie goreng oleh sekelompok mahasiswa dan dosen yang menamai diri mereka sebagai the Dream Team to Chiang Mai. Perbedaan yang kerap kali membuat resah tim ini selain barisan huruf keriting adalah ketiadaan internet yang menjadikan mereka para fakir wifi. Raja Thailand Bhumibol Adulyadej pun menyambut mereka dengan senyum dan wajah ramah berbalut kacamata bulat melalui foto-fotonya yang tersebar di seantero bandara, jalanan, dan bangunan.
“Thai respect their king.” Nadia bergumam, senyumnya menjadi awal aktivitas fangirling terhadap suasana dan cerita kerajaan.
Membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit bagi kelompok pelajar pertukaran ini untuk menjejak Chiang Mai dari Bandara Don Mueang Bangkok. Seorang wanita dan pria yang menangani hubungan internasional Chiang Mai University menjemput dan mempersilakan mereka untuk menaiki transpotasi unik yang disebut Red Truck, sebuah mobil losbak yang diberi atap, dinding, dan kursi duduk menyamping. Setibanya di Chiang Mai Flora Hotel, the Dream Team memasuki kamar masing-masing dan bersiap untuk mencicipi makan malam pertama di negeri yang bangsanya memuji the White Elephant.
Minggu pagi dihabiskan dengan mengunjungi Elephant Camp yang menghadirkan gajah-gajah cerdas yang pandai melukis dan bermain bola. Rombongan mahasiswa dan dosen ini pun sempat mengunjungi Orchid and Butterfly Park, tempat yang menjadi favorit Ibu Lia, salah satu dosen yang menggemari bunga Anggrek.
“Tarik Bu Lia, pegang…ayo pegang...kita harus pulang!” Bu Opi, dosen ceria nan lucu berteriak canda ke para mahasiswanya selepas selesai mengunjungi Orchid Park.
“Hahaha….” Gurih tawa terdengar dari mahasiswa yang menimpali guyonan Bu Opi. Tawa makin terdengar kencang sehabis menyantap makanan lezat khas Thailand, Tom Yum dan Pad Thai.
Rombongan kemudian beralih mengunjungi destinasi selanjutnya – Elephant Poopoo paper Park dan Kad Luang market – ditemani oleh perempuan ramah yang rela membagi waktuya bersama mereka, Poi, seorang staf humas dari Chiang Mai University.
***
“Di can che Jessica, yin dee tidai ruchak” Perkenalan demi perkenalan menggunakan Bahasa Thailand yang sebelumnya dipelajari bersama menjadi ice breaker tersendiri. Dekan Chiang Mai University tersenyum ramah, suasana formal namun cair menciptakan atmosfer ruangan yang hangat dan nyaman. Sambutan dan penjelasan singkat universitas diberikan dari kedua belah pihak, baik dari Dekan dan professor CMU maupun Pak Rahmat sebagai pihak dari ITB. Setelah sapa saling berbalas, rombongan melakukan tour ke Medicinal Plant Garden, Museum, and Herbarium CMU setelah sebelumya diadakan Guest Lecturer oleh Pak Rahmat dan Bu Lia.
“Wah selasih nih selasih…”
“Aah…Curcuma domestica..”
“Bagus ya tempat herbariumnya…”
“Ah mam, I saw a movie called Crazy Little Thing Called Love, they use this to whiten the skin” Di tengah keseriusan beberapa mahasiswa yang takjub melihat kerapihan museum herbarium, Ujang melontarkan kalimat yang membuat alis sang tour guide terangkat.
“No we don’t use it to whiten skin”
“But I saw it in the movie called Crazy Little Thing Called Love” Ujang kembali melempar argumennya, tak mau kalah. Namun yang tahu tetap yang tuannya, Ujang pun mengalah. Teman-temannya hanya tertawa melihat kelakuan ketua tim mereka.
Kegiatan selanjutnya adalah Hospital Visit. CMU memiliki rumah sakit sendiri, yaitu Chiang Mai Hospital yang letaknya tak jauh dari kampus. Berbagai presentasi disuguhkan oleh dua orang farmasis yang bekerja di rumah sakit tersebut. Mereka mempresentasikan berbagai hal khususnya pada sistem pendataan ADR (Adverse Drug Reaction) di RS tersebut. Sistem yang diberlakukan sedikit banyak membuat mulut mahasiswa farmasi ITB ini terbuka, karena negeri mereka yang belum begitu memiliki sistem yang baik terkait ADR. Namun mereka menyadari bahwa Rumah Sakit di Negara berkembang memang sedang dalam massanya berkembang, terdapat berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing yang butuh diperbaiki atau dipertahankan. Tak dapat dipungkiri, Thailand dan Indonesia adalah dua Negara yang masih kental kesenjangan sosial di dalamnya. Tak cukup menjadikan satu rumah sakit sebagai cermin kualitas sistem kesehatan bangsa, seperti tak validnya memuji sistem pelayanan farmasi Indonesia hanya karena melihat pelayanan RS Santosa; atau mencemooh pelayanan kesehatan Indonesia karena melihat satu RS negeri yang lain sudah established. Sebagian dari mereka berandai untuk mengunjungi setiap rumah sakit yang ada; membandingkan dan menentukan sistem mana yang baik dan cocok untuk diadopsi secara massal dan menghilangkan gap tingkat kualitas pelayanan kesehatan dari Sabang sampai Merauke, yang mungkin menjadi salah satu rangkaian mimpi the Dream Team.
***
“Duh deg-degan pisan….da aku mah apa atuh…”
“Tenang, pharmacoustic bisa menutupi kehancuran tarian kita”
Wajah sembilan perempuan anggota the Dream Team gelisah. Ini kali pertama mereka menampilkan suatu tarian dengan durasi latihan yang sangat singkat. Tarian Aceh oleh perempuan yang dinamis, biasa disebut orang dengan Tari Saman padahal Tari Ratoh. Panggung itu berdiri tegak horizontal menghadap hamparan rumput hijau segar nan luas. Berbagai snack telah tersedia, mahasiswa CMU telah berkumpul ramai, siap menyaksikan penampilan tari dan lagu sebagai bentuk pengenalan budaya Indonesia. Eric dan Ujang berdiri di atas panggung menemani cuaca segar dan wajah-wajah ceria hari itu, wajah ceria yang berubah malu memerah karena tersipu dengan karisma dan ketampanan pemilik wajah Korea yang digandrungi gadis-gadis Thailand.
“Eric! They said you’re handsome!” Jessica menyampaikan bisikan tiga orang mahasiswi CMU yang kemudian salah tingkah ketika mendengar teriakan Jessica. Eric hanya memasang tampang dingin, ia kembali berceloteh bersama Ujang di atas panggung. Risni dan Erba tertawa kecil melihatnya.
“Let’s welcome, the Saman Dancer!!”
Musik dimulai, para penari dengan wajah setengah sumringah setengah gelisah memasuki pangung dengan gerakan tegas lagi menawan. Tangan-tangan mulai bergerak, telapak saling bertemu menggaungkan suara tepuk kompak dan padat. Telapak bertemu paha, kemudian telapak lagi, kemudian bahu, dan telapak lagi. Irama mencuat ke sudut-sudut lapangan, wajah yang gelisah ada yang berganti sumringah, pun adapula yang awalnya tersenyum lebar menjadi ciut tak keruan. Risni panik karena ikat kepalanya yang jatuh di tengah tarian, Ninis yang mulai kecut karena salah gerakan di awal tarian, wajah tegang Neli karena tangannya yang kadang bertabrakan tak tentu arah; semua itu bercampur dengan senyum dan dagu terangkat dari Galuh dan Alin, gerakan dinamis Nadia dan Jessica, serta senyum hangat dan ramah dari Yulia dan Erba. Sepjo merekam gerak demi gerak dalam bentuk dokumentasi tak bergerak. Jarinya lincah menekan tombol kamera detik demi detik mencoba menghasilkan jepretan candid yang sedap dilihat.
“What a move!” Ujang dan Eric kembali ke atas panggung, menyambut selesainya tarian sementara penari-penari bernafas lega karena selesai melaksanakan tugas. Setelah penampilan tari, pharmacoustic pun maju ke atas panggung. Alunan gitar Wiji memecah suasana, note demi note seolah ikut menari di atas garis-garis penyangganya. Suaru merdu Afina, Eldi, dan Ica membuat rumput ikut membuai khidmat; kalau saja Mockingjay hadir, ia mungkin tak mampu meniru keindahan alunannya. Sampai pada lagu terakhir, mereka mengajak penonton untuk berjoget bersama dalam irama dangdut. Belum sempat Afina menarik salah satu dari penonton untuk bergoyang bersama, Bu Opi bersama salah seorang dosen CMU bergerak menuju panggung, mengangkat kedua jempol dan takzim bergerak mengayun bersama penonton yang tersihir untuk ikut bergoyang.
“Hahaha you guys were great!” Percakapan demi percakapan pun terjadi setelah penampilan selesai. Tidak ada yang lebih indah ketika pelangi mencoba melengkapi warnanya, menyatukan perbedaan yang ada; begitulah yang dirasakan Bu Opi ketika melihat mahasiswanya saling bercengkerama dan tertawa memamerkan gigi-giginya. Entah sudah berapa jabat tangan yang hadir di lapangan rumput ini, hitungan permutasi dan kombinasi mungkin tak mampu meyelesaikannya. Bulan seperti enggan muncul, ia masih rela memberikan tempatnya bagi matahari untuk menyediakan terang tanpa malam menggangu. Namun matahari butuh istirahat, pun the Dream Team, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak dan bersiap menuju Night Market bersama teman baru. Bulan kini muncul dengan percaya diri, rupanya malam tak menganggu kebersamaan.
***
Kunjungan CMU Main Campus dimulai di hari ke-tiga the Dream Team menginjakkan kakinya di Thailand.
“Can ra khun!” Bu Opi dengan karakter khasnya memanggil kelompok kecil Dream Team yang didampingi olehnya. Kelompok can ra khun balas berteriak. Begitu pula dengan Bu Lia yang kemudian mengikuti gelagat Bu Opi “Suay mak mak!” kelompok suay mak mak menimpali dengan teriakan yang tak kalah heboh. Kemudian hening datang sesaat, sampai Ica menyadarkan Pak Rahmat, “Bapak, ayo teriak….”. Tawa renyah pun terdengar mengisi Bus, Pak Rahmat kemudian berteriak “Fai mai ron!” “Yeaaayy!” teriakan kelompok Fai Mai Ron pun menyelesaikan ritual pemanggilan semangat kelompok-kelompok kecil the Dream Team.
Kunjungan dimulai dengan melihat tempat ibadah para Buddha di dalam kampus. Tempat ibadah yang memberikan ruang ketenangan tersendiri bagi penganutnya. Setelah itu rombongan mengunjungi Agriculture Exhibition yang diselenggarakan oleh fakultas pertanian; berbagai tanaman, binatang hasil kawin silang, serta pupuk unik dipertunjukkan. Tujuan terakhir kunjungan adalah sebuah danau yang indah dan berhawa sejuk. Tempat dan cuaca pun kembali mendukung pertemanan baru yang lain dengan mahasiswa-mahasiswi CMU. Danau ini murni dikelilingi oleh bukit tanpa gedung-gedung kampus, di atas bukit terdapat tempat bernama Doi Suthep yang menjadi tempat favorit mahasiswa CMU di awal tahun, yaitu adanya sebuah tradisi berjalan kaki dan berlari dari gerbang depan kampus ke Doi Suthep yang memakan waktu kurang lebih 5 jam.
“Do they have to walk there? How if somebody is sick or maybe they just don’t wanna go?” Nadia bertanya kepada Paipai seputar tradisi yang mungkin di kalangan mahasiswa Indonesia dikenal sebagai masa ospek.
“They don’t have to, if they were sick its okay; but yeah all students will go, because we are friends, you know…we walk together to the top, together with friends.” Risni yang mendengar jawaban tersebut menyimpulkan senyum, ia mengamini pemikiran Paipai yang menurutnya hal tersebut budaya unik dari kebanyaan warga Asia terkait jiwa kebersamaan dan persahabatan.
Danau sepertinya masih senang memperlihatkan keindahannya pada rombongan the Dream Team, namun mereka harus segera pergi ke Doi Suthep sebelum matahari hijrah ke belahan bumi lain. Pagoda emas yang indah menyambut rombongan. Yulia dan Eric pun segera melakukan persembahan sesuai dengan agama yang dianutnya, sementara yang lain sibuk mendokumentasikan salah satu momen berharga ini. Galuh dan Risni memerhatikan ritual persembahan yang dilakukan Yulia dan Eric. Diawali dengan menyalakan dupa, menundukan kepala, kemudian Yulia dan Eric mengelilingi pagoda sebanyak 7 kali sambil berdoa.
“Ka Eric pasti senang ya ke sini, kalau aku jadi kakak pasti senang!” Risni menghampiri Bu Lia dan Eric yang sedang duduk seusai ibadah sambil menunggu sesi foto-foto selesai.
“Bukan senang sih, tapi tenang. Iya tenang, bukan yang excited gitu, tapi tenang.”
Risni manggut-manggut. Memang sudah sepantasnya suatu tempat suci memberikan ketenangan bagi penganutnya, suatu pelajaran lain yang dapat diambil hikmahnya jika melihat masa sekarang di mana orang-orang terbutakan akan kesenangan saat pergi ke tanah suci dan tak begitu memedulikan rasa tenang dekat dengan Tuhan.
Begitu puas dengan momen dokumentasi, rombongan the Dream Team menyempatkan untuk membeli souvenir dan kemudian meluncur kembali ke hotel untuk bersiap menyantap makan malam bersama teman-teman CMU. Di dalam bus, sesi foto tetap berlanjut; Eldi melihat hasil jepretan selfie Alin bersama Eldi. “Ih…warnanya berisik, meuni buricak burinong, hinyai pisan…renceum”. Jessica dan Galuh yang duduk di belakang keduanya tertawa puas mendengar istilah-istilah aneh yang diucapkan Eldi. Tawa berlanjut hingga seisi bus menyadari keunikan istilah buricak burinong yang merupakan Bahasa sunda dengan arti “warna blink-blink atau warna yang ramai”. Momen tawa tersebut menjadi cikal bakal dicetuskannya nama baru bagi the Dream Team menjadi tim Buricak Burinong.
***
Bintang menambah penerang lampu-lampu Restoran Tradisional Khantoke Ban Pi Huen Nong Lanna Cultural and Thai Nostalgic. Makanan yang disajikan, penampilan, serta kedatangan teman-teman CMU menjadikan tempat ini cozy dan homy. Lagi, tawa canda terdengar seusai makan. Suasana kemudian bertambah ramai ketika Yulia mandapati surat misterius di dalam sepatunya berisi nomor telepon dan permintaan nomor telepon Yulia dalam Bahasa Thailand.
“The guy is the old guy, o my god, look at the handwriting, pretty sure he is an old guy around 40s” Rombongan Buricak Burinong dan CMU tertawa mendengar celetukan Paipai yang kemudian diamini Alisa. Terkejut, tertawa, dan ngeri menjadi satu bagi Yulia. Candaan-candaan seram lagi menggelikan menghantui Yulia namun hal tersebut menjadikan malam semakin seru. Jarum pendek jam menunjukkan angka 21.15, kebersamaan tersebut terpaksa harus ditunda. Penundaan yang bisa jadi akan sangat lama, tidak ada yang tahu kapan palu diketuk untuk membuka kembali penundaan ini. Jabat tangan di hari pertama ketika kedua rombongan saling bertemu berganti menjadi pelukan haru. Bagi mereka yang didominasi introvert tentu masih membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk ikut merasakan pelukan erat lagi haru; namun farewell is farewell, perpisahan tetaplah sesuatu yang tidak disukai oleh kebanyakan orang. Sedih kelak akan berganti rindu, rindu kelak akan terobati dengan pertemuan yang entah kapan akan terjadi lagi. It is not a good bye, it’s see you later.
***
Raja Thailand Bhumibol Adulyadej kembali menyambut rombongan tim Buricak Burinong di ibu kota tanah Gajah, Bangkok. Kunjungan selanjutnya adalah Fakultas Farmasi Universitas Mahidol, top rank university di Thailand. Sambil menunggu faculty tour, Sepjo menginisiasi permainan favoritnya yang kemudian menjadi permainan favorit tim ini, “permainan plesetan kata”, sebuah permainan yang lama-kelamaan ikut mengundang Bu Opi, Bu Lia, dan Pak Rahmat turut serta; sebuah permainan sederhana yang dapat mengubah busur bibir melengkung ke bawah bahkan terbuka lebar, sebuah permainan sederhana yang menjadi salah satu momen tawa bersama teman dan dosen yang mereka sayangi.
Setelah penyambutan singkat oleh humas hubungan internasional Fakultas Farmasi MU, rombongan dibawa mengelilingi laboratorium. Berbagai ruangan dan alat laboratorium ditunjukkan. Ruangan simulasi konseling, DIC (Drug Information Center), CAPQ (Center of Analysis for Product Quality), dll sedikit banyak membelalakan mata mereka, terhanyut iri dengan beberapa fasilitas yang tidak dimiliki ITB. Database tanaman herbal yang diupdate setiap hari melalui jurnal-jurnal seluruh dunia, alat-alat yang sudah ISO, ruangan-ruangan baru yang memadai, semuanya menginspirasi mereka.
***
Esok hari tiba. Hari terakhir tim Buricak Burinong mencicipi udara Thailand. Waktu yang sangat singkat dan sangat berarti bagi mereka. Hari ini dimanfaatkan dengan baik oleh mereka dengan berjalan-jalan mengitari sebagian kecil tanah Bangkok, yaitu mengunjungi Grand Palace dan shopping center. Hari demi hari selalu dilewati dengan senyuman, tawa, syukur, dan rasa bahagia dalam bentuk yang berbeda-beda. Tim dengan karakter orang-orang yang berbeda tidak melebur menjadi gradasi dengan warna baru, namun membiarkan warna tersebut apa adanya membentuk lintasan-lintasan terpadu seperti pelangi. Pelangi yang telah ada kemudian mencoba menambah warna dengan menemui orang-orang baru di negeri lain; sepertinya sinar cahaya tampak harus mau direpotkan dengan penambahan gelombang dan frekuensi baru. Pelangi pun telah menunjukkan warna tanah airnya melalui pengenalan budaya tari, lagu, dan hospitality.
Pun pelangi telah belajar banyak hal mengenai cara dunia mengajar melalui berbagai kunjungan yang didatangi; dunia mempermainkan hati dan pikiran dalam memotivasi sekaligus mengingatkan orang-orang di dalamnya untuk bersyukur. Boleh jadi ada universitas dan rumah sakit yang jauh lebih baik di negeri orang, tapi tidak sedikit di negeri sendiri yang jauh tidak lebih beruntung. Seperti pepatah yang mengatakan, Melihat ke atas untuk motivasi, melihat ke bawah untuk bersyukur. Begitulah arogansi dan pesimisme dilenyapkan dalam waktu yang bersamaan untuk menjaga homeostasis kehidupan. Tim Buricak Burinong menjadi salah satu dari banyak pemuda yang bahunya dibebani amanah negeri. Berbagi akan menjadi modal awal, bergerak akan menjadi investasi yang luar biasa. Semoga pelangi ini tak hanya muncul ketika hujan usai.
“Travel is not about the time and distance covered, but it’s about what we can gain from time and covered distance”
Terima kasih Ibu Opi, Ibu Lia, dan Pak Rahmat. Terima kasih Sekolah Farmasi ITB. Terima kasih geng Buricak Burinog. Thanks for the really short days of episodes yet very gripping! :D
Langganan:
Postingan (Atom)


