Sabtu, 23 April 2016

Hayo 23 April hari apa?

“Kita bisa jadi tahu banyak hal dari sekitar kita, namun buku membuat segalanya lebih terdefinisi.”

Mentor saya pernah berkata hal demikian. I was smiling that time, because yes I couldn’t agree more on that. I’m not that bookworm person walau banyak orang menganggap saya demikian. Mungkin karena kacamata tebal saya lol. Tapi saya sepakat. Buku memang membuat segalanya lebih terdefinisi. Hal yang terdefinisi memungkinkan seseorang menjadi lebih terbuka akan sesuatu, open minded, serta mengetahui apa yang harus ia lakukan dalam menanggapi lingkungan sekitar. Membaca buku psikologi bagi saya adalah upaya menelanjangi karakter orang dengan cara yang bijak; membaca buku sejarah adalah upaya untuk belajar dari masa lalu melalui pandangan orang lain, menekan ego dan asumsi yang sering tak berdasar; membaca buku agama adalah upaya memperbaiki diri dan mencari kebenaran dibalik abstraknya arti ‘percaya’; membaca novel adalah upaya bersenang-senang tanpa harus takut kehilangan manfaat; membaca komik adalah cara mengistirahatkan otak dengan cara yang elegan #naon ini. Hehehe.

Indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,0001 which means in every 1000 Indonesians, we only have 1 person that love to read. I’m not judging you, saya sendiri masih sulit meluangkan waktu untuk membaca. But trust me, kata-kata klasik ‘buku adalah jendela ilmu’, well it is.

Contohnya ketika kita membaca buku psikologi.

In daily life we see many people with their own caharacters. Kadang kita melihat orang yang pendiam lantas kita tidak mau berteman dengannya, merasa “lo ga asik ah!” padahal she’s just being introvert with her own power. Susan Cain dalam bukunya menulis “I have seen firsthand how difficult it is for introverts to take stock of their own talents, and how powerful it is when finally they do.” Dalam bukunya pun Ia mengenalkan tentang Extrovert Ideal and stuff like that. Buat saya, membaca buku itu memberi definisi baru tentang karakter manusia yang pada dasarnya will help us to socialize. It helps us to accept people and help people to build their character in the right way. Because we know some terms. Terms define everything.

Atau ketika kita membaca novel.

Banyak novel yang memberi tahu kita tentang kejadian-kejadian sehari-hari dengan berbagai peran di dalamnya. Kadang kita merasakan apa yang ada di dalam cerita dan memiliki asumsi tersendiri tentang suatu kejadian. Namun ketika melihat berbagai pendapat orang lain melalui peran yang dimainkan, rasanya kita bisa lebih pandai memaknai hidup. Haha.

Membaca buku agama?

Well, just be honest to ourselves. Kadang kita masih sering bertanya hal-hal kecil seperti jamak-qashar sholat yang benar seperti apa.

Membaca buku pelajaran?

Wkwk ini juga harus kok. Saya masih belajar banget buat yang ini. But here I talk more to books outside our field. Kalau hanya baca buku sesuai bidang kita, I guess its going to be hard to survive the world. Hahaha. Ekstremnya begitu. Sama seperti dengan blending with variety of people. Kalau kita hanya berteman dengan orang-orang yang sejenis dengan kita, gimana kita mau berkembang? Jika kita cuma bergaul dengan orang-orang pintar yang hobi baca farmakope tiap hari, we’re going to be a freak nerd that doesn’t have any other capability and doesn’t have wider value to others. Padahal untuk survive, we need skills more than we think.

Ilmu pengetahuan yang kita dapat dari sebuah bacaan dapat menyerap di otak kita sebagai sebuah fakta hingga pemahaman. Hal-hal yang masih membuat kita buta, membaca buku akan membuka mata kita. Hal-hal yang kita sudah tahu dasarnya, akan memperluas lagi wawasan kita. Hal-hal yang sudah kita tahu banyak, mungkin kita butuh suatu buku untuk membantu kita membuat segalanya jadi lebih terdefinisi dan terstruktur. Eventually, everything makes sense for us.

Membuat sesuatu menjadi lebih tertanam di otak harus lebih dari sekedar mendatangi seminar, browsing artikel, atau berdiskusi dengan orang lain. Books come to explain things comprehensively. Dari buku, seminar, dan berdiskusi, its going to be the perfect combination to, hopefully, create a real action toward our understanding. Hehe

Giving time to read is not easy, I know. Saya baru saja baca ini kemarin di akun line Metagraf, and I guess we can try this out to practice.

1. Borrow more books that you can read. Atau bisa juga beli buku sebanyak-banyaknya. Saya suka gatal kalau lihat buku masih banyak yang tersusun dan masih dalam plastik. Somehow akan ada urge buat baca. Bisa juga pinjam sama teman yang tipenya kasi deadline waktu pinjam, supaya termotivasi. Atau pinjam buku ke perpus dengan deadline juga.
2. Read more than one book at a time. Ini baru saya praktikan semester ini. Its not that bad though. Cukup efektif dalam eskalasi menambah pengetahuan wkwk. Hanya harus dijatah waktunya, misal baca novel di sela menunggu, baca buku lain sebelum tidur.
3. Set a goal per reading session. Yah misal setiap hari minimal harus baca 50 halaman.
4. Ignore what you ‘should’ be reading. Haha ini lagi saya coba banget. Biasanya saya baca buku-buku mainstream yang memang direkomendasikan orang, bukan atas dasar rasa ingin tahu diri sendiri. Tapi katanya, kita akan lebih termotivasi untuk membaca yang sesuai interest dan kita nikmati!
5. Practice speed-reading. Baca scanning gitu ya. It needs a lot of practice.
6. Read digitally across all your mobile devices. Untuk efektivitas dan efisiensi ini bagus banget. We can ready anytime and anywhere. Sayangnya mata saya cepat lelah kalau baca di smartphone lama-lama -.-
7. Read before going to bed. Menurut saya, ini cara yang paling ga buat merasa bersalah. Terkadang kita merasa bersalah membaca buku ketika tugas kuliah sedang menumpuk. Membaca di siang hari terus keasikan hingga lupa mengerjakan tugas. Well, read before going to bed will be the right choice, after we did all of our works.

Nah, semoga bermanfaat ya. Semoga kita bisa sama-sama sedikit-sedikit meluangkan waktu untuk membaca. Soal bacaan apa yang harus dibaca, mmmm, to me, We are what we read :)

Hayo 23 April hari apa?

Happy World Book Day!

Rabu, 20 April 2016

Farmasi dan Perempuan


Jurusan farmasi sepertinya menjadi incaran kaum hawa. Tanyakan pada sahabat perempuanmu di farmasi, berapa dari mereka yang baru tahu bahwa jurusan ini didominasi oleh perempuan setelah ia masuk ke dalamnya. Tanyakan apakah mereka menyesal masuk ke jurusan ini, karena jawabannya akan terdiri dari ‘tidak’ karena farmasi menyenangkan dan menantang dan ‘ya’ karena farmasi miskin kaum adam. Ga deng, canda.

Menjadi mahasiswi farmasi, mau tak mau bergelut dengan kebaperan di atas rata-rata karena perasaan lunak wanita, perbedaan standar banjir air mata, sikap bocah yang merajalela walau usia menua, tapi banyak juga yang dewasa, hanya saja, sepertinya peran logika kurang ada.

Menjadi mahasiswa farmasi, mau tak mau menjadi tumbal kemanjaan sekaligus kemalasan perempuan. Mulai dari menjadi ketua segala kelas, ahli menyalakan proyektor, hingga menjadi andalan segala kebutuhan logistik.

Saya masih ingat kala itu, teman saya dari jurusan teknik X menawarkan saya membawakan tas yang padahal dari fisiknya terlihat tas itu tidak berat sama sekali. Saya spontan berkata “apaan sih?”. Saya lupa, kampus saya penuh dengan laki-laki yang terdidik bahwa kaum adam harus membawakan tas wanita. Ga deng, maksudnya harus peka dengan beban perempuan. Apalagi saat itu, lagi masa-masanya ospek jurusan di mana semua laki-laki berubah menjadi tukang ojeg yang bahkan tak perlu dipanggil dan dibayar sudah menawarkan jok belakang motor; berubah menjadi tukang kuli sukarela yang mungkin kalau diminta membuat candi prambanan tadingan pun akan legowo saja. Hehe.

Terbayang seperti apa ospek jurusan farmasi? Mungkin akan terlihat merepotkan ketika membayangkan secuil laki-laki harus mengantar bolak-balik teman perempuannya ke rumah hingga harus tumpuk empat. Mungkin akan terlihat menggemaskan ketika para lelaki mencoba membawa tas teman perempuannya, ya di lengan kanan ada 3, lengan kiri ada 2, di leher 2, bahkan di kaki? Ini hanya contoh ekstrem. Lol. No, they don’t do that. Lelaki farmasi mungkin dituntut untuk melakukan segala aktivitas secara efektif dan efisien tanpa harus membebani perempuan.

Memang, ada apa dengan perempuan?

An-Nisa ayat 34 berbunyi (eits, mainnya udah ayat aja, gpp ya hitung-hitung nambah ilmu agama, bukan bahasan berat kok, selow ae)

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”

Agama pun mengajarkan betapa pentingnya peran seorang lelaki, khususnya dalam hal memimpin. Memimpin ini kemudian diinterpretasikan dalam segi tanggung jawab, mengayomi, dan melindungi perempuan. Sementara perempuan dinobatkan sebagai seorang yang layaknya dilindungi serta sebagai madrasah utama anak-anak, penjamin lahirnya generasi emas masa depan #tsah.

Norma dan sosial pun berperan. Warga Asia dan Eropa memiliki pandangan yang berbeda terkait perempuan sampai Raden Ajeng Kartini pun terinspirasi oleh sahabatnya di Belanda dalam melihat peran perempuan. Terbitlah terang, emansipasi wanita di Indonesia muncul ke permukaan. Waktu berjalan, affirmative action dielu-elukan, hingga muncul juga paham feminisme. Entahlah sejarahnya seperti apa (lagi malas browsing sis), intinya perempuan hari ini sudah mendapatkan hak dan kewajiban yang tidak jauh berbeda dengan laki-laki. Namun, mungkin karena kentalnya ajaran Islam di Indonesia serta norma penghuni dunia belahan timur kebanyakan, kultur laki-laki adalah pelindung wanita masih sangat kuat.

Secara ilmiahnya, laki-laki memiliki kodrat yang memang condong sebagai orang yang mampu untuk melindungi perempuan. Fisik yang cenderung lebih kuat, ambang baper yang berbeda dengan wanita, duh yah pokoknya tahu kan maksudnya apa. Lelaki memang dikodratkan demikian.

Sungguh, saya sebagai perempuan merasa sangat terhormat diberikan kedudukan seperti itu. Siapa perempuan yang tidak ingin dilindungi? Payung saja tidak cukup untuk menghalau badai dan jaket berlapis tak cukup ampuh menahan sengatan panas jika dibandingkan dengan seorang lelaki yang kuatnya melebihi tameng baja. *ini apaan sih*

Perempuan di sisi lain memiliki tanggung jawab yang besar. Bukan berarti perempuan tidak memiliki kapasitas untuk memimpin, bukan berarti perempuan harus bermanja-manja dan menggantungkan hidupnya penuh pada seorang lelaki, bukan berarti perempuan sah untuk mengeluh meminta menikah ketika beban kuliah dirasa berlimpah *lah*. Perempuan dan laki-laki memiliki porsi tanggung jawab dan kepemimpinan masing-masing sesuai dengan kodratnya.

Perempuan dan farmasi (ini judul dan konten kok agak ga nyambung ya). Menjadi perempuan yang kesehariannya dikelilingi oleh perempuan mungkin membuat tabiat anak farmasi berbeda? Entahlah. Mungkin. Bisa jadi. Namun yang saya rasakan sedikit banyak adalah soal keterlibatan perempuan untuk membangun himpunan. Posisi sekjen hingga ketua divisi yang kemudian didominasi oleh ciwi-ciwi haruslah menjadi momen pembelajaran yang luar biasa dalam menjadi seorang pemimpin. Menjadi anggota perempuan yang dipimpin lagi oleh perempuan kadang mungkin sulit, penuh toleransi dan bawa perasaan. Menyadari ketua himpunan yang sering adalah seorang laki2 (HMF pernah punya kahim cewek ga ya?), seharusnya dijadikan wadah kami untuk lebih mengerti peran perempuan. Jangan sampai jadi manusia yang hanya ingin dimengerti, namun harus juga memberi pengertian #yuhu. Menjadi penggerak himpunan harusnya bisa dijadikan alat untuk mengelola baper. Saya jadi teringat seorang pimpinan organisasi yang bilang bahwa saya bersifat passive agresive dalam memimpin, yah mungkin itu karena saya yang sudah sakit hati dan berniat profesional, tapi malah gagal karena baper sepertinya sulit untuk disembunyikan wkwk. Kan perempuan juga ingin dimengerti #nahloh.

Anyway, bukan hanya farmasi yang didominasi perempuan, beberapa jurusan lain pun ada. Semoga kondisi ini tidak mengurangi peran perempuan yang sebenarnya. Karena sejatinya perempuan hidup bukan hanya untuk mereview drama korea, bukan pula untuk sekedar bergosip ria dan belanja, bukan juga untuk menjustifikasi kebaperan-kebaperan yang ada, bukan juga untuk memamer2kan rupa yang jelita. Apa yang harus dilakukan perempuan jelas jauh lebih dari itu. Kalau kata akun Teh Jasmine, perempuan janga cuma modal cantik karena di tangannya lah kunci peradaban manusia. #tsah. Perempuan hari ini beruntung, tidak perlu repot2 memperjuangan haknya seperti di zaman kartini dulu. Sayang seribu sayang ketika perempuan hanya diam saja. Kuncinya adalah seimbang, memahami kodrat dan potensi perempuan. Kok ya saya ngomong kaya sudah paham benar tugas perempuan. Sambil sama2 belajar lah ya.

Terakhir, di hari kartini ini, saya ingin mengucapkan terima kasih pada para sahabat lelaki di farmasi hehehe, khususnya untuk Femi, Yahya, dan Elkana, “cokiber”nya FKK. Para sahabat yang mengajarkan arti penting suplementer dan komplementer manusia. Sahabat yang tetap berusaha memposisikan diri mereka sebagai para pelindung wanita #ea. Para sahabat yang rela mendengar gosipan dan teriakan ciwi-ciwi walau dalam hati mungkin merasa tersiksa. Para sahabat yang sabar meladeni kebaperan dan kebocahan kami tanpa pernah menyalahkan perasaan yang menunggangi hati kami ini wkwk. Maaf jika kami kelewatan. Bimbing kami untuk menjadi perempuan yang sesuai kadarnya :p Semoga kita bisa saling peka dan peduli satu sama lain hingga nanti (duh baper mau pada lulus). Saya selalu ingat ketika menjadi peserta dan panitia ospek jurusan dengan kehadiran lelaki yang segelintir. Semoga kondisi tersebut yang tetap ada hingga sekarang, dapat mengajarkan para lelaki untuk tetap mengayomi tanpa memanjakan kami, memandirikan tanpa membebani kami :3

Yay. Selamat hari Kartini! Terbitkan terang secukupnya!

Rabu, 17 Februari 2016

Menikahlah, Nak

“Rina, itu mana teh buat tamu?!”

Aku mendengar sayup-sayup suara ibu setengah berteriak dari ruang tengah. Aku yang sedang mempersiapkan teh di dapur pun balas berteriak,

“Iya ibuu, ini sedang disiapkan”

Ibuku. Seseorang yang baru ku sadari adalah seorang ibu yang gercep, begitu setidaknya anak muda zaman sekarang menyebutnya. Gercep, kepanjangan dari gerak cepat. Aku tidak pernah ingin berteriak pada ibu, tapi mulutku selalu gatal tiap kali aku diomeli macam-macam soal urusan dapur, dan aku baru paham akhir-akhir ini apa alasan ibuku selalu berteriak demikian. Aku lamban menurutnya; ibu tak pernah bilang begitu namun sekarang aku dapat merasakannya.

“Honey, ini dipotong-potong seperti ini. Aduh, kamu itu, ini kenapa dibiarkan saja, dipotong-potong juga biar gampang dimakannya”
Selalu begitu. Padahal aku hendak melakukannya, hanya saja aku masih pada potongan kue ke-2 sedang ibu sudah mau mengambil kue ke-6.

“Dang, its hot!” aku menjerit seraya menarik tanganku yang baru saja bersentuhan dengan wajan panas, hendak mengambil kue di belakang wajan itu.

“Rinaaa, itu sudah tau ada wajan panas, ya disingkirkan dulu dong”

“Rina, Masya Allah, this plate is not for hot stuffs; you’re just about to melt this thing. Ini pula, masa mau menyajikan makanan buat tamu pakai wadah yang ini.”

Entah ini kesalahanku yang ke berapa. Bukan, bukan yang ke tiga. Aku hanya ingin mempersingkat cerita yang ku buat. Cerita mengenai kesalahan-kesalahan yang membuat ibu tidak memercayai aku untuk urusan dapur. Well, sebenarnya bukan untuk urusan dapur saja, lebih tepatnya, urusan kerumahtanggaan. Semakin hari aku semakin tahu kenapa Ibu yang biasanya membiarkanku mengurus urusan kantor, tiba-tiba sering memintaku beres-beres rumah, memasak, bahkan menyuruhku menjaga anak tetangga; namun tugas-tugas itu selalu berujung diselesaikan oleh ibu karena aku yang tak mahir. Ini terjadi tiap kali aku pulang ke rumah, kampung halamanku yang jarang sekali aku singgahi enam tahun belakangan. Alasan perlakuan ibu padaku yang kemudian dipertegas dengan pertanyaan eksplisit dari Ayah.

“Kapan kamu berniat untuk menikah, Nak?”

***

Hari ini langit seperti hendak berbicara padaku yang sedang duduk melamun di teras rumah, namun ia ragu. Mendungnya malu, terangnya pun urung bertemu. Ayah menghampiriku dengan kursi rodanya, bertanya lembut.

“Nak, bagaimana? Ayah sudah seminggu begini digantung. Mumpung Ayah masih hidup, Nak.”

Aku menoleh dan tersenyum pada Ayah. Senyum yang entah aku sendiri tidak tahu maknanya. Ya, Ayah berkali-kali memintaku menurut padanya soal rencana perjodohanku dengan anak teman Ayah. Aku meminta waktu pada Ayah untuk berpikir namun pikiranku sendiri buntu. Aku bertanya pada rumput dan sayangnya rumput hanya diam, justru angin yang membuat rumput bergoyang seperti mencelaku dengan gelengan kepalanya. Ah, bahkan rumput tak punya kepala. Hingga hari ke-7, deadline aku berpikir sudah habis dan aku masih berusaha dengan bertanya pada langit yang ternyata langit pun sama dilemanya denganku.

Jangan salah paham. Aku bukan atheis yang tidak percaya Tuhan. Aku bukan penganut animisme yang menyembah rumput, pohon, dan langit untuk meminta wangsit. Shalat lima waktu sudah aku tegakkan, sunnah rawatib aku dekatkan, shalat dhuha seperti teman main pagiku, waktu tahajud selalu ada menemani air mataku, dan istikharah sudah seperti mata kuliah 26 sks setiap satu minggu. Aku tidak tahu diri jika aku bilang aku lelah berdoa, namun aku tidak tahu lagi harus apa. Apakah redaksi doaku kurang puitis sampai Allah tak rela hati mengabulkan doaku? Ataukah sajadahku melenceng sekian derajat sampai sujudku tidak sampai pada kiblatNya? Ah pertanyaan macam apa itu.

“Well, you give me a week Dad. It will be exactly a week on 23.59 tonight, right?” Aku akhirnya bicara setelah lama memandangi Ayah sambil mentrace back usahaku berdoa dalam urusan ini.

Ayah terbatuk kemudian tersenyum. “Take your time, honey. Just don’t forget to mention me in your pray. Doakan keselamatan Ayah di sisa-sisa waktu sampai 23.59 itu ya.”

“Was it supposed to be a threat? Dad, come on, don’t do this to me.” Aku tak habis pikir kenapa Ayah berkata demikian. Aku menyadari betapa sakitnya Ayah sudah sangat parah. Usia senja menggerogoti seluruh tubuhnya hingga ia harus menghabiskan sisa waktunya di kursi roda dan mempertaruhkan nyawanya pada pil-pil obat yang bukan main banyaknya. Namun, urusan menikah tidak mudah bagiku. Sangat tidak mudah.

“It wasn’t a threat. I’m just trying to help you.” Ayahpun berlalu.

Ini adalah kisah orang tua dan gadis semata wayangnya. Aku, si sulung dengan tiga adik laki-laki. Jika kalian percaya bahwa bungsu diciptakan untuk diberi kasih sayang paling banyak dari orang tua, menurutku itu hanya mitos, legenda, fiksi, urban legend. Setidaknya, hal tersebut tidak berlaku di keluargaku; karena aku adalah pemilik tahta itu, tahta si bungsu yang kemungkinan besar dicuri oleh malaikat yang menjagaku. Orang tuaku terlalu menurut pada keinginanku. Tidak, aku bukan anak bungsu yang dimanjakan dengan cara dibelikan berbagai mainan, dibuatkan kamar nyaman seperti hotel bintang lima atau di antar-jemput dengan mobil limousine oleh supir pribadi. Karena aku tidak menginginkan itu. Keinginanku adalah menjadi wanita karir, wanita yang mampu menghasilkan uang dari keringat sendiri, wanita yang tidak terkungkung oleh laki-laki anti Kartini, wanita yang bisa berekspresi sebebas yang aku mau. Alhasil, cara orang tuaku memanjakanku adalah dengan menyekolahkanku ke sekolah terbaik yang pernah ada di dunia dan menjamin kesehatanku. Hey, jika kalian kecewa pada bangsa Indonesia yang katanya anti dengan tindakan preventif kesehatan, bersyukurlah bahwa Indonesia masih punya Rina yang cinta dengan check up, vitamin, dan olahraga.

Ya, aku terlahir menjadi wanita mandiri karena aku dimanjakan orang tuaku. This isn’t a paradox, just…think about it. Mungkin orang akan berpikir bahwa aku hanyalah anak yang memanfaatkan orang tuanya demi ambisi pribadi?

***

“Straight A during 4 years in college, perfect GPA, best undergraduate student from Stanford University, a chairman for many communities, most of them are woman communities, and… volunteers in many woman social activities… are you a feminist?”

Mr. Barnard, Seorang interviewer dari perusahaan ternama di Kota New York mewawancaraiku 2 bulan yang lalu, tepat setelah aku mendapat gelar S2ku. Aku mengernyitkan dahi ketika ia bertanya apakah aku seorang feminis.

“No, I guess not.”
Mr. Barnard menatapku tak percaya.

“Well, if you mean feminist as it defines in literal meaning, I am one of them.”

Mr. Barnard mengangguk pelan kemudian ia kembali tenggelam dalam curriculum vitaeku.

Wawancara itu cukup mudah. Aku cukup yakin dengan jawaban-jawabanku tadi disertai dengan track recordku yang sangat baik, aku bisa menjeblos kriteria yang diinginkan perusahaan tersebut. Perusahaan yang menginginkan wanita kuat dan pekerja keras dalam menjalankan roda menejemen perusahaan. Walau, well, aku tak yakin jawaban apa yang diinginkan Mr. Barnard ketika ia bertanya apakah aku seorang feminis. Apakah salah menjadi seorang feminis? Memang sejatinya definisi feminisme telah bergeser di zaman sekarang. Banyak wanita pembela hak kesetaraan gender kemudian tidak mau dianggap feminis karena terkonotasi ekstrem. Baiklah, katakan aku seorang feminis, tapi toh aku tidak melabrak Tuhan karena Ia mengedepankan laki-laki sebagai seorang pemimpin lantas aku seketika menjadi kafir; aku tidak pernah menyangkal seorang rapist yang memerkosa wanita dengan alasan wanita tersebut berpakaian super mini sampai aku sepakat tentang hak wanita ber”telanjang”. Aku hanya ingin wanita punya kesempatan yang sama dengan para pria. Menjadi seorang pemimpin, bekerja membanting tulang, memiliki suara yang didengar, menjelajah berbagai pengalaman dan kesempatan bukan mengerjakan pekerjaan rumah yang membosankan.


“Girl, give yourself a break. Youre such a workaholic, aint you?”

Ataya memberikanku surat yang ia dapat dari loker asramaku, surat dari perusahaan yang datang satu minggu setelah wawancara. Aku menyambar surat itu, tak sabar membukanya.

“Man!! I got it! This company is recruiting me!! God dang, I made it!”
Aku melompat dari tempat dudukku dan memeluk Ataya saking senangnya. Wawancara yang kulalui berhasil dan aku akan menuju pada tahap selanjutnya. Satu tahap lagi sampai aku bisa bekerja di perusahaan idamanku.

“You shouldn’t have jumped like a crazy happy girl that just hit by a handsome guy, Rin. Lo bilang sama gue kalau lo yakin lo bakal diterima kan?”

“Yup. Tapi tetap aja gue seneng Ya, seneng banget!” Aku melepaskan cengkraman pelukanku dari sahabat baikku itu, aku keluar kamar hendak menelepon Ayah dan Ibu.
“Anyway, you said something about handsome guy hitting on me? Nah, gue bakal tampar dia kali, ganggu-ganggu mimpi gue aja.” Aku pun berlalu. Aku sempat mendengar Ataya berteriak saat aku membuka pintu kamar.

“Girl! Get a life!”

***

Apa maksud Ataya dengan kata ‘Get a life’ nya? Aku merasa hidup dengan aku yang sekarang. Aku sangat bahagia dengan semua prestasi-prestasi, berbagai organisasi yang kuikuti, karirku yang terus maju dengan segala pencapaian-pencapain keberhasilan di berbagai proyek perusahaan. Semua aku lalui dengan kerja keras, tekun, terampil, dan semua yang aku bisa. Jika Ataya dan teman-temanku yang lain sering bergonta-ganti pacar, aku tak rela otakku ini dibubuhi bumbu-bumbu cinta yang paling-paling kebanyakan cinta monyet. Jangan menganggapku tak suka pada laki-laki, aku pun melewati masa pubertas yang dialami semua orang. Masa jatuh cinta dengan chemistry terbuai cinta, masa di mana aku merasa perutku dihinggapi bahkan rasanya bukan oleh kupu-kupu terbang tapi seperti ada iguana yang mondar-mandir di lambungku, masa ketika pembuluh darahku berdilatasi dan menimbulkan kemerahan pada ke dua pipiku. Hanya saja, yang membedakan aku dan teman-temanku soal jatuh cinta adalah aku mampu dengan cepat mengembalikan cinta dari jatuhnya sebelum ia jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku fokus pada keinginanku sejak kecil, menjadi seorang wanita karir, dan jatuh pada laki-laki hanya akan menghambat keinginanku.

Tiga tahun aku merintis karir dan karirku melesat, satu tahap lagi maka aku dapat menduduki posisi prestigious idamanku. Aku menjadi wanita super sibuk yang menjadikan apartemenku hanya sebagai gerubuk singgah untuk berteduh dari terik matahari yang membakar, sedangkan setiap hari, matahari bagiku selalu bersinar cerah, sesekali terbakar jika aku lelah bekerja. Kampung halaman hampir tidak pernah aku jejaki, walau Ayah dan Ibu setahun belakangan memintaku pulang. Banyak wanita yang merasa menyesal memilih pekerjaan yang sangat menyita waktu, menstigma pekerjaan mereka sebagai sebuah hasrat yang memerkosa kebebasan mereka untuk menjadi wanita yang sewajarnya, wanita yang mengurus suami dan merawat anak. Hal ini tidak berlaku bagiku. Orang tuaku pun tak pernah protes akan sifatku yang seperti ini hingga suatu ketika aku menyempatkan pulang ke rumah, ke Indonesia, tepat di hari ulang tahunku yang ke 28.

“Kapan kamu berniat untuk menikah, Nak?” Pertanyaan ini muncul pertama kali dari mulut Ayah, saat itu, saat ulang tahunku yang ke-28. Ayah terbaring pucat di ranjang.


Langit akhir-akhir ini selalu enggan menunjukkan perasaannya padaku. Ia selalu malu jika ia bersedih, mendungnya selalu berwarna abu pekat tapi kemudian menghilang dan tergantikan dengan warna langit cerah. Ia mungkin malu jika harus menangis, ia mungkin tak tega melihat tanaman-tanaman layu tersiram air yang terlalu banyak, ia mungkin tak sampai hati melihat pengamen-pengamen yang tidak bisa turun ke jalan karena hujan. Sama seperti aku saat ini, menyembunyikan air mataku di depan Ayah dan Ibu, menyembunyikan rasa khawatir dan takutku di depan Ayah yang terkapar di atas ranjang dengan belalai-belalai dari tabung oksigen dan infus. Tak sampai hati jika Ayah harus melihatku menangis.

“Ibu kenapa ga bilang sih bu?!”
Aku hanya bisa marah saat itu karena ke dua orang tuaku menyembunyikan sakit Ayah. Kelopak mata berusaha membendung air mataku.

“Ibu tidak tega memberi tahu kamu Rin, I know you’re too busy, I was afraid it would bother you.”
Ini yang kumaksudkan soal memanjakan. Ibu selalu merasa bahwa aku tahu jalan yang benar buat diriku sendiri, yang terpenting aku sehat dan bahagia, itu poin ibu.

Selama dua tahun berikutnya aku menyempatkan untuk pulang lebih sering. Aku sadar hal ini akan memperlambat proses karirku, namun aku tak mau jadi anak durhaka yang tidak peduli pada orang tuanya yang sakit.

“Ka, memangnya kakak mau kapan menikah? Ayah sudah sakit-sakitan begitu, pasti kepengen nimang cucu sebelum dipanggil.” Adikku yang ke dua bertanya serius saat aku pulang ke rumah untuk ke lima kalinya setelah aku mendengar kabar Ayah sakit.

“Lah kamu lihat kan seberapa sering ibu marah-marah sama kakak karena ga becus urus rumah? Kakak ga bakat jadi istri orang.” Aku menjawab sekenanya, walaupun itu memang jawaban ada benarnya.

“Ka, urusan gituan bisa belajar ka. Aku yakin. Kan ibu sekarang lagi sering-seringnya minta kakak urus rumah. Kakak ini gadis satu-satunya di keluarga ini. Aku sebagai adik pertama kakak yang terpaut 7 tahun dan belum bekerja ga mungkin menikah duluan.” Adikku yang pertama menambahi. Aku menghela nafas panjang. Pertanyaan Ayah mengusikku akhir-akhir ini. Pertanyaan yang ia lontarkan entah sudah yang ke berapa di hari ini.

“Dek, menikah itu ga mudah. Apa jadinya kalau sudah ada seorang laki-laki di sisi kakak? Bagaimana kakak bisa explore dengan kerjaan kakak. Kalau kakak ada meeting di Jerman? Australia? Suami kakak ga mengizinkan? Anak ditelantarkan? Bagaimana? I need a freedom, my dear brothers. I feel alive by doing this.” Akhirnya aku menjawab jujur.

“Ibu salah ya Rin.” Tiba-tiba ibu muncul dari kamar lantas ikut dalam perbicangan.
“Ibu tidak bisa mendidik seorang gadis layaknya seorang gadis. Kenapa dahulu Ibu selalu menuruti kemauanmu untuk sekolah tinggi dan sibuk degan segala aktivitasmu. Ibu selalu menyerahkan urusan dapur pada si mbok, tidak pernah memintamu beres-beres rumah, tidak pernah berdiskusi denganmu tentang jati diri seorang wanita, ah…ibu menyesal. Ibu hanya mementingkan kebahagiaan jangka pendek tanpa memikirkan akibat jangka panjangnya. Ibu gagal mendidikmu.”

Aku terdiam.

***

Usiaku menginjak angka 32, aku berhasil mencapai posisi yang aku inginkan di perusahaan. Posisi tinggi yang disegani, bekerja di belakang layar, hanya tinggal meminta anak buah mengerjakan pekerjaan lapangan; aku pun senang aku punya waktu kapanpun untuk pulang.

“Mom, I’m now settled. Yes, this what I call settled. Aku bisa pulang lebih sering.” Aku tersenyum lebar sambil menyambut hangat pelukan ibu. Lihat, aku bukan wanita karir yang lupa rumah sama sekali kan? Aku sayang orang tuaku lebih dari apapun. Aku mencoba membuka mata dan hatiku ketika ibu berkata bahwa ia gagal mendidikku. Aku mencoba merecall masa kecilku, bagaimana orang tua mendidikku dan adik-adikku. Bagaimana ibu membebaskanku untuk bekerja sebagai apapun, bagaimana Ayah merelakan uangnya digunakan untuk aku mengambil kursus dan melakukan kegiatan apapun, bagaimana ibu dan Ayah selalu percaya padaku bahwa aku tahu keputusan terbaik buat diriku sendiri. Aku mencoba berpikir kembali tentang hakikat seorang wanita dari buku-buku agama, buku psikologi, dan buku-buku lain yang mendukung. Aku membaca buku parenting, bukan untuk melatih diriku namun aku penasaran apakah didikan orang tuaku sudah benar. Mungkin ini terdengar lucu, namun aku tetap melakukan itu dan buku itu pun bercerita tentang banyak hal. Aku tahu bahwa orang tua tidak bisa menyerahkan segala keputusan begitu saja pada anaknya, aku tahu jelas itu, common sense setiap orang pasti sampai di titik itu. Hanya saja, membaca buku membuat segalanya lebih terdefinisi. Ya, orang tua dan anak perlu berdiskusi untuk kebaikan bersama.

“Ibu gagal mendidikmu.”

Kalimat itu terngiang kembali di kepalaku saat aku memeluk ibu. Tidak, aku tak sudi jika hati memintaku untuk menyalahkan ibu sepenuhnya. Aku seharusnya sudah cukup dewasa dalam memilih jalan hidup. Penyesalanku untuk menjadi wanita karir memang sempat muncul saat aku mulai mengenal diriku kembali, mengenal orang tuaku, dan mengenal hakikat seorang wanita yang sesungguhnya, melalui buku-buku yang ku baca serta melalui kontemplasi padaNya. Menjadi wanita karir bukan suatu kesalahan, namun menjadi wanita yang lupa akan jati diri dan tugasnya, itulah kesalahan, dan aku sepertinya sudah pada poin melupakan tugasku sebagai seorang wanita.

Akhirnya, aku mulai membaca buku mengenai esensi pernikahan. Dari situlah aku tahu bahwa ketika kelak aku menikah, baktiku akan pindah pada suamiku.

“I’m happy for you darl.” Ibu berkata tulus, aku bisa merasakan itu. Aku yakin ibu pasti senang mendengar anaknya akan sering pulang.
“Hm..Rin. Ayah mau ngomong sama kamu.”

Saat itulah Ayah memberiku due date untuk memutuskan. Satu minggu waktu berpikirku untuk menerima tawaran perjodohan dari Ayah. Siti Nurbaya selintas lewat di kepalaku, entahlah, aku tak pernah tahu bagaimana wajah icon yang diperbincangkan oleh anak muda ketika dijodohkan itu, setelan kebaya dengan rambut disanggul mungkin sudah lebih dari cukup untuk merepresentasikan gadis itu. Anyway, memang tidak banyak laki-laki yang mendekatiku, entah karena aku tidak peka atau memang aku tidak laku, yang pasti aku tidak peduli dengan itu karena dulu aku fokus pada karirku.

“Rin, don’t judge your parent if someday you beg them for hooking you up with any men they know because your attitude. Cowok bisa ga berani lamar lo karena posisi dan kelakuan lo yang super woman itu ya Rin.” Suatu hari Ataya mengingatkanku.

“You might not care about having a relationship with a guy today, but someday when you are all alone, when everyone around you have got married and when your parents died, lo gatau lagi di mana lo harus berpijak, mencari perhatian dan perlindungan, menemani lo saat lo sendiri, dsb. Lagi pula, bukankah agama kita mengajarkan tentang keberkahan menikah? We have God, but a husband and kids indeed are our friends on earth to get to Him. As long as you are able to get married, you better do it, girl. And I know you are more than capable.”

Kalimat Ataya dua bulan lalu terlintas di pikiranku. Nyatanya, aku tak pernah memohon pada Ayah dan Ibu untuk dijodohkan, mereka lah yang berinisiatif demikian. Namun aku paham sekarang maksud Ataya, hanya saja…

Ayah mengetuk pintu kamarku.
“Rin, sudah 23.59.”

Aku membuka pintu kamarku. Mataku sembab akibat menangis sejak Ayah menagih jawabanku tadi pagi di teras rumah dan aku yakin Ayah sadar akan hal itu. Ayah mengajakku duduk di ruang tengah.

“Rin, tell me what make you doubt. Kamu bilang kamu udah settled, udah ga kerja kasar lagi, you should be capable on taking care of a family. Ini bukan semata-mata masalah usia senja Ayah, namun sejatinya seorang wanita punya peran lain yang bisa ia tunaikan selama ia mampu melakukannya.” Ayah berkata sambil tersenyum lembut.

Aku memandang Ayah lama. Keriputnya menandakan perjuangan keras Ayah dalam menafkahi keluarga, senyumnya mengisyaratkan bahwa ia tak pernah sekalipun menyesal memiliki gadis durhaka sepertiku, ya aku durhaka dengan segala ambisi pribadiku. Enam tahun aku jarang sekali pulang karena berkutat dengan ambisi karirku. Enam tahun aku jarang pulang karena dokumen-dokumen yang menungguku di kantor, benda mati yang mengalahkan teguran orang tuaku untuk pulang. Enam tahun aku jarang pulang karena mengikuti hati beku dan keras kepalaku akan mimpi yang terajut indah di mataku, sebuah kebahagiaan fana yang sudah diraih ternyata mengalahkan iming-iming kebahagiaan hakiki akan bakti pada orang tua. Aku memberanikan diri mengucapkan kekhawatiran terbesarku saat ini.

“Yah, aku sudah sadar akan peranku sebagai seorang wanita. Hanya saja…aku belum siap memindahkan bakti pada suamiku kelak, aku punya hutang besar yang belum aku tunaikan, bakti kepada Ayah dan Ibu. Izinkan Rina meminta waktu hingga hutang Rina terbayar.” Aku menangis. Kami terdiam cukup lama, sampai Ayah pun berkata,

“Orang tua tidak pernah menganggap segala yang ia lakukan adalah sebuah hutang bagi anaknya, tidak pernah. Lagipula, jika memang alasanmu itu, suami yang baik tidak akan pernah membiarkan istrinya tidak berbuat baik pada orang tuanya, kamu masih bisa berbakti pada Ayah dan Ibu, Rin.” Ayah mengelus kepalaku lembut. Ia pun berkata lagi,

“Rin, orang yang berhutang bisa membayar dengan sesuatu yang lain jika yang dihutangi mengizinkan kan? Kalau kamu masih merasakan usaha orang tuamu adalah hutang, Ayah mau bilang sama kamu, kamu boleh membayarnya dengan baktimu kepada Ayah dan Ibu, menikahlah Nak, itu bakti yang akan membayar lunas hutangmu.”

Tangisku berhenti, aku diam tak bergeming.

“Shalat malamlah Nak, pikirkan kembali dan berdoa dengan tulus meminta petunjukNya.”

Aku pun menurut.







Rabu, 23 Desember 2015

Yes, Expectation Does Kill You.

Terkadang sulit menyampaikan sesuatu lewat bicara, so please allow me to ‘wording’ my thoughts.

Saya ingin berdiskusi tentang sebuah seni menerima.

People say ‘its not a sword that kill you, expectation does’.

I couldnt agree more. Expectation does kill you. Saya pernah membaca suatu ilmu psikologi terkait Expectation Violation yang intinya bahwa ada tiga hal yang akan terjadi ketika kita berekspektasi akan sesuatu. Realita akan ada di atas ekspektasi, di bawah, atau sesuai dengan ekspektasi. Reality vs Expectation, things that we always learn from 9gag lol. Reality sometimes violate our expectation. Im talking about positive expectation, suatu harapan yang ingin kita dapatkan. Ketika realita sesuai dengan ekspektasi, senyum kitapun mekar; ketika realita di atas ekpektasi, senyum mekar dan matapun berbinar; ketika realita di bawah ekspektasi kita pun tersenyum hambar dan menghindar. Ini menjadi salah satu alasan ketika kita melihat bahwa tak sedikit orang yang mudah memulai namun mudah juga untuk berhenti. See, it kills you. Ibarat antibiotik, ekspektasi itu sifatnya bakterisid, membunuh tanpa harus ada antibodi yang membantu, ah naon maksa, efek belum bisa move on dari uas #lah.

Expectation is violated often when we know weaknesses that we never thought it existed. O my god, weaknesses is the culprit. When expectation is violated, -saya berbicara mengenai suatu realita di bawah ekspektasi- we actually have two options, classical options but people sometimes forget about this. Mengubah atau menghindar. Letting ourself achieve our expectation or letting expectation kills us. Tentunya setiap orang berharap untuk bisa membiarkan dirinya mencapai ekspektasi. Menurut saya di sinilah kita harus belajar mengenai seni menerima. Seni menerima itu adalah dengan mengubah. Bukan dengan mencaci maki atau menghindari, bukan dengan tuding sana-sini atau menanam rasa benci, melainkan dengan klarifikasi dan menciptakan sebuah revolusi.

Ada masa ketika alis kita terangkat dan dahi kita mengkerut ketika mengetahui sifat asli teman kita. Well, weve been expecting our friends are diligent, above average, cool, wise, etc. Setelah kita mengenalnya lebih dalam, nah loh, banyak sekali kekurangan pada dirinya. Are you gonna blame them? Yah bisa jadi orang pacaran yang putus atau orang menikah yang bercerai karena tak bisa menerima kekurangan pasangannya.

‘Ah. Makanya jadi diri sendiri saja. Tak usah lah pencitraan, jaga image, self-branding, sok-sok menawarkan keadaan ideal, topeng, errgghh.’ Buat saya, menjadi diri sendiri bukan dengan mengelupas kulit sendiri, tanpa sadar memamerkan kekurangan demi kekurangan. Menjadi diri sendiri adalah dengan bersifat adil, menempatkan diri kita sesuai pada tempatnya, and its definitely different with being hypocrite. Klarifikasi dahulu sebelum kita berani menjudge orang lain. Jika memang orang itu salah, terimalah ia dengan membimbingnya menjadi lebih baik. Susah ya? Ya memang susah tapi bukan berarti tak bisa :’)

Masalahnya adalah pada diri kita yang terkadang sulit menerima kekurangan orang lain, hal yang sama ketika kita sulit menerima kekurangan suatu organisasi. We keep questioning, kenapa di setiap osjur ini kakak-kakak menawarkan keadaan ideal namun memberikan kami realita yang jauh dari ekspektasi. Itu mimpi kami dek, mimpi kami yang kami titipkan pada kalian. Klarifikasi terlebih dahulu sebelum kita memutuskan akan lari dari kenyataan. Klarifikasikan segala hal, mengapa hal ini terjadi? Mengapa hal itu terjadi? Setelah kita klarifikasi, terima lah. Terima apapun klarifikasi itu dan mainkan seninya. Menerima dengan membiarkan atau menerima dengan mengubahnya ke arah yang lebih baik. Terima kekurangan itu sebagai bahan refleksi dan evaluasi. Then run, run as far as you can, bukan berlari sendiri dan mencari hal lain yang sesuai dengan ekspektasi, namun berlarilah bersama kekurangan itu, let the weakness see the finish line you want, let the weakness learn from that.

Berdamailah dengan ekspektasi. Dont let it kills you and please never attempt to kill back. When we try to kill back, itu artinya kita pasrah dengan keadaan. Make peace and better change will emerge.

Aanndd, when expectation is about to kill us, ingatlah bahwa semua yang kita punya, semua yang kita lalui ini adalah titipan Tuhan yang akan dhisab di akhirat. If we choose tu run away, just think what would happen. Ah ya, hari ini maulid nabi. Jadikan juga hari maulid nabi ini sebagai ajang refleksi kita, untuk mencontoh role model terbaik dunia yang jiwa amanahnya tidak akan pernah tertandingi. Yuk shalawat.

One more thing, hati-hati juga ketika realita berada di atas ekspektasi kita, rasa puas yang berlebihan bisa saja membuat kita berhenti atau membelokan niat baik kita :) wallahualam.

#selfreminder






Jumat, 20 November 2015

Rekam Medis

Hari Minggu selalu identik dengan langit yang cerah. Langit yang biru terang, awannya putih menggumpal indah, setidaknya bagi Resa. Walau kenyataannya mendung menyergap, hari Minggu akan tetap terang di mata Resa.

Ayah sedang bercengkerama mesra dengan Ibu. Rupanya pemandangan itulah yang membuat mendung seolah cerah, panas seolah sejuk, dan lelah hilang diterpa semilir angin ramah. Itu adalah pemandangan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Bagi Resa, ke dua orang tuanya adalah berlian yang tidak bisa dibeli bahkan dengan jutaan dirham atau ratusan kerang berisi mutiara. Hari Minggu akan selalu menjadi hari favorit Resa di mana Ayah sejenak melepas jas putih dokter miliknya dan Ibu sejenak menyempatkan waktunya bersama Resa.

Resa menangkap mata Ayah yang berpapasan dengannya, seraya tersenyum dan mengangguk bijak, Ayah berkata, “Resa kemari, Ayah dan Ibu punya sesuatu untukmu”.

Ayah selalu tahu apa yang dibutuhkan oleh anak semata wayangnya. Sebuah laptop baru. Sudah lama Resa menginginkan laptop baru karena laptop lamanya yang sudah sulit untuk diajak kerja sama. Tak berani bilang karena takut merepotkan, alih-alih Ayah memberikannya laptop lengkap dengan harddisk eksternal 1 terabyte. “Pokoknya, kamu harus selalu save skripsi kamu ya nak, kalau perlu tiap kali kamu mengetik satu huruf, langsung pindahkan di harddisk ini, dan harddisk ini tidak akan kehabisan memori walau skripsimu jutaan halaman, hahaha. Uhuk..uhuk..”. Tawa serak Ayah bercampur dengan batuknya mengisi ruang tengah keluarga kecil ini, Resa pun tersenyum dan memeluk Ayahnya. Rambut putih Ayah bergesekan dengan rambut hitam legam Resa saat ia memeluknya. Walau hanya sepermili detik warna rambut itu terlihat jelas di mata Resa, Resa tidak akan pernah lupa saat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, rasa khawatir yang tidak bisa ia deskripsikan. Tidak terasa waktu begitu cepat, Ayah sudah tak lagi muda. Kacamata dengan rantai menjulur hingga belakang telinga dengan lensa yang sangat tebal, guratan-guratan wajah yang terlihat jelas tanpa harus melihat ayah tersenyum sekalipun, dan getaran tangannya saat ia membalas pelukan Resa; walau kecil, ia bisa merasakannya, serta sikap linglung Ayah yang membuat Resa resah. Sifatnya yang ia bilang ia hanya pura-pura lupa.

Kesibukan Ayah berkeliling di pulau-pulau terpencil di Indonesia membuat Resa terkadang lupa untuk memerhatikan Ayah sedetail mungkin, yang penting Ayah pulang ke rumah dengan selamat, itu yang selalu menjadi perhatian Resa. Ia bisa melihat jas dokter yang selalu Ayah kenakan ke manapun, warna putihnya sudah bercampur dengan setianya matahari dan angin yang menemani Ayah kemanapun. Jas itu adalah saksi bisu perjuangan keras Ayah.

“Uhuk...uhuk..” Ayah kembali batuk.
“Dok, dokter jangan sakit. Masa dokter sakit. Hihi.” Resa tertawa kecil sambil bercanda menegur Ayahnya yang batuk. Candaan yang dibuat-buat untuk menutupi rasa cemasnya.
“Dokter juga manusia, bisa sakit. Tapi dokter ini beruntung punya anak calon farmasis, ayo beri dokter tua ini obat batuk yang mujarab. Hahaha.” Ayah tertawa lagi, Resa membalasnya dengan tawa gurih.

***

Hari ini mata kuliah Farmasi Klinik, mata kuliah yang paling Resa senangi. Mita, salah satu teman Resa menyapa Ka Ryan, dosen muda yang baru saja mendapat SK mengajar itu adalah dosen yang digandrungi mahasiswi-mahasiswi teman sekelas Resa.
“Halo Ka Ryan! Hari ini kita belajar apa?” Mita tersenyum bertanya, memamerkan gigi putihnya yang berjajar rapi. Ka Ryan mendongakan kepalanya yang sedari tadi fokus pada sebuah koran. Ia menjawab, “Pemantauan Terapi Obat Mita, kan ada di jadwal”. Mita hanya membalas singkat, “Iya cuma mau konfirmasi ka hehe”. Sebenarnya bukan itu alasan Mita menyapa Ka Ryan, ia hanya iseng, genit mengganggu ka Ryan di depan teman-temannya. “Genit pisan mit!” Resa mendorong pelan Mita, yang didorong nyengir.
“Hari ini kita akan belajar pemantauan terapi obat dengan metode SOAP, kalian akan membaca rekam medis pasien dari sebuah rumah sakit.” Ka Ryan memulai kelas.

Resa memandangi tumpukan dokumen di atas meja sebelah ka Ryan. Ia penasaran apa isi dari rekam medis. Lebih dari tiga tahun berkuliah di jurusan Farmasi Klinis bahkan sudah lebih dari 20 tahun dia menjadi seorang anak dokter bedah, belum pernah ia membuka satu lembar pun rekam medis. Ia menyadari bahwa rekam medis adalah dokumen rahasia rumah sakit yang hanya boleh digunakan atau dilihat pada kondisi tertentu saja, misalnya untuk penelitian atau belajar seperti saat ini. Resa dan teman-teman mulai membentuk lingkaran berkelompok, masing-masing kelompok diberikan satu buah rekam medis yang harus dianalisis kondisinya serta dibuat rencana pengobatan lanjutan. Resa perlahan membuka lembaran dokumen itu, sudah lama ia menanti saat-saat ini. Lembaran demi lembaran dibuka, dahinya mulai mengkerut, matanya mulai menyipit, berusaha keras membaca tulisan dokter yang seperti cacing-cacing kecil bergelimpangan di atas kertas. Ayah pernah bilang pada Resa bahwa pendidikan tidak meminta dokter menulis tak jelas, hanya saja entah kenapa dokter masih saja melakukan itu.

Resa tiba-tiba ingat cerita Ibu ketika ia jatuh cinta pada Ayah. Saat itu mereka berbeda universitas dan dipertemukan pada sebuah forum; forum itu membuat mereka tak sengaja bertemu lagi dalam satu kepanitiaan. Ketika itu Ayah menuliskan pesannya dalam suatu kertas yang diserahkan pada Ibu, tulisan kebutuhan-kebutuhan yang harus dibeli oleh Ibu di warung sebelah masjid karena Ayah harus buru-buru mengisi acara menjadi seorang pembicara forum. Kebutuhan yang akan digunakan dalam simulasi games acara hari itu. Resa sungguh ingat ketika itu ibu bercerita sambil mukanya memerah karena tawa, secarik kertas saat itu yang ibu terima adalah format resep dengan tulisan Rx, ibu tahu betul tanda itu adalah simbol resep walaupun ibu bukan mahasiswi kesehatan. Tulisan di atas kertas itu benar saja seperti lambang integral dari berbagai arah, ibu hanya tersenyum dan berusaha sesabar mungkin menelusuri huruf demi huruf yang ada. Resa ikut tersenyum, ia selalu senang membayangkan wajah ibu ketika bercerita hal sederhana itu. Ibu bilang, Ayah dulu memang hobi mengerjai ibu dan ibu bilang kepada Resa bahwa di samping bijak dan baiknya Ayah, sisi humoris Ayahlah yang membuat ibu jatuh cinta.

“Heh Res! Udah selesai belum isi kolom subjektif-objektifnya, aku mau kerjain yang kolom assessment nih.” Mita membuyarkan lamunan indah Resa.
“Eh sori, hehehe belum Mit, give me another 10 minutes yak!” Resa nyengir kuda, sementara Mita sedikit kesal karena kerjaan temannya yang lama.
Resa kembali fokus pada rekam medisnya. Ia perlahan memindahkan identitas pasien, data anamnesa, diagnosis, dan hasil lab pada lembar jawaban. Selesai menuliskannya, Resa membaca kembali apa yang telah ia tulis. Resa terdiam. Matanya perlahan bolak-balik membaca ulang lembar jawaban, kemudian matanya berpindah pada rekam medis dan menemukan kolom berisi status kepulangan. Resa menarik nafas dalam dan menghembuskannya panjang. Kepalanya ia dongakan berusaha membendung air mata agar tidak jatuh. Tangannya mengepal pegangan kursi berusaha untuk menguatkan diri. Perlahan ia kembalikan posisi kepalanya seperti semula.
“Innalillahi...” Resa bergumam pelan.
“Ada apa Res?” Ima teman satu kelompoknya bertanya.
“Pasiennya meninggal” Ucap Resa pelan, semua pun terdiam untuk beberapa detik. Tiba-tiba Mita angkat bicara.
“Kita doakan saja Res, ini kali pertama kita membuka sebuah rekam medis, lama-lama kita akan terbiasa dengan ini, apalagi nanti ketika benar-benar kerja di rumah sakit. Semoga ini menjadi salah satu pengingat kita akan mati, pengingat kita untuk selalu bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan kita nikmat sehat.”
Ima menimpali,
“Sepakat. Semoga pula, rekam medis ini akan selalu mengingatkan kita untuk terus belajar menjadi apoteker kompeten. Apoteker yang siap mendesign perencanaan pengobatan yang tepat untuk pasien.” Suasana diskusi itu jadi semakin haru bercampur segan karena Resa tidak pernah melihat temannya bicara serius seperti itu.
“Cieee pada mendadak bijak!” Lea yang sedari tadi diam tiba-tiba bersuara, mencoba mencairkan suasana.
“Hahaha Lea, iya Le kadang baper itu dibutuhkan untuk hal-hal seperti ini. Supaya kita bisa menjadi manusia yang lebih bijak.” Resa tersenyum ke arah Lea. Tentu saja Lea sepakat.

***

Resa paling senang ketika ia membayangkan kisah Ayahnya. Ayah menikahi Ibu setelah Ayah selesai koas dan berangkat internship ke Papua dalam keadaan ibu sedang hamil Resa. Satu tahun ibu hidup dalam kekhawatiran; menanti Ayah yang menghubungi Ibu dan menyampaikan pesan bahwa ia baik-baik saja. Dulu internet bukanlah barang lumrah, Ayah harus pergi puluhan km menuju kota menumpang truk yang tak sengaja lewat, hanya untuk mengakses telepon umum dan menelepon ibu. “Aku baik-baik saja”. Empat kata itu, hanya empat kata itu yang selalu ibu nantikan. Selain empat kata rutin itu setiap bulan, ibu bilang Ayah selalu menanyakan keadaan Resa, Ayah selalu meminta ibu untuk menyimpan gagang telepon di perutnya kemudian Ayah melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ayah pun bercerita bagaimana kehidupan orang-orang di pedalaman Papua, betapa sulitnya mengakses air bersih, betapa Ayah takut membantu ibu-ibu desa melahirkan untuk pertama kalinya, betapa Ayah menahan sekuat tenaga untuk tetap tenang dikala ia melakukan operasi dengan alat seadanya, dan betapa ia ingin menjerit kencang ketika ia mendapati pasien yang dioperasinya meninggal dunia. Di akhir telepon, ibu bilang pada Resa bahwa Ayah selalu menitipkan pesan pada Resa di dalam janin, “Kelak, anak Ayah harus punya rasa empati yang besar, peduli pada sesama, dan selalu menolong karena Allah”. Resa sungguh tahu hati mulia Ayahnya, hati bersihnya lah yang menggerakan Ayah untuk tetap berkeliling ke seluruh pelosok Indonesia mengabdikan diri sebagai dokter tak dibayar. Ketika itu usia Resa 5 tahun, bermodalkan doa dan tekad, Ayah sangat berharap ibu mau membantu merajutkan mimpi Ayah yang belum selesai.

“Sejatinya, setegak apapun seorang istri berdiri sendiri, ia butuh sandaran suaminya; sekuat apapun dan sehebat apapun seorang ibu membimbing anaknya, seorang anak tetap membutuhkan kasih Ayahnya. Mau apapun mimpimu, tujuan kita tetaplah sama, surga yang tak ada tandingannya. Maka pilihanku hanya dua, membantu merajutkan mimpimu atau aku memaksamu untuk membuat rajutan baru.” Ibu menanggapi Ayah setelah Ayah pelan-pelan menyampaikan maksudnya yang ingin tinggal di desa-desa, mengabdi sebagai seorang dokter. Belum sempat Ayah membuka mulutnya, ibu melanjutkan kata-katanya.
“Seorang istri mempunyai kewajiban untuk menuruti suaminya, membuat suaminya senang dan memuaskan keinginannya karena Allah. Lebih dari itu, Allah mau hambaNya saling tolong-menolong, memberikan manfaat niscaya kita mendapat syafaat. Aku harus menolak merajut mimpimu dengan warna yang sama, namun izinkan aku merajut mimpimu dengan warna berbeda karena warna itu akan datang bukan hanya dariku, namun juga dari anakmu.”
Ayah seketika memeluk Ibu erat. Ia menangis terharu.


Sejak saat itulah, hidup Resa berubah. Resa menjadi seorang anak yang tumbuh dengan masyarakat. Selama 5 tahun ia diwadahi dengan berbagai macam wahana indah. Air bersih, kamar berAC, tempat bermain, semuanya berganti dalam sekejap. Resa harus terbiasa menunggu air kali yang disaring ibu dengan saringan manual, Resa harus terbiasa duduk mengampar di tanah mendengarkan guru sekolah Resa membacakan pelajaran. Dirinya sering protes dan mengamuk memohon Ayah dan Ibu untuk kembali ke kota, namun Ayah tak pernah mengizinkan. Ia justru membuat Resa makin susah dengan memintanya mencuci baju sendiri, memasak makanan, dan mengajarkan teman-temannya berhitung dan menulis. Dengan kesabaran orang tuanya, Resa perlahan hidup menjadi seorang anak desa yang mandiri dan penuh empati. Desa dengan sanitasi rendah dan masyarakat yang tidak sadar akan kesehatan pun berubah karena keluarga kecil ini. Ayah lah yang paling pandai menyulap desa demi desa menjadi wahana yang asik dan sehat. Ayah dengan bisnis apotek bekerja sama dengan seorang apoteker pun telah menghasilkan banyak uang. Keuntungannya mereka gunakan untuk membangun berbagai desa yang dijejaki bergantian selama bertahun-tahun. Resa tak peduli harus berapa kali ia pindah sekolah, harus berapa kali ia mengurusi administrasi melobi sekolah formal menerima dirinya yang lulus dari sekolah informal, Resa tumbuh dengan didikan orang tua yang luar biasa. Orang tua yang akan selalu menjadi mata dan hati Resa.

“Rekam jejakmu ditulis oleh malaikat. Di kanan kirimu akan selalu ada malaikat yang mengawasi.” Ayah kala itu dengan mata tegasnya memarahi Resa yang ketahuan mencuri rekam medis. Saat itu usia Resa 10 tahun.
“Maaf, Yah.” Resa menundukkan kepala. Air matanya pelan-pelan mengalir.
“Dokumen ini rahasia. Ini memang bukan catatan keburukan yang ditulis malaikat Atid untuk dilaporkan pada yang berhak. Tapi kamu akan tahu apa itu kode etik. Kelak kamu mengerti mengapa Ayah melarang kamu membuka dokumen ini, sekalipun kamu anak Ayah.”
“Maaf, Yah.”
“Ini rekam medis, suatu catatan perjalanan pasien yang dirawat. Perjalanan menuju sehat. Dokter, perawat, apoteker, dan semua tenaga kesehatan berkomunikasi lewat dokumen ini. Mereka semua berusaha semampu mereka menolong pasien dengan tugasnya masing-masing, saling memberi tahu tenaga kesehatan mengenai kondisi pasien dan rencana ke depannya untuk menolong pasien. Kamu belum berhak tahu apa isinya.” Ayah memang selalu tahu bahwa yang Resa inginkan hanyalah penjelasan, penjelasan mengenai apa dokumen itu. Dokumen yang selalu membawa tanda tanya Resa, sayangnya Ayah akhir-akhir ini sibuk untuk membantu menghilangkan tanda tanya itu.
Ayah tersenyum. Ia mencium dahi Resa.
“Ayah maafkan, sayang. Kamu mau tahu isinya apa? Ayah tantang kamu buat jadi dokter atau apoteker atau perawat atau tenaga kesehatan lain! Gimana?” Ayah tersenyum menantang.
“Resa kan memang mau jadi kaya Ayah, Resa mau bangun desa juga, Resa mau nulis-nulis di rekam medis, menolong pasien!” Resa berteriak sambil sesenggukan menangis.
“Ayah tunggu.” Ayah tersenyum bijak.

Tibalah masa di mana Resa merantau untuk kuliah, Resa harus menetap di satu kota, memaksa diri mau tak mau melepas orang tuanya berkelana; hingga saat ini menginjak tahun ke empat. Selama tiga tahun lebih, setiap hari Minggu, Ayah dan Ibu mengunjungi Resa di tempat rantaunya. Hari Minggu yang selalu menjadi hari favorit Resa, melihat kedua orang tuanya datang walaupun hanya satu hari. Ayah selalu memberi salam terbaiknya pada Resa, memberikan apresiasi tertinggi bagi Resa yang telah bekerja keras demi mencapai cita-citanya menjadi seorang apoteker handal. Salam tegas yang disampaikan Ayah sambil berdiri tegak dengan sikap hormat layaknya hormat pada pejabat.“Selamat pagi calon farmasis sukses!” Begitu lah yang selalu dilontarkan Ayah tiap kali Resa membuka pintu depan rumah menyambut orang tuanya datang.

Tahun pun berganti, rambut Ayah semakin putih, wajahnya pucat dan sering melamun, seringkali tangannya menggerak-gerakan mainan di depannya yang disediakan oleh ibu. Ternyata bukan batuk Ayah yang harus dikhawatirkan, bukan pula tangan-tangan kaku dan gemetar, tapi candaan-candaan Ayah yang pura-pura lupa. Sudah 4 bulan Ayah divonis Alzhaimer. Tentu Ayah sudah tak mampu bekerja berkeliling, kini ia menetap bersama Ibu dan Resa. Resa kini bekerja sebagai seorang apoteker di suatu rumah sakit sambil merawat Ayahnya. Ia tak mungkin meninggalkan ibu sendiri merawat Ayah. Rajutan mimpinya untuk sementara harus ditunda menyisakan benang-benang menggantung di atas meja rajut.

Hari ini Ayah bermain bola bersamaku. Aku belikan beliau sebuah bola besar untuk dimainkan, melatih otak Ayah. Ayah perlahan sudah bisa tersenyum walau aku tak yakin Ayah tersenyum padaku. Tak apa, yang penting aku tahu Ayah masih bersamaku. Sebuah catatan dituliskan Resa dalam sebuah map besar berisi kertas-kertas bergaris. Resa menyerahkan map itu pada ibunya.
“Bu tulis di sini, tuliskan apa saja yang ibu lakukan bersama Ayah hari ini.” Resa memohon.
“Ini apa sayang?’ Ibu bertanya heran.
“Ini rekam medis bu, sebuah catatan perjalanan Ayah. Segala kegiatan yang aku dan ibu lakukan untuk kesehatan dan kebahagiaan Ayah. Sebuah dokumen perencanaan agar Ayah tetap sehat. Resa bisa kok bu rawat Ayah, Resa bisa. Ayah pasti sembuh.” Resa tak kuasa menahan air matanya. Tetesan itu jatuh, ibu memeluk Resa.

***

Sebuah catatan perjalanan para pasien yang disimpan rapat dan rahasia itu ada di dalam sebuah ruangan rekam medis. Resa memerhatikan lamat-lamat ruangan itu, ruangan tepat di depan ruang konselingnya. Ingatannya berputar kembali pada kejadian di mana Ayah memarahi Resa karena mencuri rekam medis, ia teringat ketika Ayah menantangnya untuk berbuat sepertinya, ia teringat saat pertama kali ia membuka lembaran rekam medis. Ingatan itu jelas, tak bias.
“Kring...kring...”
Telepon itu keras berbunyi menganggu berbagai ratusan saraf Resa untuk bekerja mengembalikan Resa pada alam sadarnya. Ia menelan ludah. Telepon itu dari Ibu. Dahulu telepon Ibu selalu ditunggu-tunggu, namun akhir-akhir ini Resa selalu takut melihat nama Ibu ada di layar handphonennya.
“Halo...” Suara Resa seperti tercekat di tenggorokan, urung keluar. Air matanya tak perlu meminta izin lagi untuk keluar, bahkan sebelum suara di seberang sana membalas. Suara ambulans yang terdengar dari telepon sudah cukup menjadi alasan air mata itu mengalir; tak perlu air mata itu dianggap tak tahu diri. Suara ambulans itu semakin dekat dengan telinga Resa. Resa tetap menunggu jawaban Ibu.
“Ayahmu pingsan,” Cukup dua kata itu, Resa merasa gaya gravitasi sudah tak mengikuti teori.

***

Dulu Resa pernah bilang pada Ayah bahwa ia ingin menjadi seperti Ayah. Ia ingin menulis di rekam medis untuk menolong orang sakit, merencanakan pengobatan terbaik untuk para pasien; berkomunikasi dengan baik dengan tenaga kesehatan lain. Kini ia benar-benar melakukan itu, untuk Ayahnya sendiri. Sebuah perencanaan yang ia rencanakan dengan sungguh-sungguh. Namun Tuhan tetaplah perencana terbaik yang pernah ada. Resa menyerahkan segala sisa usahanya pada Yang Kuasa.
Di balik segala usaha dan air matanya, Resa selalu bersyukur memiliki seorang Ayah hebat seperti Ayahnya.
Hari ini aku di samping Ayah
Aku hampir tak mendengar detak jantungnya
Jantung itu sepertinya sudah payah
Hai Ayah,
Terima kasih selama ini ini kau tidak pernah mengajakku berkenalan dengan lelah
Terima kasih telah mengajariku mengerti makna ikhlas
Terima kasih telah menuntunku untuk bekerja tulus dan tuntas
Terima kasih telah menjadi pendamping ibu yang baik dalam mendidikku
Aku bersyukur memilikimu



Sudah 2 minggu Ayah dirawat. Rekam medis itu penuh dengan kolom-kolom baru. Keadaan Ayah fluktuatif, kadang membaik, kadang memburuk. Hingga hari ini adalah masa kritis Ayah. Rekam medis Ayah akan selalu menjadi saksi kerja keras anaknya. Rekam perencanaan yang dibuat dengan harapan, rekam yang menyisakan jejak-jejak doa, hingga hari ini datang. Hari ini seolah memberi tahu Resa bahwa benang-benang rajutannya yang menggantung mungkin sudah saatnya dirajut kembali. Tentunya, untuk Ayah.

***Hindun Risni
Farmasi Klinik dan Komunitas ITB 2012
Selamat hari Ayah untuk seluruh Ayah hebat yang ada di dunia!

Selasa, 27 Oktober 2015

Untuk Ummi #2

Sudah lama aku tak membuat puisi
Terakhir kali ternyata untuk Ummi,
Saat itu dua puluh dua Desember

Hari ini dua puluh tujuh Oktober

Sudah setengah abad lebih tanganmu membelaiku halus
Masih halus tangan itu di kepalaku
Walau sudah kurasakan getaran tangan yang kau coba sembunyikan
Sudah setengah abad lebih senyum dan tawamu yang bijak
Masih bijak raut wajahmu
Walau sudah kulihat keriputmu
Guratan wajah kerja keras dan sabarmu

Hari ini dua puluh tujuh Oktober 2015,
Dikala hingga detik ini mungkin maafku bisa dihitung
Maafmu entah sudah berapa kali kugantung
Maafmu karena belum memberikan yang terbaik untukku
Maafmu karena merasa belum membantuku
Sungguh,
Seharusnya maaf itu keluar dari mulutku
Bukan darimu

Seperti tiba-tiba saja usiamu berganti lagi
Sudikah Ummi memaklumi
Diri ini yang belum banyak memberi
Dan menjadi yang berbakti?
Sudikah Ummi memaklumi
Diri ini yang masih belum bisa berdiri sendiri
Dikala usiamu semakin dekat
Untuk menjadi tanggung jawab anak-anakmu

Setidaknya,
Izinkan aku menyampaikan sebuah doa pada Tuhan
Untuk selalu memberimu keberkahan dan kesehatan

Berikan aku waktu, untuk terus memperbaiki diri
Menjadi seorang anak yang engkau cari


Selayang pesan elektronik itu masih selalu ada setiap pagi
Siang dan malam hari
Pesan itu masih terus mengalir tak berhenti
“Jangan lupa berdzikir kepada Illahi”
Begitu kata Ummi
Dan pesan itulah yang akan terus kucari
Setiap hari
Barakallah, Ummi.


Untuk Ummi #1
http://risnizen.blogspot.co.id/2014/12/untuk-ummi.html

Selasa, 13 Oktober 2015

Apoteker tuh yang ada di apotek?

Saya lupa apa yang ada di pikiran saya sebelum jadi anak farmasi tentang persepsi seorang apoteker itu seperti apa. It is because I didnt care at all; baru kepikiran masuk jurusan farmasi aja di kelas 12, tidak pernah sebelumnya mencari-cari apa kerjaan seorang apoteker (duh, adek2 SMA, jangan dicontoh ya). Pilihan teman-teman SF ITB itu sepertinya tipikal, kalau ga pilihan pertamanya kedokteran (terus yang greget pgn masuk, akhirnya mengulang SBMPTN utk masuk FK) jadi cari yang menurut mereka agak berdekatan (is it?), atau masuk farmasi karena suka biologi tapi gamau jadi dokter, atau ada juga yang suka kimia, atau ada juga yang iseng-iseng, tapi ada juga yang sepertinya passion sekali di farmasi (yang pasti ini bukan gue) well. Tebak saya yang mana?? Ga peduli juga sih jen...

Dengan berbagai alasan pemilihan jurusan farmasi, secara kasat mata saya belum menemukan orang yang memang benar-benar paham tugas seorang apoteker, kecuali orang tuanya yang memang apoteker atau bergerak di bidang kesehatan, maybe. Saya sejujurnya merasa ga cerdas (dont call me stupid) kenapa juga saya pilih farmasi tanpa pikir panjang, di ITB lagi yang jelas-jelas farmasinya sudah dijuruskan. Saya ingat sekali ketika SMA melihat buku pengenalan jurusan ITB, saya membaca ada yang namanya STF (Sains dan Teknologi Farmasi) dan FKK (Farmasi Klinik dan Komunitas). Saya cuma baca sekilas, gada usaha tanya alumni SMA yang di farmasi ITB, terus tiba-tiba saya daftar. Thats why I feel not smart enough, pilih jurusan karena direkomendasikan seseorang bahwa “farmasi itu seru” plus sedikit kesukaan saya dengan biologi dan kimia, terus daftar weh kaya pasang togel. *efek pasrah ingin di jurusan sosial tapi malas belajar karena udah telanjur di jurusan IPA, again, jangan dicontoh*.

Maaf kebanyakan prolog, nyambi curhat ga dosa lah...

Terus apa maksud saya menulis blog dengan judul “Apoteker tuh yang ada di apotek?”
So two days ago, I had a conversation with a friend from another major,
“Ris, FKK atau STF yang harus ambil apoteker?”
“Dua-duanya boleh, tapi ga wajib”
“Oh, apoteker itu yang kerja di apotek kan? Kirain yang FKK aja”

Setelah mendengar pertanyaan dan pernyataan itu, saya jadi ingat tugas osjur di tingkat dua tentang wawancara apoteker yang di dalamnya terdapat pertanyaan mengenai persepsi masyarakat terhadap apoteker. Namun akhir-akhir ini saya lupa akan keadaan itu. Apalagi saya pikir anak ITB semuanya tahu kalo apoteker ga cuma kerja di apotek, ternyata anak teknik ga sekepo itu ya sama anak farmasi *loh #gagalpaham.

Anyway, saya bilang di awal bahwa I had no idea what pharmacist does sampai saya tingkat 2, bahkan pengetahuan saya kala itu ibaratnya baru menginjak halaman 2 dari sebuah novel dengan 1000 halaman. Baru setelah magang di tingkat 3, kunjungan rumah sakit, dan belajar matkul farmasi klinis, pengetahuan saya mengenai tugas seorang apoteker agak bertambah. Kenapa saya bilang agak? Karena saya percaya dengan pepatah “semakin banyak tahu, semakin banyak yang tidak kita tahu”. Nah loh, anak farmasinya aja ga begitu tahu tugasnya apa, apalagi yang bukan farmasi? So dont blame my friend who asked –a-somewhat-look like- a lame question.

Berkaca dari prolog saya, saya cukup yakin, tidak banyak calon mahasiswa yang benar-benar mencari tahu jurusan idamannya sampai mencari detail lahan kerja nanti. Misal, orang yang ingin kerja di perusahaan x, kadang hanya kepikiran karena memang itu perusahaan keren tapi dia tidak tahu ada bagian apa saja yang bisa ia duduki ketika nanti kerja. Baru kemudian di tingkat 3/4 mulai pusing mikir masa depan. So, I encourage you calon mahasiswa untuk benar-benar paham pilihan kamu.

Anyhow, maaf saya kebanyakan bacot :” inti dari tulisan ini adalah ingin memberi tahu apa sih sebenarnya tugas seorang apoteker? Siapa tahu informasi ini berguna untuk calon mahasiswa yang lagi galau pilih jurusan farmasi atau ngga dan sekaligus memberi tahu masyarakat yang tidak tahu menahu apa tugas apoteker; sekaligus pula memberi tahu realita apa yang terjadi. Pengetahuan saya mungkin belum seberapa, tapi ya...ini bisa jadi gambaran :D

Basically, ranah apoteker ini secara garis besar dibagi ke dalam ranah industri dan ranah klinis-komunitas (orientasi klinis di rumah sakit, orientasi komunitas di apotek). Sejujurnya, saya tidak banyak tahu apa kerjaan apoteker di industri selain kaitannya dengan managerial, QA QC, research and development, hm maaf karena saya sudah telanjur kebanyakan terpapar pengetahuan farmasi klinis&komunitas (selanjutnya saya cukup sebut klinis aja ya), izinkan saya untuk berbicara farmasi klinis saja hehehe daripada sok tahu :”

For your information, farmasi klinis di Indonesia belum begitu berkembang. Farmasi industri lah yang telah menduduki singgasana istana kefarmasian sejak manusia masih menulis di atas batu (oke lebay), jadi wajar ketika STF lebih banyak peminatnya daripada FKK ITB karena prospek kerjanya pun lebih menjanjikan. Setelah keluarnya PP No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, barulah isu farmasi klinis muncul ke permukaan. Organisasi profesi bersama dengan para aktivis farmasi Indonesia mulai berjibaku meningkatkan eksistensi farmasi klinis yang orientasinya adalah memberikan pelayanan optimal kepada pasien. Muncul proyek HPEQ DIKTI yang menekankan pada uji kompetensi, akreditasi, dan nilai kolaborasi interprofesi; wadah ini dimanfaatkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia dan APTFI (Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia) untuk memperbaiki sistem farmasi klinis di Indonesia. Kolaborasi dalam optimasi pelayanan klinis menjadi nilai fundamental untuk dijadikan pondasi penggadaian arogansi profesi. Isu peningkatan eksistensi apoteker kemudian digadang-gadang diiringi dengan perbaikan kurikulum farmasi serta adanya uji kompetensi apoteker indonesia sebagai salah satu cara pemerataan kompetensi. So, are pharmacists important in clinical workfield? Why then everyone trying to sell pharmacists? What pharmacist do? Seberapa pentingkah peran farmasi di dunia klinis sampai hak eksistensi dan kesejahteraannya harus diperjuangkan?

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.58, standar pelayanan farmasi klinik (this time, im speaking about hospital, not community) mencakup: (baca selengkapnya di http://sinforeg.litbang.depkes.go.id/upload/regulasi/PMK_No._58_ttg_Standar_Yanfar_RS_.pdf)
1. pengkajian dan pelayanan Resep
2. penelusuran riwayat penggunaan Obat
3. rekonsiliasi Obat
4. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
5. konseling
6. visite
7. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
9. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
10. dispensing sediaan steril; dan
11. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD);

Makhluk apa itu semua ya?
Well, poin di atas adalah hal ideal yang seharusnya dilakukan oleh seorang apoteker yang bekerja di rumah sakit. Pertama, pengkajian dan pelayanan resep. Sejujurnya saya belum tahu banget bagaimana seharusnya seorang apoteker memverifikasi resep dari dokter. Berdasarkan pengetahuan di kelas, bekal magang, dan kunjungan rumah sakit, dalam memverifikasi resep, apoteker akan melihat berdasarkan prinsip DRPs (Drug Related Problem) seperti, apakah dokter meresepkan obat sesuai penggunaannya? Jangan-jangan dokter kasi obat tertentu hanya karena tuntutan dari industri, padahal pasien ga sakit apa-apa? Apakah dokter memberikan dosis yang tepat? Apakah ada interaksi obat yang dapat membahayakan pasien? Apakah ada kemungkinan pasien ini gagal menebus obat karena diberi obat paten yang super mahal (so people, if you cant afford such a branded drug, yes you may ask your pharmacist to give you generic one! Dont be afraid of losing the efficacy, youll be fine)? Ketika saya belajar verifikasi resep di kampus, I needed like an hour to check the prescription, karena detail setiap obat harus diperhatikan. Namun pada kenyataannya, verifikasi resep tidak membutuhkan waktu barang 5 menit, hal ini bisa jadi karena apoteker yang sudah berpengalaman, apoteker yang percaya “dokter ga mungkin sebego itu” atau “dokter ga mungkin sejahat itu” atau “ah paling dokter kasi obat off label” atau “ah paling rekomendasi gue ditolak dokter” haha ya ga semua begitu lah yaa, saya yakin verifikasi resep yang cepat karena memang apoteker yang sudah berpengalaman. Amin. Selama saya magang, banyak kejadian yang ditunjukkan dan diceritakan oleh apoteker di sana terkait proses verifikasi resep, dan hal itu membuat saya cukup terkejut, seperti resep yang tidak rasional, pasien yang protes ini itu, apoteker pandai dan apoteker ga pandai, apoteker yang sering dimarahi dokter karena kebanyakan telepon minta konfirmasi, dll yang somehow membuat perasaan saya campur aduk antara takut dan ingin kerja di rumah sakit. Anyway, inti dari paragraf ini adalah bahwa peran apoteker dalam verifikasi resep sangat penting untuk menghindari DRPs yang saya bilang di atas tadi.

Poin 2 dan 3. Penelusuran riwayat penggunaan obat dan rekonsiliasi obat. Tidak semua apoteker di rumah sakit melakukan ini. Bahkan apoteker terakre internasional di jakarta sana, memberikan ranah rekonsiliasi obat pada dokter dengan alasan keterbatasan SDM apoteker. Rekonsiliasi obat itu apa? Jadi apoteker ini menanyakan obat apa saja yang sedang diminum atau dibawa pasien rawat inap yang baru masuk ruangan rawat, selanjutnya obat itu akan dianalisis apakah layak dikatakan obat, kemudian apakah akan dilanjutkan atau tidak oleh pasien. Sebenarnya kalau dilihat-lihat memang itu ranahnya apoteker, tapi kalau pikiran nakal saya mengatakan ya udah dokter aja sekalian...nanti datanya dikasi ke apoteker terus dikaji deh supaya menghemat waktu. Haha. (Its probably only a matter of technical thingy(?)). Tapi saya merasakan pentingnya poin ini, karena dengan mengetahui obat yang dibawa pasien, apoteker jadi siaga terhadap interaksi obat dan membantu pasien tidak perlu membeli obat lagi jika dia punya obat yang sama dengan yang diresepkan dokter.

Poin 4, 5, dan 6 terkait pemberian informasi obat, konseling dan visite. Pemberian informasi obat biasanya bersifat satu arah pada saat apoteker menyerahkan obat ke pasien. Konseling lebih dua arah dan detail. Kriteria pasiennya pun berbeda. Sementara visite merupakan kunjungan ke ruang rawat. Saya merasa semuanya penting, apalagi bagi pasien-pasien lansia, anak-anak, pasien dengan multiobat dan penggunaan obat khusus, serta pasien dengan kecacatan tertentu yang butuh perhatian khusus terkait pengobatan.

Poin selanjutnya, PTO, MESO, dan EPO. Poin yang paling saya soroti adalah penanganan efek samping obat. Ketika saya mengunjungi rumah sakit di Thailand, sistem pelaporan efek samping obat terlihat lebih rapi dari rumah sakit yang baru saja hari ini saya kunjungi. Kata dosen saya pun memang sistem dari negaranya sudah berbeda. Jadi, ketika terjadi reaksi obat merugikan yang dialami pasien, apoteker akan mengumpulkan data-data kejadian tersebut kemudian melaporkannya kepada Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) di rumah sakit. Apa yang dilakukan oleh PFT RS negara-negara lain adalah melaporkan kejadian tersebut pada badan obat pusat di negaranya (kalo di Indonesia BPOM), kemudian tiap rumah sakit di negara tersebut dapat mengakses database efek samping obat sehingga menjadi referensi dalam pemilihan terapi. Di Indonesia, data kejadian tersebut masih bersifat internal rumah sakit saja. But basically, peran apoteker tentunya penting dalam pengkajian efek samping obat ini. Apoteker dan dokter harus bersama-sama menganalisis apakah suatu kejadian merugikan pada pasien disebabkan karena obat yang dikonsumsinya atau bukan, jika iya apoteker harus mampu memberikan solusinya.

Selanjutnya adalah dispensing sediaan steril, yaitu menyiapkan obat-obat steril. Yah tentunya apoteker dibekali ilmu dispensing ini sehingga sudah sewajarnya apoteker yang melakukannya karena butuh keahlian khusus. Namun pada kenyataannya, dispensing ini masih dilakukan oleh Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) yang bukan apoteker (biasanya lulusan D3 Farmasi). Hm mungkin saya belum begitu paham urgensinya ketika memang TTK dibekali keterampilan ini, kenapa tidak mereka saja yang melakukan dispensing, tidak perlu apoteker seperti yang dicantumkan di Peraturan Menkes, mungkin ada pertimbangan yang saya belum tahu (?)

Poin terakhir saya kurang paham dan jarang dibahas juga sama apoteker-apoteker -.-

Yap. Itulah yang dilakukan oleh apoteker di rumah sakit. Rumah sakit masih menganggap pekerjaan farmasi klinis sangatlah banyak sehingga beberapa tugasnya kemudian masih dilakukan oleh TTK karena kekurangan SDM. Wait, kekurangan SDM? Teman-teman saya serempak terkejut dengan alasan itu karena kami sama-sama tahu bahwa lulusan farmasi bejubel jumlahnya di Indonesia tercinta ini. Kemudian kami berpikir, bisa jadi rumah sakit tidak mampu menemukan apoteker yang kriteria kompetensinya memenuhi apa yang mereka mau atau apakah rumah sakit tidak punya anggaran untuk merekrut apoteker baru atau rumah sakit masih merasa tugas apoteker dapat didelegasikan pada TTK yang cenderung digaji lebih rendah dari apoteker. Ini asumsi kok bro asumsi behehe. Yang pasti, setiap kali otak saya ini terpapar terkait isu farmasi klinis, saya selalu mengkaitkannya dengan kompetensi. Saya tidak mau bicara soal kesejahteraan dulu (apalagi untuk farmasi komunitas –apotek-), idealisme saya masih berkata bahwa yang terpenting sekarang adalah menyiapkan apoteker-apoteker kompeten sehingga peran apoteker memang benar-benar dibutuhkan (belajar yang bener Jen!). Selain itu, saya merasa database terkait kesehatan (seperti database MESO, peta kuman) di Indonesia kita tercinta ini mesti diperbaiki agar kita benar-benar tahu permasalahan kesehatan yang memang benar-benar membutuhkan keterlibatan apoteker yang mendalam. Ah, saya masih mahasiswa, saya saja tidak peduli soal prospek kerjaan makanya saya pilih FKK, ya toh saya ingin berhubungan dengan manusia as simple as that. Semoga idealisme ini tidak terkikis. Bytheway, kalau kata ka Tisa yang baru pulang S2 Farmasi Klinis di Inggris “UK has the same problem like Indonesia 20 years ago, where pharmacists weren’t exist yet” semoga farmasi klinis di Indonesia akan membaik tanpa harus menunggu 20 tahun lagi :’)

Okaay. I come to the end of my post. Quite boring? Sorry :”””””” maybe you could spread this to your little fella who are going to go to college or your friends who are interested at clinical pharmacy and they dont know yet what actually their roles are. Saya yakin masih ada hal yang tidak saya tahu terkait peran farmasi klinis, yah sambil jalan deh ya saya cari tahu~

I might talk about community pharmacist in my next post! Good night! Viva la pharmacie!

*ini bonus foto FKK 2012 setelah kuliah lapangan di rumah sakit hari ini, semoga kami jadi apoteker yang kompeten! amin* #jangandiabaikan