Sabtu, 31 Mei 2014
Legal tapi Lethal (World No Tobacco Day, 31 Mei 2014)
“Rata-rata setiap orang sudah tahu bahaya rokok, tapi tetap tidak mau berhenti; jadi sebenarnya di titik mana kita (khususnya sebagai mahasiswa kesehatan-red) harus bertindak?”
Sebuah pertanyaan dari kakak seniorku pada saat mengikuti Talkshow Forum Tobacco Control ISMAFARSI di UI pagi tadi. Yup, jadi sebenarnya kita harus apa untuk menekan angka perokok di Indonesia, sedangkan hampir setiap orang sejatinya mengetahui bahaya rokok?
Sejarah rokok diawali oleh suku Indian di Amerika yang mempergunakan rokok sebagai spek ritual. Kemudian berkembanglah sampai sekarang, sebagai yang katanya ‘penghilang stres’. Jika bermain angka, layaknya barang mainstream yang bukan bagian dari monopoli pasar, angka yang menunjukkan kematian akibat merokok sudah seperti barang yang disusun rapi dalam terpal penjual kaki lima. Banyak dan mudah ditemukan; apalagi zaman sekarang kita mengenal teknologi internet. 70% pria di Indonesia adalah perokok; dari totalnya yang mencapai 62.800.000, 70%nya mulai merokok sejak 19 tahun dan 12% sejak sekolah dasar. Jumlah perokok tiap tahun pun meningkat. +- 4,9 juta meninggal pada tahun 2000 dengan 50%nya adalah warga Negara berkembang, angka itu terus melonjak linear.
Lalu kenapa?
Ayo sama-sama kita review bahaya rokok yang kemungkinan besar teman-teman sudah tahu. Rokok mengandung 4000 senyawa kimia dengan 200 di antaranya beracun dan 43 lainnya adalah pemicu kanker; hampir tidak ada senyawa kimia yang bermanfaat di dalamnya; terdiri dari nikotin yang menyebabkan efek ketagihan –dan pengurangan nikotin tidak memengaruhi bahaya rokok-, tar yang dapat menempel di paru-paru dan menyebabkan kanker, serta CO yang mengurangi pengikatan O2 dalam darah.
Jika kita melihat sekeliling, yaitu keluarga dan teman, mungkin kelihatannya tidak terlihat bahwa rokok adalah barang berbahaya. Gue ga pernah liat temen atau keluarga gue meninggal karena merokok. Okay, mungkin belum. Karena pada kenyataannya, angka penelitian telah berbicara. Ya, penelitian menunjukkan bahwa rokok menyumbang angka kematian terbesar di dunia.
Lantas kenapa pemerintah diam?
Satu lagi hal yang mungkin sering teman dengar, yaitu permainan politik oleh industri rokok. Apa benar ada? Menurut pembicara talkshow FTC yang merupakan advokat regulasi rokok, dan seorang ibu berasal dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, ya memang ada permainan politik di dalamnya. Presiden SBY pun ternyata lebih memilih untuk menengokkan kepalanya kepada RUU Tembakau yang cenderung ramah terhadap industri rokok ketimbang menandatangani FCTC sebagai kontrol globalisai epidemi. Bisa jadi musim pilpres seperti ini pun secara tidak langsung akan memaksa Indonesia memalingkan mukanya barang sejenak dari FCTC ini, oh bahkan mungkin dalam waktu yang lama.
FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) merupakan traktat internasional pertama yang dibahas dalam forum WHO, berisi seluruh negara anggota PBB. FCTC berbasis data ilmiah yang menegaskan kembali hak semua orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pasal-pasal dalam FCTC pun menegaskan pentingnya strategi pengurangan permintaan terhadap produk tembakau sehingga fokusnya adalah mencegah orang merokok ketimbang mengobati kecanduan. Hal yang diregulasi dalam FCTC adalah supply reduction seperti penanganan penyelundupan tembakau serta demand reduction seperti peningkatan harga dan cukai tembakau, pelarangan iklan, dll. Sayangnya, negeri tercinta kita ini adalah satu Negara dari +-10 yang belum menandatangani FCTC. Siapa orang dibalik layar yang menyusun skenario nyata ini? Industri rokok.
Sumber kekayaan utama Indonesia bukan tembakau melainkan minyak bumi dan sebangsanya. Jadi, jangan pernah berdalih bahwa dengan merokok kita akan menolong Negara. Negeri ini sedang diinvasi oleh industri rokok yang berorientasi bisnis semata.
Kabar baik, pemerintah pusat telah mewajibkan pengadaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Namun otonomi yang dimiliki setiap daerah membatasi kewenangan pemerintah pusat untuk memaksa. Coba tengok daerah masing-masing, apakah sudah ada KTR? Tujuan KTR utamanya adalah melindungi perokok pasif sebagai secondhand smoke kill. Walaupun tidak dinilai dapat mengurangi perokok aktif, ini merupakan suatu progress dalam rangka melindungi hak orang banyak. Harapannya akan ada kebijakan lain dari pemerintah yang dapat secara signifikan mengurangi penggunaan rokok.
“Rata-rata setiap orang sudah tahu bahaya rokok, tapi tetap tidak mau berhenti; jadi sebenarnya di titik mana kita (khususnya sebagai mahasiswa kesehatan-red) harus bertindak?”
Pertama, mahasiswa harus mengubah mindset dan pandangannya tentang rokok dengan cara memperkuat data, jangan percaya dengan mitos-mitos yang berkaitan dengan keuntungan yang diperoleh dari merokok. Sekali lagi, data ini bukan lagi barang susah untuk didapat.
Kedua, jangan mau menerima beasiswa dari perusahaan rokok. Penerima beasiswa secara tidak langsung merupakan kader untuk menjadi agen dalam mempromosikan rokok. Mungkin kampusku sudah waktunya mengikuti jejak kampus sebelah untuk melarang kehadiran beasiswa perusahaan rokok.
Ketiga, penyuluhan bahaya rokok. Mungkin metode ini tidak lagi sesuai melihat bahwa sudah banyak orang mengetahui bahaya rokok, namun tidak semua mengetahui angka maka suguhi mereka dengan angka-angka sebagai salah satu usaha membuat mereka tercengang dan menjadikannya pertimbangan untuk berhenti merokok. Metode lain dapat pula menukar rokok dengan barang-barang seperti permen, susu, atau makanan lain sambil menyuluh. Metode visualisasi lewat video seperti video Thailand yang cukup terkenal itu pun bisa dicontoh, bahkan metode yang ditawarkan dalam video dapat menjadi masukan.
Keempat, bujuk orang-orang terdekat yang menyayangi kita untuk berhenti merokok, insyaAllah seseorang akan membuka porsi pertimbangan lebih besar untuk orang yang disayangnya.
Selanjutnya harapan lain,
Kelima, jika industri rokok menggunakan pergeseran strategi marketing dengan menampilkan orang-orang kekar dan tangguh di setiap iklan rokok sehingga berhasil memainkan psikologi manusia, diharapkan pemerintah dapat membuat iklan yang menampilkan bahaya rokok sebagai bentuk perlawanan.
Keenam, diharapkan adanya penelitian yang mengembangkan rokok elektronik dan sejenisnya yang dapat mengurangi efek bahaya rokok.
Ketujuh, besar harapan untukmu Indonesiaku agar menandatangani FCTC.
Kedelapan, siapapun kelak di antara kita yang akan mendudukan kursi-kursi pembuat kebijakan, pikirkanlah bahwa kesehatan bangsa ini merupakan faktor penting kesejahteraan dan keadilan umat manusia.
Halo sahabat kampusku khususnya, sedih setiap kali melihat kalian meneriakkan idealisme dan berbicara kemajuan dan kesejahteraan negara tapi kesehatan diri sendiri dan orang lain tidak diperhatikan, padahal kesehatan adalah faktor yang memengaruhi kesejahteraan negeri. Merokok bukan hak asasi manusia ketika hak asasi manusia adalah mendapatkan derajat kesehatan setinggi-tingginya dan mendapat lingkungan dengan udara bersih. Please stop saying that smoking is a right! IT IS NOT.
Sabtu, 17 Mei 2014
Living a Life Too Simply?
Gea diam tak bergeming. Pandangan matanya lurus ke depan, pikirannya merayapi saraf-saraf di lobus otaknya. Matanya basah namun tak ada air yang mengalir, menangis tak terlihat walaupun kelenjar lakrimalnya sedang bekerja. Hatinya sudah berbulan-bulan tak tenang. Pikirannya tak kunjung selesai melancong mencari hal yang bisa membuat ia mengerti masalahnya. Ia tak bergerak.
“Gea, we should increase the dosage, shouldn’t we?” Yang diajak bicara diam.
“The patient drives me crazy, you’re not gonna believe this, his serotonin may drop until its limit! Gotta search for another potent antidepressant, what’d you think?”
“Gea, excuse me?” Gea masih diam.
“Well, you know what, I guess this prescription is so suitable for you, I’ll give you the one more expensive if you want to, might be more convenient.” Gerard melambai-lambaikan secarik kertas resep di depan mata Gea, Gea mengerjapkan matanya tersadar.
“Hey pretty girl, would you, please?” Gerard memberi isyarat dengan gerakan tangannya, membujuk sopan Gea untuk kembali bekerja.
“Meet me up after work if you needed a friend to talk to.” Sesungging senyum tulus terlihat dari bibir Gerard, Gea membalas senyum hambar.
Gerard adalah partner terbaik bagi siapapun. Seorang farmasis pekerja keras, telaten, perhatian, dan profesional. Gerard tahu bahwa masalah pribadi tidak sebaiknya di bawa ke meja kerja, namun ia mengetahui dengan pasti bahwa ia harus menjadi pendengar yang baik bagi partner kerjanya yang dilanda masalah.. Sedangkan Gea, gadis ini menjalani hidup yang standar. Terlalu cerdas tidak, bodoh pun tidak. Punya kelebihan yang banyak tidak, kekurangan bermakna pun tidak. Cantik tidak, jelek pun tidak. Dia hanya gadis biasa yang kebetulan punya berbagai kesempatan.
Gea berjalan tertatih menuju ruang konseling, ia melewati lorong penuh dengan figura bertuliskan Pharmacist of the Month. Wajah Gerard jelas terpampang di barisan figura tersebut. Dinding ruangan konseling itu berwarna hijau pekat, lebih pekat dari zat pewarna Green FCF. Seorang pasien duduk di kursi menanti farmasisnya dengan sabar, ia tersenyum dan menyapa ramah sang farmasis. Gea melakukan kegiatan rutinnya, memberikan informasi obat kepada pasien. Pasien itu penderita depresi berat, Gea merekomendasikan suatu terapi penenang namun sang pasien menampik.
“Often my depression is healed just by doing or seeing anything I like. I was so unstable before I came in to this room, but when I opened the room’s door and I saw this green wall, which is my favorite color, I feel so calm and happy. Or when I talk to my grandkids, God, it’s a whole lifetime healer!” Gea tersenyum. Ia mengangguk lantas melanjutkan konseling tanpa menyinggung terapi yang ia rekomendasikan sebelumnya. Selesai memberikan konseling, Gea kembali diam, kali ini di meja kerjanya. Ia bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang ia dapat setelah memberikan konseling? Apakah dia senang? Tidak. Itu semua hanya formalitas, tuntutan pekerjaan. Senyumnya, gaya bahasa, dan gerak-geriknya hanyalah SOP yang diberikan atasan. Gea tidak pernah tahu kenapa ia harus mengikuti SOP tersebut. Mungkin ia memiliki penyakit kelainan neurotransmitter yang membuahkan respon seperti itu.
***
“Ahh gue bingung banget…jurusan apa ya? Gue suka konseling tapi bukannya di Indonesia farmasis ga kasih konseling ke pasien? Gue kerja di mana dong?”
“Yah rezeki sudah diatur Tuhan, Farma. Lagipula, Tuhan mana rela ga kasih kerja buat kamu wong nama kamu saja sudah mengindikasikan kalau kamu cinta Farmasi haha.” Farma nyengir. Mahasiswi tingkat satu dengan gaya khas anak metropolitan ini masih saja belum menentukan pilihan jurusannya, ingin fokus pharmaceutical care atau industrial oriented.
“Eh, Gea! Lu 100 persen banget sama pilihan lu? Sesuai sama tujuan lu di masa depan? Sudah kaji efek sampingnya? Gue dengar hati lo sendiri kontraindikasi tuh sama farmasi.” Farma beralih kepada Gea, menanyakan perihal pilihan jurusannya.
“Heh, gue tahu nama lo kefarmasi-farmasian, tapi gausah sok-sok farmasis gitu, maksa tau!”
“Haha ya maaf, serius nih gue nanya!”
“Iya, sudah pasti. Gue selalu menjalani sesuatu tanpa rasa kok, bingung tidak, bahagia tidak, jalanin aja mau apapun jurusannya, ini juga hasil tang-ting-tung milihnya. Gue hidup kaya air aja deh, ga usah tuh buat-buat tujuan hahaha”
“Hati-hati Gea, menjalani sesuatu tanpa motivasi bisa-bisa ke depannya lo menyesal, setidaknya pilih jurusan yang mendekati rasa bahagia lo di masa depan. Belajar hanya formalitas karena lo mahasiswa, tapi lo tidak merasakannya? Memang kebahagiaan tidak akan semudah mendapatkan suatu titel, tapi kebahagian lah yang membuat seseorang merasakan makna hidup.” Farma pun menutup percakapan itu sambil lalu.
Sangat terasa percakapan itu. Bahagia ya, Gea tidak pernah menemukannya sampai saat ini. Apa yang ia lakukan murni karena ia sudah terlanjur basah. Ditempatkan di SMA Farmasi, Sekolah Farmasi Universitas Negeri Bandung, lantas banyak rumah sakit luar negeri kenalan orang tuanya merekrut Gea bekerja. Gea memang tidak pernah punya tujuan. Dia tidak pernah protes jika orang tua menyuruhnya melakukan ini dan itu termasuk memilihkan sekolah dan pekerjaan. Bukan karena orang tuanya yang keras kepala, memang Gea yang tidak pernah merangkai mimpi untuk dirinya sendiri. Orang lain lah yang merangkai mimpi namun Gea yang mendapatkannya. Jika orang lain mendesain mimpinya secara sadar, Gea melakukannya di bawah alam sadar seperti benar-benar sedang tidur. Dia tidak membutuhkan usaha yang bermakna ketika ia mendapatkan sesuatu. Dikala orang lain terihat membutuhkan setumpuk morfin untuk berhenti panik, Gea bahkan tak membutuhkan aspirin.
“Mungkin Tuhan menciptakan Gea karena Ia lelah dengan semua makhlukNya yang tamak terhadap penawaran dunia. Tuhan lelah dengan manusia-manusia yang sibuk menempelkan mimpinya di dinding kamar lantas lupa akan kewajiban yang Tuhan mandatkan. Tuhan lelah dengan semua dunia penuh kompetisi dan kecurangan ini. Mahasiswa lulusan Universitas Negeri Bandung yang berbondong-bondong berebut mencari pekerjaan, mengusungkan dada pada saat recruitment interview, berani menawarkan harga tinggi tidak tahu diri. Oh, dan teman-teman kamu itu, sibuk mencari beasiswa luar negeri untuk mendapatkan harga hidup bukan untuk memperbaiki dirinya yang sebenarnya serba kekurangan.”
Gea tersenyum pahit mendengar ucapan sepupu kesayangannya itu. Lelah terhadap manusia yang bermimpi sampai lupa satu kewajiban yang Tuhan mandatkan? Memang Gea ingat? Kerja di luar negeri untuk memperbaiki diri? Memang Gea begitu? Gea memilih untuk diam. Ia membuka buku-buku Farmasi yang selalu menemaninya selama lima tahun terakhir. Bulan depan Gea wisuda apoteker.
“Jadi, kamu sudah pasti ke Amerika di Rumah Sakit kenalan Papa Mama? Rumah Sakit mana yang beruntung mendapatkan tang-ting-tung kamu?” sepupu Gea bertanya menelisik.
“Kali ini Mama yang pilih kok, Rumah Sakit di daerah Ohio.”
***
“Gea! Gile luuuu! Lanjut ke Amerika yaa!” Farma memeluk erat sahabatnya itu. Yang dipeluk hanya tersenyum.
“Keren lu! Gue sudah usaha mati-matian belajar tiap malam sampai pagi, ikut organisasi ini-itu biar CV oke, buat network kemana-mana, tapi kerjaan sekarang masih aja belum nyamperin. Elu, belajar standar, organisasi standar, apa-apa standar tapi sukses duluan! Haha, no offense friend!” Farma gamblang mengutarakan kekecewaannya yang tidak dapat kerjaan.
“Haha ya mana gue tahu, gue ga pernah mimpi buat lanjut ke Amerika, kebetulan aja ada kenalan Mama” Gea sangat menyadari hal itu, selama ini apa yang dia dapatkan karena kebetulan.
Farma nyengir. Ia tahu Tuhan sudah menarik garis takdir ke destinasi akhir masing-masing. Terkadang Tuhan menggambar garis yang berkelok-kelok, terkadang Tuhan hanya membuat garis lurus sampai destinasi akhir. Setiap orang punya jalan suksesnya masing-masing. Yang penting gue bangga dan bahagia dengan usaha yang gue lakukan, ujar Farma dalam hati.
***
Kantin rumah sakit sepi, siapa yang akan ke mari di tengah malam begini.
“I don’t believe in his famous extraordinary quote –well at least it’s what people say- I mean, come on, how do I live my astonishing life? It’s all pure luck! I did not do anything, an inch of walking toward effort? Never! I don’t prepare, I just flow….like water.”
Gea membanting tubuhnya ke atas kursi menghadap Gerard seraya meletakkan sebuah buku kasar dan mengomel setengah berteriak. Sekuriti rumah sakit menengok, Gea hanya tersenyum minta maaf.
“Since when you read Roman Literature?”
“Just trying to drain times until it’s dried.”
“Luck is what happens when preparation meets opportunity, quotes attributed to Roman philosopher Seneca, reminds us that we make our own luck.” Gerard mengucapkan potongan kalimat yang ditunjuk Gea.
“Luck isn’t made. It’s just her, a Fortune Goddess created it” Gea berkata datar, tidak bermaksud memercayai kehadiran Dewi Fortuna, hanya ucapan refleks semata. Gerard menatapnya penuh perhatian, pancaran mata Gea seolah diterima retina Gerard sebagai sinyal cahaya yang diterjemahkan ke dalam bahasa hati.
“You are not happy, are you? You feel everything is flat. You had never through even a single hard time.”
“You’re blessed Gerard. What is it when you read someone’s palm? Palmistry? I would name what you do as an Eyeistry.” Gea mencoba bercanda di kala ia menahan helaan nafas berat yang sejak tadi protes ingin keluar. Apa yang dikatakan Gerard benar, Gea tidak bahagia dan menganggap hidupnya selalu datar.
“So why flat?” Gerard menanggapinya dengan senyuman namun berusaha mengarahkan arah pembicaraan ke suasana serius.
“I have got everything Gerard. Everything. Good work, cool car, loyal friends, awesome parents, stunning boyfriend, but somehow they color my life in black and white. I wasn’t sad, I was okay with them, but now it seems not okay. I’m just….I’m not happy. People is that easy to be happy just by seeing their favorite color, really?”
“Don’t you want a better work? A bigger salary? A… cooler car? A… more cute boyfriend, like me?” Gerard tersenyum menggoda, Gea tau itu hanya guyonan Gerard.
“I don’t know, think I have enough yet I’m not happy.”
Gerard berdiri dan meraih tangan Gea menjauh dari kantin dan keluar rumah sakit. Mereka berjalan cukup jauh sampai di pertengahan kota yang sepi karena waktu telah menunjukkan pukul 00.40.
“Look. Have you ever talked to them?” Gerard menunjuk pada sekumpulan tuna wisma. Gea bingung. Untuk apa dia berbicara dengan mereka?
“You’re not happy because you never try to appreciate what you have done. That’s first. Praise yourself, Gea. Luck is indeed an effort meeting opportunity. Rarely appreciating? Because you don’t dream. You’ve been living your life too simply. Look at them! Those homeless people may flow like water as well, what makes it different, God gives you more and lots opportunities, even too many, as a space for doing effort. Second, you’re too fast to feel enough. God is tired of people being lazy yet God is tired too of people being too ambitious. He created you to warn those kinds of people. Warn them! Get that adrenaline into your every blood vessel. Go talk to the homeless, beggar, handicapped kids, as well as your ambitious colleagues who never feel enough. You will know why people could be that unlucky and at the same time you will know why people just can’t get enough. Be grateful, then go out and talk to anybody! Soon you will create your own life motivation what so called a dream.”
Gea terdiam.
“The poor might teach you how to feel enough, the never-enough-people might teach you how to feel not enough. You will be that grateful ambitious girl who chases your dream and dream to make people’s dream come true at the same time. By the time you achieve the dreams, you’ll be the happiest girl in the world.”
Kebahagian lah yang membuat seseorang merasakan makna hidup
Selasa, 06 Mei 2014
Yaudah Yuk
Iya gue tahu, harusnya gue sekarang baca slides epidem buat UAS, tapi lagi butuh refreshing dari segala kepusingan ini, sebentar aja ☺
Apa sih masalah mahasiswa? Mungkin ga akan jauh dari ini; gabisa mengikuti pelajaran, merasa salah jurusan, IP turun, gabisa bagi waktu antara belajar dan organisasi, gabisa menghilangkan rasa malas, galau harus jadi BP di himpunan atau unit, galau belum dapat pacar, dicuekin sama kecengan, digalakkin sama senior, kesal sama anggota yang ga kooperatif, orang tua dianggap ga mengerti anaknya yang aktivis, dsb seputar itu.
Pernah dengar kalimat ini?
“Respon kita terhadap masalah menentukan kualitas hidup kita”
Baru saja tmn gue mengingatkan ini ketika makan siang tadi. Mungkin yang dia maksud bukan ini, tapi kata-kata dia mengingatkan gue akan kalimat di atas.
Well, pembaca sudah tahu kan arah tulisan ini akan kemana?
Tulisan ini bukan untuk menggurui teman-teman sekalian, ini pelajaran untuk gue sendiri. Pelajaran bagaimana kita merespon suatu masalah. Gue sendiri ga peduli ketika gue menganggap sesuatu sebagai masalah tetapi teman gue tidak menganggapnya demikian ataupun sebaliknya. Terserah. Menurut gue yang terpenting adalah bagaimana meresponnya.
Mungkin buat gue sakit punggung sedikit saja adalah masalah, rasanya ingin langsung pergi ke dokter, khawatir, kasarnya, “gimana kalau ternyata sakit ini nyambung ke saraf x,y,z,a,dbsk,ska, terus gue mati?” walaupun kalimat kutip tersebut ga gue ucapkan, tapi perasaan mungkin berkata demikian. Sebagian orang akan berpikir gue berlebihan.
Mungkin buat gue “slides kuliah yang masih ada 5 bab lagi dan belum dibaca sedangkan besok UAS” menjadi beban tidak henti-hentinya. Gue mengeluh, teriak guling-guling di atas kasur, langsung sms mamah “Maaf ya mah kalau IP aku turun”. Sebagian orang akan berpikir gue berlebihan.
Mungkin buat sebagian orang, ga punya pacar adalah bencana yang menancap hati, menusuk pikiran, dan menghantam beban di badan. Mereka tak henti-hentinya ikut segala kegiatan dengan dalih mencari pengalaman, padahal niat utama mencari jodoh. Mengeluh dan mengkode di berbagai medsos “HP sepi…”
Begitulah. Setiap orang punya berbagai pilihan respon ketika ia mencap sesuatu menjadi masalah. Diam dan menangis, mengeluh, bercerita, menyelesaikan, dan/atau berdoa.
Lantas memang bagaimana seharusnya merespon? Bukankah mengeluh dan menangis adalah obat mujarab menghilangkan depresi?
Okay. Gue bukan psikolog, tapi gue punya pandangan bahwa mengeluh (dan bercerita) dan menangis memang obat mujarab ketika kita sedang depresi menghadapi masalah. Namun kebanyakan dari kita ya mengeluh tiada akhir, tanya saja pada diri sendiri apakah kualitas hidup kita akan bagus ketika kita banyak mengeluh?
Kita lupa sesuatu. Bandingkan seberapa sering kita menceritakan masalah kita ke teman dengan ke Tuhan? Jangan bilang kita sudah curhat ke Allah kalau hanya ucapan istigfar di mulut. Jangan bilang kita sudah meminta petunjuk Allah kalau kita hanya berdoa setelah shalat magrib. Jangan bilang kita sudah mencoba mencari ketenangan kalau kita hanya membaca 1 lembar Al-Qur’an. Bandingkan berapa jam yang kita habiskan untuk menceritakan masalah kita kepada teman?
Buat saja pie diagram. Bagi pie tersebut dengan semua kegiatan kita setiap harinya. Lalu lihatlah pie ‘ibadah’.
Jangan protes kalau selama ini segala sesuatu di mata kita adalah masalah. Lantas kembali mengeluh, kapan selesainya?
Okay. Gue bukan psikolog, tapi gue punya pandangan bahwa mengeluh (dan bercerita) dan menangis memang obat mujarab ketika kita sedang depresi menghadapi masalah. Yang biasanya bercerita kepada teman selama satu jam, karena masalah banyak, cerita pun menjadi berhari-hari. Setiap habis bercerita pun merasa tenang, tapi masalah itu muncul lagi karena tidak pernah diselesaikan, lantas cerita lagi.
Yang biasanya shalat 5 waktu dan berdoa setiap kalinya, kenapa tidak pernah ditingkatkan dengan melaksanakan sunnah rutin?
“Mengerjakan amalan-amalan sunnah secara rutin, walau amalannya sedikit, itu lebih baik dan terasa pengaruh perubahannya di hati daripada amalannya banyak tetapi tidak rutin”
Tuhanlah yang memberikan segala ketenangan dan kebijakan bagi kita dalam menghadapi suatu masalah yang akan berakhir pada penyelesaian yang luar biasa. Itulah respon yang InsyaAllah akan menentukan kualitas hidup kita menuju ke arah yang lebih baik.
Apa sih masalah mahasiswa? Mungkin ga akan jauh dari ini; gabisa mengikuti pelajaran, merasa salah jurusan, IP turun, gabisa bagi waktu antara belajar dan organisasi, gabisa menghilangkan rasa malas, galau harus jadi BP di himpunan atau unit, galau belum dapat pacar, dicuekin sama kecengan, digalakkin sama senior, kesal sama anggota yang ga kooperatif, orang tua dianggap ga mengerti anaknya yang aktivis, dsb seputar itu.
Yaudah yuk cerita sama Allah.
Apa sih masalah mahasiswa? Mungkin ga akan jauh dari ini; gabisa mengikuti pelajaran, merasa salah jurusan, IP turun, gabisa bagi waktu antara belajar dan organisasi, gabisa menghilangkan rasa malas, galau harus jadi BP di himpunan atau unit, galau belum dapat pacar, dicuekin sama kecengan, digalakkin sama senior, kesal sama anggota yang ga kooperatif, orang tua dianggap ga mengerti anaknya yang aktivis, dsb seputar itu.
Pernah dengar kalimat ini?
“Respon kita terhadap masalah menentukan kualitas hidup kita”
Baru saja tmn gue mengingatkan ini ketika makan siang tadi. Mungkin yang dia maksud bukan ini, tapi kata-kata dia mengingatkan gue akan kalimat di atas.
Well, pembaca sudah tahu kan arah tulisan ini akan kemana?
Tulisan ini bukan untuk menggurui teman-teman sekalian, ini pelajaran untuk gue sendiri. Pelajaran bagaimana kita merespon suatu masalah. Gue sendiri ga peduli ketika gue menganggap sesuatu sebagai masalah tetapi teman gue tidak menganggapnya demikian ataupun sebaliknya. Terserah. Menurut gue yang terpenting adalah bagaimana meresponnya.
Mungkin buat gue sakit punggung sedikit saja adalah masalah, rasanya ingin langsung pergi ke dokter, khawatir, kasarnya, “gimana kalau ternyata sakit ini nyambung ke saraf x,y,z,a,dbsk,ska, terus gue mati?” walaupun kalimat kutip tersebut ga gue ucapkan, tapi perasaan mungkin berkata demikian. Sebagian orang akan berpikir gue berlebihan.
Mungkin buat gue “slides kuliah yang masih ada 5 bab lagi dan belum dibaca sedangkan besok UAS” menjadi beban tidak henti-hentinya. Gue mengeluh, teriak guling-guling di atas kasur, langsung sms mamah “Maaf ya mah kalau IP aku turun”. Sebagian orang akan berpikir gue berlebihan.
Mungkin buat sebagian orang, ga punya pacar adalah bencana yang menancap hati, menusuk pikiran, dan menghantam beban di badan. Mereka tak henti-hentinya ikut segala kegiatan dengan dalih mencari pengalaman, padahal niat utama mencari jodoh. Mengeluh dan mengkode di berbagai medsos “HP sepi…”
Begitulah. Setiap orang punya berbagai pilihan respon ketika ia mencap sesuatu menjadi masalah. Diam dan menangis, mengeluh, bercerita, menyelesaikan, dan/atau berdoa.
Lantas memang bagaimana seharusnya merespon? Bukankah mengeluh dan menangis adalah obat mujarab menghilangkan depresi?
Okay. Gue bukan psikolog, tapi gue punya pandangan bahwa mengeluh (dan bercerita) dan menangis memang obat mujarab ketika kita sedang depresi menghadapi masalah. Namun kebanyakan dari kita ya mengeluh tiada akhir, tanya saja pada diri sendiri apakah kualitas hidup kita akan bagus ketika kita banyak mengeluh?
Kita lupa sesuatu. Bandingkan seberapa sering kita menceritakan masalah kita ke teman dengan ke Tuhan? Jangan bilang kita sudah curhat ke Allah kalau hanya ucapan istigfar di mulut. Jangan bilang kita sudah meminta petunjuk Allah kalau kita hanya berdoa setelah shalat magrib. Jangan bilang kita sudah mencoba mencari ketenangan kalau kita hanya membaca 1 lembar Al-Qur’an. Bandingkan berapa jam yang kita habiskan untuk menceritakan masalah kita kepada teman?
Buat saja pie diagram. Bagi pie tersebut dengan semua kegiatan kita setiap harinya. Lalu lihatlah pie ‘ibadah’.
Jangan protes kalau selama ini segala sesuatu di mata kita adalah masalah. Lantas kembali mengeluh, kapan selesainya?
Okay. Gue bukan psikolog, tapi gue punya pandangan bahwa mengeluh (dan bercerita) dan menangis memang obat mujarab ketika kita sedang depresi menghadapi masalah. Yang biasanya bercerita kepada teman selama satu jam, karena masalah banyak, cerita pun menjadi berhari-hari. Setiap habis bercerita pun merasa tenang, tapi masalah itu muncul lagi karena tidak pernah diselesaikan, lantas cerita lagi.
Yang biasanya shalat 5 waktu dan berdoa setiap kalinya, kenapa tidak pernah ditingkatkan dengan melaksanakan sunnah rutin?
“Mengerjakan amalan-amalan sunnah secara rutin, walau amalannya sedikit, itu lebih baik dan terasa pengaruh perubahannya di hati daripada amalannya banyak tetapi tidak rutin”
Tuhanlah yang memberikan segala ketenangan dan kebijakan bagi kita dalam menghadapi suatu masalah yang akan berakhir pada penyelesaian yang luar biasa. Itulah respon yang InsyaAllah akan menentukan kualitas hidup kita menuju ke arah yang lebih baik.
Apa sih masalah mahasiswa? Mungkin ga akan jauh dari ini; gabisa mengikuti pelajaran, merasa salah jurusan, IP turun, gabisa bagi waktu antara belajar dan organisasi, gabisa menghilangkan rasa malas, galau harus jadi BP di himpunan atau unit, galau belum dapat pacar, dicuekin sama kecengan, digalakkin sama senior, kesal sama anggota yang ga kooperatif, orang tua dianggap ga mengerti anaknya yang aktivis, dsb seputar itu.
Yaudah yuk cerita sama Allah.
Jumat, 25 April 2014
Kartinistraat
Mei berjalan cepat. Baginya waktu adalah lawan, lawan yang selalu siap menghunuskan pedangnya ketika setumpuk pekerjaan dikejar deadline. Sedikit saja Mei telat, ia akan menyesal dan mengeluh sepanjang waktu seperti seorang pelancong yang ditinggal kereta. Setapak jalan di Amsterdam jadi saksi bisu sepanjang karir Mei; seperti jalan tersebut yang tak kenal lelah diinjak heels tajamnya, Mei pun tak pernah lelah bekerja pagi, siang, dan malam demi mendapat puncak karir yang ia idam-idamkan sejak masih duduk di bangku sekolah. Tangga karir yang tidak mudah ia jejaki, satu per satu anak tangga ia lewati, tidak sedikit tajamnya duri menghambat ambisi perempuan penyuka warna biru ini. Perempuan berusia 27 tahun yang sangat telaten dan tekun mengejar cita-cita. Tak heran jika ia lantas menuai padi berisi ketika panennya tiba dan terbang secepat roket ketika hitungan mundur bergema, melesat dengan cepat meninggalkan rekan kerjanya yang sudah lebih dahulu berada di perusahaan yang sama. Mei disekolahkan di playgroup hingga universitas yang menjanjikan. Fasilitas tersebut ia gunakan dengan sangat baik, tak ada secuilpun waktu ia habiskan percuma. Buku-buku ekonomi dan manajemen di rumahnya berbaris rapi membentuk tumpukan setinggi langit-langit. Tiada waktu tanpa menyentuh buku-buku itu, tiada batasan waktu baginya merancang strategi perusahaan idaman sampai mau tidak mau ibunya menyuruh Mei tidur.
Mei dipromosikan menjadi General Manager. Sangatlah muda bagi Mei menduduki posisi ini untuk perusahaan parlente yang namanya bak jutaan jerami menumpuk jarum. Perusahaan yang sudah kebal dengan segala strategi marketing perusahaan lain yang berani menusuk dari belakang.
“Mei, istirahatlah. Kantung matamu sudah kaya agar-agar basi itu…” Alida, teman Mei yang sama-sama berasal dari Indonesia menghampiri Mei yang sedang menari-narikan jemarinya di atas keyboard komputer, menyuruh Mei beristirahat seraya meledeknya bercanda. Mei mendengus kesal, kembali meletakkan tangannya ke badan mouse dan mulai menggerak-gerakaan kursor tanpa memedulikan Alida. Alida hanya bisa menaikkan alisnya bingung.
Terdengar panggilan. Mei mendongak, menarik nafas panjang dan berusaha mengumpulkan sisa tenaganya untuk bangkit berdiri. Alida melihat temannya berjalan sempoyongan menuju ruangan si bos, ia hanya mampu berdecak dan menggelengkan kepala.
***
Tiga tahun silam Belinda menginjak usia 5 tahun.
Indonesia sedang tersanjung. Negeri ini dipuji karena memiliki seorang pahlawan yang membela hak kaum wanita. Wanita ini berhasil mengizinkan pikiran para wanita untuk mendarat tepat pada hak mereka, yaitu mengenyam pendidikan seperti pria di zamannya. Setiap tahunnya, berita-berita di televisi menampilkan sosok wanita ini dengan karya terkenalnya, Habis Gelap Terbitlah Terang.
Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.
Belinda mengerjap-ngerjapkan mata, retinanya menangkap cahaya dan tulisan pada televisi di depannya, syaraf matanya mengantar tulisan tersebut untuk diterjemahkan di bagian otak yang bertugas. Mata bening itu tak berhenti melihat televisi. Sekejap pikirannya melayang pada Ibunda yang melahirkannya.
“Ayah, kata nenek, Bunda itu perempuan cerdas, apa karena itu Bunda tidak mau ikut menengok nenek ke sini? Karena Bunda tidak sanggup hidup dengan nenek lagi?” Pria itu menurunkan koran yang dibacanya, mengalihkan pandangan ke layar televisi lantas menangkap maksud dari buah hatinya. Pria itu tersenyum miris dan berusaha mencari penjelasan kalimat di televisi tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti anak usia 5 tahun.
“Bunda memang cerdas, Inda. Nenek moyang itu bukan nenek Inda, tapi orang yang hidup di zaman dahulu, makanya perempuan cerdas seperti Bunda pasti tidak mau hidup di waktu dahulu, kan dulu tidak sekeren dan semaju sekarang. Bunda tidak bisa menengok nenek karena Bunda sedang sibuk, sayang.” Kata terakhirnya keluar begitu saja, realita yang memang terjadi terucap dari mulut seorang suami yang lelah menasehati istrinya. Ia bingung, takut akan pertanyaan macam-macam dari Belinda yang mungkin saja sulit ia jawab. Namun Belinda yang akrab disapa Inda hanya bisa termangu diam, entah mengerti atau tidak ucapan Ayahnya. Yang pasti semenjak itu, Belinda memutuskan untuk menyukai Ibu Kartini, baginya ia seperti Bunda yang kata nenek, Bunda adalah wanita paling cerdas yang pernah ada di dunia, Bunda yang selalu tertidur di tumpukan buku-buku, Bunda yang tidak pernah berhenti bermimpi meraih cita-citanya. Kata nenek, Bunda sedang sibuk membuat banyak hadiah untuk Inda dengan segala kecerdasan yang Bunda miliki. Mata beningnya kembali ke layar televisi, kali ini mata Ayahnya ikut menyoroti tayangan tentang Ibu Kartini itu.
Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenernya kejam.
Berbagai kutipan karya Kartini diperdengarkan kepada penyimak. Ayah si kecil itu menarik nafas panjang, telinganya lamat-lamat dibisikkan kembali oleh pertengkaran dengan istrinya.
“Mas, ini sudah zamannya emansipasi wanita toh mas…aku sebagai perempuan punya hak untuk mengejar mimpi aku menjadi pemimpin perusahaan, tak ada salahnya perempuan bekerja banting tulang.”
“Mas ga pernah larang kamu untuk kejar mimpi kamu, mas hanya minta kamu untuk santai sedikit saja, jangan lembur tiap malam…waktu tidak akan protes jika kamu bersantai sedikit. Ia akan sabar menunggu kamu menuju mimpi yang kamu idam-idamkan. Inda butuh kamu, sayang.” Mei selalu kembali berputar pada argumen yang sama. Menurutnya perempuan punya hak besar menentukan pilihannya sendiri dalam berkarir, tentunya di zaman di mana emansipasi wanita dielu-elukan. Mei selalu percaya bahwa wanita dengan karir hebat adalah wanita terhormat yang telah berani menantang kerasnya zaman.
***
Keluar dari ruangan bosnya, timbul teriakan tercekat di tenggorokan Mei. Kesenangan menggerogotinya sampai udara di dalam paru-parunya enggan keluar. Alida yang melihat gerak-gerik rekannya bertanya menelisik, yang ditanya hanya menyodorkan surat, surat keputusan resmi promosi posisi General Manager.
“Hm, habis ini ke tangga paling atas ya?” Alida menyebut istilah direktur utama kesukaan Mei tanpa senyum sedikit pun. Alida tahu persis keadaan suami Mei yang terus-menerus memintanya mengurangi jam kerja, tahu pula situasi si kecil Belinda yang ‘dibohongi’ neneknya bahwa Mei sedang sibuk membuat hadiah untuk Belinda. Alida memasang wajah prihatin pada Mei. Mei mendengus sinis, memilih untuk tidak menjawab dan kembali ke meja kerjanya. Sebelum sempat ia duduk, telepon berdering, dari suaminya. Suaminya menelepon dari Indonesia tempat Mei dibesarkan. Mei mengangkat telepon malas, ia sudah bisa mengira akhir dari pembicaraan di telepon ini pasti berujung pada pertengkaran, Mei pun urung memberi kabar gembira yang mungkin kabar buruk bagi suaminya.
“Mei, apa kabar?”
“Baik, mas.”
“Kamu ingat kan besok hari apa?”
“Mm eh? Kamis?”
“Hari ulang tahun Inda, Mei. Bisakah kamu memesan tiket sekarang dan menyempatkan untuk ke Indonesia? Lagipula nenek sedang sakit, dia menanyakan kamu terus”
“Aduh mas, aku sibuk. Bilang sama Inda aku akan kirim hadiah ulang tahun untuknya. Tentu aku ingat ulang tahun Inda.” Mei tahu dirinya berbohong.
Percakapan itu terus berjalan. Suami Mei tak bosan-bosan membujuk Mei untuk datang ke Indonesia; ritual suami dan anaknya untuk berkunjung ke rumah nenek setiap kali Belinda berulang tahun. Dan benar saja, kedua suami-istri itu mulai beradu pendapat. Alhasil ketika mulai memainkan nada tinggi, Mei memutus telepon, terlalu lelah untuk berdebat.
Bayangan itu telah ada di pikiran Mei, perasaan yang tertimbun jauh di benaknya sekarang muncul malu-malu ke permukaan. Tinggal sedikit lagi ia mengangkat kakinya, menuju tangga karir teratas. Kebijakan perusahaan sebentar lagi akan dipegangnya. Tak cukup bulatan awan sebesar meja kerjanya untuk merancang satu demi satu strategi implementasi kebijakan di kepala cerdasnya. Ia tidak akan berhenti bekerja, ia akan lebih sibuk dari sebelumnya.
Dua puluh satu April 2014. Hari ini Inda menginjak usia 8 tahun.
Mei meraih mug birunya. Ia tertegun lama. Bertahun-tahun ia berlari mengejar mimpinya, terasa bahwa jantung yang membantunya berlari mulai protes, rangka tubuhnya yang selalu menopangnya ketika berlari mulai berteriak, hati yang mengiringi perasaannya ketika sampai pada checkpoint arena mulai gelisah, mereka semua bertanya, buat apa kami bantu Anda berlari? Pikirannya kosong, Mei tidak tahu mengapa ia melakukan ini semua selain karena ia menginginkan kehormatan dan harga diri. Matanya tertuju pada pintu kamar Belinda. Ia melangkah pelan, membuka pintu sambil haru,
“Dear Ibu Kartini, Inda dengar dari Ayah kalo Ibu adalah contoh bagi semua perempuan. Ibu mengizinkan semua perempuan termasuk Bunda untuk bersekolah dan bekerja, tapi Inda tahu, Ibu Kartini tidak mengizinkan Bunda Inda untuk jauh dari Inda, Inda tahu Ibu Kartini tidak mengizinkan Bunda Inda, tidak lagi bersama menengok nenek di Indonesia, tidak mengizinkan Bunda tidak lagi memasak untuk Inda atau bercerita apapun untuk Inda. Inda sayang Bunda. Inda juga sayang Ibu Kartini, Inda minta kado ulang tahun dari Ibu, Inda mau Ibu Kartini muncul di mimpi Bunda dan beritahu Bunda kalau Ibu Kartini ingin Bunda tidak bekerja lama sampai lupa sama Inda ☹”
Hati Mei kini sebiru warna mugnya. Air matanya menetes perlahan, menyisakan tinta-tinta yang berdifusi meleber di atas kertas. Kertas yang ia temukan di balik bantal Belinda. Pemilik bantal itu terpisah ribuan kilometer darinya namun Belinda seolah tahu hati Bunda. Belinda enggan beranjak dari tempat tidur neneknya menuju pesta ulang tahun, menangis tersedu, ia menyesali Bunda yang tidak pernah hadir dalam ulang tahunnya. Namun di hati kecil anak mungil itu, entah mengapa terselip rasa bahagia. Belinda tersenyum, hari itu ia yakin Bunda sudah selesai membungkus hadiah-hadiah yang nenek bilang.
Mei meratapi dirinya di depan kaca, business attire yang ia gunakan membuat ia terlihat elegan, elok, dan berwibawa. Hatinya meracau. Dahulu Kartini tidak butuh pakaian ini untuk terlihat elegan, dahulu Kartini tidak perlu tertatih menaiki tangga karir untuk terlihat elok, pancaran itu telah ada pada dirinya yang cerdas secara batiniah. Niat tulus untuk menegakkan hak kaum wanita dan tekad kuat untuk mengizinkan wanita mengecap pendidikan adalah sumber pancaran segala wibawanya. Apalah artinya teori Maslow jika seseorang mengejar kebutuhan self esteem tanpa benar-benar berhasil melewati kebutuhan tujuan dan cintanya. Ambisi yang telah membutakannya melalui proses berkarir yang tak pernah ia tahu apa maknanya sehingga cinta untuk seorang anak lenyap begitu saja. Benar kata Freud dalam teori psikologinya, semua yang Mei lakukan adalah kendali alam bawah sadar. Kendali yang muncul dan bertransformasi menjadi ambisi luar biasa yang mengalahkan cinta tulus seorang Ibu, berbeda dengan Kartini yang mampu berdamai dengan ambisi.
***
Jalan setapak di Amsterdam itu tidak pernah lelah dan sakit dijejaki oleh Mei, tidak peduli seberapa tajam heels yang Mei gunakan. Mei menggenggam erat surat di tangannya. Ia melangkah pelan, sorot matanya redup, dilihatnya plang jalan berwarna hijau di tikungan jalan setapak. Sudah lama ia menyadari nama jalan itu, nama yang diambil dari seorang warga Negara Indonesia yang membangun sekolah wanita dibantu oleh Belanda. Namun tak pernah sedetikpun ia berpikir maksud seseorang tersebut dalam memperjuangkan hak kaum wanita. Hak seorang wanita untuk berkarir namun tidak lepas dari kewajibannya sebagai seorang Ibu. Jalan ini memang menjadi saksi bisu Mei akan seseorang yang kecewa terhadap satu wanita yang salah kaprah. Seseorang yang terlampau sedih akan wanita yang sewenang-wenang menyalahartikan hak pendidikan dan hak kebebasan. Mei membuka surat promosi yang tidak ia tandatangani, menatapnya penuh arti lantas mantap melangkah menuju kantor perusahaan tempat ia bekerja, meninggalkan jalan setapak yang setiap hari ia lewati, jalan setapak yang kini dan nanti akan selalu menjadi saksi bisu perjalanan karirnya, jalan dengan plang hijau bertuliskan “Kartinistraat”.
Mei dipromosikan menjadi General Manager. Sangatlah muda bagi Mei menduduki posisi ini untuk perusahaan parlente yang namanya bak jutaan jerami menumpuk jarum. Perusahaan yang sudah kebal dengan segala strategi marketing perusahaan lain yang berani menusuk dari belakang.
“Mei, istirahatlah. Kantung matamu sudah kaya agar-agar basi itu…” Alida, teman Mei yang sama-sama berasal dari Indonesia menghampiri Mei yang sedang menari-narikan jemarinya di atas keyboard komputer, menyuruh Mei beristirahat seraya meledeknya bercanda. Mei mendengus kesal, kembali meletakkan tangannya ke badan mouse dan mulai menggerak-gerakaan kursor tanpa memedulikan Alida. Alida hanya bisa menaikkan alisnya bingung.
Terdengar panggilan. Mei mendongak, menarik nafas panjang dan berusaha mengumpulkan sisa tenaganya untuk bangkit berdiri. Alida melihat temannya berjalan sempoyongan menuju ruangan si bos, ia hanya mampu berdecak dan menggelengkan kepala.
***
Tiga tahun silam Belinda menginjak usia 5 tahun.
Indonesia sedang tersanjung. Negeri ini dipuji karena memiliki seorang pahlawan yang membela hak kaum wanita. Wanita ini berhasil mengizinkan pikiran para wanita untuk mendarat tepat pada hak mereka, yaitu mengenyam pendidikan seperti pria di zamannya. Setiap tahunnya, berita-berita di televisi menampilkan sosok wanita ini dengan karya terkenalnya, Habis Gelap Terbitlah Terang.
Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.
Belinda mengerjap-ngerjapkan mata, retinanya menangkap cahaya dan tulisan pada televisi di depannya, syaraf matanya mengantar tulisan tersebut untuk diterjemahkan di bagian otak yang bertugas. Mata bening itu tak berhenti melihat televisi. Sekejap pikirannya melayang pada Ibunda yang melahirkannya.
“Ayah, kata nenek, Bunda itu perempuan cerdas, apa karena itu Bunda tidak mau ikut menengok nenek ke sini? Karena Bunda tidak sanggup hidup dengan nenek lagi?” Pria itu menurunkan koran yang dibacanya, mengalihkan pandangan ke layar televisi lantas menangkap maksud dari buah hatinya. Pria itu tersenyum miris dan berusaha mencari penjelasan kalimat di televisi tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti anak usia 5 tahun.
“Bunda memang cerdas, Inda. Nenek moyang itu bukan nenek Inda, tapi orang yang hidup di zaman dahulu, makanya perempuan cerdas seperti Bunda pasti tidak mau hidup di waktu dahulu, kan dulu tidak sekeren dan semaju sekarang. Bunda tidak bisa menengok nenek karena Bunda sedang sibuk, sayang.” Kata terakhirnya keluar begitu saja, realita yang memang terjadi terucap dari mulut seorang suami yang lelah menasehati istrinya. Ia bingung, takut akan pertanyaan macam-macam dari Belinda yang mungkin saja sulit ia jawab. Namun Belinda yang akrab disapa Inda hanya bisa termangu diam, entah mengerti atau tidak ucapan Ayahnya. Yang pasti semenjak itu, Belinda memutuskan untuk menyukai Ibu Kartini, baginya ia seperti Bunda yang kata nenek, Bunda adalah wanita paling cerdas yang pernah ada di dunia, Bunda yang selalu tertidur di tumpukan buku-buku, Bunda yang tidak pernah berhenti bermimpi meraih cita-citanya. Kata nenek, Bunda sedang sibuk membuat banyak hadiah untuk Inda dengan segala kecerdasan yang Bunda miliki. Mata beningnya kembali ke layar televisi, kali ini mata Ayahnya ikut menyoroti tayangan tentang Ibu Kartini itu.
Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenernya kejam.
Berbagai kutipan karya Kartini diperdengarkan kepada penyimak. Ayah si kecil itu menarik nafas panjang, telinganya lamat-lamat dibisikkan kembali oleh pertengkaran dengan istrinya.
“Mas, ini sudah zamannya emansipasi wanita toh mas…aku sebagai perempuan punya hak untuk mengejar mimpi aku menjadi pemimpin perusahaan, tak ada salahnya perempuan bekerja banting tulang.”
“Mas ga pernah larang kamu untuk kejar mimpi kamu, mas hanya minta kamu untuk santai sedikit saja, jangan lembur tiap malam…waktu tidak akan protes jika kamu bersantai sedikit. Ia akan sabar menunggu kamu menuju mimpi yang kamu idam-idamkan. Inda butuh kamu, sayang.” Mei selalu kembali berputar pada argumen yang sama. Menurutnya perempuan punya hak besar menentukan pilihannya sendiri dalam berkarir, tentunya di zaman di mana emansipasi wanita dielu-elukan. Mei selalu percaya bahwa wanita dengan karir hebat adalah wanita terhormat yang telah berani menantang kerasnya zaman.
***
Keluar dari ruangan bosnya, timbul teriakan tercekat di tenggorokan Mei. Kesenangan menggerogotinya sampai udara di dalam paru-parunya enggan keluar. Alida yang melihat gerak-gerik rekannya bertanya menelisik, yang ditanya hanya menyodorkan surat, surat keputusan resmi promosi posisi General Manager.
“Hm, habis ini ke tangga paling atas ya?” Alida menyebut istilah direktur utama kesukaan Mei tanpa senyum sedikit pun. Alida tahu persis keadaan suami Mei yang terus-menerus memintanya mengurangi jam kerja, tahu pula situasi si kecil Belinda yang ‘dibohongi’ neneknya bahwa Mei sedang sibuk membuat hadiah untuk Belinda. Alida memasang wajah prihatin pada Mei. Mei mendengus sinis, memilih untuk tidak menjawab dan kembali ke meja kerjanya. Sebelum sempat ia duduk, telepon berdering, dari suaminya. Suaminya menelepon dari Indonesia tempat Mei dibesarkan. Mei mengangkat telepon malas, ia sudah bisa mengira akhir dari pembicaraan di telepon ini pasti berujung pada pertengkaran, Mei pun urung memberi kabar gembira yang mungkin kabar buruk bagi suaminya.
“Mei, apa kabar?”
“Baik, mas.”
“Kamu ingat kan besok hari apa?”
“Mm eh? Kamis?”
“Hari ulang tahun Inda, Mei. Bisakah kamu memesan tiket sekarang dan menyempatkan untuk ke Indonesia? Lagipula nenek sedang sakit, dia menanyakan kamu terus”
“Aduh mas, aku sibuk. Bilang sama Inda aku akan kirim hadiah ulang tahun untuknya. Tentu aku ingat ulang tahun Inda.” Mei tahu dirinya berbohong.
Percakapan itu terus berjalan. Suami Mei tak bosan-bosan membujuk Mei untuk datang ke Indonesia; ritual suami dan anaknya untuk berkunjung ke rumah nenek setiap kali Belinda berulang tahun. Dan benar saja, kedua suami-istri itu mulai beradu pendapat. Alhasil ketika mulai memainkan nada tinggi, Mei memutus telepon, terlalu lelah untuk berdebat.
Bayangan itu telah ada di pikiran Mei, perasaan yang tertimbun jauh di benaknya sekarang muncul malu-malu ke permukaan. Tinggal sedikit lagi ia mengangkat kakinya, menuju tangga karir teratas. Kebijakan perusahaan sebentar lagi akan dipegangnya. Tak cukup bulatan awan sebesar meja kerjanya untuk merancang satu demi satu strategi implementasi kebijakan di kepala cerdasnya. Ia tidak akan berhenti bekerja, ia akan lebih sibuk dari sebelumnya.
Dua puluh satu April 2014. Hari ini Inda menginjak usia 8 tahun.
Mei meraih mug birunya. Ia tertegun lama. Bertahun-tahun ia berlari mengejar mimpinya, terasa bahwa jantung yang membantunya berlari mulai protes, rangka tubuhnya yang selalu menopangnya ketika berlari mulai berteriak, hati yang mengiringi perasaannya ketika sampai pada checkpoint arena mulai gelisah, mereka semua bertanya, buat apa kami bantu Anda berlari? Pikirannya kosong, Mei tidak tahu mengapa ia melakukan ini semua selain karena ia menginginkan kehormatan dan harga diri. Matanya tertuju pada pintu kamar Belinda. Ia melangkah pelan, membuka pintu sambil haru,
“Dear Ibu Kartini, Inda dengar dari Ayah kalo Ibu adalah contoh bagi semua perempuan. Ibu mengizinkan semua perempuan termasuk Bunda untuk bersekolah dan bekerja, tapi Inda tahu, Ibu Kartini tidak mengizinkan Bunda Inda untuk jauh dari Inda, Inda tahu Ibu Kartini tidak mengizinkan Bunda Inda, tidak lagi bersama menengok nenek di Indonesia, tidak mengizinkan Bunda tidak lagi memasak untuk Inda atau bercerita apapun untuk Inda. Inda sayang Bunda. Inda juga sayang Ibu Kartini, Inda minta kado ulang tahun dari Ibu, Inda mau Ibu Kartini muncul di mimpi Bunda dan beritahu Bunda kalau Ibu Kartini ingin Bunda tidak bekerja lama sampai lupa sama Inda ☹”
Hati Mei kini sebiru warna mugnya. Air matanya menetes perlahan, menyisakan tinta-tinta yang berdifusi meleber di atas kertas. Kertas yang ia temukan di balik bantal Belinda. Pemilik bantal itu terpisah ribuan kilometer darinya namun Belinda seolah tahu hati Bunda. Belinda enggan beranjak dari tempat tidur neneknya menuju pesta ulang tahun, menangis tersedu, ia menyesali Bunda yang tidak pernah hadir dalam ulang tahunnya. Namun di hati kecil anak mungil itu, entah mengapa terselip rasa bahagia. Belinda tersenyum, hari itu ia yakin Bunda sudah selesai membungkus hadiah-hadiah yang nenek bilang.
Mei meratapi dirinya di depan kaca, business attire yang ia gunakan membuat ia terlihat elegan, elok, dan berwibawa. Hatinya meracau. Dahulu Kartini tidak butuh pakaian ini untuk terlihat elegan, dahulu Kartini tidak perlu tertatih menaiki tangga karir untuk terlihat elok, pancaran itu telah ada pada dirinya yang cerdas secara batiniah. Niat tulus untuk menegakkan hak kaum wanita dan tekad kuat untuk mengizinkan wanita mengecap pendidikan adalah sumber pancaran segala wibawanya. Apalah artinya teori Maslow jika seseorang mengejar kebutuhan self esteem tanpa benar-benar berhasil melewati kebutuhan tujuan dan cintanya. Ambisi yang telah membutakannya melalui proses berkarir yang tak pernah ia tahu apa maknanya sehingga cinta untuk seorang anak lenyap begitu saja. Benar kata Freud dalam teori psikologinya, semua yang Mei lakukan adalah kendali alam bawah sadar. Kendali yang muncul dan bertransformasi menjadi ambisi luar biasa yang mengalahkan cinta tulus seorang Ibu, berbeda dengan Kartini yang mampu berdamai dengan ambisi.
***
Jalan setapak di Amsterdam itu tidak pernah lelah dan sakit dijejaki oleh Mei, tidak peduli seberapa tajam heels yang Mei gunakan. Mei menggenggam erat surat di tangannya. Ia melangkah pelan, sorot matanya redup, dilihatnya plang jalan berwarna hijau di tikungan jalan setapak. Sudah lama ia menyadari nama jalan itu, nama yang diambil dari seorang warga Negara Indonesia yang membangun sekolah wanita dibantu oleh Belanda. Namun tak pernah sedetikpun ia berpikir maksud seseorang tersebut dalam memperjuangkan hak kaum wanita. Hak seorang wanita untuk berkarir namun tidak lepas dari kewajibannya sebagai seorang Ibu. Jalan ini memang menjadi saksi bisu Mei akan seseorang yang kecewa terhadap satu wanita yang salah kaprah. Seseorang yang terlampau sedih akan wanita yang sewenang-wenang menyalahartikan hak pendidikan dan hak kebebasan. Mei membuka surat promosi yang tidak ia tandatangani, menatapnya penuh arti lantas mantap melangkah menuju kantor perusahaan tempat ia bekerja, meninggalkan jalan setapak yang setiap hari ia lewati, jalan setapak yang kini dan nanti akan selalu menjadi saksi bisu perjalanan karirnya, jalan dengan plang hijau bertuliskan “Kartinistraat”.
Kamis, 10 April 2014
Syukuran Wisuda
Halo. Saya mahasiswi ITB. Di kampus saya ada suatu budaya yang namanya Syukuran Wisuda, bahasa kerennya Graduation Party.
WAKTU TPB, saya sangat anti sekali dengan kegiatan ini. Menurut saya, bentuk syukuran wisuda di kampus saya hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran tanpa feedback yang esensial. Cerita sedikit, syukuran wisuda di kampus saya berbentuk wishnight dan arak-arakan. Wishnight biasanya malam, diisi dengan kebanyakan hiburan dan persembahan, lalu makan dan ngobrol-ngobrol bersama, baik antar wisudawan atau dengan massa himpunan. Yang kedua adalah arak-arakan, para wisudawan diarak dari Sabuga ke gerbang depan ITB sambil menyanyikan lagu dan yel-yel, kemudian junior-juniornya memberikan persembahan berupa performance yang dilombakan se-kampus.
WAKTU TPB, saya sangat anti sekali dengan kegiatan ini. Menurut saya, bentuk syukuran wisuda di kampus saya hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran tanpa feedback yang esensial. Berawal dari rasa tidak suka saya akan waktu libur saya yang terganggu. Tidak henti-hentinya orang tua saya bertanya "kapan pulang?" masa itu adalah masa syukwis Juli, masa pasca osjur, masa liburan kenaikan tingkat. Berawal dari rasa kesal saya bahwa saya merasa hak liburan saya diganggu, hak 'bertemu dengan orang tua' saya diambil alih, digantikan dengan menjadi orang yang disuruh-suruh di acara syukwis, bahasa kerennya, 'Event Organizer'. Entah karena masa itu adalah pasca osjur, akhirnya saya beranggapan kepanitiaan syukwis adalah kepanitian Event Organizer semata, dimana panitia memang sejatinya "melayani" senior himpunan. Saya tidak rela waktu saya dengan orang tua harus dikorbankan untuk melayani senior himpunan yang bahkan saya tidak kenal sama sekali, yang saya tidak tahu bahwa mereka benar-benar layak untuk diapresiasi atau tidak.
WAKTU TPB, saya sangat anti sekali dengan kegiatan ini. Menurut saya, bentuk syukuran wisuda di kampus saya hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran tanpa feedback yang esensial. Kala itu saya memang merasa sebagai event organizer yang tidak digaji. Wisudawan menyuruh saya melakukan ini dan itu, wisudawan mau bentuk acara yang seperti ini dan seperti itu, ketika diarak, wisudawan mau saya bawakan barang-barangnya; bukan meminta tolong, hanya meminta. Ketika performance, saya selalu mempertanyakan urgensi performance selain pengembangan kreativitas.
Katanya, syukwis adalah bentuk rasa syukur para wisudawan yang akhirnya lulus dari kampus terbaik negeri ini. Saya setuju.
Katanya, syukwis adalah bentuk apresiasi dari junior kepada wisudawan yang telah lulus dari kampus terbaik negeri ini. saya setuju.
Katanya, syukwis adalah salah satu motivasi untuk junior agar belajar giat dan cepat lulus dari kampus terbaik negeri ini. saya setuju.
syukwis dilaksanakan tiga kali dalam satu tahun.
kemudian muncul pertanyaan,
apakah rasaya syukur, apresiasi, dan motivasi harus diekspresikan dalam bentuk syukuran wisuda yang seperti di ITB ini?
Jawabannya tidak harus. Tapi bisa menjadi salah satunya.
WAKTU TPB, saya sangat anti sekali dengan kegiatan ini. Menurut saya, bentuk syukuran wisuda di kampus saya hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran tanpa feedback yang esensial. Sampai suatu waktu saya menyadari suatu hal, bukan bentuk acara syukwisnya yang tidak saya suka, tapi ada poin tertentu yang menganggu saya.
Saya tidak suka syukwis jadi ajang suruh-suruh junior. Saya bukan EO dan saya sedang tidak osjur toh lol.
Saya lebih suka syukwis itu bentuknya pengabdian masyarakat, bukan hura-hura.
Saya ingin syukwis itu jadi ajang silaturahmi antar junior dan seniornya.
Saya ingin syukwis jadi salah satu fasilitas pengembangan diri, bukan tempatnya EO.
Saya tidak suka syukwis seolah mengganggu waktu saya dengan keluarga. Melayani banyak orang yang tidak saya kenal?
Sebenarnya keinginan saya di atas bisa diselesaikan dengan pikiran dan sikap saya sendiri.
Kenapa tidak pengabdian masyarakat? Jawabannya simple, setiap himpunan sudah punya kegiatan pengabdian masyarakat masing-masing, yah sekarang wisudawan kita mau senang-senang habis lulus ga boleh? Boleh kok.
Sisanya adalah harapan,
saya hanya berharap bahwa kakak-kakak wisudawan menjadikan syukwis ini memang benar-benar ajang silaturahmi dan bentuk rasa syukur atas kelulusannya.
saya hanya berharap saya dan teman-teman panitia memanfaatkan kepanitiaan ini dengan baik sebagai ajang pengembangan diri bukan kewajiban EO karena anggota himpunan.
saya hanya berharap adanya saling mengerti satu sama lain bahwa syukwis ini tidak usahlah megah dilaksanakan, sederhana namun bermakna saja. Ini tiga kali setahun loh, waktu kita setahun bukan hanya untuk mengurusi syukwis. Kenapa mau mengurus syukwis tapi baksos dll tidak mau?
saya hanya berharap, kakak-kakak wisudawan sehabis lulus benar-benar mengabdikan diri untuk Tuhan, orang tua, dan masyarakat, karena pada hakikatnya itulah tugas manusia beradab. kalau begini kan, junior tidak salah mengapresiasi kakak-kakak dengan menjadi panitia syukwis :)
Ini juga pesan masa depan untuk saya sendiri ketika diwisuda nanti.
Saya mungkin masih hijau untuk urusan beginian, maaf kalau menyinggung perasaan pihak-pihak tertentu. Saya hanya ingin kita semua melaksanakan sesuatu punya tujuan yang jelas, bukan karena mengikuti budaya semata :)
WAKTU TPB, saya sangat anti sekali dengan kegiatan ini. Menurut saya, bentuk syukuran wisuda di kampus saya hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran tanpa feedback yang esensial. Cerita sedikit, syukuran wisuda di kampus saya berbentuk wishnight dan arak-arakan. Wishnight biasanya malam, diisi dengan kebanyakan hiburan dan persembahan, lalu makan dan ngobrol-ngobrol bersama, baik antar wisudawan atau dengan massa himpunan. Yang kedua adalah arak-arakan, para wisudawan diarak dari Sabuga ke gerbang depan ITB sambil menyanyikan lagu dan yel-yel, kemudian junior-juniornya memberikan persembahan berupa performance yang dilombakan se-kampus.
WAKTU TPB, saya sangat anti sekali dengan kegiatan ini. Menurut saya, bentuk syukuran wisuda di kampus saya hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran tanpa feedback yang esensial. Berawal dari rasa tidak suka saya akan waktu libur saya yang terganggu. Tidak henti-hentinya orang tua saya bertanya "kapan pulang?" masa itu adalah masa syukwis Juli, masa pasca osjur, masa liburan kenaikan tingkat. Berawal dari rasa kesal saya bahwa saya merasa hak liburan saya diganggu, hak 'bertemu dengan orang tua' saya diambil alih, digantikan dengan menjadi orang yang disuruh-suruh di acara syukwis, bahasa kerennya, 'Event Organizer'. Entah karena masa itu adalah pasca osjur, akhirnya saya beranggapan kepanitiaan syukwis adalah kepanitian Event Organizer semata, dimana panitia memang sejatinya "melayani" senior himpunan. Saya tidak rela waktu saya dengan orang tua harus dikorbankan untuk melayani senior himpunan yang bahkan saya tidak kenal sama sekali, yang saya tidak tahu bahwa mereka benar-benar layak untuk diapresiasi atau tidak.
WAKTU TPB, saya sangat anti sekali dengan kegiatan ini. Menurut saya, bentuk syukuran wisuda di kampus saya hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran tanpa feedback yang esensial. Kala itu saya memang merasa sebagai event organizer yang tidak digaji. Wisudawan menyuruh saya melakukan ini dan itu, wisudawan mau bentuk acara yang seperti ini dan seperti itu, ketika diarak, wisudawan mau saya bawakan barang-barangnya; bukan meminta tolong, hanya meminta. Ketika performance, saya selalu mempertanyakan urgensi performance selain pengembangan kreativitas.
Katanya, syukwis adalah bentuk rasa syukur para wisudawan yang akhirnya lulus dari kampus terbaik negeri ini. Saya setuju.
Katanya, syukwis adalah bentuk apresiasi dari junior kepada wisudawan yang telah lulus dari kampus terbaik negeri ini. saya setuju.
Katanya, syukwis adalah salah satu motivasi untuk junior agar belajar giat dan cepat lulus dari kampus terbaik negeri ini. saya setuju.
syukwis dilaksanakan tiga kali dalam satu tahun.
kemudian muncul pertanyaan,
apakah rasaya syukur, apresiasi, dan motivasi harus diekspresikan dalam bentuk syukuran wisuda yang seperti di ITB ini?
Jawabannya tidak harus. Tapi bisa menjadi salah satunya.
WAKTU TPB, saya sangat anti sekali dengan kegiatan ini. Menurut saya, bentuk syukuran wisuda di kampus saya hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran tanpa feedback yang esensial. Sampai suatu waktu saya menyadari suatu hal, bukan bentuk acara syukwisnya yang tidak saya suka, tapi ada poin tertentu yang menganggu saya.
Saya tidak suka syukwis jadi ajang suruh-suruh junior. Saya bukan EO dan saya sedang tidak osjur toh lol.
Saya lebih suka syukwis itu bentuknya pengabdian masyarakat, bukan hura-hura.
Saya ingin syukwis itu jadi ajang silaturahmi antar junior dan seniornya.
Saya ingin syukwis jadi salah satu fasilitas pengembangan diri, bukan tempatnya EO.
Saya tidak suka syukwis seolah mengganggu waktu saya dengan keluarga. Melayani banyak orang yang tidak saya kenal?
Sebenarnya keinginan saya di atas bisa diselesaikan dengan pikiran dan sikap saya sendiri.
Kenapa tidak pengabdian masyarakat? Jawabannya simple, setiap himpunan sudah punya kegiatan pengabdian masyarakat masing-masing, yah sekarang wisudawan kita mau senang-senang habis lulus ga boleh? Boleh kok.
Sisanya adalah harapan,
saya hanya berharap bahwa kakak-kakak wisudawan menjadikan syukwis ini memang benar-benar ajang silaturahmi dan bentuk rasa syukur atas kelulusannya.
saya hanya berharap saya dan teman-teman panitia memanfaatkan kepanitiaan ini dengan baik sebagai ajang pengembangan diri bukan kewajiban EO karena anggota himpunan.
saya hanya berharap adanya saling mengerti satu sama lain bahwa syukwis ini tidak usahlah megah dilaksanakan, sederhana namun bermakna saja. Ini tiga kali setahun loh, waktu kita setahun bukan hanya untuk mengurusi syukwis. Kenapa mau mengurus syukwis tapi baksos dll tidak mau?
saya hanya berharap, kakak-kakak wisudawan sehabis lulus benar-benar mengabdikan diri untuk Tuhan, orang tua, dan masyarakat, karena pada hakikatnya itulah tugas manusia beradab. kalau begini kan, junior tidak salah mengapresiasi kakak-kakak dengan menjadi panitia syukwis :)
Ini juga pesan masa depan untuk saya sendiri ketika diwisuda nanti.
Saya mungkin masih hijau untuk urusan beginian, maaf kalau menyinggung perasaan pihak-pihak tertentu. Saya hanya ingin kita semua melaksanakan sesuatu punya tujuan yang jelas, bukan karena mengikuti budaya semata :)
Minggu, 06 April 2014
ga cuma FKK
It is fun to have a small class with 39 people in it. Feel like going back to high school, you got classmates that you can remember the names and the characters for the rest of your life!
We got only 3 boys. They all come in handy ^^
We also have line group, whatsapp group, and fb group like any major would have. And...we got stereotype.
They said...FKK stands for Fakultas Kebelet Kawin. Oh man. Really.
LOL. I remember my sister said that college life somehow will full with people talking about marriage. But come on, you got life in ITB whose students' majority are guys, are you going to talk about marriage with them? Of course not.
BUT IN PHARMACY, you would do that. Why not? Girls are all around. In a class, in a hallways, in a canteen, in himpunan, in everywhere. When girls gather, they talk much. When girls sit together, they would laugh at something unimportant, comment how people dress up, gesturing dislike to anyone she dislikes, and of course talk about guys.
So...the stereotype, is it true? You think?
They also name FKK as Fakultas Ketawa Ketiwi, which to me is the loveliest stereotype. HAHA. I know it is. It's not a stereotype, it's fact. I love how Windha comment in line group, how Irka sings like a crazy lovely girl, how Femi would make fun of Esa, how Asti scolded everyone, how Beti laughs with her doll cheek, How Modi talks in sweet funny accent, how Lea walks with a bitter smile, how Silmi behaves like Pou, how Zahra and Ima Princess being sampis, how Tien sells delicious molen, how Toto sells yummy naskun, how a calm Ninu plays cookierun, how Bhekti becomes excited, how Yahya becomes contaminated *lah*, how Prima suddenly 'toa' in the middle of the class, how Amyra becomes husbanded *?* and how everyone has their own way to express their happiness. They're just them!
Hereby I attached my love to you and some messages to get love stickers.
We are small in amount, it should be easy to remember each other's names and characters, it should be easy to actually notice who absent in class, it should be easy to notice who is sad in class, it should be easy to notice who confused while doing assignments, so it's not hard helping each other eventhough wasn't asked.
It should be easy to remember faces and names by the time we're invited to a reunion. So it's not hard to actually asking how each other's doing later after we graduate.
Yet the amount of people should not be the reason to not ask everyone. We got friends to remind us. So, it should be easy to ask how Hygeiaarda's doing later after we graduate :)
We got only 3 boys. They all come in handy ^^
We also have line group, whatsapp group, and fb group like any major would have. And...we got stereotype.
They said...FKK stands for Fakultas Kebelet Kawin. Oh man. Really.
LOL. I remember my sister said that college life somehow will full with people talking about marriage. But come on, you got life in ITB whose students' majority are guys, are you going to talk about marriage with them? Of course not.
BUT IN PHARMACY, you would do that. Why not? Girls are all around. In a class, in a hallways, in a canteen, in himpunan, in everywhere. When girls gather, they talk much. When girls sit together, they would laugh at something unimportant, comment how people dress up, gesturing dislike to anyone she dislikes, and of course talk about guys.
So...the stereotype, is it true? You think?
They also name FKK as Fakultas Ketawa Ketiwi, which to me is the loveliest stereotype. HAHA. I know it is. It's not a stereotype, it's fact. I love how Windha comment in line group, how Irka sings like a crazy lovely girl, how Femi would make fun of Esa, how Asti scolded everyone, how Beti laughs with her doll cheek, How Modi talks in sweet funny accent, how Lea walks with a bitter smile, how Silmi behaves like Pou, how Zahra and Ima Princess being sampis, how Tien sells delicious molen, how Toto sells yummy naskun, how a calm Ninu plays cookierun, how Bhekti becomes excited, how Yahya becomes contaminated *lah*, how Prima suddenly 'toa' in the middle of the class, how Amyra becomes husbanded *?* and how everyone has their own way to express their happiness. They're just them!
Hereby I attached my love to you and some messages to get love stickers.
We are small in amount, it should be easy to remember each other's names and characters, it should be easy to actually notice who absent in class, it should be easy to notice who is sad in class, it should be easy to notice who confused while doing assignments, so it's not hard helping each other eventhough wasn't asked.
It should be easy to remember faces and names by the time we're invited to a reunion. So it's not hard to actually asking how each other's doing later after we graduate.
Yet the amount of people should not be the reason to not ask everyone. We got friends to remind us. So, it should be easy to ask how Hygeiaarda's doing later after we graduate :)
Selasa, 11 Maret 2014
Monumen Toilet
Minggu kemarin, 3 Maret 2014 saya dan teman-teman Debust ITB (Ka Ucup, Wayan, dan Ka Dika) mengunjungi dua desa di daerah Pontang, Serang-Banten sebagai salah satu proker Debust, yaitu Community Development.Sudah sejak 2011 kalau saya tidak salah, pembangunan toilet dan sanitasi air di Desa Sukamanah digalakkan, pembangunan ini adalah hasil dari perlombaan seorang alumni Debust ITB bernama kang Alven yang memenangkan Technopreuner Bank Mandiri. Kemudian beliau mengamanahkan Debust ITB untuk turun dalam pembangunan ini khusus di bidang sosialisasi air bersih.
Keadaan Desa Sukamanah hampir sama dengan desa-desa di sekitarnya; tidak ada air bersih. Keadaan ini memaksa penduduk desa untuk mandi, cuci, dan kakus di sungai yang sangat kotor. Ya, di aliran sungai yang sama.
Berangkat dari permasalahan tersebut, kang Alven bersama Debust mensurvey beberapa desa dan memilih satu desa yang paling feasible untuk dibangun toilet dan sanitasi air; terpilihlah desa Sukamanah. Alhamdulillah pembangunannya sudah selesai dan sudah bisa digunakan, hanya saja belum peresmian.
Yang ingin saya ceritakan di sini adalah desa lainnya. Debust ITB berencana untuk membuat proker Community Development baru secara mandiri, maka minggu kemarin kami survey ke Desa Kapaksaan, Pontang.
.........
Pagi itu saya melihat suasana yang berbeda, pikiran saya melayang pada suatu keadaan yang biasa saya lihat namun tak biasa saya resapi. Angin berjalan berlawanan dengan motor yang dikendarai teman saya, di belakang saya hanya mencoba memastikan posisi duduk yang benar. Saat itu saya tidak tahu bahwa perjalanan itu akan sangat melelahkan sekaligus membuat saya menghela nafas panjang.
Untuk seorang perempuan seperti saya yang tidak biasa menaiki motor dalam perjalanan lebih dari 1 1/2 jam, bukan aneh kalau berkali-kali saya menyipitkan mata berusaha menyerah dari matahari serta menutup hidung berusaha menekan reseptor olfaktori untuk tidak dihinggapi stimuli aroma polusi. Sampai akhirnya keramaian pasar mengusik rasa terganggu itu. Kemacetan pasar memaksa mata saya melihat-lihat sekeliling, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya dengan semangat menawar harga sayur-sayuran, tidak ada teori ilmu bargaining untuk urusan satu ini; yang penting kocek di kantong cukup untuk membeli semua kebutuhan. Terlihat juga pemandangan orang hilir mudik dari tempat satu ke tempat lain membakul beras di bahu dan menjinjing tas penuh sayuran. Ada pula anak-anak kecil yang berjalan di sisi jalan dengan riangnya entah hendak kemana mereka.
Kemacetan yang tak kunjung selesai ini mengalihkan pandangan saya ke titik lain, kemacetan itu sendiri. Mulai dari truk besar sampai becak ada di jalan ini; jalan berlubang penuh kubangan, jalan pembeli dan penjual, jalan anak sekolahan dan jalan pekerja. Masing-masing pengendara tak sabar salip sana-sini, beruntunglah pengendara motor yang punya chance menyalip lebih besar. Saya teringat host mother saya di Amerika yang selalu berkomentar banyak jika jalanan di Houston macet -padahal buat saya itu bukan macet-; kalau saya ajak beliau ke sini, komentar beliau bisa sampai berapa halaman ya ^^ kenapa pedagang pasar bisa berjualan di jalan raya? Kenapa anak kecil bisa sebebas itu berkeliaran di pinggir jalan tanpa ada orang dewasa? Kenapa orang-orang membawa barang di atas bahu, tidak adakah alat untuk membantu? Seahli apa para pengendara jalan ini sampai-sampai menyalip dengan jarak hanya sekian milimeter? Kenapa ada tempat berjualan seberantakan ini? Kenapa jalanan rusak dan tidak ada yang memperbaiki? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang berujung pada pertanyaan besar, sedang apa para pembuat kebijakan negeri ini?
Jalan rusak yang kami tempuh tidak habis di jalanan pasar itu; lebih menyedihkan lagi ketika kami melewati jalan setapak yang kanan kirinya terhampar sawah, jalan menuju Desa Kapaksaan. Jika bisa bicara, motor yang kami kendarai mungkin sudah mengeluh semenjak awal melewati jalan ini. Gundukan tanah kering dan basah, kubangan air, dan batu-batu yang melekat di tanah seolah menyambut dan memberi tahu kami bahwa Desa di depan jauh dari akses dan fasilitas nyaman dan layak.
Seorang tokoh di desa tersebut menyambut kami ramah. Rasanya lega untuk melemaskan otot-otot skelet yang semenjak tadi berkontraksi, menyembunyikan ion-ion kalsium ke habitat awalnya. Sosok kebapakan itu menanyakan nama saya dan satu teman saya yang baru pertama kali datang; kami pun memulai percakapan itu.
"Belum selesai...hasil kerja Bunda Tercinta kita belum selesai..atau mungkin tidak akan pernah selesai"
Beliau menyebut panggilan halus penguasa negeri kecil kami, yang dahulu membangun bangunan toilet di Desa beliau namun terhenti dengan alasan tak jelas. Tidak berbeda dengan desa Sukamanah yang saya ceritakan di awal, masalah desa ini pun tidak jauh-jauh dari akses air bersih. Rupanya pemerintah sudah menyediakan toilet namun tidak menyediakan air bersihnya.
"Sekarang jadi monumen ya, Pak" kakak senior saya berkomentar seraya tersenyum kecil.
"Yang janji pemerintah, yang kena marah penduduk bukan mereka, bukan juga kepala desa, saya yang kena marah. Silahkan, terserah teman-teman mahasiswa ini jika memang mau melanjutkan, Allah memberi rahmat yang melimpah bagi siapapun penolong"
Saat itu saya bingung harus bicara apa. Itu kali pertama saya terjun langsung untuk survey desa dan mendengarkan keluhan dari penduduk desa soal kinerja pemerintah. Alih-alih beliau menaruh harapannya kepada mahasiswa yang uang jajan saja masih dari orang tua, yang mengatur jadwal belajar saja masih acak-acakan, yang diberi amanah jadi ketua acara kecil saja masih hilang-hilangan.
Mulut lambung saya yang terbuka, secara tidak sadar menutup dengan sendirinya. Rupanya sel saraf di otak saya sedang merespon kata-kata dari bapak tokoh desa itu dan memaksa asam lambung saya untuk tidak berproduksi sementara.
"Jalanan juga rusak, lihat kan? Kita ga pernah dapat bantuan dari pemerintah, ga pernah..."
Jalan yang mana? Tentu saja jalan gundukan tanah yang menyambut kami sebelum sampai di desa.
Setelah percakapan yang cukup membuat saya berpikir, kami melihat bangunan toilet yang diceritakan oleh tokoh desa tersebut.Saya membuka salah satu pintu toilet dan melihat banyak sekali bulat-bulat hitam mengkel di lantai toilet, sudah ada yang menggunakan toilet ini, mahkluk berkaki empat penghuni desa, luar biasa. Toilet itu berdiri gagah di sebelah sekolah dasar, seperti sengaja dibangun untuk menjadi sebuah monumen bersejarah tempat study tour anak-anak sekolahan. Monumen ya...
Kemudian, mata saya tertuju ke sekolah dasar tersebut.
Empat ruangan kelas tidak terurus, bangku-bangku sekolah bisa dihitung dengan satu tangan. Foto Pak SBY melambai-lambai, lekatannya terlepas dari dinding kelas, seolah menjadi bentuk protes anak SD kepada pemimpin negerinya karena tidak diberi pendidikan yang layak. Halo adik-adikku, siapa lagi yang pantas kita salahkan? Bukan hanya pemimpin seperti pak SBY, tidakkah adik-adik melihat mobil-mobil mewah menghiasi surat kabar Radar Banten, Fajar Banten, bahkan Kompas; meninggalkan sang empunya yang mendekam di jeruji besi? Namun itu tidak seberat anak-anak pewaris negeri kecil ini, Bunda, yang engkau tinggal bahkan ketika Bunda masih duduk bertahta emas.
"Bayangin deh, kelas ini bagus loh kalo bersih, gimana kalau kita beres-beres bareng massa yang lain? Terus kita tempel poster-poster edukasi di dindingnya"
Brilian. Kalimat tersebut membuat keriput dahi saya melonggar yang sejak tadi memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk desa ini. Ide itu simple dan brilian; untuk mahasiswa seperti kami yang mungkin berat ditaruhi harapan memberikan air bersih, beres-beres sekolah bisa jadi inisiasi pengabdian kami. Penyediaan air bersih akan masuk list kami, hanya saja perlu persiapan matang dalam pelaksanaannya, tidak untuk dekat-dekat ini.
Simpul senyum tergurat di bibir kami akan ide sederhana tersebut, namun senyum tersebut berubah menjadi tawa bingung ketika kami melihat board bertuliskan "Jika Guru tidak masuk lebih dari 3 hari, nama Guru bersangkutan akan dicoret dari daftar". Setelahnya kami diberi tahu tokoh desa bahwa Guru sekolah ini mendapatkan gaji dari BOS namun sering sekali uangnya datang terlambat; mungkin ini salah satu alasan kenapa tulisan di board tersebut muncul.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya lihat di desa ini tapi waktu membatasi, akhirnya kami berpamiyan.
Halo kawan, cerita di atas mungkin bukan hanya terjadi di negeri kecil saya, bahkan saya yakin masih banyak yang lebih miris. Negeri kecil saya telah melahirkan generasi-generasi akademisi yang sedang merantau di luar negeri kecil ini, termasuk saya dan tiga orang lain yang mengunjungi desa Kapaksaan. Jika ia bisa bicara, mungkin besar harapannya kepada kami untuk mengabdi dan tidak melupakannya begitu saja; terlepas dari alasan bahwa negeri kecil lain memberikan kesempatan yang jauh lebih indah. Cukup berat untuk memikirkan negeri kecil ini dikala mengurus diri sendiri saja belum becus, apalagi ada keluarga yang juga membutuhkan bantuan-bantuan tertentu. Kalau kata orang "benerin diri sendiri dulu, baru urus orang lain", tidak salah, tapi mau sampai kapan memperbaiki diri dikala dinamisasi dunia semakin tinggi? Cukup berat untuk memikirkan negeri kecil ini dikala banyak kesempatan-kesempatan di luar sana yang menjanjikan improvisasi diri. Bisa jadi memang berat, sangat berat untuk kembali, untuk tidak menjadi kacang yang lupa kulitnya. Namun mungkin Tuhan telah sengaja mengkotak-kotakan kita dalam satu bangsa yang berbeda, komunitas yang berbeda, daerah yang berbeda. Tuhan adalah koordinator dari perbaikan semua negeri kecil di negeri ini, Dia telah membagi anggotaNya ke dalam divisi-divisi dan setiap anggota secara otomatis memiliki kewajiban di setiap divisinya, untuk suatu organisasi dunia yang rapi dan sinergis, untuk ketercapaian tujuan, yaitu pemerataan kesejahteraan duniawi menuju kebahagiaan di akhirat ;)
Memang berat untuk mengabdi di daerah asal kita. Saya pun sedang berlatih.
Keadaan Desa Sukamanah hampir sama dengan desa-desa di sekitarnya; tidak ada air bersih. Keadaan ini memaksa penduduk desa untuk mandi, cuci, dan kakus di sungai yang sangat kotor. Ya, di aliran sungai yang sama.
Berangkat dari permasalahan tersebut, kang Alven bersama Debust mensurvey beberapa desa dan memilih satu desa yang paling feasible untuk dibangun toilet dan sanitasi air; terpilihlah desa Sukamanah. Alhamdulillah pembangunannya sudah selesai dan sudah bisa digunakan, hanya saja belum peresmian.
Yang ingin saya ceritakan di sini adalah desa lainnya. Debust ITB berencana untuk membuat proker Community Development baru secara mandiri, maka minggu kemarin kami survey ke Desa Kapaksaan, Pontang.
.........
Pagi itu saya melihat suasana yang berbeda, pikiran saya melayang pada suatu keadaan yang biasa saya lihat namun tak biasa saya resapi. Angin berjalan berlawanan dengan motor yang dikendarai teman saya, di belakang saya hanya mencoba memastikan posisi duduk yang benar. Saat itu saya tidak tahu bahwa perjalanan itu akan sangat melelahkan sekaligus membuat saya menghela nafas panjang.
Untuk seorang perempuan seperti saya yang tidak biasa menaiki motor dalam perjalanan lebih dari 1 1/2 jam, bukan aneh kalau berkali-kali saya menyipitkan mata berusaha menyerah dari matahari serta menutup hidung berusaha menekan reseptor olfaktori untuk tidak dihinggapi stimuli aroma polusi. Sampai akhirnya keramaian pasar mengusik rasa terganggu itu. Kemacetan pasar memaksa mata saya melihat-lihat sekeliling, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya dengan semangat menawar harga sayur-sayuran, tidak ada teori ilmu bargaining untuk urusan satu ini; yang penting kocek di kantong cukup untuk membeli semua kebutuhan. Terlihat juga pemandangan orang hilir mudik dari tempat satu ke tempat lain membakul beras di bahu dan menjinjing tas penuh sayuran. Ada pula anak-anak kecil yang berjalan di sisi jalan dengan riangnya entah hendak kemana mereka.
Kemacetan yang tak kunjung selesai ini mengalihkan pandangan saya ke titik lain, kemacetan itu sendiri. Mulai dari truk besar sampai becak ada di jalan ini; jalan berlubang penuh kubangan, jalan pembeli dan penjual, jalan anak sekolahan dan jalan pekerja. Masing-masing pengendara tak sabar salip sana-sini, beruntunglah pengendara motor yang punya chance menyalip lebih besar. Saya teringat host mother saya di Amerika yang selalu berkomentar banyak jika jalanan di Houston macet -padahal buat saya itu bukan macet-; kalau saya ajak beliau ke sini, komentar beliau bisa sampai berapa halaman ya ^^ kenapa pedagang pasar bisa berjualan di jalan raya? Kenapa anak kecil bisa sebebas itu berkeliaran di pinggir jalan tanpa ada orang dewasa? Kenapa orang-orang membawa barang di atas bahu, tidak adakah alat untuk membantu? Seahli apa para pengendara jalan ini sampai-sampai menyalip dengan jarak hanya sekian milimeter? Kenapa ada tempat berjualan seberantakan ini? Kenapa jalanan rusak dan tidak ada yang memperbaiki? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang berujung pada pertanyaan besar, sedang apa para pembuat kebijakan negeri ini?
Jalan rusak yang kami tempuh tidak habis di jalanan pasar itu; lebih menyedihkan lagi ketika kami melewati jalan setapak yang kanan kirinya terhampar sawah, jalan menuju Desa Kapaksaan. Jika bisa bicara, motor yang kami kendarai mungkin sudah mengeluh semenjak awal melewati jalan ini. Gundukan tanah kering dan basah, kubangan air, dan batu-batu yang melekat di tanah seolah menyambut dan memberi tahu kami bahwa Desa di depan jauh dari akses dan fasilitas nyaman dan layak.
Seorang tokoh di desa tersebut menyambut kami ramah. Rasanya lega untuk melemaskan otot-otot skelet yang semenjak tadi berkontraksi, menyembunyikan ion-ion kalsium ke habitat awalnya. Sosok kebapakan itu menanyakan nama saya dan satu teman saya yang baru pertama kali datang; kami pun memulai percakapan itu.
"Belum selesai...hasil kerja Bunda Tercinta kita belum selesai..atau mungkin tidak akan pernah selesai"
Beliau menyebut panggilan halus penguasa negeri kecil kami, yang dahulu membangun bangunan toilet di Desa beliau namun terhenti dengan alasan tak jelas. Tidak berbeda dengan desa Sukamanah yang saya ceritakan di awal, masalah desa ini pun tidak jauh-jauh dari akses air bersih. Rupanya pemerintah sudah menyediakan toilet namun tidak menyediakan air bersihnya.
"Sekarang jadi monumen ya, Pak" kakak senior saya berkomentar seraya tersenyum kecil.
"Yang janji pemerintah, yang kena marah penduduk bukan mereka, bukan juga kepala desa, saya yang kena marah. Silahkan, terserah teman-teman mahasiswa ini jika memang mau melanjutkan, Allah memberi rahmat yang melimpah bagi siapapun penolong"
Saat itu saya bingung harus bicara apa. Itu kali pertama saya terjun langsung untuk survey desa dan mendengarkan keluhan dari penduduk desa soal kinerja pemerintah. Alih-alih beliau menaruh harapannya kepada mahasiswa yang uang jajan saja masih dari orang tua, yang mengatur jadwal belajar saja masih acak-acakan, yang diberi amanah jadi ketua acara kecil saja masih hilang-hilangan.
Mulut lambung saya yang terbuka, secara tidak sadar menutup dengan sendirinya. Rupanya sel saraf di otak saya sedang merespon kata-kata dari bapak tokoh desa itu dan memaksa asam lambung saya untuk tidak berproduksi sementara.
"Jalanan juga rusak, lihat kan? Kita ga pernah dapat bantuan dari pemerintah, ga pernah..."
Jalan yang mana? Tentu saja jalan gundukan tanah yang menyambut kami sebelum sampai di desa.
Setelah percakapan yang cukup membuat saya berpikir, kami melihat bangunan toilet yang diceritakan oleh tokoh desa tersebut.Saya membuka salah satu pintu toilet dan melihat banyak sekali bulat-bulat hitam mengkel di lantai toilet, sudah ada yang menggunakan toilet ini, mahkluk berkaki empat penghuni desa, luar biasa. Toilet itu berdiri gagah di sebelah sekolah dasar, seperti sengaja dibangun untuk menjadi sebuah monumen bersejarah tempat study tour anak-anak sekolahan. Monumen ya...
Kemudian, mata saya tertuju ke sekolah dasar tersebut.
Empat ruangan kelas tidak terurus, bangku-bangku sekolah bisa dihitung dengan satu tangan. Foto Pak SBY melambai-lambai, lekatannya terlepas dari dinding kelas, seolah menjadi bentuk protes anak SD kepada pemimpin negerinya karena tidak diberi pendidikan yang layak. Halo adik-adikku, siapa lagi yang pantas kita salahkan? Bukan hanya pemimpin seperti pak SBY, tidakkah adik-adik melihat mobil-mobil mewah menghiasi surat kabar Radar Banten, Fajar Banten, bahkan Kompas; meninggalkan sang empunya yang mendekam di jeruji besi? Namun itu tidak seberat anak-anak pewaris negeri kecil ini, Bunda, yang engkau tinggal bahkan ketika Bunda masih duduk bertahta emas.
"Bayangin deh, kelas ini bagus loh kalo bersih, gimana kalau kita beres-beres bareng massa yang lain? Terus kita tempel poster-poster edukasi di dindingnya"
Brilian. Kalimat tersebut membuat keriput dahi saya melonggar yang sejak tadi memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk desa ini. Ide itu simple dan brilian; untuk mahasiswa seperti kami yang mungkin berat ditaruhi harapan memberikan air bersih, beres-beres sekolah bisa jadi inisiasi pengabdian kami. Penyediaan air bersih akan masuk list kami, hanya saja perlu persiapan matang dalam pelaksanaannya, tidak untuk dekat-dekat ini.
Simpul senyum tergurat di bibir kami akan ide sederhana tersebut, namun senyum tersebut berubah menjadi tawa bingung ketika kami melihat board bertuliskan "Jika Guru tidak masuk lebih dari 3 hari, nama Guru bersangkutan akan dicoret dari daftar". Setelahnya kami diberi tahu tokoh desa bahwa Guru sekolah ini mendapatkan gaji dari BOS namun sering sekali uangnya datang terlambat; mungkin ini salah satu alasan kenapa tulisan di board tersebut muncul.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya lihat di desa ini tapi waktu membatasi, akhirnya kami berpamiyan.
Halo kawan, cerita di atas mungkin bukan hanya terjadi di negeri kecil saya, bahkan saya yakin masih banyak yang lebih miris. Negeri kecil saya telah melahirkan generasi-generasi akademisi yang sedang merantau di luar negeri kecil ini, termasuk saya dan tiga orang lain yang mengunjungi desa Kapaksaan. Jika ia bisa bicara, mungkin besar harapannya kepada kami untuk mengabdi dan tidak melupakannya begitu saja; terlepas dari alasan bahwa negeri kecil lain memberikan kesempatan yang jauh lebih indah. Cukup berat untuk memikirkan negeri kecil ini dikala mengurus diri sendiri saja belum becus, apalagi ada keluarga yang juga membutuhkan bantuan-bantuan tertentu. Kalau kata orang "benerin diri sendiri dulu, baru urus orang lain", tidak salah, tapi mau sampai kapan memperbaiki diri dikala dinamisasi dunia semakin tinggi? Cukup berat untuk memikirkan negeri kecil ini dikala banyak kesempatan-kesempatan di luar sana yang menjanjikan improvisasi diri. Bisa jadi memang berat, sangat berat untuk kembali, untuk tidak menjadi kacang yang lupa kulitnya. Namun mungkin Tuhan telah sengaja mengkotak-kotakan kita dalam satu bangsa yang berbeda, komunitas yang berbeda, daerah yang berbeda. Tuhan adalah koordinator dari perbaikan semua negeri kecil di negeri ini, Dia telah membagi anggotaNya ke dalam divisi-divisi dan setiap anggota secara otomatis memiliki kewajiban di setiap divisinya, untuk suatu organisasi dunia yang rapi dan sinergis, untuk ketercapaian tujuan, yaitu pemerataan kesejahteraan duniawi menuju kebahagiaan di akhirat ;)
Memang berat untuk mengabdi di daerah asal kita. Saya pun sedang berlatih.
Langganan:
Postingan (Atom)

