Selasa, 11 Februari 2014

Cinta dan Komitmen

Jarang-jarang saya bicara tentang cinta :)

Anyway, mungkin sebagian dari kalian pernah baca novel Tere Liye yang berjudul “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”. Cinta seorang bocah terhadap om-om yang membuat ia dewasa sebelum waktunya dan cinta om-om terhadap bocah ini, di ending saya cuma bisa pasang muka sipit ala komik sambil bergumam ‘pedofil’ haha. Well, entah apa latar belakang penulis novel ini sampai-sampai ia menulis plot cerita seperti itu.

Ada satu hal yang menggelitik sepanjang saya membacanya. Rentang usia yang begitu jauh ternyata tidak membatasi keduanya untuk saling cinta walaupun sang om bisa dibilang malu mengakuinya; namun toh mereka berdua tidak menutup hati satu sama lain. Saya teringat teman saya yang selalu bilang “Jen, umur itu cuma angka..” saya cuma bisa menggurat senyum tipis setengah cemberut (ekspresi macam apa itu?) setiap mendengar itu. Mungkin dia gatal dengan sifat saya yang terlalu menutup hati dengan laki-laki di bawah usia saya haha. Jangan samakan saya dengan tokoh dalam novel itu, saya perempuan toh. Terus kalau perempuan kenapa? Ada yang bilang bahwa perempuan itu secara biologis akan lebih dewasa 3 tahun di atas laki-laki seusianya. Tapi bukan itu alasan saya, saya percaya biology maturity tidak selamanya mengikuti hukum alam, melainkan juga intervensi dari hukum sosial. Tidak ada yang menjamin kedewasaan biologis dan sosial berbanding lurus dengan usia. Lantas kenapa? Mungkin karena pemikiran konvensional dan pengaruh paradigma kolot dari orang tua...bahwa pendamping itu harus lebih tua dari yang wanita. Serta alasan lain, bahwa pendamping pria harus lulus duluan, mapan duluan, lalu siap melamar :p

Maaf kalau saya terkesan curhat ^^

Selain hal di atas, ada hal lain yang menggelitik. Tentang komitmen.

Saya hanya mencoba berpikir visioner dan ingin membagi pikiran saya kepada pembaca. Saya bukan tipe orang yang mau pacaran; disamping larangan keluarga, prinsip agama mungkin jadi salah satunya, tapi ada hal lain yang lebih membuat saya tidak mau pacaran (saya bukan orang religius yang mengedepankan alasan agama atas apapun, walaupun saya sedang belajar untuk melakukan hal itu). Teman-teman pasti pernah merasakan perasaan itu, perasaan kepada lawan jenis. Saya pernah mendengar bahwa berdasarkan penelitian, perasaan cinta kepada lawan jenis paling lama bertahan hanya 4 tahun; belum tentu benar, tapi saya percaya bahwa rasa cinta itu akan hilang suatu saat; makanya Tuhan menciptakan suatu kata benda indah, suatu hal intrik pada diri manusia yang mungkin sulit diputuskan akan mendambanya atau tidak. Hal itu kita sebut dengan komitmen. Kemudian Tuhan memberikan tempat komitmen itu untuk berteduh selamanya dari hujan godaan, ikrar untuk berada dalam satu payung kehidupan selamanya, yaitu pernikahan.

Pernah dengar bahwa mungkin orang tua kita tidak lagi saling cinta? Pernah berada di antara pertengkaran orang tua? Mereka sedang tidak saling cinta. Itu bisa saja terjadi. Mungkin sekarang, dikala mereka sedang akur. Namun pernikahan bukan diciptakan sebagai mangkuk cinta semata, itulah bentuk komitmen kaum Adam dan Hawa; tidak peduli apa yang terjadi, bagaimana pun, mereka telah berikrar untuk berdua sampai surga. Bersyukur Tuhan menciptakan sebuah pondasi komitmen tersebut, yaitu anak. Orang tua akan berpikir trilyunan kali untuk berpisah meninggalkan sang anak. Lantas, sekali cinta hilang, akankah ia hilang selamanya? Logika saya mengatakan tidak. Tuhan menciptakan hati dan pikiran untuk merespon segala bentuk warna-warni kehidupan lewat kejutan-kejutan yang bisa mengiris hati, menyimpul senyum, atau menebar tawa dan duka. Maka perlu sekali kejutan-kejutan itu dibangun di rumah, entah itu kejutan ulang tahun istri/suami, membelikan liontin bentuk hati untuk istri, dsb. Cinta itu bisa saja muncul kembali. Tidak ada yang lebih indah ketika cinta dan komitmen berjalan beriringan

Duh kenapa saya menulis sampai ke sini? Haha

Loh, lantas, orang pacaran juga bisa kan bangun komitmen? Bisa, boleh jadi sangat bisa. Namun saya bukan tipe orang yang bisa membangun komitmen hanya dengan “ikatan pacaran”; ikatan non-formal yang tidak ada di kurikulum kaderisasi, kamus hukum dan undang-undang, atau kitab agama apapun. Tidak ada jaminan apapun. Manusiawinya adalah ketika hal yang tidak diinginkan terjadi pada pasangan dan mau tidak mau komitmen itu harus dilepas, yasudah lepaslah sudah; tidak ada ikatan ‘hukum’ yang mengharuskan mereka tetap bersama, beda halnya dengan ikatan pernikahan yang terjamin hukum negara, agama, dan sosial-moral. Ini kembali ke prinsip, bukan saya mengajak anda ramai-ramai putus dengan pacar anda,atau ramai-ramai menikah sbg bentuk komitmen sejati; hanya prinsip pribadi yang sangat mengistimewakan komitmen; ingin membawa satu komitmen kontinu sampai mati, hanya SATU.

Nah, biasanya orang seperti saya akan berpikir lama jika ditawari oleh mak comblang, atau akan berpikir ratusan kali jika ingin bercerita tentang laki-laki. Karena orang seperti saya tidak mau mengembangkan perasaan itu sekarang, tapi nanti. Alih-alih bicara ini, orang yang disukai menikah, mau gantung diri? ^^

Ada waktunya. Ketika komitmen siap lepas landas.

Silakan bebaskan komentar teman-teman semua yang bisa jadi menganggap saya berpikir konvensional, tidak modern dan tidak mengikuti zaman. Tulisan ini pun bukan pembelaan karena saya tidak diizinkan pacaran; hanya ingin berbagi, khususnya kepada teman-teman yang sering curhat mencari jodoh. Saya hanya ingin berbagi kepercayaan, tidak usah terlalu sibuk mencari atau khawatir bertepuk sebelah tangan; yang bisa kita lakukan sekarang adalah memperpantas diri untuk pendamping di masa depan. Yup, hanya ingin berbagi kepercayaan, bahwa kalau kita sudah siap berkomitmen, jodoh pasti bertemu :p

Rabu, 01 Januari 2014

Bukan soal Pluralismenya

Gue bukan orang yang mudah mengkritisi sesuatu dengan baik, kadang pikiran gue aneh sendiri, yang orang lain ga pikirkan, dan kadang dasar yang gue ambil adalah simpulan sendiri yang mungkin orang jarang setuju (kalimat ini pun hanya asumsi gue, bukan berdasar fakta data ataupun empiris haha). Pikiran macam gini yang buat gue takut speak up dan takut bertindak.

Anyway, selalu terjadi. Tiap kali gue mendapati suatu kalimat atau kejadian, gue cenderung mengkaitkannya dengan banyak hal dan cenderung GA menerima satu keburukan (menurut gue) seseorang dibalik sejuta kebaikannya. Misal, si A pinter,baik,kece, gue suka. Tapi dia merokok. Akhirnya, gue ga suka. Contoh lain, dia teriak-teriak soal idealisme, kontribusilah yang banyak ke masyarakat, dll, tapi dia kalo datang rapat selalu lelet. Cap gue ke dia langsung jelek. Sampailah tiba pada suatu pemikiran gue, “gue gasuka orang lelet, gasuka orang nyontek, gasuka orang korupsi, tapi kenapa gue masih aja gabisa belajar yang bener? Gabisa nurut sm org tua?gabisa shalat yang khusyuk? Gabisa ini dan gabisa itu?” Intinya. Semua orang itu munafik di mata gue haha termasuk gue, gue cenderung melihat kesempurnaan pada seseorang, tapi diri gue sendiri masih jauh dari sempurna. Oke, jgn sempurna deh, limit mendekati ideal. Selama liburan, gue mikirin itu. Pemikiran yang aneh dan ga manusiawi. Menuntut seseorang dan diri sendiri untuk ga bersifat paradoks dengan melihat aspek sekecil apapun.

Hal yang paling gue pikirkan semenjak liburan ini adalah persoalan kebaikan vs ajaran agama. Gue mulai berpikir, gue selama ini mengkritisi segala hal, diskusi dengan orang-orang tertentu berkaitan dengan banyak hal, tidak setuju dengan ini dan itu, menganjurkan ini dan itu, melakukan kebaikan ini dan itu dan lain sebagainya. Tapi persoalan agama jarang gue sentuh. Sulit merangkai katanya, yang pasti gue merasakan urgensi belajar agama sekarang. Berpikir kritis itu penting. Soal hal apa yang harus dikritisi itu jangan pilih2. Semuanya harus dikritisi kalau mau jadi manusia yang adil dan ideal, cuma soal porsi kritisnya aja yang disesuaikan. Dan lagi, agama itu menyangkut ideologi seseorang, ideologi yang nantinya jadi patokan lo untuk melaksanakan dan mengkritisi segala sesuatu. Gue mikir gini berdasar dari kata-kata gue di awal. Ga ngerti ya? Ga dapat korelasinya? Maaf gue kesulitan menyampaikan apa yang ada di pikiran gue sekarang.

Lantas muncul pertanyaan? Kenapa agama? Kenapa ga pilih ga beragama aja, simple, gada aturan lo dalam melakukan apapun ke depannya. Nah hal itu juga perlu dikritisi, mulai dengan cara mengkritisi agama dulu. Bukan hanya agama gue aja yang sekarang, tapi agama lain juga. Lantas setelah itu, silakan putuskan apa yang bakal lo lakukan.

Kenapa sih gue??

Oke. Gue habis baca buku tentang pluralisme. Kebhinekaan. Hal yang kompleks kalau kita sudah menyentuh ragam dengan berbagai variabelnya. Bukan soal pluralismenya, tapi soal bahwa banyak hal yang harus gue pelajari.

Pemikiran yang kadang terlintas di banyak mind orang adalah “hm gue Islam karena orang tua gue islam, mungkin kalo gue kristen, agama gue sekarang kristen” nah loh. Itu maksud gue. Tuhan memberi kita akal bukan hanya untuk memikirkan cos 45 + cos 60 sama dengan sekian kan, tapi juga untuk digunakan tentang segala aspek kehidupan.

Di buku yang gue baca itu, diceritakan mengenai penafsiran Al-Quran dengan berbagai metode yang gue ngerti konsepnya tapi ga ngerti bagaimana menerapkannya; penafsiran al-Quran itu berguna untuk mengetahui respon Al-Qur’an terhadap pluralisme agama. Sejauh ini, respon gue terhadap pluralisme agama bisa dibilang inklusif dan sangat toleran, apalagi semenjak exchange year gue di USA. Ada seseorang yang bilang dalam diarynya “Bagaimana mungkin gue menatap keramahan yang memancar dari Bu Batista dan Bibi Katie sembari meyakini bahwa mereka ditakdirkan untuk masuk neraka” (Farid Esack). Gue bisa bilang begitu untuk semua orang-orang baik di USA selama masa exchange gue. Mereka hanya korban status keluarga toh, sama seperti gue yang kebetulan ditakdirkan lahir di keluarga Islam dimana Allah menjanjikan surga untuk kaum muslim. Oh bukan, mereka dan gue bukan korban, gue yang bisa dibilang beruntung oleh umat muslim bahwa gue dilahirkan di keluarga Islam. Gue dan mereka sama-sama salah karena sama-sama tidak mengkaji agama-agama (jikapun gue berada di posisi mereka).

Toleransi. Batasnya sampai mana? Al-Qur’an lah yang menentukan. Maka dari itu, tafsir Al-Quran sangat dibutuhkan. Pada buku yang gue baca disebutkan sebuah penafsiran al-Quran secara totalitas, tidak parsial. Dalam menafsirkan al-Qur’an harus melihat segala sisi, asbabun nuzulnya, keadaaan zaman diturunkan al-Qur’annya, psikologi dari pada penafsirnya, etika dan moral, perkembangan zaman, gramatikal, dll. Semua itu sangat kualitatif; entah karena gue terbiasa dengan kehidupan orang-orang kampus yang menuntut data kuantitatif atau bagaimana, hal tersebut menjadi bias di mata gue. Bagaimana harus percaya dengan data kualitatif tersebut? Itu yang harus gue pelajari.

Sekarang, kalau gue sudah bisa menerima tafsir tersebut, muncul lagi pertanyaan, siapa yang menjamin Al-Qur’an itu orisinil? Jawabannya Allah. Lagi. Kualitatif. Jawaban tersebut bisa diterima keyakinan tapi sulit diterima rasio. Gue butuh mempelajari sejarah Al-Qur’an.

Banyak yang harus dipelajari. Kalau sudah belajar Islam dengan benar, barulah siap untuk compare and contrast dengan agama lain katanya begitu,harus kuat iman dulu sebelum mempelajari agama lain; tapi bukannya kalau seperti itu jadi cenderung subjektif ya ke agama sendiri? Karena pada akhirnya keyakinanlah yang membuat seseorang beragama. Dan keyakinan itu kualitatif. Haha silakan mau bilang gue aneh dan berpikiran pendek. Kalau ada komentar, silakan komentar.

Gue pernah buat cerita tentang Ayah dan Ibu yang mendidik anaknya cukup ekstrem. Ayah dan Ibunya membebaskan anaknya untuk memilih agama di kala dia sudah siap. Dari dia lahir dia ga dikasi status agama, Ayah dan Ibunya membiarkan dia mencari sendiri agama mana yang menurut dia benar. Ayahnya sering memindahkan dia dari satu negara ke negara lain agar semua lingkungan memengaruhinya, sebisa mungkin membuat keadaan di sekelilingnya netral sehingga objektif dalam menentukan pilihan. Haha. Kayanya kalau begitu konsistensi gue dalam beragama atau tidak akan sangat kaffah. Wk.

Anyway, itulah kegalauan gue di saat liburan ini. Gue berjanji pada diri gue untuk mendalami ajaran agama; entahlah hal itu akan terjadi atau tidak, yang pasti akan sangat menantang ;)

HAPPY NEW YEAR!


Kebanyakan orang membuat resolusi untuk tahun yang baru, tapi ga sedikit dari mereka yang ga berhasil menuntaskannya. Lucunya, resolusi tetap saja dibuat setiap tahunnya; sepertinya resolusi hanyalah sebuah kebiasaan akhir tahun ya...tapi ga masalah, gue pun termasuk orang yang ga 100% menuntaskan resolusi.

Pertama kali gue menyusun resolusi adalah ketika di tahun exchange gue di US, itupun bukan kemauan gue, my hostmom named it for me. Thanks to her, sejak itu gue selalu buat resolusi di setiap tahunnya. Sekarang, resolusi gue untuk tahun 2014, I want to make it more real.

1.Mentoring rutin setiap minggu
2.Hafalan Juz’ama dan perbanyak shalat sunnah dan shalat jamaah
3.Baca buku minimal 1 buku dalam 2 minggu, dalam 1 bulan harus ada minimal 1 buku kajian Agama
4.Minimal menyampaikan apa yang sudah dibaca ke dalam 1 bentuk tulisan dalam sebulan
5.Tahun ini, harus buat kegiatan nyata untuk masyarakat dengan gue sebagai kordinatornya
6.Nurut sama orang tua dan kakak (gada lagi ribut2)
7.Dalam satu kali kerja, hanya boleh ikut maksimal 2 kepanitiaan besar. Fokus!
8.Ikut minimal 1 perlombaan farmasi dan 1 perlombaan bebas dalam setahun
9.HARUS PUNYA PENDIRIAN, JANGAN IKUT-IKUTAN!
10.NIAT HARUS SELALU LURUS! (Okay, hanya Allah yg bisa menilai)

Yah, ga pernah gue buat resolusi sereal itu sih. Efesiensi mungkin gabisa 100%, tapi bisa kan 99%, kalo gitu bukan tidak mungkin untuk mengusahakan sesuatu, limit mendekati ideal ;)

Bismillah. Stop wishing, start doing.

Senin, 30 Desember 2013

Cerita tentang Mahasiswa #1


Ampuni tulisan saya yang polos ini.

Mahasiswa itu wakil rakyat
Mahasiswa itu tidak boleh apatis dengan masyarakat
Mahasiswa itu bebas dari tunggangan kepentingan apapun
Mahasiswa itu.....

Banyak hal yang saya dapat selama menjadi mahasiswa di kampus yang boleh jadi saya katakan ‘sangat internal’. Kampusnya kecil, karakter orangnya cukup homogen dibanding dengan kampus lain (hanya asumsi) mungkin karena satu disiplin ilmu, kebanyakan anak teknik. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya kalau saya akan berada di kampus ini, kampus yang tidak pernah ada di list saya sejak SD, bahkan saking noraknya saya, saya tidak pernah tau kalau kampus ini banyak peminatnya, sampai saya kelas 12 barulah saya tahu. Tidak pernah diduga kalau fakultas saya adalah fakultas yang minim laki-laki (oke ini ga penting). Dan tidak pernah tahu sebelumnya kalau kehidupan kampus di sini....atau kehidupan kampus, memang seperti ini.

Terlepas dari stereotype kampus saya yang katanya banyak cowo keren, ceweknya ga suka dandan (kaos,jeans,sepatu kets,tas ransel, no make-up) yang buat kami tidak diminati (cowo2 lebih pilih cewe un***), terkenal sombong, lulusannya lebih pilih perusahaan swasta parlente, sistem belajar yang sadis, mahasiswa yang ambis, standar nilai yang tinggi, dan okey silakan tambahkan stereotype lain. Namun saya tertarik dengan budaya kampusnya (well kampus lain juga mungkin seperti ini) terutama KADERISASI dan BERHIMPUN.

Saya tipe orang skeptis. Selalu suudzon sama orang-orang yang berorasi, calon ketua apapun, dan paling utama, selalu suudzon dengan orang-orang yang mengagitasi. Mindset saya selalu seperti ini, “Mereka pasti punya kepentingan, mereka ga ikhlas”. Tapi saya tipe orang plegmatis dan agak introvert so saya bukan tipe orang yang rebel yang dengan pikirannya bisa mencaci-maki orang-orang dengan bicara sarkastik. Makanya, saya paling sensitif kalau sudah bicara kaderisasi...sensitif imajinasinya, maksudnya cuma bisa ngomel di hati, ga berani bilang kalau saya ga setuju dengan sistem ini dan itu.

Sifat saya yang seperti ini muncul ketika SMA kelas X. Ketika dimabis, saya terkagum-kagum sekali dengan Dewan Keamanan di sekolah saya, mereka yg ditugaskan tukang marah-marahnya. Tapi di mata saya kala itu, mereka bukan marah, mereka tegas, kece, disiplin, pokonya oke banget. Tapi suatu ketika, kakak saya bilang begini sambil tertawa “Haha kece apanya, mereka seperti itu cuma pas mabis aja, kalo kamu tahu aslinya....hmmm”. Dari situ saya tahu, kepolosan jiwa, hati, dan otak saya (?) telah hancur di makan topeng yang robek seketika setelah mabis selesai (?). Apa itu teriakan tepat waktu, apa itu teriakan gesit, apa itu teriakan disiplin. Hanya gertakan. Tidak lebih. Tidak ada role model setelah mabis selesai.

Haha.

Oh no. Itu bukan candaan, saya serius, sejak itu sifat saya yang mudah suudzon bagai magma yg cepat turun dari gunung yang baru saja meletus, panas (?). Alhasil, saya tidak pernah percaya orator dan agitator, kecuali saya tahu sifat aslinya yang memang berlagak sesuai apa yang diorasikannya. Apa itu idealisme yang diteriakan orator, apa itu kontribusi, apa itu awareness, apa itu kebersamaan, apa itu...satu angkatan? Sekarang saya tanya hai pembaca, kalau dengar orasi, perasaan kalian bagaimana? Buat saya, orasi is just a ritual. Kalau diagitasi? High salute buat agitator (?) yang bicara sesuai dengan perbuatannya  otherwise, please...prestise itu ga semurah jadi agitator. Kepentingan yang pengkader bawa mungkin dianggap sah-sah saja, karena memang bicara tak sesuai dengan perbuatan sudah menjadi hal lumrah di mata banyak orang. Sedih. Lama kelamaan standar moral dan etika di kampus saya semakin luntur kaya baju putih yang dicuci campur dengan baju merah (?).

Oknum. Memang hanya oknum yang buat kericuhan di kampus, memang hanya oknum yang berani ribut dengan himpunan lain di syukwis, memang hanya oknum yang akhirnya buat stigma di komunitas tertentu. Memang tidak semua orator dan agitator berniat melenceng. Mungkin oknum itu hanya 20%,30%, atau 40% dari massa himpunan. Tapi sejumlah itulah yang menguasai atmosfernya. Quotes “Dunia ini rusak bukan karena orang-orang jahat, tapi orang baik yang diam” memang itulah yang terjadi.

Maaf kalau saya sok lurus, yah mumpung saya lagi lurus, saya ingin berpesan kepada semua pengkader. Saya bisa jadi ga peduli sistem seperti apa yang dipakai di kaderisasi apapun, saya juga tidak punya solusi sistem kaderisasi apa yang berhasil guna dan berdaya guna. Yang saya yakini, sistem apapun yang dipakai, jika pengkadernya punya niat baik...sistem itu akan baik dengan sendirinya. Lagipula, bicara kaderisasi itu tidak akan pernah sebentar. Tapi kalau kelamaan berkutat dengan keadaan internal, kapan mau mengurusi rakyat? Denger2 mahasiswa itu wakil rakyat...

Minggu, 29 Desember 2013

Why should be it?

I am one of those people who keep questioning "why Islam?". Despite all the time questioning, I am also one of those people who follow a trail of majorities and great people, within their influences of saying wisdom words and a mirror of a happy life of them. I am also one of those who walk like a snail while seeking truth, sleep like a bear whose sleep-time much in winter while seeking answers, think like normal human being though fear to speak up while hating other's arguments.  

None. None of what I did was an effort.  

So far, I found these four points are said by many people to be considered when choosing an ideology. I only agree on number four or may agree on number three.
1. Comfort makes faith: One would stay whenever he finds a cozy place to live. It just suits him. One would stay in a mosque because he feels comfy. He was born in Muslim family, the heart of a Muslim at least has been there, the habit and the ‘have-to-do' rules has been transferred by the nerves system of sensory to the effectors because the existence of stimuli in environment. The stimuli is religion lesson. The pleasant moment he undergoes success in getting rid of depression and suppression. Thus, comes that faith of believing in God of Islam.

One also would stay in Church because he feels comfy.

2. Human's ratio is not there yet: One would not believe that there would be a box who can display pictures, voices, and movements that what so called a television. A muslim is confused how Muhammad could go to the seventh sky in just a day, how Nuh could make such a big ship, how a could make b and c could make d. Simple answers: our ratio is just not there yet, like people eons ago whose ratio couldn't accept the invention of television.

A Christian is confused how Jesus born without mother and how they believe in trinity. Simple answers: their ratio is just not there yet.

3. Valid Histories
Tell me how to integrate histories and and how to convince that the histories are valid.

4. The most makes sense
This would be it. But people's senses are not the same. Choosing which religion is up to you, after all.

Now tell me why you - the most religious people in each religion - choose your religion. I want to do effort.

Minggu, 15 Desember 2013

that ideology comes second

Hi. Have you ever had a friend that never stop searching truth? Im kinda that person-wanna be. Ive been losing an ideology that once i had. That ideology comes second now. But too bad, everytime im about to learn and decide something related to it, obstacle smiles at me. Hi people there, convince me to stay commit on what is true. Give me some motivations. Religion.

Selasa, 06 Agustus 2013

Peran Pemuda Sebagai Perintis Budaya Positif


Tumbuhan yang tumbuh di zaman purba menjadi salah satu makhluk hidup yang mempelopori pertumbuhan tumbuhan lainnya. Kosong dan tidak berpenghuni menjadi karakteristik utama keadaan suatu tempat yang mendukung keberlangsungan tumbuhan purba ini untuk menjadi vegetasi perintis. Memulai sendiri untuk selanjutnya menciptakan kehidupan yang bermanfaat untuk makhluk lain di sekitarnya adalah suatu hal yang sangat bernilai. Sungguh, suatu hal yang bernilai akan membawa dampak baik ke depannya. Contohnya adalah lumut yang memberikan kehidupan bagi tumbuhan lain sehingga tumbuhan lain tersebut dapat merasakan nikmatnya ‘lahir’ ke dunia, selain itu manfaat yang dapat dirasakan oleh makhluk hidup lainnya adalah sebuah rantai makanan kehidupan untuk mencukupi kebutuhan masing-masing. Hal yang sama berlaku untuk para pemuda. Titel pemuda secara general mengarah kepada eksistensinya di masyarakat sebagai seorang yang tidak ditunggangi oleh kepentingan apapun, termasuk kepentingan politik. Maka dari itu, sangat besar ruang gerak pemuda untuk melakukan perubahan. Pemuda juga merupakan bibit generasi mendatang yang kelak akan menggantikan kursi-kursi pemilik kekuasaan di berbagai tempat; kelak merekalah pembuat regulasi Negara dan penanggungjawab kesejahteraan bangsa. Salah satu peran pemuda adalah secara mandiri menjadi perintis budaya positif. Layaknya kelahiran tanaman yang memulai kelahiran tanaman lainnya, seorang perintis adalah seorang yang bisa memulai (inisiasi) dengan mandiri suatu bentuk budaya atau kegiatan lainnya sehingga kelak akan mempelopori (inisiatif) orang-orang disekitarnya untuk bertindak positif. Dengan berbagai tindakan positif yang dapat saja menindih budaya negatif di bawahnya atau menciptakan budaya baru ditengah budaya-budaya lain, kemandirian bangsa bukanlah suatu mimpi belaka untuk diraih. Kemandirian bangsa yang dimaksud adalah suatu keadaan bangsa yang tidak bergantung pada bangsa lain dalam mencapai tujuan bangsa dan negaranya. Dengan karakteristik bangsa yang berinisiatif dan berani menginisiasi suatu gerakan atau budaya secara mandiri, kemandirian bangsa akan muncul ke permukaan. Peran pemuda sebagai perintis budaya positif dapat dilakukan dengan cara-cara, yaitu menanamkan nilai berdasarkan prinsip manfaat dan kebiasaan, mengedepankan identitas dan prinsip, dan mengkaji aplikasi budaya dari luar.

Penanaman Nilai Berdasarkan Prinsip Manfaat dan Kebiasaan
Sudah menjadi suatu kebutuhan manusia itu sendiri bahwa mereka terlahir untuk dapat bersosialisasi dan bermanfaat bagi orang lain. Mendapatkan manfaat menjadi poin penting tujuan seseorang melakukan suatu kegiatan; tanpa manfaat, hanya sedikit orang yang mau mengejar cita-citanya. Lihat saja Ir. BJ Habibie yang dengan ketekunannnya berhasil membuat rancangan pesawat produk dalam negeri, semata-semata beliau membuatnya untuk kepentingan masyarakat umum. Dalam artian, cita-cita beliau untuk membuat pesawat terbang karena dorongan pada diri bahwa kelak pesawat tersebut akan bermanfaat sebagai alat transportasi. Disinilah peran pemuda untuk menularkan nilai-nilai berdasarkan prinsip manfaat. Pemuda diharapkan mampu menyebarkan manfaat-manfaat dari sebuah nilai, tidak disimpan sendiri. Tentulah mereka memerlukan media penyebaran. Komunitas-komunitas yang terbentuk secara mandiri atas inisiatif anggotanya secara umum bergerak untuk tujuan tertentu demi kesejahteraan sasaran tujuan. Pemuda dapat menggunakan komunitas-komunitas itu sebagai media penyebaran nilai dan manfaatnya agar sasaran tujuan mendapatkan manfaat yang tepat. Penanaman nilai yang dimaksud di sini bukan saja hal-hal kompleks, melainkan hal sederhana yang terkadang banyak dilupakan orang-orang, seperti kedisiplinan, produktivitas, dan kepedulian.

Memang dibutuhkan usaha yang tidak sedikit untuk meyakinkan orang-orang di sekitar untuk menanamkan nilai tertentu pada dirinya, tetapi bukan berarti usaha ini mustahil dilakukan. Tahap selanjutnya ketika penyebaran nilai telah dilakukan adalah menjadikan nilai tersebut suatu kebiasaan, kebiasaan inilah yang menjadi air bagi tanaman yang baru saja ditanam. Dengan kebiasaan, nilai-nilai akan kokoh terbentuk menjadi suatu budaya. Namun, kebiasaan akan lebih mudah dibangun pada komunitas baru, maka dalam hal ini pemuda dituntut untuk berinovasi membuat pergerakan baru lewat komunitas untuk selanjutnya menerapkan peraturan-peraturan tertentu yang berlaku pada komunitas tersebut. Seperti sudah dikatakan di atas, keadaan kosong dan tak berpenghuni menjadi karakteristik yang cocok untuk sang vegetasi perintis memulai pertumbuhannya; begitu juga dengan pemuda yang akan lebih mudah membuat budaya baru pada suatu komunitas baru karena belum adanya jejak-jejak nilai terdahulu yang mengakar menjadi adat. Bagaimana dengan budaya negatif yang sudah ada sejak dulu? Pemuda tentunya dituntut untuk mampu menyisipkan budaya positif di tengah-tengah kebiasaan kurang baik sampai akhirnya hanya kebiasaan baik yang tersisa.

Identitas dan Prinsip di Garda Terdepan
Ir. Soekarno dalam pidato kemerdekaannya secara tidak langsung berhasil menginisiasi lahirnya sebuah identitas dan prinsip untuk negeri ini. Identitas Indonesia yang dimaksud adalah bendera Merah Putih, bahasa Indonesia, lambang Garuda, lagu kebangsaan, dsb yang menjadi salah satu tiang penyangga pondasi negeri ini. Identitas dapat menyamakan persepsi setiap orang bahwa kita adalah satu bangsa yang memiliki kesamaan prinsip dan ideologi, bahwa kita adalah individu yang tidak sendiri; muncullah rasa nasionalisme pada setiap individu, maka dari itu kemandirian bangsa akan muncul dari jiwa nasionalis tersebut. Dengan demikian, muncul rasa percaya diri bahwa bangsa ini dapat bersatu untuk mencapai tujuannya tanpa harus meminta iba bangsa lain.

Tertanggal 28 Oktober 1928, diputuskannya ikrar sumpah pemuda menjadi tonggak sejarah penting bangsa Indonesia.
1. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.
2. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa yang satoe, bangsa Indonesia.
3. Kami poetra dan poetri Indonesia mengjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Tiga poin yang jika dilihat secara seksama tersebut, ternyata memuat satu bahasan penting, yaitu budaya memegang teguh identitas kebangsaan oleh para pemuda. Kasman Singodimedjo, salah satu dari 13 tokoh sumpah pemuda telah memegang teguh identitas bangsanya sendiri dengan menjadi perintis keberadaan Pramuka di Indonesia. Sebagaimana kita tahu, pendidikan Pramuka mencakup pendidikan nasionalisme bagi para pemuda. Disinilah apresiasi yang tinggi perlu diberikan kepada beliau sebagai perintis budaya kepramukaan yang melahirkan pemuda-pemuda peduli bangsa dan Negara. Maka dengan diikrarkannya sumpah pemuda, diharapkan pemuda di zaman sekarang tidak melupakan esensi dari rasa bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu seperti pemuda dahulu karena pada dasarnya perumusan ikrar pastinya dibuat dengan kajian yang mendalam. Esensi ikrar tersebut pada akhirnya harus mampu mempersatukan bangsa Indonesia menuju kemandirian bangsa. Selain budaya nasionalisme, contoh peristiwa yang patut dikaji berkaitan dengan pemuda sebagai perintis budaya misalnya nasionalisasi perusahaan-perusahaan yang dipegang oleh pihak asing. Dengan esensi ikrar sumpah pemuda, seharusnya sebagai bangsa yang bersatu, Indonesia akan percaya terhadap bangsanya sendiri untuk mengelola perusahaan-perusahaan secara mandiri. Budaya memegang teguh identitas bangsa pada akhirnya diharapkan akan melahirkan pemuda-pemuda yang saling percaya satu sama lain atas dasar persatuan.

Pengkajian Budaya Luar
Suatu hal yang sering terdengar ketika orang-orang ‘mengelu-elukan’ kemajuan bangsa lain dan kebalikannya justru mencela kemunduran bangsa sendiri. Banyak pelajar bahkan mahasiswa masih saja berkomentar keras bahwa Indonesia harus mencontoh negeri lain dengan mengaplikasikan berbagai sistem yang berlaku di sana, seperti sistem pendidikan ataupun ekonominya. Padahal, segala sesuatu yang baik di negeri orang belum tentu baik di negeri sendiri. Latar belakang sejarah, budaya, dan norma yang berlaku di Indonesia menjadi faktor utama yang perlu disesuaikan dengan suatu sistem. Berkaitan dengan hal ini, pemuda memegang peran penting untuk membudayakan kajian pengimplementasian budaya dari luar Indonesia. Budaya yang dimaksud meliputi norma dan nilai, sistem pemerintahan, dan sistem lainnya berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan melakukan pengkajian yang mendalam dan solutif, segala keputusan yang akan dilakukan akan cenderung pada arah yang benar bukan sekadar ikut-ikutan sistem bangsa lain (pencerminan ketergantungan terhadap Negara lain). Namun, permasalahan di Indonesia adalah terkadang pengkajian terlalu banyak dilakukan sampai mengulur waktu pelaksanaan keputusan sehingga di mata masyarakat, bangsa Indonesia tidak mampu mengefektifkan dan mengefesiensikan waktu. Akibatnya, kebutuhan masyarakat tidak terpenuhi. Dalam permasalahan di atas, pemuda sebagai generasi mendatang pengganti para pembuat keputusan -yang memengaruhi kemaslahatan masyarakat banyak- dituntut untuk menjadi pribadi yang mampu menyeimbangkan kepentingan pribadi dan golongan. Maksudnya adalah meminimalisasi egoisme pribadi dalam mendiskusikan keputusan.

Pada intinya, pemuda berperan untuk mengkaji budaya dan permasalahan-permasalahan, baik lokal, nasional maupun internasional sebagai referensi untuk merintis suatu budaya yang akan diserap di negeri sendiri. Penyerapan budaya luar tanpa dikaji terlebih dahulu akan berakibat fatal, misalnya saja budaya berpakaian ala barat yang masuk ke Indonesia dikecam oleh beberapa orang; pergantian sistem pendidikan di Indonesia yang tidak stabil melecutkan kritik pedas dari masyarakat; dsb.

Kemandirian bangsa dimulai dari kemandirian pemuda di dalamnya dalam melahirkan suatu budaya. Pemuda sebagai perintis budaya positif melakukan penanaman nilai berdasarkan manfaat dan kebiasaan, mengedepankan identitas dan prinsip bangsa, serta melakukan pengkajian mendalam terhadap budaya luar. Tiga hal di atas adalah poin cara yang dapat dilakukan oleh pemuda untuk menjadi perintis budaya yang akan melahirkan budaya-budaya lain untuk selanjutnya diterapkan pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Penanaman nilai dan manfaat salah satunya dapat membuka mata dan hati orang-orang untuk peduli negerinya; lahirlah suatu nilai yang akan menjadi kebiasaan untuk dilakukan. Berpegang teguh pada identitas dan prinsip bangsa akan melahirkan pemuda yang berjiwa nasionalis untuk melahirkan budaya peduli bangsa dan Negara serta budaya percaya sesama atas dasar persatuan. Kajian yang mendalam akan melahirkan pemuda yang mampu menyaring hal-hal apa yang pantas dijadikan budaya untuk kemajuan negeri ini dan hal apa yang justru berpotensi untuk merusak negeri. Output seperti tumbuhnya kepedulian, jiwa nasionalis, dan saling percaya akan membawa bangsa ini mandiri karena dengan begitu setiap individu bangsa ini dapat menjadi pelopor gerakan-gerakan berbasis kebangsaan. Gerakan berbasis kebangsaan akan menimbulkan rasa percaya diri bahwasanya bangsa Indonesia mampu berdiri sendiri.

Ketiga hal tersebut hanyalah sebagian cara yang dapat dilakukan pemuda sebagai perintis budaya positif. Namun ketiganya merupakan dasar yang dapat dipegang oleh setiap pemuda dalam melakukan tindakannya sehingga tidak salah kaprah mempelopori suatu budaya. Harapannya adalah para pemuda negeri ini berkomitmen untuk melakukan perannya secara maksimal demi kemandirian bangsa.