Selasa, 15 Juli 2014

Sebut Saja Sosial-Kefarmasian

Mahasiswa farmasi adalah kader profesi kesehatan yang kelak akan menempati posisinya masing-masing –yang diharapkan- mencapai cita-cita masa depan sesuai dengan ilmu yang didapatnya. Dalam hal ini, perwujudan cita-cita tersebut secara real dapat berupa apoteker di industri, di rumah sakit, BPOM, sarjana farmasi di apotek, teknisi dan asisten apoteker, dll. Namun, peran serta apoteker dalam dunia kesehatan seyogyanya tidak terbatas pada ranah sains saja melainkan turut turun tangan dalam kebijakan kesehatan dan pengabdian masyarakat –saya tidak tahu sebutannya apa, mari kita sebut ‘sosial-kefarmasian’-. Sosial-kefarmasian ini diyakini penulis dapat mencapai tujuan taraf kesehatan Indonesia yang baik dan merata di segala bidang dan tempat.

Sangat disayangkan ketika kepedulian mahasiswa kini terfokus pada aspek sains saja. Siapa yang akan mengangkat isu farmasi di DPR nanti? Siapa yang akan memperbaiki sistem pendidikan farmasi? Siapa yang akan mensosialisasikan program farmasi kepada masyarakat kelas bawah? Siapa yang akan menjamin kesejahteraan apoteker kelak? Siapa yang bisa mengubah angka 20% apoteker yang ada di apotek menjadi 100%? Siapa yang akan memperjuangkan keterlibatan apoteker dalam sistem kesehatan yang baru? Siapa yang bisa memperjuangkan Undang-undang kefarmasian sesuai dengan ilmu farmasi dan kebutuhan masyarakat? Apakah hal tersebut dapat dilakukan dengan ilmu farmakokinetika? Anatomi fisiologi manusia? Farmasi Fisika? Silakan jawab sendiri.

Beban akademik kemudian berdiri di depan barisan membelakangi kepedulian. Potensi sosial-kefarmasian yang dimiliki mahasiswa kesehatan kemudian tanpa sadar terkubur oleh rasa acuh tak acuh itu. Potensi berpikir kritis terkalahkan oleh seorang yang lebih tau banyak fakta namun tak sarat analisis; potensi ide kreatif dan inovatif termakan oleh seorang yang kebetulan punya jejaring namun miskin gagasan; padahal jika saja kita mau peduli dan meluangkan waktu, potensi itu akan tergali dalam.
Lantas muncul passion yang bersisian dengan beban akademik di depan barisan. Passion dijadikan tameng penolakan sosial-kefarmasian padahal ketika ditanya balik passion kamu apa, masih geleng-geleng kepala. Tahukan kita akan seni ‘mencoba’ dan ‘menggali potensi yang terkubur’ dalam menemukan passion?

Pun kemalasan. Ia bisa jadi tameng paling kuat yang menahan rasa peduli. Bentuk tameng itu sebenarnya banyak, tameng yang hanya mengubur potensi semakin dalam, bahkan Hedonisme dan perkembangan teknologi smartphones masuk list tameng di mata saya yang akhirnya menumbuhkan kemalasan -.- (silakan berpikir apa hubungannya).

Kalau semua memakai alasan akademik, passion, dan kemalasan, lantas siapa yang peduli?

Inikah sebab kenapa derajat kesehatan Indonesia meningkat lamban?
Inikah sebab kenapa kesejahteraan apoteker Indonesia terpusat pada pemilik industri?

Mudah-mudahan tulisan ini hanya asumsi :)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apoteker saat ini sedang diragukan oleh pemerintah dan masyarakat. Kenapa?
1.Sebagian apoteker di apotek hanya mengkapitalisasikan ijasah (baca:menggadaikan)
2.Sebagian apoteker di apotek melakukan praktek kefarmasian secara paruh waktu, bahkan seperseribu paruh waktu (hanya 20% apoteker yang stand by di apotek)
3.Apoteker di apotek lebih terlibat pada kegiatan “profesi dagang” yakni jual beli obat ketimbang praktek kefarmasian
4.Apa sebenarnya tugas apoteker di RS dalam penyampaian informasi obat? Masih belum jelas
5.Masyarakat masih bingung apa sebenarnya fungsi apoteker yang sebenarnya

Sumber: handout seminar kefarmasian, UII Juni 2014

Jadi, ketika kita meminta untuk dilibatkan dalam Jaminan Kesehatan Nasional, jangan heran dengan pernyataan “Memang apoteker ada di masyarakat?”

Mari kita tengok definisi berikut:
Pekerjaan kefarmasian menurut UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 yaitu meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pharmacist DOES counseling but we don’t look like doing it.

Muncullah Uji Kompetensi skala nasional yang saya dengar soal-soalnya akan lebih condong pada pharmaceutical care. Kemudian mahasiswa farmasi yang berada di peminatan industri lantas complain, kalau begitu UKN kita pasti kecil dong nilainya? Apakah ini salah satu usaha untuk mengoptimalkan peran apoteker di bidang klinik? Kalau memang iya, saya merasa metode ini tidak sesuai.

Gagasan pelaksanan UKN sebenarnya bagus, nanti saya akan cerita di lain tulisan.

Intinya, ini hanya sebagian contoh permasalahan kefarmasian. Masih banyak lagi terkait dengan industri farmasi yang kongkalikong, kurikulum pendidikan farmasi yang tidak merata, permasalahan UU kefarmasian, regulasi untuk APA, obat palsu, dll.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah keterlibatan mahasiswa akan memengaruhi isu-isu ini?

Saya teringat teman saya yang sekarang menjabat sebagai Sekjen ISMAFARSI, dia pernah melakukan audiensi dengan menteri kesehatan, Ibu Nafsiah Mboi, mengenai keterlibatan apoteker pada JKN. Apa kata beliau? “Urusan itu biarlah kami, pemerintah yang mengurus, kalian mahasiswa tugasnya belajar, mempersiapkan diri menjadi apoteker yang baik (dengan perubahan redaksi)”

Teringat selayang pertanyaan yang saya ajukan pada mantan ketua BEM UI, Faldo Maldini, “Seberapa besar mahasiswa didengar pemerintah?” walaupun saya kurang puas dengan jawaban yang terlontar dari beliau, namun saya dapat poin yang disampaikan soal ‘proses berusaha’.

Jikalau kita sebagai mahasiswa merasa pemerintah menutup telinga, ingatlah bahwa mahasiswa tak kerja sendiri, apalagi kasusnya dalam profesi kesehatan. IAI, APTFI, IYPG, HPEQ adalah wadah kita untuk memberikan aspirasi terkait dengan dunia kefarmasian dan/atau kesehatan. IAI telah banyak melakukan advokasi ke KEMENKES dan beberapanya diapprove. Jangan pernah merasa miskin kesempatan dalam berusaha.

Seorang mahasiswa keperawatan yang berkali-kali mendesak pemerintah lewat DIKTI, MTKI, dll terkait Uji Kompetensi yang terlambat pun merupakan usaha yang patut diapresiasi. Terlepas dari didengar atau tidaknya, Uji Kompetensi keperawatan pun pada akhirnya dilaksanakan. Mungkin masih ada lagi usaha-usaha advokasi yang dilakukan mahasiswa untuk memperjuangakan kebijakan kesehatan.

Proses berusaha jelas membangun kepribadian kita sebagai mahasiswa serta mempersiapkan diri kita dalam menghadapi dunia keprofesian kelak. “Best result comes from best preparation”. Jika kita mahasiswa mempersiapkan diri dari sekarang, menumpuk pengalaman dan pengetahuan, hasilnya insyaAllah akan luar biasa. Indonesia butuh kader-kader tenaga kefarmasian yang berkualitas dengan ide cemerlang dalam mengatur regulasi kesehatan, menciptakan sistem kesehatan yang tepat guna, merancang kurikulum farmasi, menegaskan peran apoteker sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Siapakah kader-kader itu?

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Minggu, 06 Juli 2014

Optimalisasi HPEQ DIKTI dalam Penentuan Akreditasi dan Uji Kompetensi Profesi Kesehatan



Visi Indonesia Sehat yang mengacu pada MDGs (Millenium Development Goals) merupakan suatu manifestasi cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia yang mendambakan kemakmuran dan kesejahteraan bangsanya. Pihak dunia pun menantang dengan diberlakukannya AEC (ASEAN Economic Community) dan AFTA (ASEAN Free Trade Area) 2015; tenaga kesehatan Indonesia jelas butuh persiapan menghadapi persaingan profesionalisme dengan negara lain. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah yang bersinergi dengan lembaga masyarakat dan Ormawa (Organisasi Mahasiswa) untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu upaya tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan diyakini harus memiliki profesionalisme yang tinggi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu sehingga melahirkan kualitas masyarakat yang sehat; tentunya mutu pelayanan kesehatan dalam menjalankan tindakan preventif, kuratif, ataupun rehabilitasi. Selain itu, upaya tersebut dilakukan sebagai jawaban atas keresahan masyarakat yang menjadi korban malpraktik pelayanan kesehatan. Maka dari itu, diperlukan suatu lembaga dan keterangan yang dapat menjamin bahwa tenaga profesi kesehatan layak dan siap untuk turun ke lapangan. Dalam mempersiapkan kader-kader profesi kesehatan yang layak dan profesional tentunya dibutuhkan mutu pendidikan yang memadai bagi mahasiswa kesehatan Indonesia sehingga Indonesia jelas membutuhkan suatu badan dan berbagai stakeholders yang menaungi perguruan tinggi dan prodi (program studi) kesehatan.


Profesionalisme adalah kualitas atau mutu; profesionalisme profesi kesehatan berarti kualitas atau mutu suatu profesi kesehatan yang meliputi kualitas seorang dokter, apoteker, bidan, dokter gigi, perawat, ahli gizi, ahli kesehatan masyarakat, dan ahli kesehatan lainnya. DIKTI (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi) telah melaksanakan proyek HPEQ (Health Professional Education Quality) sejak 2010 yang sebagian pendanaannya dibiayai Bank Dunia melalui pinjaman (Loan Agreement No 77370-ID). Tujuan diadakannya proyek ini adalah untuk memperkuat kualitas kebijakan pendidikan profesional di bidang kesehatan di Indonesia dengan memastikan kompetensi profesional kesehatan melalui akreditasi lembaga; mengembangkan prosedur dan standar uji kompetensi dan sertifikasi tenaga profesional kesehatan skala nasional; dan membangun kapasitas institusi untuk menerapkan standar akreditasi dan sertifikasi melalui hibah kompetisi peningkatan kualitas pendidikan dokter. Secara garis besar, proyek HPEQ ini diharapkan dapat meningkatkan layanan kesehatan melalui peningkatan kualitas penyedia jasa kesehatan; jasa kesehatan ini dikhususkan pada dokter, dokter gigi, perawat, dan bidan; maka suatu prestasi besar jika optimalisasi HPEQ dapat menghasilkan peningkatan kualitas profesi kesehatan.

Terdapat ratusan prodi kesehatan yang tersebar di berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia; prodi-prodi kesehatan ini tidak lain adalah tempat bagi calon-calon profesional kesehatan untuk belajar sampai kelak siap untuk melakukan praktik kesehatan. Lembaga Akreditasi seperti LAMPTKes dan LPUK telah menjalankan proses penilaian melalui akreditasi prodi kesehatan di perguruan tinggi Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh dari website HPEQ, terlihat bahwa akreditasi A hanya dimiliki oleh prodi dengan perguruan tinggi tertentu, sedangkan masih banyak yang menyandang nilai C. Selain itu terdapat beberapa akreditasi prodi kesehatan yang belum diakreditasi dan beberapa sudah kadaluarsa. Sebagai contoh, berdasarkan Data Akreditasi Program Studi Farmasi per April 2012, terdapat 40 prodi Farmasi dari 153 prodi yang masih menyandang nilai C; 58 prodi farmasi Strata 1 dan Diploma III yang belum diakreditasi; dan akreditasi 5 prodi farmasi sudah kadaluarsa. Terlepas dari data yang mungkin belum diperbaharui oleh pihak HPEQ, penulis berharap penilaian akreditasi bagi yang belum dan kadaluarsa akan segera dilaksanakan.
Akreditasi adalah “pengesahan pihak ketiga terkait dengan menunjukan kompetensi Lembaga penilaian kesesuaian untuk melaksanakan tugas-tugas penilaian kesesuaian tertentu.“(ISO / IEC 17000:2004). Akreditasi dibutuhkan untuk melihat kompetensi suatu lembaga sebagai usaha peningkatan mutu pendidikan bidang kesehatan. Melalui akreditasi, suatu perguruan tinggi akan berusaha meningkatkan kompetensinya demi menciptakan lulusan-lulusan yang membanggakan dan menjadi agen problem solver kesehatan di Indonesia. Urgensi ini membawa pada suatu keharusan akan adanya monitoring dan evaluasi dalam keberjalanan dan follow up proses akreditasi. Melalui optimalisasi proyek HPEQ, diharapakan proyek ini mampu mendorong lembaga akreditasi untuk bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta stakeholders lainnya dalam memberikan solusi peningkatan mutu pendidikan perguruan tinggi yang belum maksimal. Hal tersebut dapat dilakukan melalui rekomendasi penyesuaian kurikulum, upaya peningkatan mutu SDM pengajar, pemberian fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar, serta bantuan finansial dalam kegiatan-kegiatan perguruan tinggi yang mendukung peningkatan mutu pendidikan. Dengan solusi-solusi tersebut, diharapkan mahasiswa memiliki ruang yang memadai dalam mengembangkan kemampuannya sebagai calon profesional kesehatan. Bagaimanapun sinergisitas stakeholders dalam proyek HPEQ ini sangatlah dibutuhkan.

Selain akreditasi, diharapkan proyek HPEQ pun akan ikut andil dalam manajemen pengadaan jurusan kesehatan di perguruan tinggi. Berdasarkan berita Kompas, Oktober 2013, jumlah Fakultas Kedokteran dinilai berlebih, yaitu 73 Fakultas Kedokteran; padahal jika melihat jumlah penduduk, Indonesia cukup memiliki 60 Fakultas Kedokteran. Fakta lain menunjukkan bahwa tidak semua fakultas kedokteran memenuhi standar pendidikan dan kompetensi; hasil uji kompetensi mahasiswa kedokteran di fakultas baru pun menunjukkan nilai yang rendah. Pengadaan prodi yang dinilai baru menjadi salah satu faktor penyebab hal ini terjadi karena bagaimanapun prodi baru harus melewati proses pengadaan fasilitas KBM serta proses membangun kepercayaan kepada masyarakat untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang baik. Proyek HPEQ dapat saja membuat suatu standar tertentu yang lebih ideal dalam pengadaan prodi baru yang sesuai dengan standar kompetensi profesional yang dibutuhkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia masih membutuhkan profesional kesehatan –apoteker, dll-, apalagi semenjak program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) diberlakukan. Oleh karena itu, pengadaan prodi kesehatan sebenarnya merupakan upaya penambahan SDM kesehatan, hanya saja perlu diiringi dengan peningkatan kualitas SDM itu sendiri, salah satu caranya yaitu melalui perbaikan manajemen pengadaan prodi kesehatan yang menjamin kesiapan prodi untuk melahirkan profesional kesehatan yang mumpuni serta memperhatikan penerimaan mahasiswa yang disesuaikan dengan jumlah dosen atau standar dan prasarana pendidikan yang dimiliki.

Optimalisasi HPEQ selanjutnya yaitu melalui perbaikan Uji Kompetensi mahasiswa kesehatan. Uji Kompetensi adalah tes wajib yang diberlakukan kepada mahasiswa kesehatan sebagai syarat kelulusan (exit exam). Hal ini disahkan melalui Poin 2 Surat edaran DIKTI No 704/e.e3/dt/2013 yang dikeluarkan pada 24 juli 2013. Dalam surat edaran ini disebutkan bahwa Uji Kompetensi dilakukan secara nasional dan serantak, menjadi syarat kelulusan mahasiswa kesehatan, dilakukan 3 kali dalam satu tahun, yaitu Bulan Maret, Juni dan November setiap tahunnya. Pemerintah telah berhasil mengadakan Uji Kompetensi 2013 untuk bidang keperawatan dan kebidanan, sedangkan Uji Kompetensi Nasional apoteker baru akan dilaksanakan di tahun 2015. Sayangnya, timbul masalah pada pelaksanaan Uji Kompetensi 2014 bidang keperawatan dan kebidanan ini. Uji Kompetensi yang seharusnya dilaksanakan bulan Maret 2014 justru baru akan dilaksanakan bulan Juli mendatang. Hal ini jelas menimbulkan protes dari mahasiswa yang sudah menyelesaikan SKSnya dari bulan-bulan lalu namun belum dinyatakan lulus karena belum mengikuti Uji Kompetensi ini sehingga menghambat rencana pekerjaan mereka. Dengan adanya proyek HPEQ, sejatinya akan banyak mata yang mengawasi keberjalanan Uji Kompetensi ini. Sekali lagi sinergitas dan koordinasi sangatlah dibutuhkan, dalam hal ini koordinasi antara DIKTI dengan MTKI (Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia), UKBI (Uji Kompetensi Bidang Indonesia), KOPERTIS (Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta), dll.

Terlepas dari pelaksanaan Uji Kompetensi skala nasional tersebut, perlu adanya kajian mengenai metode yang ditawarkan. Uji Kompetensi prodi keperawatan menggunakan metode CBT (Computer-Based Test), yaitu ujian online melalui komputer, sedangkan untuk mahasiswa kedokteran dilakukan OSCE (Objective Structured Clinical Examination), yaitu suatu metode untuk menguji kompetensi klinik secara obyektif dan terstruktur (mahasiswa berkeliling melalui beberapa station untuk diberi tugas/soal yang harus dilakukan/didemonstrasikan). Metode yang digunakan sepatutnya merupakan metode yang dapat menjamin kompetensi mahasiswa kesehatan untuk layak dikatakan lulus. Dalam artian, pelaksanaan Uji Kompetensi harus relevan dengan Standar Kompetensi yang diekspektasikan. Penulis melihat bahwa OSCE merupakan penilaian yang cukup objektif karena peserta Uji Kompetensi diharuskan mendemonstrasikan praktik klinik, sedangkan CBT tidak semerta-merta merupakan simulasi sehingga unsur objektifitasnya tidak sekuat OSCE. Diharapkan metode yang digunakan ke depannya merupakan metode dengan objektifitas yang tinggi.

Berbagai upaya yang dijalankan dalam proyek HPEQ tentunya telah mendapat apresiasi, kritik, dan saran. Proyek ini tidak akan berjalan optimal jika tidak ada pihak-pihak tertentu yang mengkritisi dan mengawasi keberjalanannya bahkan turut berpartisipasi dalam proyek secara langsung. Salah satu pihak tersebut adalah mahasiswa. HPEQ DIKTI membentuk HPEQ Student sebagai wadah mahasiswa kesehatan untuk ikut berpartisipasi mengejar tujuan Indonesia sehat. HPEQ Student telah melaksanakan program-program seperti NHC (Nusantara Health Collaborative) serta usaha kajian dan advokasi; hal ini merupakan kemajuan yang ada dalam lingkaran keterlibatan mahasiswa kesehatan Indonesia karena di sini mahasiswa dapat berkoordinasi langsung dengan pemerintah. Besar harapan mahasiswa agar keterlibatan ini memberikan porsi suara yang dapat memengaruhi kebijakan kesehatan Republik Indonesia.


Proyek HPEQ DIKTI merupakan langkah awal untuk melatih profesionalisme profesi kesehatan. Eksistensi kader profesi kesehatan terhadap perkembangan dunia kesehatan dalam masa kini begitu fluktuasi; namun era global mengatakan bahwa tenaga kesehatan Indonesia butuh persiapan lebih matang lagi. Bukan hanya visi Indonesia sehat yang ditargetkan oleh bangsa Indonesia, namun AFTA 2015 dan AEC 2015 mau tidak mau memaksa Indonesia untuk mencapai MDGs secepat mungkin, dalam hal ini yaitu bidang kesehatannya. Optimalisasi HPEQ DIKTI dalam penentuan akreditasi dan pelaksanaan uji kompetensi yang memadai akan mempersiapkan kader profesi kesehatan dalam menjawab tantangan dunia dan mencapai visi Indonesia sehat. Menyadari bahwa fokus HPEQ tidak meliputi semua profesi kesehatan, penulis menghimbau pemerintah untuk memasukkan semua profesi kesehatan sebagai bentuk optimalisasi HPEQ dalam mempersiapkan kader profesi kesehatan yang menyeluruh. Tidak lupa perlunya sosialisasi mengenai isu-isu yang berhubungan dengan proyek HPEQ ini, seperti transparansi laporan Uji Kompetensi sebagai gambaran mahasiswa mengenai kualitas calon profesional kesehatan, sosialisasi Uji Kompetensi mahasiswa apoteker yang akan dilaksanakan, sosialisasi standar kompetensi, dan transparansi akreditasi. Dengan begitu diharapkan setiap mahasiswa kesehatan dapat mempersiapkan diri untuk menjadi profesional kesehatan yang mampu menjawab tantangan kesehatan Indonesia dan dunia.

Sumber Literatur:
Hardiyanti, Anggie, dkk. KAJIAN AWAL : TINGKAT PENGETAHUAN, PERSEPSI, DAN SIKAP MAHASISWA TERHADAP UJI KOMPETENSI PENDIDIKAN TINGGI KESEHATAN DI INDONESIA. HPEQ Student.
Achmad, Tri Hanggono, dkk. 2011. Panduan Penyelenggaran Ujian OSCE. DIKTI.
www.hpeq.dikti.go.id
http://www.kan.or.id/?page_id=86&lang=id

Jika Aku Menjadi Apoteker

Jika aku menjadi apoteker
Akan kuguncang dunia ini
dengan segala warna-warni lukisanku
‘Kan kutorehkan tinta-tinta pelangi pada kanvas persegi
Di bawah warnanya, tertangkap diriku
Menunjukkan tawa ekspresif tak berbunyi
Tersenyum simpul

Tegas bertanda
Bahwa hidupku secerah cipratan kuasku

Jika aku menjadi apoteker
Akan kubuat draf skenario
Kurekrut aktor-aktris berbakat
Untuk meracik dan memberi petuah kesehatan
Kubuat selayang film
Yang jauh dari kemasygulan

Tegas bertanda
Bahwa hidupku semulia teks percakapan itu

Jika aku menjadi apoteker
Aku akan membuat sebuah novel
Tentang pengguna jas putih
Etalase tenggeran tangannya, tulisan cacing makanannya
Satu juta gajinya
Menolak si peminjam nama
Seorang muliawan
nan dermawan

Jika aku menjadi apoteker
Aku akan menggaet calon presiden negeri ini
Seperti koala yang tak mau lepas dari bambunya
Aku mau menjadi mandataris
Duduk di gedung kementerian kesehatan
Mengelus mesra penduduk tahta tertinggi

Jika aku menjadi apoteker
Akan kutunjukkan senyum kambingku tanpa masker
Tak akan kuperawani senyawa-senyawa kimia itu
Aku mau sebagian kalian yang menjentiknya satu per satu
Sebagiannya ikut aku

Adakah kita yang peduli?

*terinspirasi dari Astiani yang ingin buat film tentang Apoteker so people will be interested to our job :p

Sabtu, 28 Juni 2014

Beasiswa Data Print

Dikutip dari web http://beasiswadataprint.com/

Program beasiswa DataPrint telah memasuki tahun keempat. Setelah sukses mengadakan program beasiswa di tahun 2011 hingga 2013, maka DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar dan mahasiswa. Hingga saat ini lebih dari 1000 beasiswa telah diberikan bagi penggunanya.

Di tahun 2014 sebanyak 700 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint. Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.

Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu, klik kolom PENDAFTARAN pada web ini http://beasiswadataprint.com/

Sabtu, 31 Mei 2014

Legal tapi Lethal (World No Tobacco Day, 31 Mei 2014)



“Rata-rata setiap orang sudah tahu bahaya rokok, tapi tetap tidak mau berhenti; jadi sebenarnya di titik mana kita (khususnya sebagai mahasiswa kesehatan-red) harus bertindak?”

Sebuah pertanyaan dari kakak seniorku pada saat mengikuti Talkshow Forum Tobacco Control ISMAFARSI di UI pagi tadi. Yup, jadi sebenarnya kita harus apa untuk menekan angka perokok di Indonesia, sedangkan hampir setiap orang sejatinya mengetahui bahaya rokok?

Sejarah rokok diawali oleh suku Indian di Amerika yang mempergunakan rokok sebagai spek ritual. Kemudian berkembanglah sampai sekarang, sebagai yang katanya ‘penghilang stres’. Jika bermain angka, layaknya barang mainstream yang bukan bagian dari monopoli pasar, angka yang menunjukkan kematian akibat merokok sudah seperti barang yang disusun rapi dalam terpal penjual kaki lima. Banyak dan mudah ditemukan; apalagi zaman sekarang kita mengenal teknologi internet. 70% pria di Indonesia adalah perokok; dari totalnya yang mencapai 62.800.000, 70%nya mulai merokok sejak 19 tahun dan 12% sejak sekolah dasar. Jumlah perokok tiap tahun pun meningkat. +- 4,9 juta meninggal pada tahun 2000 dengan 50%nya adalah warga Negara berkembang, angka itu terus melonjak linear.

Lalu kenapa?

Ayo sama-sama kita review bahaya rokok yang kemungkinan besar teman-teman sudah tahu. Rokok mengandung 4000 senyawa kimia dengan 200 di antaranya beracun dan 43 lainnya adalah pemicu kanker; hampir tidak ada senyawa kimia yang bermanfaat di dalamnya; terdiri dari nikotin yang menyebabkan efek ketagihan –dan pengurangan nikotin tidak memengaruhi bahaya rokok-, tar yang dapat menempel di paru-paru dan menyebabkan kanker, serta CO yang mengurangi pengikatan O2 dalam darah.

Jika kita melihat sekeliling, yaitu keluarga dan teman, mungkin kelihatannya tidak terlihat bahwa rokok adalah barang berbahaya. Gue ga pernah liat temen atau keluarga gue meninggal karena merokok. Okay, mungkin belum. Karena pada kenyataannya, angka penelitian telah berbicara. Ya, penelitian menunjukkan bahwa rokok menyumbang angka kematian terbesar di dunia.

Lantas kenapa pemerintah diam?

Satu lagi hal yang mungkin sering teman dengar, yaitu permainan politik oleh industri rokok. Apa benar ada? Menurut pembicara talkshow FTC yang merupakan advokat regulasi rokok, dan seorang ibu berasal dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, ya memang ada permainan politik di dalamnya. Presiden SBY pun ternyata lebih memilih untuk menengokkan kepalanya kepada RUU Tembakau yang cenderung ramah terhadap industri rokok ketimbang menandatangani FCTC sebagai kontrol globalisai epidemi. Bisa jadi musim pilpres seperti ini pun secara tidak langsung akan memaksa Indonesia memalingkan mukanya barang sejenak dari FCTC ini, oh bahkan mungkin dalam waktu yang lama.

FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) merupakan traktat internasional pertama yang dibahas dalam forum WHO, berisi seluruh negara anggota PBB. FCTC berbasis data ilmiah yang menegaskan kembali hak semua orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pasal-pasal dalam FCTC pun menegaskan pentingnya strategi pengurangan permintaan terhadap produk tembakau sehingga fokusnya adalah mencegah orang merokok ketimbang mengobati kecanduan. Hal yang diregulasi dalam FCTC adalah supply reduction seperti penanganan penyelundupan tembakau serta demand reduction seperti peningkatan harga dan cukai tembakau, pelarangan iklan, dll. Sayangnya, negeri tercinta kita ini adalah satu Negara dari +-10 yang belum menandatangani FCTC. Siapa orang dibalik layar yang menyusun skenario nyata ini? Industri rokok.

Sumber kekayaan utama Indonesia bukan tembakau melainkan minyak bumi dan sebangsanya. Jadi, jangan pernah berdalih bahwa dengan merokok kita akan menolong Negara. Negeri ini sedang diinvasi oleh industri rokok yang berorientasi bisnis semata.

Kabar baik, pemerintah pusat telah mewajibkan pengadaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Namun otonomi yang dimiliki setiap daerah membatasi kewenangan pemerintah pusat untuk memaksa. Coba tengok daerah masing-masing, apakah sudah ada KTR? Tujuan KTR utamanya adalah melindungi perokok pasif sebagai secondhand smoke kill. Walaupun tidak dinilai dapat mengurangi perokok aktif, ini merupakan suatu progress dalam rangka melindungi hak orang banyak. Harapannya akan ada kebijakan lain dari pemerintah yang dapat secara signifikan mengurangi penggunaan rokok.

“Rata-rata setiap orang sudah tahu bahaya rokok, tapi tetap tidak mau berhenti; jadi sebenarnya di titik mana kita (khususnya sebagai mahasiswa kesehatan-red) harus bertindak?”

Pertama, mahasiswa harus mengubah mindset dan pandangannya tentang rokok dengan cara memperkuat data, jangan percaya dengan mitos-mitos yang berkaitan dengan keuntungan yang diperoleh dari merokok. Sekali lagi, data ini bukan lagi barang susah untuk didapat.

Kedua, jangan mau menerima beasiswa dari perusahaan rokok. Penerima beasiswa secara tidak langsung merupakan kader untuk menjadi agen dalam mempromosikan rokok. Mungkin kampusku sudah waktunya mengikuti jejak kampus sebelah untuk melarang kehadiran beasiswa perusahaan rokok.

Ketiga, penyuluhan bahaya rokok. Mungkin metode ini tidak lagi sesuai melihat bahwa sudah banyak orang mengetahui bahaya rokok, namun tidak semua mengetahui angka maka suguhi mereka dengan angka-angka sebagai salah satu usaha membuat mereka tercengang dan menjadikannya pertimbangan untuk berhenti merokok. Metode lain dapat pula menukar rokok dengan barang-barang seperti permen, susu, atau makanan lain sambil menyuluh. Metode visualisasi lewat video seperti video Thailand yang cukup terkenal itu pun bisa dicontoh, bahkan metode yang ditawarkan dalam video dapat menjadi masukan.

Keempat, bujuk orang-orang terdekat yang menyayangi kita untuk berhenti merokok, insyaAllah seseorang akan membuka porsi pertimbangan lebih besar untuk orang yang disayangnya.

Selanjutnya harapan lain,

Kelima, jika industri rokok menggunakan pergeseran strategi marketing dengan menampilkan orang-orang kekar dan tangguh di setiap iklan rokok sehingga berhasil memainkan psikologi manusia, diharapkan pemerintah dapat membuat iklan yang menampilkan bahaya rokok sebagai bentuk perlawanan.

Keenam, diharapkan adanya penelitian yang mengembangkan rokok elektronik dan sejenisnya yang dapat mengurangi efek bahaya rokok.

Ketujuh, besar harapan untukmu Indonesiaku agar menandatangani FCTC.

Kedelapan, siapapun kelak di antara kita yang akan mendudukan kursi-kursi pembuat kebijakan, pikirkanlah bahwa kesehatan bangsa ini merupakan faktor penting kesejahteraan dan keadilan umat manusia.

Halo sahabat kampusku khususnya, sedih setiap kali melihat kalian meneriakkan idealisme dan berbicara kemajuan dan kesejahteraan negara tapi kesehatan diri sendiri dan orang lain tidak diperhatikan, padahal kesehatan adalah faktor yang memengaruhi kesejahteraan negeri. Merokok bukan hak asasi manusia ketika hak asasi manusia adalah mendapatkan derajat kesehatan setinggi-tingginya dan mendapat lingkungan dengan udara bersih. Please stop saying that smoking is a right! IT IS NOT.




Happy World No Tobacco Day!

Talkshow FTC ISMAFARSI
Depok, 31 Mei 2014

Sabtu, 17 Mei 2014

Living a Life Too Simply?


Gea diam tak bergeming. Pandangan matanya lurus ke depan, pikirannya merayapi saraf-saraf di lobus otaknya. Matanya basah namun tak ada air yang mengalir, menangis tak terlihat walaupun kelenjar lakrimalnya sedang bekerja. Hatinya sudah berbulan-bulan tak tenang. Pikirannya tak kunjung selesai melancong mencari hal yang bisa membuat ia mengerti masalahnya. Ia tak bergerak.

“Gea, we should increase the dosage, shouldn’t we?” Yang diajak bicara diam.
“The patient drives me crazy, you’re not gonna believe this, his serotonin may drop until its limit! Gotta search for another potent antidepressant, what’d you think?”
“Gea, excuse me?” Gea masih diam.
“Well, you know what, I guess this prescription is so suitable for you, I’ll give you the one more expensive if you want to, might be more convenient.” Gerard melambai-lambaikan secarik kertas resep di depan mata Gea, Gea mengerjapkan matanya tersadar.
“Hey pretty girl, would you, please?” Gerard memberi isyarat dengan gerakan tangannya, membujuk sopan Gea untuk kembali bekerja.
“Meet me up after work if you needed a friend to talk to.” Sesungging senyum tulus terlihat dari bibir Gerard, Gea membalas senyum hambar.

Gerard adalah partner terbaik bagi siapapun. Seorang farmasis pekerja keras, telaten, perhatian, dan profesional. Gerard tahu bahwa masalah pribadi tidak sebaiknya di bawa ke meja kerja, namun ia mengetahui dengan pasti bahwa ia harus menjadi pendengar yang baik bagi partner kerjanya yang dilanda masalah.. Sedangkan Gea, gadis ini menjalani hidup yang standar. Terlalu cerdas tidak, bodoh pun tidak. Punya kelebihan yang banyak tidak, kekurangan bermakna pun tidak. Cantik tidak, jelek pun tidak. Dia hanya gadis biasa yang kebetulan punya berbagai kesempatan.

Gea berjalan tertatih menuju ruang konseling, ia melewati lorong penuh dengan figura bertuliskan Pharmacist of the Month. Wajah Gerard jelas terpampang di barisan figura tersebut. Dinding ruangan konseling itu berwarna hijau pekat, lebih pekat dari zat pewarna Green FCF. Seorang pasien duduk di kursi menanti farmasisnya dengan sabar, ia tersenyum dan menyapa ramah sang farmasis. Gea melakukan kegiatan rutinnya, memberikan informasi obat kepada pasien. Pasien itu penderita depresi berat, Gea merekomendasikan suatu terapi penenang namun sang pasien menampik.

“Often my depression is healed just by doing or seeing anything I like. I was so unstable before I came in to this room, but when I opened the room’s door and I saw this green wall, which is my favorite color, I feel so calm and happy. Or when I talk to my grandkids, God, it’s a whole lifetime healer!” Gea tersenyum. Ia mengangguk lantas melanjutkan konseling tanpa menyinggung terapi yang ia rekomendasikan sebelumnya. Selesai memberikan konseling, Gea kembali diam, kali ini di meja kerjanya. Ia bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang ia dapat setelah memberikan konseling? Apakah dia senang? Tidak. Itu semua hanya formalitas, tuntutan pekerjaan. Senyumnya, gaya bahasa, dan gerak-geriknya hanyalah SOP yang diberikan atasan. Gea tidak pernah tahu kenapa ia harus mengikuti SOP tersebut. Mungkin ia memiliki penyakit kelainan neurotransmitter yang membuahkan respon seperti itu.

***

“Ahh gue bingung banget…jurusan apa ya? Gue suka konseling tapi bukannya di Indonesia farmasis ga kasih konseling ke pasien? Gue kerja di mana dong?”
“Yah rezeki sudah diatur Tuhan, Farma. Lagipula, Tuhan mana rela ga kasih kerja buat kamu wong nama kamu saja sudah mengindikasikan kalau kamu cinta Farmasi haha.” Farma nyengir. Mahasiswi tingkat satu dengan gaya khas anak metropolitan ini masih saja belum menentukan pilihan jurusannya, ingin fokus pharmaceutical care atau industrial oriented.
“Eh, Gea! Lu 100 persen banget sama pilihan lu? Sesuai sama tujuan lu di masa depan? Sudah kaji efek sampingnya? Gue dengar hati lo sendiri kontraindikasi tuh sama farmasi.” Farma beralih kepada Gea, menanyakan perihal pilihan jurusannya.
“Heh, gue tahu nama lo kefarmasi-farmasian, tapi gausah sok-sok farmasis gitu, maksa tau!”
“Haha ya maaf, serius nih gue nanya!”
“Iya, sudah pasti. Gue selalu menjalani sesuatu tanpa rasa kok, bingung tidak, bahagia tidak, jalanin aja mau apapun jurusannya, ini juga hasil tang-ting-tung milihnya. Gue hidup kaya air aja deh, ga usah tuh buat-buat tujuan hahaha”
“Hati-hati Gea, menjalani sesuatu tanpa motivasi bisa-bisa ke depannya lo menyesal, setidaknya pilih jurusan yang mendekati rasa bahagia lo di masa depan. Belajar hanya formalitas karena lo mahasiswa, tapi lo tidak merasakannya? Memang kebahagiaan tidak akan semudah mendapatkan suatu titel, tapi kebahagian lah yang membuat seseorang merasakan makna hidup.” Farma pun menutup percakapan itu sambil lalu.

Sangat terasa percakapan itu. Bahagia ya, Gea tidak pernah menemukannya sampai saat ini. Apa yang ia lakukan murni karena ia sudah terlanjur basah. Ditempatkan di SMA Farmasi, Sekolah Farmasi Universitas Negeri Bandung, lantas banyak rumah sakit luar negeri kenalan orang tuanya merekrut Gea bekerja. Gea memang tidak pernah punya tujuan. Dia tidak pernah protes jika orang tua menyuruhnya melakukan ini dan itu termasuk memilihkan sekolah dan pekerjaan. Bukan karena orang tuanya yang keras kepala, memang Gea yang tidak pernah merangkai mimpi untuk dirinya sendiri. Orang lain lah yang merangkai mimpi namun Gea yang mendapatkannya. Jika orang lain mendesain mimpinya secara sadar, Gea melakukannya di bawah alam sadar seperti benar-benar sedang tidur. Dia tidak membutuhkan usaha yang bermakna ketika ia mendapatkan sesuatu. Dikala orang lain terihat membutuhkan setumpuk morfin untuk berhenti panik, Gea bahkan tak membutuhkan aspirin.

“Mungkin Tuhan menciptakan Gea karena Ia lelah dengan semua makhlukNya yang tamak terhadap penawaran dunia. Tuhan lelah dengan manusia-manusia yang sibuk menempelkan mimpinya di dinding kamar lantas lupa akan kewajiban yang Tuhan mandatkan. Tuhan lelah dengan semua dunia penuh kompetisi dan kecurangan ini. Mahasiswa lulusan Universitas Negeri Bandung yang berbondong-bondong berebut mencari pekerjaan, mengusungkan dada pada saat recruitment interview, berani menawarkan harga tinggi tidak tahu diri. Oh, dan teman-teman kamu itu, sibuk mencari beasiswa luar negeri untuk mendapatkan harga hidup bukan untuk memperbaiki dirinya yang sebenarnya serba kekurangan.”

Gea tersenyum pahit mendengar ucapan sepupu kesayangannya itu. Lelah terhadap manusia yang bermimpi sampai lupa satu kewajiban yang Tuhan mandatkan? Memang Gea ingat? Kerja di luar negeri untuk memperbaiki diri? Memang Gea begitu? Gea memilih untuk diam. Ia membuka buku-buku Farmasi yang selalu menemaninya selama lima tahun terakhir. Bulan depan Gea wisuda apoteker.

“Jadi, kamu sudah pasti ke Amerika di Rumah Sakit kenalan Papa Mama? Rumah Sakit mana yang beruntung mendapatkan tang-ting-tung kamu?” sepupu Gea bertanya menelisik.
“Kali ini Mama yang pilih kok, Rumah Sakit di daerah Ohio.”

***

“Gea! Gile luuuu! Lanjut ke Amerika yaa!” Farma memeluk erat sahabatnya itu. Yang dipeluk hanya tersenyum.
“Keren lu! Gue sudah usaha mati-matian belajar tiap malam sampai pagi, ikut organisasi ini-itu biar CV oke, buat network kemana-mana, tapi kerjaan sekarang masih aja belum nyamperin. Elu, belajar standar, organisasi standar, apa-apa standar tapi sukses duluan! Haha, no offense friend!” Farma gamblang mengutarakan kekecewaannya yang tidak dapat kerjaan.
“Haha ya mana gue tahu, gue ga pernah mimpi buat lanjut ke Amerika, kebetulan aja ada kenalan Mama” Gea sangat menyadari hal itu, selama ini apa yang dia dapatkan karena kebetulan.

Farma nyengir. Ia tahu Tuhan sudah menarik garis takdir ke destinasi akhir masing-masing. Terkadang Tuhan menggambar garis yang berkelok-kelok, terkadang Tuhan hanya membuat garis lurus sampai destinasi akhir. Setiap orang punya jalan suksesnya masing-masing. Yang penting gue bangga dan bahagia dengan usaha yang gue lakukan, ujar Farma dalam hati.

***

Kantin rumah sakit sepi, siapa yang akan ke mari di tengah malam begini.

“I don’t believe in his famous extraordinary quote –well at least it’s what people say- I mean, come on, how do I live my astonishing life? It’s all pure luck! I did not do anything, an inch of walking toward effort? Never! I don’t prepare, I just flow….like water.”

Gea membanting tubuhnya ke atas kursi menghadap Gerard seraya meletakkan sebuah buku kasar dan mengomel setengah berteriak. Sekuriti rumah sakit menengok, Gea hanya tersenyum minta maaf.
“Since when you read Roman Literature?”
“Just trying to drain times until it’s dried.”
“Luck is what happens when preparation meets opportunity, quotes attributed to Roman philosopher Seneca, reminds us that we make our own luck.” Gerard mengucapkan potongan kalimat yang ditunjuk Gea.
“Luck isn’t made. It’s just her, a Fortune Goddess created it” Gea berkata datar, tidak bermaksud memercayai kehadiran Dewi Fortuna, hanya ucapan refleks semata. Gerard menatapnya penuh perhatian, pancaran mata Gea seolah diterima retina Gerard sebagai sinyal cahaya yang diterjemahkan ke dalam bahasa hati.
“You are not happy, are you? You feel everything is flat. You had never through even a single hard time.”
“You’re blessed Gerard. What is it when you read someone’s palm? Palmistry? I would name what you do as an Eyeistry.” Gea mencoba bercanda di kala ia menahan helaan nafas berat yang sejak tadi protes ingin keluar. Apa yang dikatakan Gerard benar, Gea tidak bahagia dan menganggap hidupnya selalu datar.
“So why flat?” Gerard menanggapinya dengan senyuman namun berusaha mengarahkan arah pembicaraan ke suasana serius.
“I have got everything Gerard. Everything. Good work, cool car, loyal friends, awesome parents, stunning boyfriend, but somehow they color my life in black and white. I wasn’t sad, I was okay with them, but now it seems not okay. I’m just….I’m not happy. People is that easy to be happy just by seeing their favorite color, really?”
“Don’t you want a better work? A bigger salary? A… cooler car? A… more cute boyfriend, like me?” Gerard tersenyum menggoda, Gea tau itu hanya guyonan Gerard.
“I don’t know, think I have enough yet I’m not happy.”

Gerard berdiri dan meraih tangan Gea menjauh dari kantin dan keluar rumah sakit. Mereka berjalan cukup jauh sampai di pertengahan kota yang sepi karena waktu telah menunjukkan pukul 00.40.

“Look. Have you ever talked to them?” Gerard menunjuk pada sekumpulan tuna wisma. Gea bingung. Untuk apa dia berbicara dengan mereka?
“You’re not happy because you never try to appreciate what you have done. That’s first. Praise yourself, Gea. Luck is indeed an effort meeting opportunity. Rarely appreciating? Because you don’t dream. You’ve been living your life too simply. Look at them! Those homeless people may flow like water as well, what makes it different, God gives you more and lots opportunities, even too many, as a space for doing effort. Second, you’re too fast to feel enough. God is tired of people being lazy yet God is tired too of people being too ambitious. He created you to warn those kinds of people. Warn them! Get that adrenaline into your every blood vessel. Go talk to the homeless, beggar, handicapped kids, as well as your ambitious colleagues who never feel enough. You will know why people could be that unlucky and at the same time you will know why people just can’t get enough. Be grateful, then go out and talk to anybody! Soon you will create your own life motivation what so called a dream.”

Gea terdiam.

“The poor might teach you how to feel enough, the never-enough-people might teach you how to feel not enough. You will be that grateful ambitious girl who chases your dream and dream to make people’s dream come true at the same time. By the time you achieve the dreams, you’ll be the happiest girl in the world.”

Kebahagian lah yang membuat seseorang merasakan makna hidup




Selasa, 06 Mei 2014

Yaudah Yuk

Iya gue tahu, harusnya gue sekarang baca slides epidem buat UAS, tapi lagi butuh refreshing dari segala kepusingan ini, sebentar aja ☺

Apa sih masalah mahasiswa? Mungkin ga akan jauh dari ini; gabisa mengikuti pelajaran, merasa salah jurusan, IP turun, gabisa bagi waktu antara belajar dan organisasi, gabisa menghilangkan rasa malas, galau harus jadi BP di himpunan atau unit, galau belum dapat pacar, dicuekin sama kecengan, digalakkin sama senior, kesal sama anggota yang ga kooperatif, orang tua dianggap ga mengerti anaknya yang aktivis, dsb seputar itu.
Pernah dengar kalimat ini?

“Respon kita terhadap masalah menentukan kualitas hidup kita”

Baru saja tmn gue mengingatkan ini ketika makan siang tadi. Mungkin yang dia maksud bukan ini, tapi kata-kata dia mengingatkan gue akan kalimat di atas.
Well, pembaca sudah tahu kan arah tulisan ini akan kemana?

Tulisan ini bukan untuk menggurui teman-teman sekalian, ini pelajaran untuk gue sendiri. Pelajaran bagaimana kita merespon suatu masalah. Gue sendiri ga peduli ketika gue menganggap sesuatu sebagai masalah tetapi teman gue tidak menganggapnya demikian ataupun sebaliknya. Terserah. Menurut gue yang terpenting adalah bagaimana meresponnya.

Mungkin buat gue sakit punggung sedikit saja adalah masalah, rasanya ingin langsung pergi ke dokter, khawatir, kasarnya, “gimana kalau ternyata sakit ini nyambung ke saraf x,y,z,a,dbsk,ska, terus gue mati?” walaupun kalimat kutip tersebut ga gue ucapkan, tapi perasaan mungkin berkata demikian. Sebagian orang akan berpikir gue berlebihan.

Mungkin buat gue “slides kuliah yang masih ada 5 bab lagi dan belum dibaca sedangkan besok UAS” menjadi beban tidak henti-hentinya. Gue mengeluh, teriak guling-guling di atas kasur, langsung sms mamah “Maaf ya mah kalau IP aku turun”. Sebagian orang akan berpikir gue berlebihan.

Mungkin buat sebagian orang, ga punya pacar adalah bencana yang menancap hati, menusuk pikiran, dan menghantam beban di badan. Mereka tak henti-hentinya ikut segala kegiatan dengan dalih mencari pengalaman, padahal niat utama mencari jodoh. Mengeluh dan mengkode di berbagai medsos “HP sepi…”

Begitulah. Setiap orang punya berbagai pilihan respon ketika ia mencap sesuatu menjadi masalah. Diam dan menangis, mengeluh, bercerita, menyelesaikan, dan/atau berdoa.
Lantas memang bagaimana seharusnya merespon? Bukankah mengeluh dan menangis adalah obat mujarab menghilangkan depresi?

Okay. Gue bukan psikolog, tapi gue punya pandangan bahwa mengeluh (dan bercerita) dan menangis memang obat mujarab ketika kita sedang depresi menghadapi masalah. Namun kebanyakan dari kita ya mengeluh tiada akhir, tanya saja pada diri sendiri apakah kualitas hidup kita akan bagus ketika kita banyak mengeluh?
Kita lupa sesuatu. Bandingkan seberapa sering kita menceritakan masalah kita ke teman dengan ke Tuhan? Jangan bilang kita sudah curhat ke Allah kalau hanya ucapan istigfar di mulut. Jangan bilang kita sudah meminta petunjuk Allah kalau kita hanya berdoa setelah shalat magrib. Jangan bilang kita sudah mencoba mencari ketenangan kalau kita hanya membaca 1 lembar Al-Qur’an. Bandingkan berapa jam yang kita habiskan untuk menceritakan masalah kita kepada teman?

Buat saja pie diagram. Bagi pie tersebut dengan semua kegiatan kita setiap harinya. Lalu lihatlah pie ‘ibadah’.
Jangan protes kalau selama ini segala sesuatu di mata kita adalah masalah. Lantas kembali mengeluh, kapan selesainya?

Okay. Gue bukan psikolog, tapi gue punya pandangan bahwa mengeluh (dan bercerita) dan menangis memang obat mujarab ketika kita sedang depresi menghadapi masalah. Yang biasanya bercerita kepada teman selama satu jam, karena masalah banyak, cerita pun menjadi berhari-hari. Setiap habis bercerita pun merasa tenang, tapi masalah itu muncul lagi karena tidak pernah diselesaikan, lantas cerita lagi.
Yang biasanya shalat 5 waktu dan berdoa setiap kalinya, kenapa tidak pernah ditingkatkan dengan melaksanakan sunnah rutin?

“Mengerjakan amalan-amalan sunnah secara rutin, walau amalannya sedikit, itu lebih baik dan terasa pengaruh perubahannya di hati daripada amalannya banyak tetapi tidak rutin”

Tuhanlah yang memberikan segala ketenangan dan kebijakan bagi kita dalam menghadapi suatu masalah yang akan berakhir pada penyelesaian yang luar biasa. Itulah respon yang InsyaAllah akan menentukan kualitas hidup kita menuju ke arah yang lebih baik.

Apa sih masalah mahasiswa? Mungkin ga akan jauh dari ini; gabisa mengikuti pelajaran, merasa salah jurusan, IP turun, gabisa bagi waktu antara belajar dan organisasi, gabisa menghilangkan rasa malas, galau harus jadi BP di himpunan atau unit, galau belum dapat pacar, dicuekin sama kecengan, digalakkin sama senior, kesal sama anggota yang ga kooperatif, orang tua dianggap ga mengerti anaknya yang aktivis, dsb seputar itu.

Yaudah yuk cerita sama Allah.